TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 23


__ADS_3

"Mama kok tumben ya gak ada telpon ke gue. Gue coba telpon tapi gak aktif-aktif lagi," Disa saat ini berada di Unit Apartemennya nampak memikirkan mama Resa yang belakangan ini tidak ada kabar. Biasanya mama Ressa akan menghubunginya hanya untuk sekedar menanyakan kabar tiap hari. Paling telat dua hari. Namun ini sudah lebih satu minggu.


"Gue coba telpon Al, deh. Siapa tau dia tau kenapa mama gak bisa di hubungi," Disa segera membuka layar kunci hp di genggaman tangannya. Lalu mendial nomer di sana.


Al saat ini berada di dalam mobil perjalanan menuju kantor. Segera mengangkat telpon dari adiknya ketika hp-nya sudah mengeluarkan dering panggilan masuk. Seperti biasa, ia menyambungkannya ke earphone.


"Iya, ada apa?"


"Emmm, lo tau gak mama gak bisa di hubungi itu kenapa? Soalnya belakangan ini mama gak ada kontek gue. Ya siapa tau lo tau makanya gue nanya sama lo," seketika Al tertegun. Mama Ressa memang tidak pernah sampai tidak memberi kabar selama berhari-hari. Dia pikir mamanya sibuk urusan pekerjaannya. Tapi kalau sampai melupakan putra putrinya berarti ada yang tidak beres.


"Nanti saya coba hubungi mama, sekalian ke nomer telpon Apartemennya juga."


"Yaidah deh kalo gitu. Gue juga mau ke butik. Kalo ada apa-apa jangan lupa kabarin gue!" pinta Disa sebelum menutup sambungannya.


Al menyopot earphone yang terpasang di telinga kirinya. Fokus menyetirnya seakan berkurang saat ia memikirkan mama Ressa. Terlebih mamanya sendirian di negeri orang. Bagaimana kalau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi?


***


Amera apa kabar ya? Apa dia baik-baik aja di sana? Aku harus memastikan kabarnya.


Saat ini pak Abdi tengah memikirkan putrinya di meja makan. Kebetulan dia dan istrinya sedang sarapan pagi ini.


"Ma, aku minta tolong ambilkan hp aku di kamar, bisa?" mama Anna pun mengangguk.


"Iya, pah. Sebentar ya!" tidak berapa lama setelah beranjak dari duduknya guna mengambil ponsel milik suaminya, mama Anna pun kembali.


"Ini, pah. Kamu mau telpon siapa emang?" tanya mama Anna penasaran.


"Amera, mah. Aku harus pastikan kalau putri kita baik-baik aja di sana."

__ADS_1


"Amera kan sama suaminya, pah. Dia pasti akan baik-baik aja," ujar mama Anna tidak begitu suka kalau suaminya memberi perhatian lebih terhadap Amera.


"Iya, mah. Aku tau. Tapi kita juga tau sendiri, kalau putri kita belum tentu baik-baik aja di sana," setelah mendial nomer Amera, papa Abdi segera menempelkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya.


"Assalamu'alaikum, pah. Ada apa?" jawab Amera dari sebrang sana.


"Walaikumussalam warrahmatullahi wabarrakatuh. Ini, nak. Papa cuma mau nanyain kabar kamu. Kamu baik-baik aja kan di sana?" Amera dapat mencerna dengan baik pertanyaan papanya kalau beliau sedang mencemaskannya.


"Aku baik-baik aja kok, pah. Maaf ya kalau selama aku tinggal di rumah suami aku, aku belum sempat hubungi papa," Amera merasa sangat bersalah telah membuat papanya khawatir.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Suami kamu gimana, apa dia memperlakukan kamu dengan baik di sana?" pertanyaan papa Abdi membuat Amera seketika terdiam. Sejauh ini Al bersikap biasa saja pada dirinya. Tidak baik dan tidak terlalu buruk.


"Nak, kenapa? Kok diam? Apa Al-"


"Mas Al baik kok, pah. Cuma aku harus bisa menyesuiakan diri dengan mas Al dan lingkungan di sini. Jadi, papa tenang aja!" ujar Amera ketika papa Abdi mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Benarkan kata aku, pah? Amera pasti akan baik-baik aja di sana. Kamunya aja yang berlebihan," ujar mama Anna yang sedari tadi menguping.


"Iya, mah. Tapi kan kalau aku sudah dengar sendiri dari Amera, baru aku bisa lega," mata mama Anna memutar malas mendengar jawaban suaminya. Sementara papa Abdi tahu betul kalau istrinya tidak begitu menyukai apapun yang berhubungan dengan Amera.


"Yaudah kalau gitu kamu cepat habisin sarapannha! Habis ini kamu temenin aku ke butik. Nanti sore kan kita udah janji buat datang ke pernikahan anak sahabat aku," papa Abdi mengangguk setuju lalu mengambil sepotong roti di piring yang belum sempat di habiskannya.


***


Suara bunyi telpon di Unit Apartemen mama Ressa berbunyi, tidak biasanya ada orang yang menelpon ke telpon Unit Apaetemennya. Awalnya dia mengabaikan telpon tersebut. Tapi ketika telpon kembali berbunyi, ia berpikir itu penting. Mama Ressa pun mengangkat gagang telpon tersebut.


"Halo."


"Halo, mah. Ini aku Al," kata penelpon dari sebrang sana. Mama Ressa pun merasa bahagia kemudian menyesal lantaran telah mengabaikan telpon dari putranya.

__ADS_1


"Al, my son. I'm sorry. Mama minta maaf, mama pikir bukan kamu yang telpon. Jadi mama biarkan begitu aja."


"Iya, mah. Gak apa-apa. Mama apa kabar, kenapa belakangan ini mama gak bisa di hubungi?"


"Itu dia, Al. Jadi beberapa hari lalu hp mama mati total karena terjatuh. Waktu itu mama sempat telpon kamu tapi nomer kamu gak aktif. Mama minta maaf ya kalau mama sampai bikin kamu cemas," Al bernapas dengan lega, lantaran tidak terjadi sesuatu buruk pada mamanya.


"Disa apa kabar, Al? Kamu masih ada di rumah kan? Mama mau bicara sebentar sama dia," ujar mama Ressa tidak sabar.


Oh, iya. Mama kan gak tau kalau Disa udah pindah ke Apartemen karena gue nikah. Mama gak boleh tau soal ini. Ujar Al dalam hati.


"Disa udah pergi, mah. Lagian dia kan sekarang udah sibuk di butiknya. Aku juga ini udah di kantor."


"Oh, begitu. Yaudah gak apa-apa," ada kecewa yang terdengar dari nada bicara mama Ressa. Bagaimana tidak, beliau begitu merindukan putrinya.


"Iya, mah. Mama baik-baik ya di sana. Jaga diri baik-baik dan jangan sampai kecapean!" mama Ressa tersenyum hangat mendengar perhatian dari putranya.


"Ok thanks, my son. Salam buat Disa, ya! Bye."


"Iya, mah," ucap Al sebelum sambungan telpon di antara mereka di matikan.


Saat ini Al masih bernapas dengan lega, lantaran mamanya belum tau perihal pernikahannya dengan Amera yang terjadi atas permintaan Disa. Al bingung bagaimana kalau nanti mama Ressa sudah kembali. Al takut mamanya akan kecewa lantaran dia menikah tanpa sepengetahuannya.


Sepertinya Al akan mengalami kehidupan yang lebih rumit yang saat ini sudah nampak di hadapan matanya.


___


Tambahkan ke favorit dan VOTE ya.


Follow ig @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2