TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 52


__ADS_3

Setelah mobil Arsen keluar dari parkiran TPU Tanah Merah. Mobil Papa Abdi masuk menggantikan mobil Arsen barusan. Mama Anna turun membawa bunga tabur yang sempat ia beli di jalan tadi. Mereka berdua melangkahkan kaki guna sampai ke makam Putri mereka yang ada di bawah pohon besar.


Mama Ana berjongkok, kemudian mengusap batu nisan bertuliskan nama putrinya. Ia meninggalkan kecupan juga di sana. Setelah itu baru menabur bunga yang ia bawa di tangannya.


"Sayang .. Maafin mama sama papa ya. Gara-gara kita sibuk, kita gak sempat ke makam kamu, sayang," setetes air mata terjun dari pelupuk mata mama Anna.


"Mama selama ini berharap kamu hidup kembali. Tapi hal itu tidaklah mungkin. Sampai akhirnya Mama bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip sekali sama kamu, Indah. Mama berharap kalau seseorang itu adalah kamu," Mama Anna terisak. Tak kuasa menahan tangis.


Sementara Papa Abdi cuma bisa menenangkan istrinya. Sambil berkata dalam hati.


Kalau Disa adalah indah, terus anak yang dimakamkan sebagai Imdah ini siapa? Apa jangan-jangan jasad anak yang satunya lagi? Astagfirullahaladzim.. Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu?


Setelah selesai ziarah, pak Abdi dan Bu Anna memutuskan untuk langsung ke coffee shop. Mereka kini sudah di parkiran TPU hendak menaiki mobilnya. Namun kedatangan seseorang membuat mereka mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


"Pak Abdi, Bu Ana .." sapa seorang itu, rupanya sudah lama kenal dengan mereka.


"Mang Wawan?" Ujar mereka begitu menoleh.


"Pak Abdi dan Bu Ana ke mana aja? Udah lama nggak kelihatan ziarah ke makam anaknya," tanya mang Wawan.


"Iya, mang Wawan. Jadi akhir-akhir ini kami sibuk. Jadi baru sempat datang ke sini lagi. Barusan baru selesai ziarah. Mang Wawan gimana kabarnya? "


"Alhamdulillah baik pak. Saya sehat."


"Syukurlah kalau begitu."


"Oh ya, Pak, Bu. Tadi makam anak bapak sama ibu sempat kejatuhan ranting lumayan besar. Untungnya ada orang yang kebetulan habis ziarah juga. Dia bantu membuangkan rantingnya. Dan makam anak bapak sama ibu gak rusak. Terus dia jadi nanya-nanya makan anak bapak sama ibu, "ujar Mang Wawan.


Mama Anna seketika penasaran dengan orang yang mengkawan maksud. "Nanya-nanya soal makam Indah?"


Mang Wawan mengangguk. "Iya, Bu."


"Nanya-nanya gimana ya maksudnya?" tanya Mama Anna lagi.


"Dia cuma nanya makam anak ibu itu makam siapa, terus saya kasih tahu itu makam anak yang pertama kali saya ikut makamkan setelah saya menjadi pengurus makam di sini. "


"Ciri-cirinya gimana kalau boleh saya tahu? "

__ADS_1


"Laki-laki, tubuhnya tinggi. Kalau dari penampilannya sih kalau saya lihat dia bukan orang biasa, Bu. Pakaiannya juga memakai jas rapi," Mama Ana tertegun mendengar penjelasan Mang Wawan.


Selama sembilan belas tahun Indah meninggal baru kali ini ada orang yang nanya-nanya tentang makam Indah. Kalau dari ciri-ciri yang Mang Wawan sebutkan barusan, sepertinya orang itu bukan cuma kebetulan lewat dan habis ziarah di sini. Bisa jadi dia memang sengaja datang ke sini untuk mencari informasi tentang Indah. Siapa orang itu? Dan apa tujuannya?


***


Saat Al tengah disibukan oleh segala pemikirannya, suara pesan masuk menyadarkan dirinya. Ia segera membuka pesan yang dikirimkan oleh seseorang tersebut.


Nanti malam gue gak bisa nungguin Mama. Giliran lo! Gue mau istirahat di apartemen.


Al menghela napas panjang setelah membaca pesan Whatsapp dari Disa, kemudian menggeletakkan ponselnya di atas meja ruang kantor. Dia masih stay di sana sejak pagi, menghabiskan waktunya dengan memikirkan pembicaraannya dengan Arsen ditelepon tadi.


Gue udah bela-belain nikah sama Amera buat menuhin permintaan Disa. Karena gue gak mau Mama sampai sedih kalau lihat dia sampai sedih juga. Gue takut mama stress lagi kayak dulu. Sekarang, giliran Mama sakit, buat nungguin dan jagain Mama aja Disa gak mau. Keterlaluan!


_Bersambung_


***


Saat ini Al sudah sampai di rumah, ketika hendak memasuki kamar mamanya, ia berpapasan dengan Amera yang baru saja keluar dari kamar mama Ressa.


"Mama sekarang gimana, udah lebih baik?"


"Iya."


"Oh ya, Mas. Aku tadi sempat masak buat kamu. Kamu pasti lapar kan? Kita makan yuk!" Ajak Amilera dan mendapat anggukan dari Al, kemudian mereka berjalan ke ruang makan.


Sampai di ruang makan, Al menarik kursi kemudian menyampirkan jas nya di sandaran kursinya. Lalu ia duduk sambil melihat menu makanan di meja. Dia mengerutkan keningnya dalam.


"Itu nasi gorengnya Kenapa warnanya putih lagi? Kenapa, kecapnya habis lagi?"


Alih-alih menjawab, Amera malah tersenyum.


"Itu, aku sengaja nggak pakai kecap. Soalnya, waktu aku masak nasi goreng kecapnya habis, ternyata rasanya lebih enak. Tapi sayangnya kamu waktu itu gak makan keburu telepon Disa terus pergi ke kantor. Dan bukan cuma itu, mas. Selama aku jadi istri kamu, kamu belum pernah nyobain masakan aku."


Al menghela napas panjang, menatap wajah Amera yang sedang menunduk.


"Katanya ngajakin saya makan, katanya mau saya nyobain masakan kamu. Suaminya mau makan itu diambilin."

__ADS_1


Mendengar Al bicara seperti itu, Amera mendongak lalu dengan semangat mengambilkan nasi goreng tersebut ke piring di hadapan suaminya.


"Segini cukup? Atau mau aku tambahin lagi?"


"Udah, udah. Cukup! Kamu pikir saya apa makan segitu banyaknya?"


"Hehe .. Kalau kamu udah nyobain baru nagih loh, mas." Ujar Amera menggoda.


Al mulai menyendok nasi goreng tersebut dan ... Nasi goreng tersebut masuk ke dalam mulut Al. Pria itu mengunyah secara perlahan.


Enak juga masakannya Amera. Benar juga kata dia, nasi gorengnya lebih enak dari yang pakai kecap. Nyesel gue waktu itu gak makan.


"Gimana mas. Enak kan masakan aku?"


"Biasa aja," ucap Al dingin, memudarkan senyum di bibir Amera.


"Masa sih, Mas?" Amera menyendok nasi goreng di piring suaminya untuk memastikan rasanya. Padahal jelas-jelas nasi goreng di piringnya enak banget. Masa beda piring beda rasa.


Amera mengunyah nasi goreng yang ia sendok dari piring Al.


"Enak kok. Sama." Ujarnya polos.


"Karena kamu udah ngambil nasi goreng di piring saya. Sebagai gantinya, nasi goreng itu buat saya. Kamu nggak boleh nambah lagi, " Al menunjuk ke mangkok besar berisi nasi goreng di hadapannya.


Amera tersenyum geli mendengarnya. "Sama mangkuknya aja boleh kamu makan kok, mas. "


Al langsung melayangkan tatapan dinginnya. Amera pun segera mengatupkan bibirnya membentuk garis lurus.


"Bercanda kok mas, hehe ..." Dia memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Sementara Al kembali melanjutkan makannya.


"Bilang enak aja harus gengsi," ucap Amera pelan namun Al masih bisa mendengarnya.


"Ngomong apa barusan?"


Amera menggelengkan kepalanya cepat. "Hehehe .. nggak ngomong apa-apa kok Mas. Kamu lanjutin aja makannya."

__ADS_1


Wanita itu begitu senang melihat suami yang akhirnya mau makan masakannya.


_Bersambung_


__ADS_2