TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 59


__ADS_3

Al dan Amera kini berada di kamar mama Ressa. Mereka tengah membujuk wanita itu untuk sarapan setelah berhasil membujuk untuk membukakan pintu kamarnya.


"Ma. Mama makan dulu ya. Mama belum makan dari kemarin, aku takut Mama sakit lagi," ujar Amera yang duduk di tepi ranjang samping Mama Ressa sambil menyendok bubur di tangannya.


"Iya, Ma. Mama jangan kayak gini. Jangan terlalu mikirin Disa! Lagian percuma juga kan? Semua udah terjadi. Kalau mama kayak gini terus, Mama pasti akan sakit lagi. Mama makannya?!" Ucap Al yang mencemaskan mamanya.


Mama Ressa yang semula menatap kosong ke hadapannya kini menoleh. Dia menatap lekat putra dan menantunya.


Yang dikatakan Al memang ada benarnya. Semua sudah terjadi. Dan rasanya hati ini teramat hancur. Tapi aku tidak boleh sampai stress lagi. Aku tidak mau sampai harus merepotkan anakku lagi. Aku harus bisa menerima kenyataan pahit ini.


Akhirnya mama Ressa menganggukkan kepala, bertanda dia mau makan. Al dan Amera pun bernapas lega.


"Ya udah kalau gitu aku suapin ya, Ma!" Tawar Amera dan wanita itu mengganggukan kepalanya.


"Iya." Jawabnya.


Suapan pertama lolos masuk ke dalam mulut Mama Ressa. Amera menyuapi dan memperlakukan Mama Ressa layaknya seorang ibu kandungnya. Hal tersebut membuat Al merasa kagum terhadap istrinya.


Gue gak nyangka, kalau Amera bisa setulus ini sama mama. Ucapnya dalam hati.


Suara dering panggilan masuk memecah kesenyapan di antara mereka. Begitu dilihat layar ponsel nya mengeluarkan nama Arsen.


"Ma, Ra, saya angkat telepon dulu sebentar!" Pamit Al sebelum kemudian keluar dari kamar.


Al menutup pintu kamar mama Ressa rapat dan sedikit menjauh dari sana. Baru dia menjawab telepon Arsen.


"Ya, Sen, ada perkembangan apa!" Tanyanya begitu menempelkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya.


"Iya, Pak Barusan saya sudah ketemu sama dokter Handoko Wijaya. Ini saya sudah di perjalanan menuju Jakarta lagi."


"Ya udah kalau gitu besok kita bahas ini lagi di kantor ya. Nanti kamu langsung pulang aja. Saya tahu kamu pasti capek."


"Baik, Pak." Al mematikan sambungan teleponnya.


Arsen udah ketemu sama dokter yang pernah menangani anak itu waktu kecelakaan. Kira-kira apa ya Kata dokter itu? Pikirnya.


Kemudian Al kembali ke kamar mama Ressa Di sana Amera baru saja selesai menyuapi mama Ressa.

__ADS_1


"Siapa yang telepon, Mas?" Tanya perempuan itu penasaran.


"Arsen."


"Dia yang kamu suruh buat ke Sukabumi?" Pertanyaan Amera membuat nama Ressa ikut bertanya.


"Sukabumi? "


Aduh .. Kenapa Amera bahas soal ini di depan Mama sih. Mama pasti akan nanya-nanya.


Pria itu menghela napas serta tersenyum menanggapi pertanyaan mamanya.


"Iya. Arsen ke Sukabumi karena ada sedikit pekerjaan di sana." Kata Al berusaha menutupi ini semua dari mama dan istrinya.


"Pekerjaan? Pekerjaan apa yang membuat Arsen sampai ke Sukabumi?" Tanya Mama Ressa lagi. Al mulai merangkai alasan dipikirannya.


"Jadi begini ma. Kemarin ada cleaning service di kantor yang pergi mengambil barang di kantor. Dia ini aslinya orang Sukabumi. Terus aku meminta Arsen buat susulin dia ke sana untuk meminta pertanggung jawabannya. Barangnya emang kalau di nominal kan nggak terlalu seberapa. Tapi takutnya kalau dibiarkan bisa jadi contoh buruk untuk yang lainnya." Jelas Al berharap mama Ressa percaya akan ucapannya.


"Ya, itu benar. Sekecil apapun yang mereka lakukan mereka harus bisa tanggung jawab dan menanggung segala konsekuensinya." Tutur Mama Ressa.


"Tapi mas, kok bisa sih, sampai ada orang yang mencuri di kantor kamu. Yang kerja di sana pula. Katanya kamu bilang nggak sembarang orang bisa kerja di kantor kamu. Tapi kenapa orang yang kerja di kantor kamu itu sembarangan?"


Kalau saja tidak ada mama Ressa di sana, Al pasti sudah memarahi antara lantaran perempuan itu sudah berani bicara seperti itu.


Al kembali menghelan napas, kemudian menghembus napas tersebut secara perlahan. Berusaha meredam emosinya yang barusan muncul.


"Yang namanya hati manusia itu kan nggak bisa ditebak. Ya mana saya tahu dia bakal mencuri di kantor saya." Begitu jawabnya.


"Iya, seperti hati kamu, mas. Aku gak tau perasaan kamu ke aku gimana."


"Nggak usah ngelantur kalau ngomong!" ujar Al sebelum melipir keluar dari kamar.


Amera hanya bisa dia mendapat perkataan itu dari suaminya. Mama Ressa menatap menantunya yang mendapat perlakuan dingin dari putranya. Dia meraih buah tangan Amera yang berada di pangkuannya.


"Kamu yang sabar ya. Al memang anaknya seperti itu. Mama yakin suatu hari hangatnya perhatian kamu akan mencairkan sikap dinginnya. Percaya sama mama! Oke?!"


Amera mengangguk setelah mendapat kekuatan dari mama Ressa.

__ADS_1


"Iya, Ma. "


***


Bayangann On.


"Oh ya, Pak, Bu. Tadi makam anak bapak sama ibu sempat kejatuhan ranting lumayan besar. Untungnya ada orang yang kebetulan habis ziarah juga. Dia bantu membuangkan rantingnya. Dan makam anak bapak sama ibu gak rusak. Terus dia jadi nanya-nanya makan anak bapak sama ibu."


"Nanya-nanya soal makam Indah?"


"Iya, Bu."


"Nanya-nanya gimana ya maksudnya?"


"Dia cuma nanya makam anak ibu itu makam siapa, terus saya kasih tahu itu makam anak yang pertama kali saya ikut makamkan setelah saya menjadi pengurus makam di sini."


"Ciri-cirinya gimana kalau boleh saya tahu? "


"Laki-laki, tubuhnya tinggi. Kalau dari penampilannya sih kalau saya lihat dia bukan orang biasa, Bu. Pakaiannya juga memakai jas rapi."


Bayangan Off.


Pak Abdi menatap istrinya yang telah duduk di tepi ranjang tempat tidur. Beliau menjatuhkan tubuhnya ikut duduk tepat di samping Mama Anna.


"Kamu mikirin apa lagi, Ma?" Wanita itu pun terbangun dari segala pemikirannya.


"Papa. Mmm ... Aku masih penasaran aja sama orang nanya-nanya makam Indah. Sebenarnya untuk apa dan siapa orang itu?"


"Ya ... mungkin karena dia udah bantuin membuang ranting yang jatuh ke makam Indah. Orang itu jadi nanya-nanya itu makan siapa. Udah ya, nggak usah terlalu dipikirin." Ujar papa Abdi berusaha menenangkan.


"Ya tapi kan menurut aku aneh aja Pa, buat apa coba? "


"Syuttt.. udah ya, ma. Kita berangkat ke coffee shop aja sekarang. Ini udah jam tujuh lebih. Nanti kita telat. " Ajak papa Abdi.


Sebenarnya Mama Anna masih ingin membahas hal ini, tapi terpaksa dia harus mengalah dan memilih menuruti apa kata suaminya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2