
"Jadi benar, laki-laki itu melamar kamu?" Amera nyaris tersedak mocca late yang sedang ia minum.
"Kamu tahi dari mana?" Amera terlihat gugup lantaran tiba-tiba Revan bertanya hal itu padanya.
"Malam itu aku datang ke rumah kamu, berniat untuk minta maaf atas kejadian yang tidak mengenakan antara Disa dengan aku. Aku takut kamu akan salah paham, karena kamu tidak bisa aku hubungi. Tapi ternyata, kamu sulit di hubungi karena sedang ada acara lamaran kan?" tuduhan Revan membuat Amera diam sejenak, kalau Revan sudah tahu, kenapa dia tidak membahas soal ini sejak mereka bertemu di taman kemarin.
"Kenapa diam saja, Mera? Jawab!" kali ini Revan berbicara dengan nada sedikit tinggi. Sehingga membuat tubuh Amera menahan ketakutan.
"Oh, atau jangan-jangan kamu sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari. Atau bahkan kamu sudah memiliki hubungan dengan laki-laki itu di belakang aku?" Revan rupanya mulai tersulut emosi. Apalagi sejak tadi Amera tidak memberi penjelasan apapun padanya.
"Revan. Semua yang kamu katakan itu tidak benar. Aku juga tidak tahu apa-apa di sini."
"Tidak tahu apa-apa? Jelas-jelas kamu selingkuh dengan laki-laki itu!" lagi-lagi Revan menuduh Amera dengan asumsinya. Amera tak kuasa menahan setitik kristal yang turun dari pelupuk matanya.
"Cukup! Aku sama sekali tidak seperti itu, Van. Justru kamu yang selingkuh dari aku. Kamu berpelukan mesra dengan Disa di kantor. Itu yang membuat aku berpikir untuk menerima lamaran dari Alan."
"Berpelukan dengan Disa di kantor?" seketika Revan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Disa datang ke kantornya. Saat itu Disa memang memaksa memeluk dirinya, tapi Revan tidak melihat ada Amera di sana.
Apa jangan-jangan suara seseorang di balik pintu ruangannya itu Amera? Yang menabrak OB yang sedang mengepel waktu itu memang Amera?
"Hanya karena itu kamu sudah bisa menyimpulkan kalau aku selingkuh?" Revan tersenyum getir, tidak habis pikir dengan kekasihnya ini.
"Sudah berapa kali aku bilang ke kamu, Mera. Aku sama Disa ini sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. Dulu kita memang sempat dekat, tapi kita tidak pernah menjalin hubungan," ujar Revan menegaskan.
Amera masih sibuk dengan tangannya yang menyapu sisa air mata di pipinya. Revan pun ikut membantu membantu menghapus air mata kekasihnya.
"Sayang. Semua ini cuma salah paham. Aku mau kita seriusin lagi hubungan kita. Okay?" Revan menggenggam kedua tangan Amera, menatap kedua manik mata gadis itu lekat.
Perlakuan sederhana Revan memang seringkali membuat Amera merasa di terbangkan. Seolah ia menjadi satu-satunya gadis beruntung yang memiliki sejuta kebahagiaan. Namun, tidak untuk kali ini. Setelah pak Abdi bicara kalau Revan tidak pernah datang untuk menyeriuskan hubungan mereka. Amera berpikir kalau Revan hanya akan main-main. Di tambah kehadiran Disa, gadis yang sempat dekat dengannya dulu. Bisa saja Revan akan kembali jatuh cinta dengan Disa, selama Disa tidak pernah menyerah untuk mendapatkannya kembali.
"Maaf, aku bisa. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini!" Amera melepaskan genggaman tangannya dari tangan Revan.
Sementara Revan seperti orang yang tersambar petir di siabg bolong. Ia memastikan pendengarannya yang ia kira mulai rusak ini.
__ADS_1
"Kenapa, Mera? Apa karena kamu benar-benar selingkuh dengan laki-laki itu, iya kan? Dan ternyata Disa benar. Kalau kamu sudah memiliki hubungan khusus dengan kakaknya tanpa sepengetahuan aku. Dasar Munafik!" Amera yang hendak pergi meninggalkan Revan tiba-tiba berhenti, memundurkan langkahnya ketika mendapat makian yang begitu melukai hatinya.
Plakk..
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Revan dengan mulus. Membuat semua pasang mata pengunjung kafe menatap ke arahnya. Amera tidak perduli untuk hal itu, menurutnya Revan sudah begitu keterlaluan. Amera lebih memilih pergi dari sana, berjalan dengan langkah yang tidak beraturan, serta air matanya berjatuhan ke lantai.
"Hapus air mata kamu, saya antar kamu pulang!"
Amera terkejut ketika ada seseorang memberinya selembar tisu dari dalam mobil. Ketika ia sudah berjalan sampai pinggir jalan depan kafe tersebut.
***
"Kamu ngapain nangis tadi, ada yang nyakitin kamu?" Alan mulai memberanikan diri untuk bertanya, saat melihat Amera sedikit lebih tenang.
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil, dalam perjalanan menuju rumah Amera. Amera mengatur deru napasnya, di akhiri dengan dehaman kecil. Mungkin akan menjadi obrolan pertamanya dengan laki-laki yang sudah berstatus tunangannya.
"Kamu yang nyakitin aku!" ucap Amera sambil menatap sayup Alan.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Amera barusan, membuat Alan menepikan mobilnya di bahu jalan yang kebetulan sepi.
"Kamu tahu kan kalau aku ini udah punya pacar? Lalu kenapa kamu melamar aku? Gara-gara kamu, hubungan aku sama Revan jadi berantakan. Sebenarnya apa sih tujuan kamu melamar aku?" setelah mengatakan hal barusan, Amera mengatupkan bibirnya. Entah darimana ia mendapat keberanian untuk mengatakan hal ini.
Sementara Alan di buat bungkam oleh pertanyaan Amera. Semua yang di lakukannya ini memang ada alasannya. Tidak mungkin seorang Alan Permadi melakukan tindakan yang gegabah. Apalagi ini menyangkut harga dirinya.
Maafin saya. Saya gak bisa memberi kamu penjelasab tentang alasan saya melamar kamu. Ucap Alan dalam hatinya.
"Lalu, apa alasan kamu menerima lamaran saya?"
Final sudah. Amera tidak dapat menjawab pertanyaan dari Alan ini. Dirinya juga tidak bisa memberi alasan kenapa lamaran laki-laki itu bisa ia terima.
"Kenapa diam? Gak bisa jawab kan? Sekarang gak usah banyak tanya. Saya antar kamu pulang!"
Tanpa menunggu jawaban dari Amera, Alan langsung saja melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
__ADS_1
***
Suara dering ponsel di atas nakas tak mampu menyadarkan pemiliknya yang sedari tadi bersorak dan kegirangan sampai melompat-lompat di atas tempat tidurnya. Entah apa yang membuat gadis itu bersuka ria seperti sekarang ini. Yang jelas ada alasan tertentu yang membuat dirinya sebahagia ini.
"Kenapa Disa tidak mengangkat telpon dari aku, yah?" bu Ressa menatap layar hp nya dengan perasaan cemas. Takut terjadi sesuatu pada putrinya.
"Coba aku telpon rumah aja deh," ujarnya lagi. Kemudian menempelkan benda pipih yang sedari tadi ia genggam ke dekat telinganya.
Di tempat kediaman keluarga Permadi. Neni, dang asisten rumah tangga baru saja mengepel lantai ruang tamu. Baru saja ia mengucapkan kalimat hamdalah, karena salah satu pekerjaannya telah ia selesaikan. Tapi, suara telpon rumah membuatnya sedikit kesal lantaran lantai yang baru saja ia pel masih basah dan ia harus mengangkat telpon tersebut.
"Siapa sih yang telpon, bikin Neni repot aja deh," dengan perasaan malas, Neni pun mengangkat gagang telpon.
"Halo. Siapa ya?" tanya Neni masih dengan perasaaan kesalnya. Namun ia berusaha sopan lantaran takut yang telpon ada keperluan penting dengan keluarga Permadi.
"Neni, saya bu Ressa. Disa-nya ada di rumah?" mendengar nama Ressa yang berarti itu ibu bosnya. Neni segera menutup mulutnya karena tadi ia bilang ini merepotkan dirinya saja.
"Oh, ibu Ressa. Mbak Disa ada, bu, di kamarnya. Maaf ya tadi Neni angkat telponnya lama, kirain Neni siapa. Eh ternyata bu Ressa yang telpon. Hehe.." Neni mengusap dadanya, untung dia tadi tidak jadi memearahi sang penelpon yang membuatnya kesal, kalau sampai itu terjadi, bisa tamat riwayat dia.
"Iya, Nen. Tidak apa-apa. Kalau begitu, bisa saya minta tolong sama kamu?"
"Bi-bisa, bu. Ibu mau minta tolong apa pasti Neni akan bantu," ucapnya antusias.
"Tolong kamu kasih tahu sama Disa, suruh dia angkat telpon dari saya! Soalnya saya telpon dari tadi gak di angkat-angkat juga, saya jadi cemas."
"Baik, bu. Nanti Neni akan sampaikan ke mbak Disa. Ada lagi, bu?" tanya Neni penuh antusias.
"Iya. Makasih ya, Nen. Itu aja, jangan lupa ya! Assalamu'alaikum."
"Walaikum salam," setelah sambungan terputus Neni kembali meletakkan gagang telponnya.
"Untung Neni tahan emosi. Kalau enggak? Bisa-bisa Neni di pecat," Neni terus mengutuki dirinya sambil berjalan ke kamar Disa.
___
__ADS_1
Jangan lupa follow akun ig saya @wind.rahma