TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 37


__ADS_3

"Ayo, mas. Sarapan dulu? Aku udah buatin nasi goreng buat kamu," Amera menarik lengan Al supaya dia duduk dan sarapam pagi ini bersamanya.


"Segini cukup, mas? Atau mau aku tambahin lagi?" Amera bertanya saat ia mengambilkan nasi goreng untuk suaminya.


"Cukup, cukup!" Amera pun menaruh kembali mangkuk berisi nasi goreng di hadapannya. Alih-alih memakannya, Al justru terlihat sedang memperhatikan nasi goreng di piringya.


"Kenapa, mas? Kok kamu kayak bingung gitu, sih?"


"Ini nasi goreng atau apa? Kok putih? Nasi goreng bukannya warna coklat?" Amera mengulum senyum mendapat pertanyaan dari Al barusan.


"Aku emang gak tambahin kecap tadi. Karena kebetulan kecap di dapur habis," mendengar alasan Amera barusan, Al langsung memanggil kedua asisten rumah tangganya.


"Nenii.. Viraa..!" panggilannya langsung terdengar oleh mereka, keduanya langsyng lari dan meghampiri sang majikan.


"Iya, mas Al. Ada apa?"


"Ada apa, pak bos?" Vira dan Neni berdiri tidak jauh dari samping meja makan dengan wajah tertunduk.


"Neni, kenapa stok kecap di dapur bisa sampai habis? Apa saya kurang memberikan uang untuk kebutuhan belanja?" mendapat teguran dari Al membuat Neni sedikit gugup.


"Emm.. Ma-maf, mas Al. Dua hari kemarin kan Neni sakit. Jadi Neni belum sempat periksa bahan apa saja yang habis. Dan Neni juga belum sempat buat belanja. Tapi hari ini Neni pasti akan belanja, kok," Neni bicara mengiba, Al pun yang awalnya emosi berubah kasihan.


"Ya udah, kembali ke dapur!"


"Siap, mas Al," saat Neni dan Vira hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja kedua mata pria ity menangkap sesuatu di lengan Vira.


"Tunggu! Vira, lengan kamu kenapa?" di pertanyakan hal itu Vira jadi berubah gugup, terlebih Amera dan dirinya sudah di peringatkan untuk tidak menceritakan kejadian ini pada Al.


"Emm.. I-ini pak bos, ini-"


"Mbak Vira di plintir mbak Disa, mas Al. Bener kan mbak Amera?" ujar Neni. Sontak Amera dan Vira menatap Neni bersamaan. Mereka lupa memberi tahu Neni untuk tidak mengatakan ini pada Al.


"Di plintir Disa? Maksudnya?" saat ini Al mengarahkan tatapannya pada Amera. Lantaran barusan Neni meminta kebenaran pada perempuan itu. Mau tidak mau, dia harus jujur.

__ADS_1


"Iya, jadi begini, mas. Kemarin Disa emang sempay ke sini buat ambil sesuatu di kamarnya. Waktu Disa datang, Vira ini lagi bersihin kamarnya. Dia yang belum tau Vira mengira kalau Vira ini mau ngambil sesuatu di rumah ini, terutama di kamarnya. Disa sampe mencekeram lengan Vira sebelum aku datang dan menjelaskannya," Al terdiam mendengar penjelasan istrinya.


"Benar begitu kejadiannya, Vira?" perempuan itupun mengangguk.


"Iya, pak bos," lalu Al meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di hadapannya. Kemudian mendial nomer seseorang di sana.


***


Di tempat yang berbeda. Bu Marina, pak Indra, dan Revan pun tengah sarapan pagi ini. Dengan senyum yang tak luntur dari senyum bu Marina menatap putranya.


"Reavn," pria itu mendongakkan kepalanya.


"Iya, mah. Ada apa?"


"Nanti malem kamu ajak perempuan yang sekarang lagi deket sama kamu, yah. Please! Mama mau tau dia orangnya seperti apa," Revan mengerukan dahi bingung.


"Perempuan yang deket sama aku?"


"Iya. Perempuan yang lagi deket sama kamu. Namanya Disa, kan?" pria itu di buat lebih bingung lagi. Dari mana mamanya tau Disa. Bahkan sampai mengatakan kalau perempuan itu orang yang sedang dekat demgannya. Padahal, saat mereka dekat dulu pun, Revan tidak lernah mengenalkan kepada mama maupun papanya.


"Mama berpikir kalau dia perempuan yang lagi deket sama kamu, Revan. Dan dia mungkin sedang berusaha buat ambil hati mama," tambah wanita itu lagi.


Revan hanya diam menanggapo perkataan mamanya, sambil terus melanjutkan aktivitas sarapannya.


Sementara di kamar Unit Apartemen Disa. Perempuan itu terlihat sedang menggerutu, dengan beberapa kali mengecek layar hp-nya.


"Kenapa Revan gak ada telpon gue ya, buat nyampein terima kasih mamanya. Padahal paket itu udah sampe dari kemarin," pikirnya.


Lima detim kemudian hp-nya berdering. Perempuan itu girang lantaran ia pikir yang menelponnya itu Revan. Namun saat ia baca nama penelpon yang tertera di layar hp-nya memunculkan nama Al di sana.


"Al? Mau apa dia telpon gue?" pikirnya lagi, perasannya sudah mulai tidak enak. Tanpa berpikir lagi dia segera mengangkat telpon tersebut.


"Halo. Ada apa lo telpon gue pagi-pagi?"

__ADS_1


"Saya minta kamu harus bisa jaga sikap. Saya tidak mau kalau kamu sampai membuat masalah di luaran sana!" Disa mengernyit tidak paham.


"Maksudnya apaan, sih? Kenapa lo marah-marah ke gue?"


"Kamu kemarin ke sini, kan? Terus kamu menuduh Vira mau ngambil sesuatu di kamar kamu?" mata Disa membulat sempurna.


Al pasti tau dari mbak Amera. Dasar tukang ngadu. Padahal gue kan udah peringatin dia buat gak kasih tau ini sama Al. Awas aja lo kalo ketemu!


"Emm.. Iya itu karena gue, gue kan gak tau kalo dia asisten rumah tangga baru di rumah. Lagian lo kok tambah asisten rumah tangga lagi, sih? Bukannya dari dulu lo gak mau kalo banyak orang terus ketenangan rumah bakal terganggu. Apa jangan-jangan itu permintaan mbak Amera terus lo emang udah luluh sama itu perempuan? Tapi ya baguslah kalo kalian udah saling suka. Itu artinya, gak bakal lagi ada kesempatan Revan buat deketin mbak Amera. Begitupun sebaliknya."


"Cukup, Disa! Gak usah sebut-sebut nama laki-laki itu di depan saya!" Al mulai terpancing emosi.


"Kenapa? Lo cemburu sama mantan pacar istri lo? Waw, itu jauh lebih bagus lagi. Biar hubungan ikatan pernikahan lo sama mbak Amera semakin kuat, gue saranin mending lo cepetan deh jadiin istri lo itu seutuhnya. Biar cepat hamil dia. Oh, atau emang lo udah jadiin dia istri seutuhnya. Bagus sih kalo gitu. Cepet punya anak lebih bagus. Biar Revan gak bisa deketin mbak Amera dan mbak Amera gak bakal bisa kegatelan lagi sama Revan."


"DISA CUKUP!" Al merasa tidak kuat lagi mendengar ocehan adiknya yang semakin ngelantur. Dia langsung mematikan sambungan telponnya.


Disa tersenyum menyeringai penuh kelicikan.


"Kalau Al gak bisa cepet-cepet hamilin mbak Amera, biar gue yang lebih dulu hamil sama Revan. Sepertinya pernikahan Al sama mbak Amera gak cukup buat misahin mereka. Gue harus cari cara laim supaya Revan jadi milik gue. SEUTUHNYA."


***


"Mas, kamu mau kemana, mas? Sarapannya belum kamu makan. Mas?" Amera melihat suaminya tampak emosi setelah menelpon dengan Disa. Entah apa yang di katakan perempuan itu sehingga membuat suaminya bisa semarah ini?


"Maass.." Amera hendak menahan Al yang akan pergi tanpa menyentuh terlebih dahulu nasi goreng yang di siapkannya. Namun kaki perempuan itu tersandung ke kursi sehingga membuatnya terjatuh.


Saat ini ia berusaha untuk bangkit dengan susah payah. Tapi Al sudah pergi bahkan sebelum dirinya terjatuh tadi.


___


NB:


Jangan lupa untuk selalu dukung karya aku ini ya. Dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE.

__ADS_1


Novel ini hanya terbit di Mangatoon/Noveltoon. Kalo kalian menemukan di platform lain berarti itu plagiat dan wajib lapor ke aku. Ok?!


Jangan lupa beri hadiah ❀ untuk Author tersayang kalian ini😁😘


__ADS_2