
Bu Marina memandang takjub pada perempuan yang saat ini berdiri di depan pintu rumahnya. Tubuh yang di balut dengan gaun berwarna biru navy serta rambut yang di kriting gantung menambah pesona lerempuan tersebut.
"Maaf, kamu siapa ya?" beliau bertanya dengan nada bicara sedikit hati-hati. Perempuan yang berdiri di hadapannya pun mneyodorkan tangannya.
"Halo, tante. Aku Disa," wanita paruh baya itupun segera menjabat tangan tersebut.
"Oh, jadi kamu yang namanya Disa. Aduuhh.. Cantik sekali kamu. Oh, iya, ngomong-ngomong tante makasih banget loh karena udah di kirimin baju baaagus banget," pujinya. Dan tentunya Disa merasa senang.
"Iya, tante. Sama-sama. Revannya ada kan, tan?"
"Revan ada, ada. Kebetulan tante udah siapin makan malam, dan akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk, Sa!" bu Marina merengkuh bahi Disa dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Saat sampai di ruang makan, Revan yang ada di sana sedikit terkejut melihat mamanya kembali bersama Disa.
Ternyata Disa benar-benar nekad datang ke sini. Gumam pria itu dalam hati.
Sementara pak Indra menatap bingung ke arah perempuan yang berdiri di samping istrinya.
"Dia siapa, mah?" bu Marina hampir lupa memperkenalkan Disa kepada suaminya pun langsung mengenalkannya.
"Ini Disa, pah. Yang kirim paket bajubke mama. Perempuan yang lagi deket sama Revan. Iya kan, Van?" pria itu diam, tak memberi respon apapun atas pertanyaan yang di berikan mamanya. Sementara Disa tersenyum penuh bahagia malam ini.
"Oh, iya, silahkan duduk, Sa!" Disa pun mengangguk.
"Iya, tante. Makasih "
Jika makan malam hari ini merupakan sebuah kebahagiaan untuk Disa, maka berbeda halnya dengan Revan yang menganggap kalau makan malam hari ini penuh dengan ketidaknyamanan. Lantaran Disa terus saja menatapnya. Hal tersebut tentunya membuat pria itu merasa canggung saat memasukan makanan ke dalam mulutnya, bahkan sekedar untuk mengunyah.
Makan malam pun berlangsung, di selingi dengan obrolan kecil seputar Disa dan keluarganya. Seperti bu Marina menanyakan tentang apa pekerjaannya saat ini, dimana dia tinggal, bahkan dia sampai menanyakan apa Disa mempunyai saudara. Disa menjawab semua pertanyaan wanita itu dengan jujur. Namun satu yang tidak dia katakan, yaitu saudaranya ini orang yang saat ini menjadi suami Amera. Lantaran hal tersebut bisa saja merusak momen makan malamnya bersama Revan dan keluarganya.
Setelah makan malam itu selesai. Disa memutuskan untuk pulang. Namun sayangnya, cuaca malam ini hujan deras. Jadi bu Marina menahannya untuk pulang dengan menawarinya untuk menginap malam ini. Dalam hati, Disa bersorak penuh kemenangan lantaran ini bisa dia jadikan kesempatan berduaan dengan pujaan hatinya. Namun di depan bu Marina ia tampak biasa saja.
__ADS_1
"Emang gak apa-apa tante kalobaku nginep di sini? Takutnya aku bakal ngerepotin," bu Marina menggeleng.
"Enggak, Sa. Tante merasa gak di repotkan sama sekali. Justru tante senang."
"Oh. Ok deh, tante. Maksih, ya!"
"Iya. Nanti kamu bisa tidur di kamar tamu, yah. Kamar tamunya ada di sebelah sana. Mau tante antar?"
"Gak usah, tante. Aku bisa sendiri. Lagian, aku mau ngobrol dulu sama Revan. Boleh, kan?"
"Iya boleh, boleh. Sekalian kamu bikinin dia minuman hangat, pasti dia bakalan seneng. Tante ke kamar duluan gak apa-apa kan?"
"Iya, tante," setelah bu Marina pergi dari hadapannya, Disa pergi ke dapur.
Disa menaruh tas slempangnya di pantry lalu mulai membuatkan teh manis hangat. Ia agak bingung mencari letak gula, teh, juga sendok dan cangkir di sana. Setelah menemukan semua itu, ia langsung membuatkannya. Tiba-tiba dia tampak berpikirbsambil mengingat sesuatu. Kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia mencampurkan sesuatu tersebut ke dalam minuman.
Disa membawa teh manis dan tas slempangnya ke ruang tengah, guna menghampiri pria yang kini tengah duduk di sofa.
"Sayang, aku buatin minuman hangat untuk kamu. Di minum, yah?" minuman tersebut Disa letakkan di atas meja di hadapan Revan. Pria itu terpaku pada layar laptopnya tanpa mau menoleh ke arah Disa yang duduk di sampingnya.
"Tapi Revan-" pria itu menatap Disa tajam.
"Apa kamu tidak ingat, Disa?Duli, saat kita masih dekat. Kamu gak pernah sedikitpun memanfaatkannya. Justru, saat aku benar-benar menyukai kamu, kamu pergi gitu aja sampai hilang kontak. Dan sekarang kamu kembali meminta aku untuk bisa seperti dulu? Gak bisa, Disa! Itu gak akan pernah bisa terjadi!" Revan sepertinya masih menyimpan rasa kecewa terhadap Disa saat mengingat bagaimana mereka dulu.
"Waktu itu aku harus pindah ke lyar negri buat kuliah, Revan. Aku minta maaf kalo aku gak pamitan dan kasih kabar ke kamu Yang harus kamu tau, Aku gak pernah sedikitpun berpalibg dari kamu, sayang. Aku benar-benar minta maaf, yah!" perempuan itu menatap lekat Revan.
"Sekarang aku minta maaf sama kamu, lupain mbak Amera! Dia udah nikah, sayang. Fia udah khianatin kamu. Kamu harus bisa lupain dia. Ok?! Kamu masih punya aku. Ada aku yang akan berusaha buat bahagiain kamu, sayang. Percaya sama aku!" tambah perempuan itu.
Revan terdiam.
Amera memang sudah menikah dengan menghianati aku. Aku marah, aku kecewa. Tapi tidak tau kenapa, akj tidak bisa melupakan dia semudah itu.
__ADS_1
Disa menatap Revan yang tengah melamun, mungkin ini saatnya dia untuk kembali membujuk pria itu meminum teh manis yang sudah mulai dingin.
"Sayang, lebih baik kamu minum dulu teh nya, yah! Nanti keburu dingin loh," pria itupun akhirnya menerima cangkir berisi teh hangat dari tangan Disa. Kemudian meminumnya separuh.
Tidak berapa lama, Revan merasakan kepalamya pusing. Pandangannya pun ikut memburam. ia memijat pangkal alisnya guna menetralisir pusingnya.
"Sayang, kamu kenapa?" melihat kondisi Revan saat ini membuat perempuan itu sedikit cemas.
Revan diam tak bergeming. Ia memegangi kedua sisi kepalanya yang kini mulai terasa berat. Namun tidak lama, pusingnya mulai reda. Begitu ia menoleh ke arah Disa, ia menatap heran. Kemudian tersenyum.
"Amera?" mendengar nama tersebut keluar dari mulut Revan, perempuan di hadapannya ini bukannya marah. Ia justru tersenyum menyeringai.
***
Al menatap pantulan wajahnya di cermin wastafell. Ia terus saja mengatur deru napasnya yang memburu lantaran ia merasakan sesuatu yang tidak biasanya ia rasakan.
Setelah jantungnya kembali berpacu normal, dia membasuh wajahnya dan kembali bercermin, dengan sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Sial! Kenapa gue jadi kayak gini, sih?" ujar Al menyalahkan dirinya.
Tiba-tiba ucapan Disa terngiang di telinganya.
Gue saranin lo cepet-cepet jadiin istri lo seutuhnya. Biar cepet hamil dia.
Al menggeleng keras seraya memejamkan matanya.
"Ini semua gara-gara omongan Disa. Kalo dia gak ngomong kayak gitu, mungkin gue gak akan seperti ini!" saat Al tengah merutuki Disa, tiba-tiba suara samar yang berasal dari seseorang yang tak asing membuatnya sekejap membuka mata.
"Al... Disa... Mama pulang! Al.. Disaaa.." Al sontak membulatkan matanya sempurna. Dia langsung panik.
"Mama?"
__ADS_1
___
Halooo.. Semuanya. LIKE dan Komen atuh. VOTE dan beri aku hadiah juga. Dan follow ig aku ya @wind.rahma