TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 16


__ADS_3

Mama Resa, wanita paruh baya itu sedang membaringkan tubuh lelahnya di Unit Apartemennya. Sudah satu minggu lamanya ia berada di Singapur. Ia harus mengurus semua permasalahan aset alm. suaminya seorang diri.


"Sudah hampir dua puluh persen aku berhasil menjual aset peninggalan alm. Papanya Al di sini. Berati aku harus menjualnya sekitar lima puluh persenan lagi. Biarlah, yang tiga puluh persennya tetap berjalan di sini. Aku mau fokus dengan bisnis yang di Jakarta saja," ujarnya.


Ngomong-ngomong Jakarta, Ressa jadi ingat dengan obrolan di telpon beberapa hari lalu dengan Disa.


"Oh, iya. Disa bilang dia mau buka bisnis butik, kira-kira jadi gak ya? Kok dia gak ngasih kabar lagi? Coba aku telpon, deh," baru saja Ressa akan mendial nomer putrinya, tapi segera ia urungkan, mengingat ini sudah malam.


"Basok pagi aja, deh. Takutnya dia lagi istirahat. Sekalian telpon Al juga. Udah lama dia gak ngasih kabar," Ressa kembali meletakkan hp nya dia atas nakas, setelah itu bersiap-siap untuk tidur, mengistirahatkan tubuh lelahnya.


***


Malam ini langit begitu indah, di hiasi oleh bulan dan ribuan bintang. Berbeda halnya dengan perasaan seorang gadis yang tengah duduk di bangku besi berwarna putih di halaman rumahnya. Ia nampak begitu kacau dengan segala pemikirannya. Untunglah, teman lamanya mengabari kalau pertemuan mereka harus di batalkan tadi, lantaran ibunya harus segera di bawa ke rumah sakit. Jadi Amera tidak perlu merasa tidak enak jika membatalkan lebih dulu.


Mengingat kedatangan Alan tadi pagi membuat pikiran Amera semakin kacau. Apalagi maksud dan tujuan Alan yang membuatnya tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia akan menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya. Sedangkan sebuah pernikahan adalah hal yang sakral. Dan yang membuat Amera tidak mengerti, mengapa Alan memintanya untuk menikah dengannya, tanpa mengenalkan keluarganya. Amera semakin di buat bingung, seperti ada yang tidak beres.


Jika saja waktu itu Amera tidak jadi menemui Alan untuk meminta pekerjaan, dan memilih untuk menerima tawaran papanya untuk bekerja di perusahaan teman lama papanya itu, mungkin semua tidak akan seperti ini. Tidak akan serumit ini. Tidak akan putus dengan Revan. Dan tentunya tidak akan menikahi pria yang bernama Alan Permadi.


Pak Abdi yang melihat putrinya duduk termenung, segera menghampiri.


"Papa tahu ini pasti berat buat kamu, nak," Amera terlonjak kaget saat mendapati papanya sudah duduk di sampingnya.


"Papa. Papa kok belum tidur?" Amera mengusap wajahnya menyadari kalau dirinya baru saja bangun dari segala pemikirannya. Papa Abdi tersenyum seraya menggeleng.


"Dulu, pada saat papa masih muda. Papa ini seorang pemalu. Asal kamu tahu, papa ini laki-laki yang hampir tidak pernah pacaran. Sampai pada suatu hari, papa tidak sengaja bertemu dengan gadis cantik. Mungkin papa berhak menganggapnya seorang bidadari. Papa ikutin bidadari itu sampai ke rumahnya. Dan kamu tahu, nak? Keesokan harinya papa lamar bidadari itu dan memintanya untuk menjadi istri papa. Awalnya dia terkejut, tapi karena melihat keseriusan papa akhirnya dia mau jadi istri papa. Sampai akhirnya, dia melahirkan seorang bayi perempuan yang tak kalah cantiknya. Tapi sayangnya, beliau harus pergi meninggalkan papa dan bayi itu untuk kembali ke Yang Maha Kuasa. Bidadari cantik itu ibu kamu, nak. Dan bayi itu cantik itu adalah kamu, sayang."

__ADS_1


Setitik kristal pun lolos terjun dari pelupuk mata Amera. Mendengar cerita papanya membuat ia begitu terharu. Setumpuk kerinduan pun muncul di benak Amera untuk sang ibu kandungnya. Ingin rasanya saat ini ia pergi ke makam sang ibu guna menumpahkan segala kerinduannya. Sayangnya makam ibu kandung Amera berada di Kalimantan, tempat tinggal asalnya. Dan ia hanya bisa pergi ke makam tersebut sekitar satu tahun sekali.


Pak Abdi menarik tengkuk putrinya untuk ia sandarkan di bahu kekar miliknya. Ia membelai lembut rambut putrinya penuh dengan cinta dan kasih sayang sebagai seorang papa. Suasana pun kini berubah mengharu biru.


"Nak. Papa minta sama kamu. Apapun yang terjadi di dalam rumah tangga kamu nantinya, kamu harus tetap menghormati suami kamu. Perlakukan dia sebagaimana mestinya. Kalai Al sampai berani menyakiti kamu, yang sungkan untuk menceritakannya pada papa!" Amera mengangguk mendengar tutur kata bijak papanya.


"Iya, pah," jawabnya. Suaranya terdengar parau usai menangis. Pak Abdi membantu mengusap sisa air mata di pipi putrinya. Kemudian menghujani ciuman di pangkal rambut gadis itu.


Sekarang Amera paham, kenapa papanya menceritakan kisahnya bersama ibu kandungannya. Terkadang, sebuah pernikahan tidak haris di dasari dengan rasa cinta. Bisa saja terjadi karena sebuah perjodohan. Atau sebagian orang juga ada yang memilih jalan ta'aruf. Lalu mereka mengaku menjalani pacaran setelah menikah. Dari sana mereka saling mengenal, juga mengetahui sifat serta sikap asli masing-masing pasangan. Itulah yang di alami pak Abdi dan akan di alami pula oleh Amera.


"Udah malem, nak. Kamu harus istirahat. Dan janji sama papa untuk tidak memikirkan banyak hal!" pinta pak Abdi kemudian di angguki oleh Amera.


"Iya, pah. Makasih, ya. Karena papa, aku bisa lebih tenang. Aku sayang papa," Amera memeluk tubuh besar papanya dan segera di balas oleh pak Abdi dengan erat.


***


"Oh iya, saya lupa memberitahu pak Al nama anak perempuan putri dari pak Abdi dengan bu Anna," segera Arsen ambil kembali ponsel yang sudah ia letakkan di atas naka, kemudian mengirimkan chat pada Alan. Setelah selesai ia kembali meletakkan ponselnya di tempat semula kemudian tidur.


Sementara di rumah Alan, pria itu juga belum bisa tidur. Memang, semua persiapannya sudah di handle Arsen, tetapi tidak dengan ijab kobul. Pasalnya, meyatakan cinta saja belum pernah, apalagi mengumandangkan ijab kobul di depan penghulu dan banyak orang. Untuk melamar saja, Alan sempat menggunakan cara searching di Google. Bahkan sampai tutorial di Youtube. Mungkin ia harus menggunakan cara itu lagi.


Pada saat ia di pusingkan oleh hal tersebut, notifikasi pesan masuk ke ponselnya bunyi. Segera Alan raih ponsel yang tidak jauh dari jangkauan tangannya kemudian membuka pesan tersebut.


Selamat malam, pak. Saya cuma mau memberi tahu soal nama anak perempuan dari pak Abdi dan bu Anna. Namanya Indah Arandita.


Alan pun segera membalas.

__ADS_1


Ok, Sen. Terima kasih.


***


Pagi-pagi sekali mama Ressa sudah nampak rapih dengan style stelannya. Berhubung ia harus menemui Entrepener yang akan membeli salah satu Restorannya. Kebetulan jarak Apartemen dan Restoran tersebut tidak jauh. Maka dari itu bu Ressa lebih memilih untuk jalan kaki saja.


Sambil berjalan, bu Ressa mengeluarkan ponselnya dari tas yang dia bawa di tangannya. Semalam rencananya ia akan menelpon putra putrinya pagi ini. Takutnya, mereka keburu pergi dari rumah untuk urusan masing-masing. Dan orang pertama yang akan dia telpon adalah putranya, lantaran ia yang super sibuk untuk urusan pekerjaan.


Bu Ressa mendial nomer putranya tanpa memperhatikan jalan, ia fojus pada layar hp-nya. Hingga pejalan kaki lain tidak sengaja menabraknya dan membuat ponselnya terjatuh.


"I'm sorry!" ucap orang yang menabraknya barusan.


"No problem! Tidak apa-apa," balas bu Ressa sambil tersenyun ramah, karena salahnya juga yang terlalu fokus pada layar hp.


Setelah meminta maaf, orang itu pergi. Sementara bu Ressa mengambil ponselnya yang jatuh. Begitu di nyalakan, hp-nya mati.


"Belum sempat aku menghubungi anak-anakku, tapi musibah sudah lebih dulu menimpa. Nanti setelah aku bertemu dengan Entrepener itu saja, aku betulkan hp nya," ada raut wajah sedih di wajah wanita paruh baya itu, karena ia tidak bisa menghubungi putra-putrinya.


Bu Ressa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju tujuan.


___


Buat kalian semua jangan lupa VOTE sebanyak-banyaknya dan tambahkan ke rak favorit juga.


Follow ig @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2