TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 54


__ADS_3

"Ngapain lo ke sini?" Disa kelihatan panik saat Al masuk ke ruangan nya di butik, tanpa memberitahu dirinya lebih dulu kalau Al akan pergi ke butiknya.


Al menutup pintunya kembali dengan menyisakan lubang pintu sedikit. Dia berjalan menghampiri Disa yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Kamu masih belum jawab pertanyaan saya."


"Pertanyaan yang mana?" tanya Disa gugup.


"Soal obat halusinasi." Jantung Disa kembali berpacu dengan cepat, dia pikir kalau Al tidak akan membahas lagi soal ini. Tapi dia berusaha tenang agar Al tidak curiga.


"Mau nanyain apa lagi sih, gue kan udah bilang kalau gue nggak tahu apa-apa soal itu Lo dikasih tahu sama siapa sih? Arsen? Dia Itu Bohong. Lo Percaya deh sama gue, gue itu adik lo."


"Cukup, Disa! Kamu nggak usah membalikkan fakta, kamu lupa kalau waktu saya telepon kamu untuk menanyakan soal ini, Revan ada sama kamu menanyakan hal yang sama. Dan saya dengar pembicaraan kamu sama Revan karena kamu tidak mematikan telepon."


Kedua mata Disa membulat sempurna, kepanikannya semakin menjadi. Disa merasa dipojokkan oleh Al.


Mati, gue! ujar Disa dalam hati.


"Di sana Revan mengatakan kalau kamu udah mencampur obat itu ke dalam minuman. Minuman siapa?"


Suasana kini cukup menegangkan. Al terus menyudutkan Disa, sementara perempuan itu tidak dapat menyangkal lagi.


Mama Ressa dan Amera sudah ada di dalam butik, mereka menatap takjub ke sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh pakaian dengan desain cukup mewah. Mama Ressa benar-benar tidak menyangka kalau putrinya pandai berbisnis. Seorang wanita yang Mama Ressa pikir itu pegawai putrinya, dia minta untuk menghampirinya.


"Iya Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai butik tersebut.


"Saya mamanya Disa-pemilik butik ini, jadi kamu tahu di mana ruangan putri saya? "


"Oh, Ibu Mamanya Bu Disa. Kalau begitu mari saya antar ke ruangannya. Kebetulan di sana ada Kakaknya juga."


Mama Ressa mengangguk. "Iya, iya."


"Mari, bu,"


Mama Ressa dan Amera mengekori perempuan tersebut sampai mereka berhenti di ruangan Disa.


"Ini ruangannya, Bu."


"Iya. Terima kasih, ya!"


"Sama-sama, Bu "


Setelah mengantarkan Mama Ressa dan Amera, perempuan tersebut kembali guna melayani para customer Glamour butik.


"Pintunya kebuka, kita masuk aja yuk!" Ajak mama Ressa, Amera ikut saja.

__ADS_1


"Iya, Ma."


"Ya. Gue beli obat halusinasi itu buat gue campur ke minuman Revan. Supaya gue bisa miliki Revan seutuhnya malam itu. Puas lo?" Ucap Disa dengan lantang pada Al.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Disa?"


Dua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu, mereka terkejut melihat mama Ressa bersama Amera berdiri di sana. Terutama Disa.


"Mama." Ujar Disa gugup sekaligus panik kalau mamanya mendengar apa yang dikatakannya barusan.


Mama Ressa menghampiri mereka dengan tatapan kekecewaan.


"Apa yang sudah kamu lakukan malam itu dengan Revan, Disa?" Mama Ressa mengulang pertanyaannya.


Keadaan kini benar-benar menegangkan, dia benar-benar merasa tersudut saat ini.


"Aku, aku membuat Revan berpikir kalau aku Mbak Amera dengan obat halusinasi itu. Terus Revan, dia-" Disa menggantungkan kalimatnya membuat tiga orang yang berdiri di hadapannya tidak sabar menunggu kelanjutan kalimatnya.


Dengan Disa menyebut-nyebut namanya, Amera takut kalau Disa melakukan hal yang keterlaluan.


"Dia melakukan hubungan khusus sama aku, ma."


"Astaghfirullahaladzim," ucap Mama Ressa seraya mengusap wajahnya, ia sudah tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Begitupun dengan Amera lantaran Disa sudah membuat Revan melakukan itu karena pria itu berpikir itu dirinya.


"Mama. Kecewa sama kamu, Disa. Sangat!" Mama Ressa pergi dari hadapan putrinya menahan isak tangis yang kian membuncah.


"Hheerrrghh... Kenapa jadi gini sih?" Disa menyapu bersih apapun yang ada di meja guna meluapkan kekesalannya.


_Bersambung_


Arsen memarkirkan mobilnya di halaman rumah seseorang. Kemudian Ia turun dari mobilnya. Seorang security rumah tersebut menghampiri Arsen.


"Selamat pagi, Pak. Mau ketemu Pak Sugandi lagi, ya?" Dari pertanyaan security barusan sepertinya Arsen pernah datang ke rumah ini sebelumnya.


"Iya. Pak sugandi nya ada?"


"Waduh, itu dia, Pak. Pak Sugandi lagi keluar kota. Katanya minggu depan baru pulang."


Ada ekspresi kecewa dalam raut wajah Arsen.


"Oh begitu ya. Emm ... Saya bisa minta nomor telepon beliau, karena saya ada urusan penting dengan Pak Sugandi."


Security itu pun mengangguk antusias.


"Bisa, Pak. Sebentar ya!" Dia merogoh ponsel yang ada di saku celananya. "Ini Pak nomornya."

__ADS_1


Kemudian Arsen menyalin nomor telepon dari ponsel security tersebut. "Terima kasih banyak, Pak."


"Sama-sama. Kayaknya Bos saya ini banyak banget urusan sama orang-orang deh," ujar security membuat Arsen yang semula hendak kembali ke mobil menjadi penasaran.


"Maksudnya urusan dengan banyak orang gimana, ya?"


"Iya, Pak. Jadi beberapa hari lalu, ada juga orang yang datang ke sini katanya ada urusan sama Pak Sugandi." Hal tersebut semakin menarik perhatian Arsen.


"Kalau Boleh saya tahu, mereka siapa?"


"Saya sih gak kenal, pak. Tapi yang pasti mereka ini sepasang suami istri deh."


Seketika Arsen berpikir.


Mereka siapa ya? Ada urusan apa mereka sama Pak Sugandi? Arsen sempat tertegun sebelum kemudian dia pergi.


***


"Mas, aku takut kalau mama pergi lagi seperti kemarin. Mama baru aja sembuh soalnya," ujar Amera cemas.


Saat ini dia bersama Al mengikuti mobil yang ditumpangi Mama Ressa bersama sopir pribadinya.


"Mama pasti pulang ke rumah," kata Al penuh keyakinan.


"Semoga aja," balas Amera.


Di tengah kekhawatirannya, ponsel Al berdering memecah keheningan. Al segera mengangkat telepon yang ternyata dari Arsen.


"Halo, Sen. Gimana, kamu udah dapat petunjuk?"


"Belum Pak, barusan saya ke rumah Pak Sugandi. Tapi beliau sedang pergi ke luar kota. Tapi saya sudah dapat nomor teleponnya."


"Kalau gitu kamu langsung hubungi dia, lebih cepat lebih baik!"


"Baik Pak." Sambungan telepon pun dimatikan.


Amera menatap Al seraya mengerutkan kening.


"Kamu barusan ngomongin petunjuk di telepon. Petunjuk apa sih, Mas?"


Al sontak terkejut mendapat pertanyaan barusan dari Amera, dia lupa kalau ada Ammera di sana. Pasalnya, ini rahasianya dengan Arsen dan Amera tidak boleh tahu sebelum semuanya tuntas.


"Bukan apa-apa. Ini masalah pekerjaan saya."


"Oh," jawab Amera.

__ADS_1


Wanita itu menatap suaminya yang terlihat sedikit gugup. Entah kenapa dia merasa ada yang suaminya tutup-tutupi dari dia.


_Bersambung_


__ADS_2