TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 13


__ADS_3

Setelah lima menit melompat-lompat di atas kasur, akhirnya Disa memilih untuk membaringkan tubuhnya kembali.


"Akhirnya Revan percaya juga sama cerita gue, kalau pacarnya itu udah lama selingkuh sama Alan. Dengan begitu, Revan pasti akan kembali lagi ke pelukan gue," Disa tersenyum menyeringai, merasa puas dengan apa yang telah ia lakukan.


"Ternyata mempengaruhi Revan itu gak sesulit yang gue kira," ucapnya lagi, kemudian kembali tersenyum menikmati kemenangannya atas Revan.


Bagi Disa, tujuan hidupnya saat ini adalah membuat Revan sang pujaan hatinya kembali lagi ke dalam pelukannya. Apapun itu caranya, akan Disa lakukan guna keinginannya terwujud. Tidak perduli jika ada salah satu pihak yang tersakiti, selama tindakannya tidak termasuk kriminal, berarti dirinya bukan seorang penjahat.


Malam sebelum Revan keesokan harinya bertemu Amera, Disa sudah lebih dulu menemui Revan. Mengarang cerita seolah kakaknya ini sudah berhubungan lama dengan Amera. Itulah sebabnya mengapa Amera bisa langsung menerima lamaran Alan padahal statusnya masih berpacaran dengan Revan. Dan bodonya, Revan kemakan omongan Disa. Mengirimkan pesan pada Amera untuk bertemu di sebuah kafe untuk menanyakan kejelasannya.


Setelah ketemuan di cafe, Amera memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Revan. Itu yang membuat Revan semakin yakin dengan cerita Disa. Setelah mereka pergi dari kafe tempat mereka ketemuan, Revan mengirimkan pesan pada Disa tentang kebenaran hubungan Amera dengan Alan seperti yang di katakan gadis itu. Itu yang membuat Disa bersorak penuh gembira melompat-lompat di atas tempat tidurnya. Sampai ia mengabaikan panggilan masuk dari mamanya.


Beberapa detik kemudian, senyumnya memudar ketika ada sesuatu yang menggelitik rasa penasarannya.


"Tapi tunggu, deh!" Disa bangun dari tidurnya, dan kini duduk menyandar di sandaran tempat tidurnya.


"Kok bisa ya pacaranya Revan menerima lamaran Alan? Kira-kira Alan pake cara apa ya, kok gue gak tau soal ini?" Disa mengerutkan keningnya dalam, sambil memikirkan jawaban atas pertanyaan dirinya sendiri.


Saat Disa tengah sibuk memikirkan jawaban atas pertanyaannya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya lumayan keras. Disa segera turun dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamar yang di ketuk barusan.


"Mau apa lo ketuk-ketuk pintu kamar gue?" tanya Disa ketus saat melihat seseorang di balik pintu kamanya ternyata Neni.


"Anu, mbak. Tadi ibu Ressa telpon, katanya suruh Neni buat kasih tahu mbak Disa kalau ibu dari tadi nelpon gak di angkat-angkat. Mbak Disa suruh telpon balik ibu karna ibu cemas, takutnya mbak Disa kenapa-kenapa," ucap Neni panjang lebar. Disa langsung melirik hp nya yang tergeletak di atas nakas.


"Yang bener, lo?" Disa tidak percaya, karena sedari tadi ia tidak mendengar hp nya berdering.


"Beneran, mbak. Kalau mbak Disa gak percaya, mbak bisa cek hp nya," jawab Neni cepat ketika dirinya di anggap bohong.


"Yaudah gie cek hp gue, lo balik sana ke dapur!"


"Iya, mbak," setelah itu Disa kembali menutup pintu kamarnya rapat, lalau mengecek panggilan masuk dati mamanya seperti yang di katakan Neni.

__ADS_1


***


"Alhamdulillaah ya, pah. Pengunjung coffe shop kita hari ini lumayan ramai," ucapan syukur bu Anna ketika melihat pengunjung coffe shop-nya ramai pengunjung.


"Iya, mah. Semoga selalu ramai seperti ini, yah," pak Abdi mengangguk sambil tersenyum senang.


"Oh iya, pah. Tadi siapa yang telpon papa?" bu Anna sebenarnya ingin menanyakan hal ini sejak tadi, tapi lantaran pengungjung coffe shop-nya yang tak kunjung surut, terpakasa ia jadi ikut turun tangan.


"Oh, tadi yang telpon papa itu Alan."


"Alan? Ada apa?" rasa penasaran bu Anna kian bertambah.


"Gak. Gak ada apa-apa kok, mah. Alan cuma nanyain Amera hari ini kemana. Itu aja, kok," mendengar suaminya bicara tentang Alan, bu Anna semakin semangat melanjutkan obrolan.


"Mudah-mudahan mereka itu cepat akrab ya, pah. Dan semoga Alan cepet-cepet nikahin Amera," melihat ekspresi wajah istrinya, pak Abdi tidak tega intuk mengatakan kalau putrinya tadi bilang akan bertemu dengan Revan. Ia tidak mau melihat kekesalan timbul di wajah istrinya untuk putrinya.


"Iya, mah. Kita do'akan saja yang terbaik untuk Mera putri kita," baru kali ini pak Abdi melihat istrinya begitu senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan Amera. Karena sejak kepergian putri mereka yang bu Anna anggap Amera sebagai penyebabnya, bu Anna tidak menyukai Amera dan semua hal yang berhubungan dengan gadis itu.


***


Pertanyaan Amera tadi seputar lamaran itu terus terngiang di telinga Alan. Bahkan mulai bersarang di otaknya. Namun pertanyaan itu justru bersahut-sahutan dengan pesan mamanya yang pernah mengatakan:


"Mama minta sama kamu, please Al. Penuhi semua permintaan Disa adik kamu. Mama gak mau sampai melihat Disa sedih apalagi kecewa. Putri mama sedih, mama juga akan sedih. Dan putri mama sampai kecewa, mama pun akan ikut kecewa. Paham?!"


Itulah alasan dan jawaban mengapa Alan melamar Amera. Semua atas permintaan Disa agar dia bisa kembali mendapatkan pacar Amera itu. Tentunya Alan tidak dapat menolak lantaran ia tidak mau sampai mamanya sedih ataupun kecewa jika Disa demikian.


Di tambah lagi dulu mamanya punya riwayat stress berat dan nyaris depresi ketika Dokter menyatakan rahimny harus segera di angkat setelah dirinya di diagnosa ada tumor ganas di dalam rahimnya.


Ketakutan Alan kian bertambah jika mengingat hal itu, maka dari iti dirinya memutuskan untuk memenuhi permintaan Disa.


Memikirkan pertanyaan gadis itu, seketika Alan teringat sesuatu. Segera ia rogoh benda pipih di saku jasnya. Alan mendial nomer seseorang di layar hp-nya, kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya.

__ADS_1


"Halo, Sen. Kamu ke ruangan saya sekarang, ya!" titah Alan pada seseorang di dalam telpon.


Tidak berapa lama saat Alan memanggilnya, seseorang itu masuk ke ruangannya. Arsen duduk di sofa yang Alan jadikan sebagai kursi kebesarannya.


"Ada apa, pak?" tanya Arsen memulai percakapan di antara mereka. Kelihatannya obrolan mereka akan membahas perihal penting seperti ekspresi wajah yang di tunjukkan Alan yang nampak serius.


"Saya mau tanya soal keluarga yang kamu gali informasi tentang mereka. Informasi apa saja saja yang sudah kamu dapat?" Arsen mengangguk paham soal pertanyaan barusan.


"Iya. Menurut informasi yang saya dapatkan, bu Amera bukan anak kandung dari bu Anna dengan pak Abdi," kalimat Arsen langsung membuat Alan terkejut, ia semakin penasaran dengan informasi yang akan di sampaikan Arsen selanjutnya.


"Maksud kamu?"


"Jadi begini, pak. Dulu, sebelum menikah dengan bu Anna, pak Abdi sudah lebih dulu menikah dengan wanita yang menjadi ibu kandung bu Amera. Beliau meninggal pada saat melahirkan bu Amera," Alan mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba memahami informasi seputar keluarga Amera


"Ada lagi, Sen?" rupanya Alan semakin tertarik dengan pembicaraannya kali ini, rasa penasaran juga terus menggelitik dirinya.


"Ada, pak. Pernikahan pak Abdi dan bu Anna di karuniai satu orang anak perempuan. Sayangnya anak mereka meninggal karena suatu insiden tabrak lari di sebuah taman dekat rumah mereka. Bu Anna menyalahkan bu Amera sebagai penyebab kematian putrinya, karena pada saat itu putrinya baru berusia sekitar tiga tahunan sedang bermain di taman tersebut bersama bu Amera. Sejak saat itu, bu Anna begitu membenci bu Amera. Begitu, pak."


Alan menanggapi informasi yang di sampaikan Arsen dengan serius, berulang kali ia mengusap dagunya seolah sedang berpikir keras. Informasi tersebut sangat membantu Alan untuk mengenal informasi keluarga Amera tanpa harus turun tangan.


"Apa saya harus menggali lagi informasi seputar keluarga bi Amera, pak?" tanya Arsen setelah beberapa saat mereka saling diam.


"Cukup! Untuk saat ini tidak perlu, Sen. Terima kasih ya atas informasinya."


"Sama-sama, pak. Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya lagi, pak," Arsen izin permisi setelah tugasnya selesai.


"Iya. Silahkan!"


Setelah Arsen keluar dari ruangannya, Alan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Memejamkan matanya sambil menghembuskan napas kasar.


___

__ADS_1


Jangan lupa tambahkan ke favorit dan nantikan bab selanjutnya.


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2