
Ting!
Suara notifikasi chat masuk ke ponsel Disa. Perempuan itu segera membuka dan membaca pesan tersebut.
Disa. Bisa kita ketemu di Kamboja Caffe sekarang. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.
"Revan mau ketemu sama gue? Aaa...aaa.. Yes, yes, yes! Dia pasti mau bilang makasih karna gue udah kasih mamanya baju," Disa sontak kegirangan setelah mendapat chat dari Revan, dia sampai berasumsi sendiri.
Tanpa pikir panjang lagi, Disa pun mengetikkan balasan.
Ok. Aku on the way ke sana sekarang.
***
Papa Abdi saat ini tengah dalam perjalanan. Setelah semalaman berpikir, pria paruh baya baya itu memutuskan untuk menemani istrinya ke Sukabumi. Selain tidak tega membiarkan istrinya pergi sendiri, jarak dari Jakarta ke Jampang-Sukabumi itu cukup jauh. Butuh waktu sekitar delapan jam untuk sampai di sana. Itupun jika tidak terjebak macet di daerah Cicurug.
"Makasih ya, pah. Kamu mau nemenin aku buat nyelidiki semua ini," mama Anna menatap sayup wajah suaminya yang tampak fokus menyetir.
"Iya, mah."
"Oh, iya, pah. Kalo nanti kita kesorean atau kemalaman. Kita bisa cari penginapan di Pelabuhan Ratu. Gimana?"
"Iya," jawab pria itu lagi.
Seketika ponselnya berdering, memunculkan nama Amera di sana. Papa Abdi pun segera mengangkat dengan menyambungkannya ke earphone.
"Assalamu'alaikum warrahmatillahi wabarrakatuh. Iya ada apa, nak?"
"Walaikum salam, pah. Pah, aku boleh main ke coffe shop lagi, gak? Soalnya aku bosan di rumah, mas Al kan lagi sibuk kerja."
"Emm, lusa aja ya, nak. Soalnya papa lagi gak ada di sana. Papa sama mama lagi di jalan, mau ke Sukabumi," Amera sontak mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Sukabumi? Papa sama mama ngapain ke sana?" papa Abdi menoleh ke arah istrinya, sekilas.
Apa aku gak usah kasih tau Amera dulu ya soal ini?
"Emm, papa sama mama ada keperluan bisnis."
"Oh, begitu. Yaudah, papa sama hati-hati ya! Assalamu'alaikum."
"Walaikumussalam warrahmatullahi wabarrakatuh," sambungan telpon pum terputus.
"Amera kenapa, pah?" tanya mama Anna penasaran.
"Itu, mah. Tadinya dia mau ke coffe shop. Tadi aku bilang kita lagi gak ada di sana dan pergi untuk urusan bisnis," mama Anna pun mengangguk.
"Oh. Baguslah kalo kamu gak kasih tau Amera yang sebenarnya."
***
"Lepas, Disa! Jaga sikap kamu!" Revan bicara tegas, perempuan itupun kini menurut. Dia langsung melepaskan pelukannya kemudian duduk di hadapan pria itu.
"Kamu mau bicara apa sama aku?" Disa bertanya dengan tidak sabar menunggu jawaban Revan.
"Apa maksud kamu kirim barang-barang ke mama aku?" pertanyaan Revan sontak membuat Disa sedikit terkejut.
"Ya, gak apa-apa. Suka-suka aku dong mau kasih barang ke siapapun. Termasuk mama kamu. Emang kamu gak mau ngucapin makasih atau apa gitu ke aku?"
"Aku minta sama kamu untuk tidak mengirimkan apapun lagi ke keluarga aku, terlebih mama. Mama jadi berpikir kalau kamu perempuan yang sedamg dekat sama aku," kata pria itu tegas.
"Tapi kita emang deket kan, sayang?"
"Cukup, Disa! Aku tegaskan lagi kalau di antara kita itu tidak ada hubungan apapun dan tidak akan pernah ada hubungan sampai kapanpun. Jadi berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" pria di hadapan Disa ini benar-benar mengambil sikap, lantaran Disa terus saja menganggap kalau mereka ini akan bisa sedekat dulu.
__ADS_1
Disa meraih buah tangan Revan, kemudian menggenggamnya di atas meja.
"Revan. Dengerin aku! Aku itu cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu. Harus berapa kali sih aku bilang ke kamu, kalau aku itu gak bisa jauh-jauh dari kamu. Yang aku lakuin ini semata-mata karena kamu. Harusnya kamu hargain usaha aku, Revan!"
"Tapi yang kamu lakukan itu membuat mama berharap lebih, Disa. Dia sampai meminta aku untuk mengajak kamu makan malam bersama," perempuan itu sontak mendengar kalimat terakhir yang pria itu ucapkan barusan.
"Ya bagus, dong. Berarti usaha aku buat deket lagi sama kamu dan keluarga kamu itu berhasil. Kamu bilangin aja ke mama kamu, nanti malam aku pasti dateng. Ok?!" Disa hendak mencium punggung tangan Revan yang masih di genggamnya. Namun sayangnya, pria itu sudah lebih dulu menarik tangannya dari genggaman Disa.
"Terserah kamu!" Revan menghembuskan napas serta mengusap wajahnya sedikit kasar. Dia benar-benar menyesal tanpa sadar sudah mengatakan pada Disa kalau mamanya meminta dirinya untuk mengajak Disa makan malam bersama.
Dan lihatlah sekarang, betapa bahagianya wajah perempuan itu. Sementara Revan sudah tidak dapat lagi mencegahnya untuk datang ke rumah nanti malam.
Ini bakal jadi kesempatan aku buat milikin kamu lagi, Revan. Bahkan untuk kali ini, kamu gak akan bisa nolak lagi buat aku milikki.
***
Al memasuki kamar setelah dia selesai menyelesaikan pekerjaanya di ruang kerja. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan memndapati istrinya tengah tertidur pulas. Saat dia duduk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, dia memandang sekujur tubuh Amera yang sedang tidur dalam posisi terlentang.
Entah kenapa Al merasa malam ini istrinya terlihat beda. Apa mungkin karena piyama berwarna merah merekah yang di kenakan istrinya. Karena biasanya Amera menggunakan piyama stelan dengan warna gelap. Dan sekarang perempuan itu menggunakan piyama dress yang menampakan setengah dari bagian buah dadanya. Serta p*ha putih mulus miliknya yang membuat Al tidak mengedipkan mata saat melihatnya.
Piyama tersebut juga terlihat tr*nsparan. Sehingga pakaian dalam yang di kenakan wanita itupun tembus pandang. Al merasakan hawa panas di sekitarnya, padahal suhu di ruangan kamarnya cukup dingin. Baru kali ini ia melihat sesuatu yang membuatnya terasa menegangkan. Terlebih jantungnya pun kini ikut berpacu dengan cepat.
Al mencoba mengontrol deru napasnya yang entah sejak kapan memburu. Sambil sesekali menelan salivanya dengan susah payah. Al segera mengusap wajahnya sedikit kasar. Mencoba menyapu pikiran buruk yang saat ini mulai bersarang di otaknya. Di tambah lagi saat Amera mengubah posisi tidurnya menjadi memunggunginya. Menambahkan sebuah pemandangan indah di bagian ping*gul besar Amera. Pria itu sampai mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullaahal'adziim.." Al langsung beranjak dan pergi menuju kamar mandi. Jangan tanyakan apa yang akan dia lakukan, karena saya sendiri pun tak tahu.
___
Hayooo.. Siapa nih yang mikir yang enggak-enggak? Wkwk😂 Ikut istighfar juga ya hehe😁
Jangan lupa dukung aku dengan tinggalkan jejak LIKE, KOMEN, VOTE, juga beri hadiah ❤❤❤
__ADS_1
Follow juga akun instagram aku @wind.rahma