TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 50


__ADS_3

Di halaman rumah Pak Abdi. Beliau dan istrinya tengah berdiri di samping body mobil.


"Oh ya, Pah. Nanti setelah kita dari rumahnya Al, kita mampir ke makam indah ya, Pa. Udah lama juga kita nggak ziarah ke sana," Pinta Mama Anna.


"Iya, mah, kamu benar. Udah lama kita gak ziarah ke makam Putri kita. Mmm.. Mera sudah share lokasi ke kamu belum? Soalnya tadi malam kan kita sudah bilang mau ke sana jengukin mamanya Al." Mama Anna segera mengecek ponselnya


"Udah, Pah. Ini dia baru share lokasinya."


"Ya udah, kalau begitu kita berangkat sekarang."


"Iya, Pah. Mama Anna bersama Papa Abdi naik ke dalam mobilnya kemudian mobil melaju dari halaman rumah tersebut.


Sementara di rumah Al, pria itu kini sedang berada di dalam kamar mama Ressa bersama Disa dan istrinya.


"Gimana keadaan Mama sekarang? Apa perlu aku panggilkan dokter lagi atau kita ke rumah sakit buat cek kondisi di dalam perut Mama?" Al tampak begitu khawatir lantaran Mamanya masih terbaring di atas tempat tidur.


Padahal sebelum Al tadi malam pergi bersama Amera untuk makan malam di rumah Papa Abdi, dia sudah memanggil dokter ke rumah dan meminta Disa untuk menunggu mamanya. Awalnya Al juga tidak akan pergi untuk makan malam saat Mama Ressa mengatakan kalau dirinya sakit. Namun Mama Ressa meminta agar Al tetap pergi saja bersama Amera. Al pun menurut.


"Nggak perlu! I'm oke, mama baik-baik aja. Mama cuma butuh istirahat. Gak perlu Panggil dokter ataupun ke rumah sakit," ujarnya.


"Ya udah, tapi kalau nanti ada apa-apa mama langsung kabarin aku atau Mama minta Disa atau Amera buat hubungi aku."


"Gue harus pergi ke butik hari ini, gue gak bisa jagain mama," sahut Disa.


"Nggak usah banyak alasan, jagain Mama! Mama lagi sakit," ujar Al dengan tegas.


"Gantian lah, gue semalaman jagain mama sedangkan lo? Lo malah enak-enakan pergi."


"Udah, udah. Al, Disa, kalau kalian sibuk nggak apa-apa, kalian pergi saja. No problem. Mama Ressa melerai perdebatan di antara kedua anaknya.


"Iya, Mas. Lagian ada aku juga kan di sini. Aku gak kemana-mana, aku pasti jagain mama. Papa sama Mama juga nanti katanya mau ke sini buat jengukin mama. Kamu nggak usah khawatir, ya!" setidaknya Al merasa sedikit lagi mendengar ucapan Amera.


"Ya udah kalau begitu, tapi ingat kalau ada apa-apa kamu segera hubungi saya," Amera menggangguk.


"Iya."


"Saya berangkat. Mah, aku ke kantor dulu ya. Mama sama Amera di sini," Al menyalami kedua wanitanya, tapi tidak dengan Disa.


"Iya, My son. Kamu hati-hati ya!"


"Hati-hati, Mas."

__ADS_1


"Iya." Al bergegas keluar dari kamar mamanya.


Sementara Disa masih ada di sana bersama mama dan juga Amera.


"Ma, kalau begitu aku juga pergi dulu ya," pamit Disa sambil menyalami Mama Ressa.


"Iya, sayang. kamu juga hati-hati ya."


"Iya, Ma. Oh ya, Mbak, gue mau bicara sama lo sebentar di luar. Ma, aku mau bicara sama Mbak Amera di luar gak apa-apa kan? Cuma sebentar kok," kata Disa meminta izin.


"Iya, silakan," Disa pun tersenyum.


"Ayo, Mbak," ajak Disa, Amera pun menurut.


Setelah pintu kamar kembali ditutup dan mereka sudah ada di luar kamar Mama Ressa, Disa menarik lengan Amera sedikit menjauh dari pintu kamar tersebut. Hal tersebut dipergoki oleh Neni yang hendak pergi menuju dapur. Neni langsung mengumpat di balik dinding berencana menguping pembicaraan di antara Disa dan Amera.


"Kamu mau bicara apa sama Mbak, Disa?"


Gadis itu melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam Amera. "Gue mau tanya sesuatu sama lo. Lo kan yang udah ngadu sama suami lo saat gue beli obat halusinasi? Iya kan?"


Amera terlihat kebingungan. "Obat? obat halusinasi? Maksud kamu apa? Mbak sama sekali nggak ngerti!"


Amera benar-benar tidak mengerti kenapa Disa bisa menuduhnya seperti ini. Padahal dia tidak tahu apa-apa.


"Disa, mbak beneran nggak ngerti maksud kamu, apalagi soal obat itu. Lagian Mbak kan nggak pernah ke mana-mana, dari mana coba Mbak tahu kalau kamu beli obat halusinasi itu? "


Akhirnya Disa diam.


Benar juga sih. Mbak Amera kan nggak pernah kemana-mana. Terus kalau bukan mbak Amera, Siapa? Satu-satunya orang yang menjadi sumber informasi Al itu cuma .. Arsen.


***


Arsen asisten pribadi Al itu kini tengah dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba handphonenya berdering, ia segera mengambil earphone dan memasang di telinga kirinya.


"Halo, Pak."


"Kamu di mana sekarang? "tanya Al yang kebetulan sedang dalam perjalanan menuju kantornya juga.


"Saya di jalan menuju kantor. Ada apa Pak?"


"Kamu nggak usah ke kantor dulu!"

__ADS_1


Arsen mengerutkan dahinya heran. "Memangnya kenapa Pak?"


"Saya ada tugas buat kamu hari ini."


"Tugas apa ya, Pak? " tanya Arsen antusias.


Kemudian Al mengatakan sesuatu yang menjadi tugas sekaligus titah untuk Arsen.


"Baik, Pak," jawab Arsen setelah Al mengatakan apa yang harus dia lakukan.


"Bagus."


Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Arsen, ponsel Al berdering dan mengeluarkan nama Neni di sana, dia segera mengangkat telepon tersebut lantaran Ia berpikir telah terjadi sesuatu dengan mamanya. Dia juga akan memarahi Amera nanti jika hal itu benar, lantaran dia sudah berpesan pada istrinya itu kalau terjadi sesuatu dengan mama Ressa, dia harus segera menghubunginya. Bukan Neni.


"Halo, Nen. Kenapa? Mama saya gak kenapa-napa, kan? Amera ke mana? Kenapa bukan dia yang telepon saya? Saya kan udah bilang sama dia tadi untuk segera menghubungi saya kalau mama saya kenapa-napa!" Mendapat segerombol pertanyaan dari bosnya barusan membuat Neni menjauhkan jarak antara ponsel dari telinganya.


"Mas Al ini, Neni belum ngomong apa-apa dia udah ngomong kayak kereta api aja, " gerutunya tapi tidak sampai terdengar oleh Bosnya itu.


"Halo, Mas Al. Bu Ressa Gak kenapa-napa kok."


Al menghirup napas lega mendengarnya. "Syukurlah kalau mama gak kenapa-napa. Terus kamu ngapain telepon saya? Bikin orang panik aja!" protesnya.


"Ini, Mas Al. Neni cuma mau ngasih tahu aja, tadi Neni lihat Mbak Disa narik-narik tangan Mbak Amera, terus Neni gak sengaja dengar kalau Mbak Disa marah-marah sama Mbak Amera."


Al langsung mengerutkan keningnya. "Disa marah-marah sama Amera?"


"Iya, Mas Al. Mbak Disa bilang kalau mbak Amera yang udah kasih tahu Mas Al soal obat Ha .." Neni tampak mengingat-ingat. "Halu apa ya? Neni lupa, pokoknya obat gitu Mas Al."


Al tertegun.


Oh ya Gue lupa bahas itu sama Disa.


"Ya udah, makasih infonya ya, Nen."


"Sama-sama, Mas."


Al mematikan sambungan teleponnya, sementara Neni masih aja mengingat-ingat obat tersebut.


"Halu.. Halu apa ya? Halu lupa kali ya?" ucapnya ngasal kemudian dia melipir kembali ke dapur.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2