
Al dan Amera kini sudah dalam perjalanan menuju rumah mama Anna dan papa Abdi.
"Sayang banget, ya, mas. Mama gak jadi ikut," nada bicara Amera terdengar kecewa.
"Iya, tapi kan mama sakit. Mama sering sakit perut mendadak pasca operasi pengangkatan rahim." Amera sontak terkejut mendengarnya.
"Operasi pengangkatan rahim?"
"Hem," jawab Al masih fokus menyetir.
"Emangnya mama kenapa, mas?" Amera merasa penasaran sekaligus senang lantaran Al mau mengobrol seputar keluarganya.
"Mama kena tumor di bagian rahimnya."
"Ya Allah, kasihan mama."
Sebagai seorang perempuan, Amera bisa merasakan gimana rasanya di posisi mama Ressa.
Sementra di rumah mama Anna dan papa Abdi. Wanita paruh baya itu sudah tidak sabar menunggu kedatangan Disa yang ia pikir akan ikut bersama Al dan Amera. Wanita tersebut baru saja selesai menghidangkan banyak menu makanan di meja makan sederhana untuk makan malam ini.
"Pah, Amera udah telepon atau chat kamu dia udah on the way atau belum?" papa Abdi menggeleng.
"Belum. Tadi dia cuma ngasih kabar kalau mamanya Al gak jadi ikut. Katanya mendadak sakit. Mungkin mereka udah di jalan sekarang."
"Oh, begitu. Sayang banget, ya, pah. Padahal harusnya ini jadi pertemuan kita dengan mamanya Al. Tapi ya udahlah, besok kita yang kesana buat jenguk."
Papa Abdi mengangguk setuju. "Iya, mah."
***
Revan dan kedua orang tuanya pun kini tengah makan malam. Selera makan pria itu hilang seketika saat bu Marina mulai membahas tentang Disa.
"Van. Kalo mama pikir-pikir Disa itu cocok deh sama kamu. Disa udah cantik, baik, dia juga mandiri, kerja keras punya butik sendiri. Pokoknya mama udah suka sama dia."
"Kapan-kapan kamu ajakin Disa main ke rumah lagi, ya!" tambah wanita paruh baya itu.
Sementara Revan tetap diam tak bergeming. Pak Indra, yang memperhatikan wajah putranya berspekulasi kalau putranya ini mugkin tidak menyukai Disa. Lantaran tidak ada raut wajah senang di sana. Berbeda halnya dulu Revan selalu senang jika mamanya mulai membahas tentang Amera.
__ADS_1
"Aku kembali ke kamar duluan," pamit Revan datar sambil beranjak dari duduknya.
"Van, mama masih mau bahas soal Disa, sayang. Revan," pria itu sama sekali tidak menggubris, ia tetap berjalan menuju kamarnya.
"Revan kenapa, ya, pah? Kok dia kelihatan murung gak seperti biasnya gitu."
"Mungkin Revan lagi ada masalah pekerjaan. Kita lanjutin aja makannya, ma." Pak Indra berusaha menetralisir keadaan, bu Marina pun mengangguk lemah.
"Iya, pah."
Di dalam kamarnya, Revan duduk termenung di bibir ranjang tempat tidur. Dia masih kepikiran soal pengakuan Disa tadi siang di Cafe Amora.
Aku benar-benar gak habis pikir sama Disa. Dia begitu terobsesi dengan aku sampai dia melakukan berbagai cara. Bagaimana kalau yang di katakannya soal malam itu benar? Apa aku benar-benar melakukan itu pada Disa? Rasanya tidak mungkin. Posisi aku saat itu sedang tidak sadar, akupun tidak bisa ingat apapun soal malam itu. Kalau semuanya terbukti benar lalu Disa sampai hamil, aku harus bagaimana? Apa aku harus tanggung jawab atas kesalahan yang tidak aku sadari? TIDAK! ini tidak boleh terjadi.
Pria itu mengusap wajahnya sedikit kasar.
***
Mobil Al kini sudah terparkir di halaman rumah papa Abdi. Begitu akan turun, Amera terlihat kesusahan membuka sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya. Al yang menyaksikan hal terss
Ebut mengerutkan dahi.
"Ini, mas. Susah." Sedikit malu mengatakannya. Di tambah wanita itu menarik-narik sabuk pengaman tersebut.
Al menghembuskan napas, lagi-lagi Amera membuatnya repot. Dia pun membantu Amera membuka sabuk pengamannya.
"Gini aja kamu gak bisa. Kamu itu bisanya cuma ngerepotin sa-"
Al menggantung kalimatnya saat ia menyadari kalau wajahnya kini berada dekat sekali dengan wajah Amera. Dan sekarang wajah mereka berjarak kira-kira dua sentimeter. Aroma khas mint serta hangat napasnya Al menghempas ke seluruh bagian wajah Amera.
Jantung wanita itu kembali berpacu dengan cepat melebihi batas normal. Serta dia merasa kesulitan untuk bernapas. Amera menggigit bibir bawahnya gugup, tidak berani menatap mata hitam pekat milik Al yang menawan.
Amera sudah memejamkan jedua matanya saat wajah Al perlahan nendekat. Bahkan pria itu sudah memiringkan wajahnya agar posisi mereka seimbang. Namun sedetik kemudian, Al tersadar dan segera menepis pemikiran itu. Dia membuka sabuk pengaman Amera dengan cepat lalu turun dari mobilnya begitu saja.
Entah kenapa, ada perasaan sedikit kecewa saat Al tidak jadi melakukan seuatu yang seharusnya ia dapatkan. Amera merasa seperti baru saja di terbangkan, lalu dalam waktu yang bersamaan dia kembali di hempaskan. Wanita itu segera turun dari mobil menyusun suaminya. Masing-masing dari mereka kini terlihat canggung.
Dari dalam rumah, mama Anna menyambut gembira seseorang yang baru saja mengetuk pintu rumahnya. Senyumannya mengembang dengan begitu sempurna begitu membukakan pintu, dan memunculkan Al serta Amera di sana.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, mah," Amera dan Al menyalami mama Anna secara bergantian.
"Walaikum salam. Akhirnya kalian datang juga," ucap mama Anna senang, namum seketika memudar saat ia tidak menemukan sosok yang sebenarnya ia tunggu.
"Emm, Disa mana? Ra, kamu udah bilang sama Disa kan untuk makan malam di sini sama kalian?" Amera menoleh ke arah Al, sepasang mata mereka bertemu.
"Iya, mah. Sebelumnya saya minta maaf sama mama, karena mama saya gak bisa ikut makan malam di sini. Disa juga gak bisa ikut karena harus jagain mama saya di rumah," jawaban Al membuat mama Anna sedikit kecewa.
"Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu, ayo, masuk! Papa udah nunggu kalian dari tadi."
Al dan Amera pun menurut, mereka pergi menuju ruang makan mengikuti langkah mama Anna. Di sana, mereka menyalami papa Abdi. Pria bertubuh besar nan kekar itu terlihat bahagia sekali saat putrinya kembali menginjakkan kaki di rumah apalagi sekarang bersama suaminya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka memulai makan malamnya.
Di tengah makan malam mereka, Al meminta izin untuk ke toilet sebentar. Sambil menanyakan di mana letak toilet rumah itu.
"Kamu lurus aja, mas, nanti toiletnya ada di sebelah pojok. Apa perlu aku antar?" tawar Amera.
Al pun menolak. "Gak usah, kamu lanjutin makan kamu aja. Saya bisa sendiri."
Al berdiri dari duduknya meninggalkan meja makan.
"Ra, mama boleh minta tolong, gak? Tolong ambilin handphone mama di pantry! Soalnya mama lupa tadi habis masak gak mama bawa."
"Di ambil nanti aja kan bisa, ma," ujar papa Abdi.
"Gak apa-apa, pah. Aku ambil dulu, ya, mah."
Mama Anna mengangguk. "Iya."
Al baru saja keluar dari toilet dan hendak kembali ke ruang makan. Namun langkahnya terhenti saat kedua bola matanya menangkap sebuah figura berukuran kecil dan terdapat foto dua orang anak kecil berbeda usia di sana.
Al mendekat ke arah figura tersebut, kemudian menatap lekat salah satu anak berusia sekitar tiga tahunan yang ada di dalam foto itu.
Kenapa rumah ini bisa punya foto anak ini ya? tanya Al dalam hati.
___
Dukung Novel ini dengan LIKE, KOMEN, VOTE, Hadiah POIN/KOIN dan tambahkan ke rak FAVORIT ❤
__ADS_1
follow ig @wind.rahma