
"Jadi kalian ini ada perlu apa sama saya? Sampai datang jauh-jauh dari Jakarta ke Jampang-Sukabumi," tanya Dokter Handoko.
"Begini, pak. Kami ini orang tua dari anak yang mengalami kecelakaan sembilan belas tahun lalu. Pasien yang anda tangani di Rumah Sakit Puja Medika. Orang tua yang tidak di perbolehkan melihat jasad putrinya saat di nyatakan meninggal dengan alasan kondisi wajah beserta tubuh putri kami dalam keadaan hancur. Apa anda masih ingat?" Dokter Handoko seketika terdiam mendengar pertanyaan mama Anna barusan.
"Kenapa anda diam, pak? Apa ada yang anda sembunyikan dari kami?" tanya mama Anna lagi. Dia sudah tidak sabar untuk mendengar apa alasan Dojker Handoko perihal tersebut.
"Iya, bu. Saya masih ingat."
"Terus apa alasan Dokter melarang kami melihat jasad putri kita?"
"Alasannya seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya, bu. Saya tidak mau melihat ibu dan bapak semakin hancur. Karena nasib putri ibu tidak seberuntung anak yang satunya lagi, yang hanya mengalami luka ringan. Anak itu langsung di bawa pulang begitu lukanya di obati oleh orang yang membawa anak yang sama dengan putri kalian. Dan beliau mengaku orang tua dari anak yang memiliki nasib beruntung itu," mendengar lenjelasan Dokter barusan sontak membuat mama Anna teringat pembicarannya dengan salah satu warga di tempat kejadian peristiwa.
Bayangan On
"Permisi! Ini ada apa, yah? Kok pada ngumpul di sini?" beberapa orang membalikkan tubuhnya begitu mendengar pertanyaan mama Anna, dan satu orang di antara mereka mewakili menjawab.
"Ini, bu. Barusan ada dua anak perempuan jadi korban tabrak lari. Untungnya mereka sudah di larikan ke Rumah Sakit oleh orang baik yang kebetulan lewat sini.
Bayangan Off
"Jadi maksud Dokter, orang yang mengaku sebagai orang tua dari salah satu anak korban kecelakaan itu orang yang sama dengan krang yang membawa anak saya ke Rumah Sakit?" Dokter pun mengangguk membenarkan.
"Betul, bu," mama Anna seketika tertegun.
Kok aneh, ya? Warga itu bilang, Indah dan anak yang satunya lagi di bawa ke Rumah Sakit oleh orang yang kebetulan lewat di sana. Tapi kenapa Dokter ini bilang kalau orang yang membawa Indah ke Rumah Sakit adalah orang tua dari anak yang satunya itu?
"Gimana, mah? Semuanya sudah jelas, kan? Kalau putri kita memang sudah tidak ada, dan kita harus bisa ikhlas dan terima," ucap papa Abdi pelan.
__ADS_1
"Enggak, pah. Ini masih ada yang aneh,"jawab mama Anna, kemudian dia kembali menanyakan sesuatu kepada Dokter Handoko.
"Emm, Dok. Apa Dokter tau siapa orang itu? Namanya atau ciri-cirinya Dokter masih ingat?" Dokter Handoko mengerutkan dahi terlihat sedikit berpikir.
"Kalau namanya saya lupa. Tapi untuk ciri-cirinya saya masih ingat, beliau laki-laki dan mempunyai tahi lalat di bagian ujung batang hidungnya."
Papa Abdi terlihat heran dengan pertanyaan mama Anna barusan yang menanyakan sampai sejauh itu. Padahal jelas-jelas Dokter Handoko sudah menjelaskan alasan sebenarnya, tentang mengapa beliau melarang mereka melihat jasad putri mereka dulu.
Saat ini, papa Abdi dan mama Anna sudah berada di dalam perjalanan pulang menuju Jakarta. Setelah sebelumnya mereka menggali beberapa informasi seputar kasus kematian putinya yang entah kenapa masih menyimpan misteri. Di dalam mobil, mereka berdua awalnya saling diam. Sampai akhirnya papa Abdi membuka suara memecah kesenyapan.
"Mah, sebenarnya apa yang kamu ketahui, sehingga kamu menanyakan orang tua dari anak yang mengalami kecelakaan serupa dengan putri kita?" mama Anna yang semula melamun, kini tersadar mendapat pertanyaan dari papa Abdi.
"Emm, jadi gini, pah. Dokter Handoko kan bilang kalau orang yang membawa Indah dan anak yang satunya lagi itu ke Rumah Sakit adalah orang tua dari anak itu. Sementar dulu waktu aku nanya sama salah satu warga di tempat kejadian, mereka bilang kalo Indah dan anak yang satunya lagi itu di bawa oleh orang yang kebetulan lewat jalan sana, dia orang baik yang berusaha untuk menolong. Menurut papa aneh gak sih, pah?" pria itupun mengerutkan dahinya dalam seraya berpikir.
"Apa mungkin kamu salah denger waktu itu?"
"Terus sekarang rencana kamu apa?" mama Anna tertegun sambil berpikir.
"Ya aku harus pastikan lagi sama warga itu, kalo orang yang mengaku sebagai orang tua anak itu benar atau memang orang yang kebetulan lewat aja?!" papa Abdi mengangguk setuju.
"Ya. Kita harus pastikan lagi itu."
***
Sore harinya, Al sudah sampai di tempat dimana mamanya sering datang ke sana saat mempunyai masalah. Tempat itu di jadikan maam Ressa untuk menenangkan hati dan pikirannya. Villa, yang berada di daerah Bandung merupakan tempat tersebut.
Al memarkirkan mobil di halaman Villa tersebut, tempat itu tampak sepi. Namun asri dan sejuk. Serta jauh dari kebisingan ataupun kendaraan yang berlalu lalang.
__ADS_1
Pria itu langsung masuk ke dalam Villa setelah turun dari mobilnya. Kemudian mencari keberadaan mamanya di sana. Ia menyusuribsetiap ruangan Villa, namun ia tidak juga menemukan sosok yang saat ini ia cari. Sampai akhirnya, kedua bola matanya menangkap seorang wanita yang tengah duduk di bangku taman belakang Villa itu. Ia pun segera menghampiri wanita tersebut.
"Mah.." panggilnya lirih, wanita itupun menoleh.
Dia terkejut melihat putra yang telah mengecewakannya kini berdiri di hadapannya. Wanita itu langsung beranjak dan berniat menjauh. Namun pria itu berhasil meraih pergelangan tangan sang mama kemudian di peluknya tubuh wanita tersebut.
"Mah, aku mohon dengerin penjelasan aku!" Al berbicara tepat di bahu mamanya.
Mama Ressa yang masih kecewa pun melepaskan pelukan Al. Dia tidak ingin mendengar alasan apapun dari pria itu. Namun Al akan tetap menjelaskan tanpa putus asa sampai mama Ressa mengerti.
"Mama tidak mau dengar penjelasan apapun, Al! Mama kecewa. Hati mama sakit. Mama hancur!" ucapnya seraya terisak.
"Tapi aku mohon, mah. Kasih aku kesempatan buat-"
"Cukup, Al! Lebih baik kamu pergi dan tinggalkan mama sendiri di sini!"
Keadaan seketika berubah mengharu biru, pada saat Al kini berlutut di hadapan mama Ressa seraya memohon.
"Mah, aku melakukan semua ini semata-mata karna mama. Aku menikahi perempuan pacar dari laki-laki yang di cintai Disa. Disa meminta aku melakukan ini. Dan aku memenuhi permintaannya agar aku tidak melihat wajah sedih mama, saat Disa harus merasakan sedih karna laki-laki yang di cintainya menjadi milik orang lain," Al menghela napas.
"Kalau Disa sampai sedih, mama juga pasti ikut sedih, kan? Itu yang aku takutkan, mahb Aku gak mau melihat mama, sehancur dulu, mah. Tali kalau keputusan aku ini salah, aku akan menyelesaikan pernikahan aku dengan Amera," tambah pria itu.
Kalimat Al barusan berhasil menyentuh hati mama Ressa, mungkin maksud Al ini baik, dia tidak mau melihat dirinya sampai sedih saat Disa berada di titik kecewa.
___
NB:
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE dan hadiah ❤❤❤ yah. Biar aku semangat up.