TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 47


__ADS_3

"Terima kasih atas kerja samanya ya pak!" Revan menjabat tangan seorang pengusaha yang hari ini meeting dengannya di Caffe Amora.


"Sama-sama, pak Revan," ucap pengusaha tersebut.


Revan bersama pengusaha itupun pergi meninggalkanmeja, saat hendak keluar kafe tersebut , Revan melihat ada Disa di sana.


"Itu kan Disa? Ngapain dia di sini?" pikir laki-laki itu.


"Kebetulan dia di sini, aku harus tanyakan soal malam itu," ujarnya lagi. Kemudian melangkahkan kaki guna menghampiri Disab Perempuan tampak sedang menerima telpon dari seseorang.


"Udah gue ingetin sama lo gak usah so asik sama gue!" ujarnya terdengar membentak.


"Siapa yang kamu maksud so asik itu, Disa?" suara datar berusan membuatnya langsung mengecek nama yang tertera di layar hp nya. Dia langsung membulatkan kedua bola matanya.


"Mati, gue!" umpatnya seraya menepuk jidat.


""E-enggak, bukan siapa-siapa. Itu tadi ada telpon salah sambung terus dia so asik sama hue. Makanya gue pikir orang yangvtadi telpon gue. Emm, lo ada apa telpon gue?" ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraaan.


"Kemarin, waktu saya telpon kamu pagi-pagi. Kamu bilang kamu lagi di jalan waktu mau nyusul mama. Sepagi itu memangnya kamu dari mana?" Disa sontak gugup oleh pertanyaan Al barusan. Kenapa Al bisa menanyakan hal ini.


"G-gue, gue gak dari mana-mana. Justru gue lagi di jalan itu mau ke butik," ucapnya terbata.


"Yakin?"


"Iya. Emangnya kenapa, sih? Kok lo nananya gitu? Kayak ada sesuatu yang lo curigain dari gue. Aneh."


"Itu katna saya baru saja mendapat informasi, kalau dua hari yang lalu kamu pergi ke Apotek untuk membeli obat halusinasi. Itu obat untuk siapa?" perempuan itu terkejut mendengarnya, dari mana Al bisa tau hal ini. Tapi sebisa mungkin ia harus tenang, agar Al tidak curiga.


"Obat? Obat apa sih maksud lo? Gue gak beli obat apapun apalagi obat apa itu? Obat halusinasi? Emang siapa sihbyang bilang ke lo? Mbak Amera?" perempuan itu terus saja menyangkal hingga terdengar suara seseorang yang kini berdiri tepat di belakangnya, membuat Disa bungkam seketika.


"Jadi benar, kamu memasukan sesuatu ke dalam minuman untuk aku malam itu dengan obat halusinasi, Disa?"


Deg! Jantungnya seolah berhenti berpacu. Saat Disa berbalik mencari sumber suara, ia mendapati laki-laki yang tengah berdiri dengan raut wajah marah.

__ADS_1


"Sayang..?" Disa mengucapkan dengan bibir gemetar.


"Sayang, kok kamu bisa ada di sini?" perempuan itu kelihatan panik sekali, dia bangkit dari duduknya untuk mensejajarkan diri dengan Revan.


"Jawab pertanyaan aku, Disa! APA BENAR KAMU SUDAH MENCAMPURI MINUMAN ITU DENGAN OBAT HALUSINASI???!" bentakan Revan berhasil membuat tubuh perempuan itu tersentak, laki-laki itu benar-benar tersulut emosi.


Beruntungnya pengunjung kafe tidak terlalu ramai hari ini. Setelah beberapa detik suasana menegangkan terjadi, Disa lun menjawab pertanyaan Revan dengan penuh keberanian.


"Iya," jawabnya.


Terlihat ekspresi marah sekaligus kecewa dalam wajah Revan mendengar pengakuan Disa.


"Apa yang sudah kamu lakukan itu benar-benar kelewat batas, Disa!" ucap Revan penuh emosi. Terlihat dari matanya yang kini nampak memerah.


Tak ingin jadi tontonan para pengunjung kafe, laki-laki segera pergi meninggalkan Disa. Dia tidak memperdulikan perempuan itu yang meneriaki namanya untuk menunggu ketertinggalan langkahnya.


"Revan.. Tunggu! REVAAAN..!"


Sementara di ruang kerja Alan, pria itu dapat mendengar semua pembicaraan antara Disa dengan Revan. Lantaran Disa lupa mematikan sambungan telponnya. Pria itu sekarang tampak sedang berpikir.


Tiba-tiba telpon masuk mengeluarkannya dari segala pemikiran. Di lihatnya nama Amera di layar hp, pria itu segera mengangkat telpon tersebut.


***


"Gimana, Al bisa?" tanya mama Ressa saat Amera baru saja mematikan sambungan telpon dengan Al. Mereka kini masih duduk di bangku taman itu.


"Sebenarnya mas Al gak bisa, tapi karna mama sama papa aku yang undang, Insha Allah mas Al pasti darang," mama Ressa tersenyum lega mendengarnya.


"Alhamdulillaah kalau Al bisa meluangkan waktunya untuk keluarga. Soalnya Al ini memang orang yang sangat sibuk masalah pekerjaan. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja. Makanya itu yang membuat mama khawatir kalau Al sulit mendapatkan pasangan sebelum akhirnya dia menikah sama kamu. Mama harap kamu bisa mengertikan anak mama, ya!"


"Iya, mah."


"Selain itu, kamu juga harus sering beri dia perhatian lebih. Supaya perlahan sikap dinginnya berubah hangat. Jadi, kamu harus bisa mencairkan suasana hatinya. Mama yakin kamu bisa," Amera lun tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


Mendapat dukungan penuh seperti itu dari mama Ressa, menjadikan Amera semakin semangat untuk membuat Al bisa jatuh cinta padanya. Setelah dirinya berhasil mencoba membuka hati untuk suaminya. Kini tugasnya beralih menjadi bagaimana cara membuat Al pun mencintainya. Karena yang Amera lihat, Al sama sekali tidak mempunyai cinta untuknya. Makanya dia masih cari tau alasan pernikahan ini terjadi.


Meskipun demikian, Amera akan tetap berusaha membuat pernikahannya layaknya suami istri lada umumnya.


***


Saat ini Al tengah menunggu Amera di depan pintu kamar. Sudah hampir satu jam ia berdiri menunggu istrinya bersiap-siap. Bamun Amera belum kunjung keluar dari kamarnya. Ternyata yang di keluhkan teman-temannya dulu yang lebih dulu menikah muda itu benar. Kalau iatri sedang bersiap-siap dandan untuk bepergian, suaminya bisa tidur dulu saat menunggu saking lamanya.


"Ya Allah, ini Amera lagi siap-siap atau ketiduran, ya?" sudah tidak sabar lagi menunggu, pria itu memutuskan masuk ke kamar guna mengecek keadaan istrinya.


Begitu pintu hendak di buka, seseorang di balik pintu sudah lebih dulu membukakannya. Begitu, Al begitu terkesima melihat penampilan Amera saat ini.


Perempuan itu menggunakan dress berwarna ungu muda dengan menampakkan sedikit bagian belahan dadanya. Rambut sebahu serta polesan wajah yang pas dengan warna lipstik yang tidak terlalu mencolok membuat senyum mengembang di bibir perempuan itu semakin terlihat mempesona.


Pria itu sampai tudak mengedipkan mata saat menatap Amera.


"Maass.." Mera melambaikam tangan di depan wajah suaminya lantaran pria itu melamun.


Amera cantik banget malam ini. Kenapa akhir-akhir inj dia sering memakai pakaian yang menarik perhatian gue, ya? Baru kali ini gue muji perempuan sampe bilang cantik.


"Mas Al.."


"Hem, iya cantik, kok," ucap Al gugup. Amera mengulum senyum mendengarnya.


"Kamu kenapa, mas? Aku belum sempat nanya aku bagus atau enggak kalo pake baju ini. Kamu udah bilang aku cantik aja. Aku cantik ya? Kamu suka aku pake baju kayak gini?" Amera memainkan alisnya naik turun sambil menggoda Al. Hal itu semakin membuat suaminya merasa kikuk.


"Apaan, sih? Gak usah GEER! Ayo cepetan, mama udah nunggu," bukannya nurut kata suami, Amera justru kembali menggoda Al.


"Kamu suka kan aku pake baju ini;" Amera mengucapkannya setengah berbisik.


Al memutur bola matanya malas sambil menghembuskan napas. Ia tidak habis pikir kalau Amera bisa berubah menjadi perempuan penggodanya sekarang.


___

__ADS_1


LIKE, KOMEN, dan Tambahkan ke rak buku favorit ya.


__ADS_2