TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 25


__ADS_3

"Kenapa kamu senyum-senyum? Ada yang lucu dari saya?" saat ini Amera tengah berada di halaman rumah guna mengantar suaminya berangkat ke kantor. Dan Al merasa aneh melihat istrinya senyum-senyum sambil mentapnya sejak tadi pagi. Amera mengelengkan kepalanya.


"Gak apa-apa kok, mas," jawabnya tanpa memudarkan senyum di bibir mungilnya.


"Kalo gitu bisa gak, gak usah senyum-senyum?! Saya risih liatnya," ucap Al dingin. Amera pun langsung mengatupkan kedua bibirnya saat mendapati sikap dingin Al.


"Yaudah, saya pergi!" tambahnya, kemudian masuk ke dalan mobilnya. Tanpa menghiraukan pesan Amera yang mengatakan, "Hati-hati, mas," sebelum mobil Al benar-benar hilang dari pandangan.


Mali, si penjaga gerbang rumah pun menutup kembali gerbangnya setelah mobil bosnya pergi dari sana. Sementara Amera masih mematung di tempat. Seraya memandang ke arah perginya mobil suaminya. Dan membiarkan sinar mentari pagi jatuh ke tubuhnya.


Aku memang pernah berpikir, kalau melupakan kenangan yang sudah aku bangun semanis mungkin bersama masalaluku adalah hal yang sulit. Bahkan aku pikir itu mustahil. Sampai akhirnya aku mencoba membuka hati aku untuk pria lain yaitu suamiku. Aku rasa melupakan masalalu tidak sesulit yang aku kira. Hanya saja, semua butuh waktu.


Amera bergumam dalam hatinya. Sekilas, senyum di bibirnya kembali terbit. Saat mengingat kejadian semalam. Ia tidak menyangka, kalau membuka hati untuk Al akan semenyenangkan ini.


***


Saat ini Revan tengah duduk di ruang kerjanya di kantor. Pikirannya belum terlepas dari mantan kekasihnya yaitu Amera. Terlebih beberapa hari lalu ia sudah menyelamatkan Amera dari para preman yang hendak melecehkannya. Ingin rasanya Revan menanyakan kabar Amera saat ini, tanpa memperdulikan status Amera yang sudah bersuami.


Revan meraba saku di balik jas biru navy yang di kenakannya guna mencari ponselnya di sana. Namun yang dia dapat sebuah benda kecil yang tempo hari dia temukan di taksi.


"Cincin ini?" sambil memutar barang tersebut di depan wajahnya. Revan mengingat ketika ia menemukannya di dalam taksi.


"Padahal waktu itu aku sudah memberikan nomer telponku pada Driver taksi itu. Tapi kenapa, sampai saat ini tidak ada telpon untuk memberikan informasi siapa pemilik cincin ini?" ujarnya masih sambil mengingat-ingat pembicaraannya dengan seorang Driver taksi.


Tiba-tiba saja Rvan di kejutkan oleh seseorang yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Hai, sayang!" panggil seseorang tersebut dengan raut wajah gembira. Dia berjalan ke arah Revan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Aku kangen banget sama kamu, sayang," seseorang itu merajuk. Kedua tangannya memeluk tubuh Revan. Namun segera di tepis oleh pria itu.

__ADS_1


"Kamu apa-apan, Disa. Datang tanpa permisi?" Revan tidak begitu menyukai kehadiran Disa saat ini. Perempuan itu tidak perduli dengan ucapan Revan.


"Sayang... Aku-" kalimatnya terhenti ketika kedua bola matanya menangkap cincin yang saat ini masih ada di tangan Revan. Ekspresinya berubah ketika Disa pikir Revan membelikan cincin untuk wanita lain. Atau mungkin untuk Amera lantaran Revan belum bisa move on.


"Cincin buat siapa?" tanya Disa sambil menatap tajam Revan.


"Itu cincin buat siapa, Revan? Jawab!" Disa semakin tidak sabar menunggu jawaban Revan.


"Ini-" belum sempat Revan menjelaskan tapi Disa sudah lebih dulu merebut cincin tersebut dari tangan pria itu.


"Mau kamu kasih buat siapa cincin ini, hah? Kamu itu cuma milik aku, Revan. Cuma aku yang tulus sama kamu!" ujar Disa tegas.


"Tapi-"


"Tapi apa? Pokoknya cincin ini buat aku! Cuma aku yang pantai memakainya. Aku pergi," Disa beranjak dari hadapan Revan dengan membawa raut wajah kesal yang begitu dalan. Sementara Revan hanya bisa mengerutkan keningnya atas kesalahpahaman yang tidak perlu di ambil pusing. Disa bukan siap-siapa dan cincin itu juga bukanlah miliknya. Jadi, bodoamat.


***


"Neni, tunggu!" Amera menghentikan langkah Neni yang hendak melangkah ke dapur.


"Iya, mbak Amera. Ada apa?" tanya Neni begitu antusias.


"Nanti biar saya lagi aja yah yang masak buat suami aaya. Kamu istirahat aja. Yah?!"


"Tapi, mbak. Ini kan tugas Neni, kalau mas Al tau nanti dia marah sama Neni gimana? Bisa-bisa mas pecat Neni nanti," kata Neni merasa tidak enak, lantaran semenjak hadirnya di rumah ini tugasnya berkurang satu. Yaitu memasak. Walaupun Neni sudah sering melarangnya.


"Please, ya! Lagian kan saya juga masak untuk suami saya sendiri. Mad Al pasti gak akan setega itu memecat kamu tanpa melakukan kesalahan. Yah?!" Amera sedikit memohon, hal tersebut membuat Neni semakin bingung. Dengan berat hati, Neni pun mengangguk.


"Iya, mbak," Kemudian Amera tersenyum. Saat ini ia tinggal memikirkan menu apa yang akan di masak nanti.

__ADS_1


"Oh, iya, mas Al nanti pulang jam berapa ya? Takutnya nanti dia pulang larut malam dan masakan aku berakhir sia-sia lagi," tanyanya pada sendiri. Lantaran Neni sudah kembali melipir ke dapur.


"Aku chat aja kali ya?" ujarnya lagi. Kemudian Amera mengambil ponsel ya g tergeletak di atas meja guna mengirimkan pesan pada Al, untuk menanyakan kapan dia pulang.


***


"Saya minta tolong sama kamu, Sen. Antar Meli ke Kamboja Caffe jam dua siang! Dia mewakili saya bertemu dengan klien," Arsen pun mengangguk mendapat perintah dari Al.


"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi ke ruangan saya lagi," pamitnya di angguki oleh Al.


"Silahkan!"


Setelah Arsen pergi, Al mengambil ponsel dari balik saku jasnya lantaran ada notifikasi pesan masuk. Dan ketika ia buka, ternyata itu pesan dari Amera.


Kamu pulang jam berapa, mas? Aku mau masakin kamu buat makan malam nanti.


Ali-alih membalas pesan istrinya, Al justru menghembuskan napas sedikit kasar setelah membaca chat tersebut. Al tidak pernah segelisah ini saat mendapat perhatian dari seorang perempuan. Banyak sekali perempuan yang pernah memberi Al perhatian guna mendapatkan hatinya. Namun mereka akhirnya memilih mundur setelah mengetahui sikap dingin Al yang terkesan acuh.


Di rumah, Amera tengah menunggu balasan chat yang sepuluh menit lalu ia kirim ke suaminya. Padahal di saan centang dua abu-abu sudah berubah warna menjadi biru. Tapi suaminya tidak juga mengetikkan balasan.


"Kenapa mas Al gak bales chat dari aku ya? Apa mungkin dia lagi sibuk kali ya?" pikirnya.


Saat Amera berada dalam pikiran suami yang tak kunjung membalas chat darinya. Suara notifikasi pesan masuk pun menerbitkan senyum di bibir mungilnya. Segera Amera sambar ponsel yang sempat ia geletakan di meja di hadapannya. Sedetik kemudian, senyumnya memudar. Ketika ia membuka chat dari seseorang yang bukan dia harapkan.


Amera, bisa kita ketemu? Aku tunggu kamu di Amora Caffe jam dua siang.


"Revan?"


___

__ADS_1


Tambahkan je favorit ya biar nanti ada notif pas update bab selanjutnya.


Follow ig @wind.rahma


__ADS_2