TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 24


__ADS_3

"Pah, temen-temen aku bilang ada butik bari dekat sini. Kita coba ke sana aja yuk, pah. Namanya Glamour Butik. Katanya sih baju-baju di sana bagus dan berkelas juga," mama Anna dan papa Abdi saat ini sedang dalam perjalanan menuju butik guna membeli pakaian yang akan mereka pakai ke acara pernikahan anak sahabat mama Anna.


"Iya, mah. Terserah kamu aja! Papa tidak terlalu paham soal butik kayak gitu," mama Anna tersenyum senang lantaran papa Abdi tidak pernah mempersulit apapaun yang menjadi keinginannya. Dia pun bergelayut manja di lengan suaminya yang saat ini sedang memegang kemudi.


"Makasih ya, pah," papa Abdi menganggukan kepalanya seraya membalas senyum istri tercinta.


"Sama-sama, mah."


Tidak berapa lama setelah mama Anna menyarankan butik yang temannya maksud, kini mereka sampai di butik tersebut. Dan benar, butik itu masih kelihatan baru dari bangunannya. Serta pakaian yang ada di Glamour Butik terlihat berkelas semua ketika mama Anna masuk ke dalamnya.


"Waw, bagus-bagus ya, pah," puji mama Anna seakan terhipnotis oleh apapun yang ada di sana.


"Yang ini bagus gak, pah?" mama Anna menunjuk salah satu gaun yang berwarna biru langit di dekatnya.


"Bagus, mah," jawab suaminya. Sebenarnya mama Anna mau memilih gaun yang manapun papa Abdi tidak akan mempermasalahkannya. Yang terpenting mama Anna suka dan cocok di tubuhnya.


"Permisi pak, bu! Ada yang bisa saya bantu?" tqnya seseorang yang sepertinya salah satu pegawai di butik ini.


"Kebetulan sekali, mbak. Saya mau coba gaun yang ini. Ruang ganti nya di sebelah mana ya?" pegawai tersebut pun tersenyum antusias.


"Sebelah sana, bu. Mari saya antar?!" pegawai itupun mempersilahkan mama Anna untuk mengikuti langkahnya.


"Kamu tunggu sebentar ya, pah!" kata mama Anna sebelum pergi mengikuti langkah pegawai.


"Iyq, mah," beliau berdiri di tempat guna menunggu mama Anna kembali.


"Kamu urus pekerjaan sesuai dengan apa yang saya katakan, yah! Saya mau pergi sebentar da urusan lain," ujar seorang wanita yang terdengar oleh papa Abdi. Wajah tersebut terlihat begiru familiar, makanya papa Abdi mencoba menyapanya ketika wanita tersebut berjalan melewatinya.

__ADS_1


"Permisi. Kamu, adiknya Al?" tanya papa Abdi memastikan. Wanita tersebut mengangguk membenarkan.


"Iya, saya pemilik butik ini. Kenapa?"


"Tidak. Tidak apa-apa. Saya-"


"Maaf saya harus pergi," Disa melipir pergi dari hadapan papa Abdi ketika hp nya mengeluarkan dering panggilan masuk. Papa Abdi mengatupkann bibirnya ketika Disa sudah pergi sebelum mendengarkan apq yang akan ia bicarakan.


"Papa bicara sama siapa?" pertanyaan dari seseorang yang tiba-tiba nuncul dari belakang papa Abdi seketika membuatnya terkejut.


"Itu, itu tadi Disa, mah. Adiknya Al. Ternyata dia pemilik butik ini," mama Anna mengerutkan keningnya.


"Disa adik Al? Yang mana, pah? Kok mama gak tau?" papa Abdi jadi ingat kalau Al mengenalkan adiknya di hari pernikahan ketika mama Anna tidak ada. Amera bilang kalau waktu itu ia melihat mama Anna ke toilet lama. Lantaran bajunya basah akibat menyenggol minuman.


"Waktu adiknya Al pamitan mau pulang di hari pernikahan Al sama Amera, Al baru mengenalkan kalau Disa itu adiknya. Waktu itu mama gak ada, Amera bilang mama lagi di toilet," mama Anna hanya mengangguk dan begitu begitu tertarik untuk mengetahui siapa adik Al tersebut. Dan ia berpikir daripada membahas adiknya Al yang bernama Disa, lebih baik membahas gaun yang saat ini ia pakai.


"Bagus, mah. Kamu pake baju apapun tetap cantik di mata aku," pujinya.


"Ah kamu bisa aja deh, pah," kata mama Anna manja. Mereka saling melemparkan senyuman serta tatapan layaknya sepasang suami istri romantis.


Sementara di luar butik, Disa nampak sedang berbicara dengan seseorang di telpon.


"Syukur deh kalau mama baik-baik aja. Yaudah kalo gitu, gue mau ketemu sama Designer terkenal di Kamboja Caffe. Bye," Disa menutup telpon dengan seseorang yang sepertinya itu Al. Kemudian dia memasuki mobil dan pergi dari sana.


***


Amera saat ini tengah menunggu Al di meja makan. Makanan yang sudah susah payah ia buatkan dan di sajikan di meja makan sudah mulai dingin. Tetapi Al belum pulang juga. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

__ADS_1


"Mas Al kemana, ya? Kok jam segini belum pulang?" Amera masih dengan setia menunggu suaminya untuk makan malam bersama. Guna berusaha menjadi istri pada umumnya.


Detik jam teeus berputar, namun Al tak kunjung pulang. Akhirnya Amera memutuskan menunggu suaminya di ruang tamu. Saat memasuki ruang tamu, ia menemukan sosok yang sdari tadi ia tunggu baru saja pulang.


"Mas, kamu udah pulang," sapa Amera lengkap bersama senyum di bibirnya. Al sama sekali tidak menggubrisnya.


""Kamu pasti laper, kan? Kita makan malam, yuk?! Aku udah siapain makan malamnya, aku juga nungguin kamu da-"


"Bisa diem gak?! Saya cape saya mau istirahat!" Al meninggalkan Amera yang belun selesai bicara ke kamarnya. Amera diam mematung mendengar ucapan dan sikap dingin suaminya.


Amera menghembuskan napas pelan guna menenangkan pikiran dan hatinya. Usahanya membuat suaminya menganggap dirinya layak seperti istri pada umumnya gagal. Namun, ia tidak akan menyerah sampai di sini. Jatuh, bangkit lagi. Gagal, coba lagi.


"Kayaknya mas Al gak mau di ganggu dulu. Dia butuh isrirahat," Amera memilih kembali ke ruang makan.


Beberapa jam menghabiskan waktu berkutat dengan papan penggorengan demi membuatkqn makan makan untuk suami berakhir sia-sia. Daripada berakhir mubazir juga, ia memutuskan untuk makan malqm sendiri atau mengajak Neni sang asisten rumah tangga. Kalau perlu Mali juga sekalian di ajak.


Beberapa lama setelah menghabiskan makan malam bertiga, ia merasa perutnya sangat kenyang. Amera pun mulai mengantuk. Ia kembali ke kamar guna mengistirahatkan tubuh lelahnya bersama Al. Ketika sudah sampai di kamar, Amera mendapati suaminya tengah tertidur pulas.


Amera berjalan dengan hati-hati setelah menutup pintu secara pelan sekali ke arah tempat tidur. Dia ikut membaringkan tubuhnya di samping Al. Dia juga memutuskan untuk tidur memunggungi suaminya. Suasana malam ini begitu hening, hal itu membuat Amera semakin mengantuk. Terlebih perutnya sudah sangat kenyang. Mebambah rasa kantuknya semakin berkali-kali lipat.


Amera hendak memejamkan mata, namun ia di kejutkan oleh tangan kekar yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Amera sontak membulatkan matanya dengan sempurna. Setah menyadari kalau itu tangan suaminya. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Bagaimana mungkin Al mampu melakukan hal ini padanya? Setelah sikap dingin yang tadi dia berikan untuknya.


Amera mencoba mengatur deru napasnya yang memburu dan mulai tak terkontrol. Tetapi, tidak tau kenapa ia justru menikmati pelukan Al yang cukup menghangatkan tubuhnya. Kemudian ada rasa kecewa dalam benak Amera, ketika menyadari kalau suaminya memeluknya dalam keadaan tidak sadar atau tidur.


___


Tambahkan ke favorit dan VOTE.

__ADS_1


Follow ig @wind.rahma


__ADS_2