TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 49


__ADS_3

Amera yang baru saja mengambil ponsel milik mama Anna bergegas kembali ke ruang makan. Langkahnya melambat saat melihat suaminya tengah berdiri menatap dinding sambil melamun.


"Kamu ngapain, mas?" pertanyaan Amera membuat tubuh Al terlonjak kaget, padahal Amera sama sekali tidak mengejutkannya.


"Sa-saya, saya gak ngapa-ngapain. Kamu darimana?" Ngikutin saya ke kamar mandi? Jangan-jangan kamu ngintipin saya, ya?" tuduhan Al barusan membuat Amera tersenyum geli.


"Ya ampun, mas Al. Ngapain juga aku ikutin kamu ke kamar mandi, apalagi sampe ngintipin kamu segala. Kamu itu ada-ada aja sih, mas. Ini aku habis ambil handphone mama di pantry, katanya ketinggalan waktu dia masak tadi." Amera menunjukan ponsel di tangannya yang merupakan ponsel mama Anna, pria itupun mengangguk percaya.


"Oh."


"Yaudah, kita kembali ke ruang makan, yuk! Mama sama papa pasti nungguin."


"Iya," jawab Al singkat.


***


Setelah makan malam di rumah papa Abdi selesai, Al dan Amera berpamitan untuk pulang. Dan saat ini mereka sudah ada di kamarnya.


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, namun Al belum juga bisa tidur. Sebab ia kepikiran soal foto anak kecil dalam figura yang ada di rumah orang tua Amera. Sedangkan Amera sendiri sudah tidur sejak mereka pulang dari rumah papa Abdi.


Kenapa di rumah Amera juga ada foto anak itu, ya? Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kecelakaan adiknya seperti yang Amera pernah bilang sama gue? Pikir Al dalam hati.


Al mengusap dagunya serta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak seperti orang yang tengah berpikir keras.


Amera, wanita yang sebelumnya tidur dalam posisi terlentang kini mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke arah Al. Ia membuka mata dan mendapati suaminya tengah melamun, dan begitu melirik jarum jam sudah larut malam. Wanita itupun akhirnya bangun.


"Mas," panggil Amera lirih, Al sedikit terkejut mendengar Amera memanggilnya, ia menoleh sembari menghela napas panjang.


"Kamu kenapa bangun? Ini masih malam. Tidur!"


"Harusnya aku yang nanya sama kamu, mas. Kamu kenapa belum tidur? Ini udah malem, loh. Kenapa? Mikirin apa?" Amera membenarkan posisi duduknya ke posisi yang lebih nyaman.


Setelah beberapa saat terdiam, Al pun menjawab pertanyaan Amera. Tidak ada salahnya juga jika dia menceritakan apa yang sedang ia pikirkan.


"Kamu pernah bilang ke saya, kalau kamu di benci sama mama Anna karena mama Anna pikir kamu penyebab kecelakaan adik kamu sampai adik kamu meninggal. Kalau boleh saya tahu, itu kronologisnya seperti apa?" wajah Amera berubah sedih saat Al kembali menanyakan perihal yang membuatnya terpuruk waktu itu.


"Jadi waktu itu, saat aku sama adik aku masih sama-sama kecil. Kita sama mama lagi main ke taman. Terus mama bilang mau ambil makanan sebentar ke rumah. Kebetulan jarak taman dengan rumah kita itu lumayan dekat."


"Terus aku sama adik aku lagi main balon. Balon adik aku terbang dan dia lari ngejar balonnya. Aku udah coba kejar tapi-" Amera mulai terisak, air mata yang semula mengumpul di pelupuk matanya kini mengalir tanpa izin dari pemiliknya.

__ADS_1


"Tapi waktu itu ada mobil yang menabrak adik aku. Aku, aku mau nyamperin adik aku itu tapi di sana sudah banyak warga langsung bergorombol. Aku gak berni buat liat adik aku. Aku benar-benar takut waktu itu. Aku memutuskan untuk bersembunyi di balik pohon. Sampai akhirnya mama datang dan menanyakan keberadaan adik aku dimana. Dia marah, dia membenci aku sampai, sampai mengatakan kalau aku bukanlah puti kandungnya."


Tangis Amera kian pecah, Al jadi tidak tega melihat Amera menangis sesenggukan seperti itu. Pria itu mengambilkan selembar tisu kemudian di berikan pada istrinya.


Amera mengusap air matanya menggunakan tisu tersebut.


"Saat itu juga aku jadi tahu, kalau aku bukanlah putri mama Anna. Aku putri dari istri papa yang pertama, yang meninggal saat beliau melahirkan aku," imbuhnya.


"Udah, udah, cukup, ya! Saya minta maaf udah bikin kamu sedih karena ingat masa lalu kamu. Udah, ya, nangisnya!"


Amera mengangguk lemah.


"Emm .. Saya mau tanya satu hal lagi, foto dua anak kecil di rumah kamu, itu siapa?"


"Itu aku sama Indah."


Nama yang baru saja Amera sebutkan membuat Al teringat dengan chat yang Arsen kirimkan beberapa waktu lalu.


Bayangan On


Selamat malam, pak. Saya cuma mau memberi tahu soal nama anak perempuan dari pak Abdi dan bu Anna. Namanya Indah Arandita.


Indah? Apa maksud Amera itu fotonya dengan adiknya, ya?


"Emang kenapa, mas? Apa kamu tahu sesuatu?" Al menoleh pada Amera.


"Saya cuma mau tahu lebih jauh aja tentang kamu dan keluarga kamu."


Seketika senyum Amera terbit. Ia senang karena ia pikir Al mulai perduli dengan hidupnya.


"Kenapa senyum-senyum?" lagi-lagi Al menatap Amera dengan tatapan aneh.


"Gak apa-apa kok, mas. Mau aja. Lagian kata pepatah, setelah badai hilang pasti akan ada pelangi. Setelah tangis pasti akan ada tawa. Dan ternyata itu benar."


"Pepatah dari siapa?"


"Dari ..." Amera tampak berpikir.


"Gak usah mikirin yang gak penting! Tidur! Udah mah subuh bentar lagi adzan."

__ADS_1


Ada perasaan senang sekaligus bahagia saat Amera mendapat perhatian kecil seerti itu dari suaminya.


"Iya, mas. Good night! Eh, udah mau subuh berarti bukan night. Subuh bahasa inggrisnya apa ya, mas?" pertanyaan konyol Amera barusan membuat Al kembali mengeluarkan suara datarnya.


"Tidur!"


Amera langsung mengatupkan bibirnya. "Iya, mas."


***


"Ada tumor di rahim ibu, sehingga kita harus melakukan operasi pengangkatan rahim ibu Ressa. Karena jika itu tidak di lakukan akan sangat membahayakan nyawa ibu Ressa," jelas seorang Dokter.


Mama Ressa tampak shock dan tidak percaya dengan apa yang baru saja Dokter katakan.


"Pengangkatan Rahim?" Dokter itu mengangguk membenarkan.


"Betul, bu."


"Itu artinya saya tidak akan bisa punya anak lagi, Dok. Saya tidak mau, Dokter. Apa tidak ada cara lain selain rahim saya di angkat?"


Dokter tersebut menghela napas panjang. "Maaf, bu. Ini adalah jalan satu-satunya. Ibu harus ikhlas, ya!"


Mama Ressa menggeleng ketakutan. "Tidak, Dok. Saya tidak mau. Saya tidak mau kehilangan rahim saya! SAYA TIDAK MAUUUU!" teriaknya histeris.


Kedua mata mama Ressa terbuka, keringat dingin di keningnya bercucuran mengalir sampai ke leher. Napasnya tersengal-sengal dan terdengar memburu. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan terhenti saat melihat Disa tidur di sampingnya. Wanita itu mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.


"Ternyata aku cuma mimpi," ujarnya seraya mendessah berat.


Di tatapnya wajah Disa lekat. Entah kenapa ada perasaan takut yang menjalar ke hati mama Ressa jika suatu hari nnti dia kehilangan putrinya itu. Seperti pada saat dia kehilangan rahimnya yang membuat dirinya mengalami stress berat.


Bersambung...


___


...**Dukung Novel ini dengan ...


...LIKE, KOMEN, VOTE, Hadiah POIN/KOIN dan tambahkan ke rak FAVORIT ❤**...


...follow ig @wind.rahma...

__ADS_1


__ADS_2