TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Kesalahpahaman


__ADS_3

"Kamu ini harusnya senang, kamu akan mempunyai calon suami yang kaya. Kamu gak perlu repot-repot cari kerja, tinggal duduk manis dan cukup layani suami kamu aja udah cukup, bukan? Mama gak mau tahu, kamu harus jadi sama Alan, biar kamu gak numpang terus di sini dan ngerepotin orang tua. Ngerti?"


Keputusan bu Anna memang tidak bisa di ganggu gugat, sejak dulu Amera selalu nurut dengan apa yang di katakan oleh mama tirinya ini. Pak Abdi sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar dan memilih pasrah.


Amera berjalan mendekati papanya, memeluknya sembari terisak. "Kenapa harus begini, pa? Kenapa papa sama mama tidak memberi tahu aku terlebih dahulu?"


"Maafin papa ya, nak. Papa tidak tahu harus berbuat apa? Papa yang salah, nak. Papa minta maaf!" pak Abdi pun ikut sedih atas apa yang telah di lakukannya, ia memeluk putrinya dengan begitu eratnya. Ia bisa merasakan kesedihan putrinya yang begitu mendalam ini. Pak abdi menghujani putrinya dengan ciuman di pangkal rambutnya.


Tidak lama kemudian, bu Anna kembali lagi ke meja makan dengan memberikan sekotak cincin berlian yang sengaja terbuka.


"Pokoknya kamu harus terima lamaran Alan, kamu pakai cincin ini agar Alan mengira kalau kamu sudah terima lamaran dari dia," bu Anna menaruh kotak cincin itu di atas meja tepat di depan Amera.


Bu Anna kembali lagi ke kamarnya, sedangkan Amera tak henti-hentinya terisak. Menangisi kehidupannya yang tidak tahu nantinya akan seperti apa.


***


Di rumah Alan.


Alan, bu Ressa serta Disa juga sedang sarapan di meja makannya. Tidak ada percakapan di antara mereka. Seketika bu Ressa mengingat sesuatu.


"Al.. Disa.. Siang ini rencananya mama mau ke Singapur," bu Ressa membuka percakapan.


"Singapur, ma?" tanya Alan.


"Kok mendadak, ma? Memangnya mau apa?" Disa ikut bertanya.


"Bisnis restoran alm. Papa kalian ada sedikit masalah di sana. Dan, mama pikir juga akan menjual beberapa aset alm. Papa kalian di Singapur. Biar nanti kita bisa buka bisnis di sini saja," jelas bu Ressa pada putra putrinya.


"Nanti siang aku ada meeting, ma. Aku gak bisa antar mama ke bandara. Gimana kalau mama di antar sama Arsen aja, gak apa-apa kan?"


"It's okay, Al. Mama gak apa-apa. Lagi pula kalau Arsen gak bisa, mama bisa naik taksi," bu Ressa mengusap bahu putranya, ia tidak ingin merepotkan Alan.


"Arsen pasti bisa, ma. Nanti aku telpon dia."


"Mama berapa lama di Singapur?" lagi-lagi Disa bertanya.


"Agak lama sih, kayaknya. Ya.. kurang lebih sekitar dua bulanan, lah. Kalian gak apa-apa kan mama tinggal sebentar?"


"Gak apa-apa, ma. Mama jaga diri di sana," ujar Alan.


"Kalian juga jaga diri baik-baik di sini!"


Alan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ma.. Aku berangkat dulu, ya!" sembari bangkit dari duduknya dan mengambil jas di sampaikan di kursi, kemudian menyalami bu Ressa.

__ADS_1


"Iya, hati-hati Al..!"


"Aku juga kayaknya mau keluar sebentar deh, ma. Aku ada janji sama teman-teman SMA aku," Disa pun menyalami mamanya setelah Alan sudah pergi duluan.


"Iya, kamu juga hati-hati!"


"Ok, ma."


Bu Ressa menghela napas berat, ia berharap tidak akan ada masalah ketika dirinya nanti berada di Singapur.


***


Revan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa di ruang kerjanya dengan mata terpejam. Beberapa kali ia melihat layar hp-nya, namun tidak ada panggilan masuk atau sekedar pesan dari Amera.


"Kamu kemana, Mera? Kenapa kamu tidak mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?"


"Apa kamu benar-benar menjalin hubungan diam-diam di belakang aku dengan laki-laki itu, Mera?"


Revan memegangi kedua sisi kepalanya kuat-kuat, mencoba membuang penat yang ada di dalam pikirannya.


Berusaha untuk berpikir lebih baik tentang kekasihnya, namun pikiran itu segera ia tepis ketika kembali ingat bagaimana kejadian malam tadi.


"Kemarin.." Revan ingat sesuatu. "Kemarin pun kamu mencoba untuk pergi diam-diam tanpa izin dulu sama aku, kalau saja kemarin aku tidak ke rumah kamu, mungkin aku gak akan pernah tahu antara kamu dengan laki-laki itu."


Ia kembali menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap langit-langit kemudian bergumam, "andai kamu datang dan jelaskan semuanya, Mera.."


Selang beberapa detik, pintu ruangan Revan di ketul oleh seseorang. Revan segera bangun dan berharap yang datang adalah Amera.


"Masuk!" terikanya pada seseorang pengetuk pintu.


Begitu pintu terbuka, muncul seorang wanita dengan memakai gaun berwarna merah merekah. Senyuman Revan untuk menyambut kedatangan Amera seketika pudar ketika ia menyadari kalau yang datang bukanlah Amera, melainkan Disa.


"Selamat pagi, sayang.." sapanya, kemudian menghampiri Revan tanpa menutup kembali pintu itu dengan rapat.


"Kamu masih ingat kan kalau dulu kamu sering nyapa aku seperti itu?" Disa mencoba untuk membuat Revan ingat lagi pada masa ketika mereka dekat.


Karena Revan tidak menggubris, Disa pun mencari cara lain agar Revan mau bicara dengannya. Disa duduk lebih dekat lagi dengan Revan.


"Revan.. Kamu ingat, gak? Waktu itu kita dekat.... banget. Walaupun saat itu kita gak sampai jadian, tapi kita sudah mengarah ke sana, kan? Kamu sering panggil aku dengan panggilan sayang. Aku yakin kamu pasti gak lupa, kan?" Disa terus berusaha dengan terus menggoda Revan.


Jangankan mau bicara, untuk menatap balik Disa saja Revan enggan. Revan memilih untuk diam, ia tidak mau kalau pikirannya semakin kacau.


"Revan.. Revan sayang..." Disa menyebut namanya dengan penuh godaan, sesekali ia memegang pipi bahkan dada bidang milik laki-laki itu.

__ADS_1


"Hentikan, Disa!" Revan menepis tangan Disa sedikit kasar, sehingga membuat wanita itu merasa tidak percaya, kalau Revan sekasar ini.


"Disa, kamu dengar baik-baik. Jangan pernah ganggu kehidupan aku lagi! Lebih baik, kamu pergi sekarang juga!" Revan mengusir Disa, ia menjauhkan dirinya dengan cara menggeser duduknya lebih jauh.


Tapi Disa tetaplah Disa, ia tidak ingin menyerah samapi di situ saja, sampai Revan benar-benar mau kembali ke pelukannya seperti dulu.


"Revan.. Kamu ingat, gak? Dulu kamu sering ajak aku jalan-jalan. Sampai pulang larut malam," lagi dan lagi Disa mengingatkan Revan tentang kedekatan mereka dulu.


"Terus kamu pernah ngajak aku masuk ke rumah hantu. Saat itu aku ketakutan, Revan... Saat itu juga kamu peluk aku. Kayak gini.." Disa menghambur memeluk Revan begitu saja, tak perduli dengan Revan yang sudah mengusirnya tadi.


Amera, ia berpikir untuk bicara dengan Revan tentang masalah kemarin di kafe Manik. Dan berharap kalau Revan tidak tahu masalah dirinya mengenai Alan yang melamarnya semalam. Itu pasti akan membuat hubungan mereka semakin renggang.


Jam-jam segini, Revan pasti sedang berada di kantornya. Makanya Amera memutuskan untuk datang ke sana.


Dengan senyum yang terpancar di wajahnya, Amera terus melangkah maju untuk segera sampai ke ruangan Revan.


Beberapa detik kemudian, langkah Amera terhenti, ketika ia melihat sesuatu dari celah pintu yang terbuka.


"Revan.. Disa.." Kaki yang menopang sekujur tubub Amera seketika melemas, rasanya ia kehilangan beberapa tenaga yang baru saja terkumpul di dalam dirinya.


Revan, adalah laki-laki harapan terbesarnya. Satu-satunya orang yang ia pikir akan membantunya keluar dari kehidupan yang saat ini menjebak dirinya dari genggaman Alan, justru penilaian Amera tentang Revan kini berubah seratus delapan puluh derajat.


Revan membuatnya terdorong semakin jauh dan semakin dalam ke dalam jurang penderitaan.


Bagaimana mungkin Revan bisa melakukan itu semua? Sementara dia bilang kalau dia tidak pernah memiliki hubungan apapun dan tidak akan pernah mempunyai hubungan apapaun samapi kapanpun dengan Disa.


Amera menitikkan air matanya, masih tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Air mata itu menggulir sampai jatuh melewati dagu runcingnya.


Tak mau menambah luka lagi dengan terus melihat kekasihnya bersama wanita lain, akhirnya Amera memutuskan untuk tidak jadi menemui Revan dan memilih untuk pulang.


Naasnya, Amera menabrak seorang OB yang sedang mengepel di dekatnya. Itu sampai terdengar oleh Revan dan Disa yang sedang ada di dalam.


"Maaf, saya tidak sengaja!" ucap Amera.


"Iya, bu. Tidak apa-apa!" kata si OB tersebut.


Tidak mau Revan atau Disa sampai melihatnya, Amera pun segera lari dari sana. Air matanya terus bercucuran jatuh ke lantai.


***


NB: Semuanya jadi pada salah paham. Huaaaa... kasihan ya mereka! terus tunggu kelanjutannya dengan cara menambahkan ke ke favorit.


Follow ig: @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2