
Al duduk menyandar di sandaran tempat tidur sambil menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Amera masuk kembali ke kamar dengan membawa gelas berisi minuman di tangannya. Kemudian wanita itu duduk di tepi ranjang dekat suaminya.
"Ini aku buatin minuman jahe buat kamu. Di minum, ya!" Pria itu menerima minuman tersebut dengan raut wajah masih kesal terhadap Amera.
Al meneguk beberapa kali minuman tersebut, lalu menaruh gelas yang masih berisi setengahnya itu ke atas nakas.
"Gimana, sekarang udah enakan?" Tanya Amera, memastikan kondisi suaminya.
"Hm," jawab pria itu singkat.
"Syukur deh kalau kamu udah enakan."
"Iya, tapi kan ini saya luka-luka," protes Al sambil mengedikan punggungnya, Amera tersenyum kecil.
"Itu bukan luka, mas. Nanti juga bakal ilang kok kemerahannya. Sekarang kamu tidur ya istirahat!" Ucap Amera dengan nada lembut.
Kemudian dia naik ke atas tempat tidur membaringkan tubuhnya di samping suaminya.
"Tidur ya, Mas. Good night," ucapnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Al sama sekali tidak menanggapi. Tdak berapa lama, ia pun ikut membaringkan tubuhnya menghadap Amera. Al menatap wajah Amera lekat wanita itu sudah terlelap. Seolah senyum pria itu terbit dari kedua sudut bibirnya.
Terima kasih banyak ya Amera. Dengan semua perhatian dan sikap kamu pada saya. Maaf kalau sikap saya selama ini ke kamu kurang baik.
Al mengalihkan sehelai anak sulur rambut yang menutupi wajah Amera. Kemudian ikut memejamkan matanya menuju alam mimpi.
***
Pagi harinya, di tempat kediaman Papa Abdi. Pria itu mengecek notifikasi penting yang mungkin masuk ke ponselnya ketika ia tidur semalam. Dan benar saja, ada chat masuk dari Amera. Pria itu segera membuka dan membaca chat tersebut.
Pa, asisten rumah tangga di rumah Mas Al dulu namanya bi Narsih, dia tinggal di Bogor Jalan xx nomor sekian. Aku rasa kita bisa cari tahu soal Disa waktu kecil sama orang itu.
"Ini, ma. Mera chat aku, kalau kita bisa cari tahu asal-usul Disa waktu kecil melalui bi Narsih asisten rumah tangga di rumahnya Al dulu. "Wajah mama Anna berubah semangat seketika.
"Ya udah kalau gitu kita cari tahu ke orang itu aja, Pa. "
"Iya, Mah. Mera juga kasih alamatnya kalo rumah orang itu tinggal di Bogor."
"Kita ke sana hari ini ya, Pa. Lebih cepat lebih baik." Ujar Mama Anna dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Iya, kalau gitu aku siap-siap dulu."
"Iya, Pa." Mama Anna terlihat senang sekali lantaran ada petunjuk lain yang semoga bisa menguak kebenaran mengenai identitas Disa.
Sementara di tempat kediaman Bu Marina. Di bagian ruang tengah.
"Van, kemarin Mama lihat Disa keluar dari Apotek, kayaknya Disa lagi sakit deh. Coba kita ke rumahnya buat jengukin dia ya?! "Ujar Bu Marina pada Revan yang tengah memasang jam di pergelangan tangannya. Pria itu seketika tertegun.
Disa keluar dari Apotek? Apa jangan-jangan dia membeli sesuatu di sana? Pikirnya.
"Nggak bisa, ma. Aku sibuk!" Jawabnya singkat.
"Tapi, Van-"
"Assalamualaikum.." suara Ucapan salam dari seseorang barusan memotong kalimat Bu Marina. Wanita itu langsung membukakan pintu guna melihat siapa tamu yang datang pagi ini ke rumahnya.
Begitu pintu di buka, menampakan Disa yang langsung menyapa bu Marina.
"Pagi, tante," sapa wanita itu dengan senyum yang mengembang dengan sempurna.
__ADS_1
_Bersambung_