TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 35


__ADS_3

"Ini, pak bos," Mali memberi tahu Al dan Amera, mereka berdua menoleh ke arah perempuan itu.


Sontak Amera terkejut dengan kedatangan perempuan yang mengaku sebagai asisten rumah tangga baru di rumah ini.


"Vira?"


"Ameran" ujarnya tak kalah terkejut. Amera dengan sekejap menghambur ke pelukan temannya itu. Mereka terlihat senang begitu di pertemukan kembali.


"Eh lo kok bisa kebetulan kerja di sini, ya?" Amera masih bingung dengan kedatangan Vira yang mengaku sebagai asisten rumah tangga baru.


"Semalem gue dapet telpon dari seseorang. Gue gak tau sih dia siapa. Tapi yang jelas dia nawarin kerjaan ke gue jadi asisten rumah tangga. Nah abis itu gue di suruh dateng aja ke alamat ini. Ternyata ini rumah lo, Ra?" Amera menoleh ke arah suaminya setelah mendengar penjelasan dari Vira.


"Apa ini semua karena kamu, mas? Kok bisa, sih?"


"Nanti saya jelasin. Sekarang saya mau berangkat ke kantor. Buat kamu, Vira. Mulai hari ini kamu udah bisa kerja di sini. Kamar kamu sama Neni, asisten rumah tangga di sini juga. Amera, kamu anterin dia ke kamar Neni, ya! Saya berangkat," ujar Al kemudian di anggguki oleh Amera juga Vira.


"Terima kasih banyak, pak," ucap Vira.


"Ya."


"Kamu hari-hati ya, mas!"


"Iya. Mali, kamu bukain gerbang lagi!" Mali yang memang masih berdiri di sana dengan cepat menuruti perintah.


"Siap, pak bos!"


Kemudian Al dan Mali pergi dari hadapan Amera dan Vira. Setelah mereka tidak ada di sana, Vira bertanya sesuatu pada Amera.


"Eh, Ra. Kok lo tinggal di sini, sih? Cowok tadi siapa? Lo kok manggil dia mas?" rasa penasaran Vira kian bertambah. Amera hanya tersenyum menanggapinya, kemudian mempersilahkan Vira untuk duduk dulu.


"Mending kita duduk dulu aja kali ya. Biar lebih enak ngobrolnya."


"Iya, boleh," mereka pun kini duduk dinsofa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Sebelum menjawab pertanyaan Vira, Amea sempat menawarkan minum, namun Vira menolak.


"Jadi laki-laki itu suami gue, Vir. Gue sama mas Al menikah emang belum lama, sih."


"HAH, SUAMI?? Ah yang bener aja, lo?" ujar Vira tak percaya.


"Iya, dia suami gue. Kenapa emangnya?"

__ADS_1


"Ya gak ngapa-ngapa, sih. Cuma kan setau gue pacar lo itu bukan dia dah. Namanya juga bukan Al. Bener gak sih?" Vira merasa ada yang aneh dengan temannya ini.


"Iya, bukan. Emang bukan dia."


"Jadi lo udah putus nih sama orang yang sering lo ceritain ke gue dulu?" pertanyaan-pertanyaan Vira ini sialnya mengingatkan Amera kembali pada masa dimana di seringkali curhat masalah hubungannya dengan Revan. Meskipun jarang bahkan tidak pernah ada masalah di antara keduanya.


"Kalo gue belum putus, mana mungkin gue jadi istri orang," jawaban Amera barusan menciptakan tawa di antara mereka.


"Hahaha.. Iya juga, ya?"


Amera berhasil mengalihkan topik pembicaraan serta pertanyaan yang mungkin masih banyak Vira tanyakan seputar urusan asmaranya.


Maafin gue ya, Vir. Kali ini gue gak bisa ceritain semua ini ke lo. Maafin diri gue juga yang terkesan munafik dengan mengatakan hal itu barusan ke lo. Padahal kenyataannya, gue menerima lamaran mas Al sebelum gue mengakhiri hubungan dengan Revan.


***


"Haduuhh.. Males banget gue pulang ke rumah. Gue pasti bakal ketemu sama mbak Amera. Kalo aja data penting gue gak ketinggalan, gue gak akan pulang ke sini," Disa yang tengah menggerutu, kini sudah ada di luar gerbang rumah Al. Ia membunyika klakson mobil agar Mali membukakan pintu gerbangnya.


"Selamat siang, mbak Disa," Mali menyapa kedatangan Dia. Namun perempuan itu sama sekali tidak memeperdulikannya.


Ketika memasuki rung tengah, keadaan rumah cukup sepi. Dan itu kesempatan Disa untuk cepat-cepat mengambil data penting di kamarnya tanpa harus bertemu dengan Amera. Begitu sampai di depan pintu kamar, Disa mengernyit mendapati pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Dia berpikir kalau seseorang telah berani memasuki kamarnya tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"Siapa, lo?" pertanyaan Disa membuat perempuan itu menoleh.


"Berani-beraninya lo masuk ke kamar gue!" Disa berjalan mendekat ke arah perempuan tersebut. Perempuan itupun menoleh.


"Ma-maaf, s-saya cuma-"


"Cuma apa? Mau maling lo, hah?" Disa mencekal lengan perempuan di hadapannya cukup erat, sehingga perempuan itu meringis kesakitan.


"A-ampun, sa-saya bukan mau maling. S-saya-"


"Apa? Mau maling kan lo? Ngaku, gak?! NGAKU!" tuduh Disa dengan nada tinggi. Perempuan itu semakin di buat gugup dan kian takut. Di tambah lagi ia kesakitan saat Disa semakin mengeratka cekalan tangannya.


Amera yang mendengar ada suara keributan dari dalam kamar yang hendak ia lewati segera menerobos masuk. Dia mendapati Disa tengah memarahi temannya, Vira.


"Ngaku gak, lo? Atau-"


"Hentikan, Disa! Apa-apaan ini?" Disa menoleh ke asal suara. Amera melangkahkan kakinya mendekat ke tempat berdirinya Disa dan Vira.

__ADS_1


Mendengar Amera menghentikan aksinya, Disa semakin tersulut emosi.


"Lo gk liat apa, ini orang mau maling di kamar gue. Lo mau biarin gitu aja? Jangan mentang-mentang lo udah jadi istri kakak gue, ya, lo berani sama gue."


"Cukup, Disa! Kamu dengerin mbak dulu. Dia bukan maling, dia ini Vira. Asisten rumah tangga baru di rumah ini!"


"Lo pikir gue percaya sama lo?" suasana kamar kini cukup menegangkan. Amera menghela napas panjang, mencari cara agar Disa mau melepaskan cengkraman di lengan Vira.


"Ya udah, kalo kamu gak percaya, kamu bisa telpon mas Al sekarang!" Disa terdiam mendengar kalimat Amera barusan. Dia gak mau kalau Al sampai memarahinya karena menciptakan sempat perdebatan dengan Amera.


Kalau Al sampe tau gue debat sama mbak Amera. Bisa gawat. Dia lasti bisa batalin perjanjian dengan menceraikan mbak Amera. Terus Revan punya kesempatan lagi buat deketin mbak Amera kapanpun dia mau. ENGGAK. Ini gak boleh terjadi.


"Ok, gue percaya," akhirnya Dia mau melepaskan lengan Vira. Amera lun bernapas lega, begitupun dengan Vira.


"Gue kesini cuma mau ngambil flashdisk yang ketinggalan," Disa memperlihatkan flashdisk yang baru saja dia ambil di laci nakas. Kemudian dia melipir lergi dari hadapan Amera dan juga Vira.


Tapi sebelum itu, dia sempat mengatakan sesuatu terlebih dahulu kepada mereka.


"Oh, ya. Gue minta sama kalian berdua. Terutama lo, mbak. Jangan kasih tau Al kalo gue datang ke sini. Paham?!" tanpa menunggu jawaban Amera, perempuan itu sudah melipir begitu saja. Meninggalkan Amera yang terheran-heran.


Kenapa Disa gak mau mas Al tau kalo dia ke sini, ya? Apa dia takut kalo mas Al sampe memarahinya kalau tai dia menuduh Vira ini maling. Apalagi dia sampai mencekeram lengan Vira barusan.


Setelah beberapa deti sempat sibuk dengan segala pemikirannya. Amera menanyakan kondisi lengan Vira yang sempat di cengkeram hebat oleh Disa.


"Vir, lo baik-baik aja, kan? Tangan lo ada yang luka?" ujar Amera cemas.


"Gue baik-baik aja, kok. Makasih ya, lo udah bantuin gue tadi."


"Iya, sama-sama. Syukur deh kalo lo gak apa-apa," tiba-tiba saja Vira penasaran dengan siapa itu Disa.


"Ra. Dia itu siapa, sih? Dia tinggal di sini juga? Tapi kok dia pergi lagi?"


"Dia itu, Disa. Adiknya suami gue. Dan sekarang, dia tinggal di Apartemen semenjakgue sama mas Al menikah," Vira mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh, begitu. Gue perhatiin, kayaknya dia gak terlalu suka deh sama lo. Buktinya, dia berani ngelawan lo tadi. Padahal lo kan kakak iparnya," Amera tersenyum sekilas menanggapi ucapan Vira. Karena faktanya memang benar. Disa bukan cuma gak terlalu suka, tapi emang sama sekali tidak suka dengan Amera. Terlebih Amera ini adalah mantan kekasih dari laki-laki yamg di cintainya.


___


LIKE, KOMEN, VOTE, dan beri HADIAH ya. Follow juga ig aku @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2