TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 57


__ADS_3

"Ma, aku mohon buka pintunya ma! Dengerin penjelasan aku sebentar ma! Mama.. hiks.. hiks.." Disa berusaha sambil memohon agar Mama Ressa membuka pintu kamar dan mendengar semua penjelasannya.


Neni dan Vira. Kedua asisten rumah tangga di rumah ini gengah bersembunyi di balik dinding seraya memperhatikan Disa. Keduanya saling melempar kode mempertanyakan ala yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu.


"Mbak Vir, Mbak Disa Kenapa ya? Kok dia nangis-nangis di depan pintu kamarnya Bu Ressa?" Tanya Neni bisik-bisik.


"Ya Mana gue tahu. Lu coba tanya sendiri aja ke orangnya." Jawab Vira juga ikut bisik-bisik.


"Ih.. Mbak Vira. Yang ada Neni kena semprot sama Mbak Disa!" Protesnya.


"Ya habis lo kepo amat sama urusan orang."


"Yaelah kayak Mbak Vira nggak aja!" Balas Neni, membuat Vira memamerkan deretan giginya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehe... Iya juga ya, "ujarnya.


Al, pria yang membawa raut wajah kesal yang diciptakan oleh istrinya itu kini masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti ketika dia melihat kedua asisten rumah tangganya tengah berdiri di balik dinding. Kemudian ia memutuskan menghampiri mereka berdua dengan berdiri di belakang mereka.


"Ngapain kalian di sini?"


Mendapat pertanyaan dari seseorang yang tak asing membuat Neni dan Vira menoleh. Ekspresi wajah mereka berubah takut sekaligus panik, lantaran aksi mereka dipergoki sang majikan.


"Mas Al?"


"Pak Bos? "Ujar Vira serta Neni dengan gugup.


"Saya tanya kalian berdua ngapain berdiri di sini?" Al mengulang pertanyaannya, sehingga keduanya dibuat lebih takut lagi.


"Anu .. mas Al. itu Neni sama Mbak Vira-"


"Apa?" Kemudian Al melirik ke arah pintu kamar mamanya.


Di sana Disa masih terus menangis. Sekarang dia bisa menyimpulkan kalau kedua asisten rumah tangganya mungkin sedang mengintip Disa.

__ADS_1


"Saya peringatin sama kalian berdua. Jangan sekali-kali mau tahu urusan orang lain! Paham!?"


Neni dan Vira mengangguk. "Iya, Mas Al."


"Iya, Pak Bos."


"Kalau gitu balik ke kamar atau balik ke rumah masing-masing?!"


"Ke kamar, Mas Al."


"Iya, ke kamar aja," tambah Vira.


"Ya udah sana!" Ujar Al seraya mengedikan dagunya, membuat mereka berdua lari ketakutan.


Amera yang baru saja masuk ke dalam rumah mengernyit heran saat mendapati suaminya tengah berdiri di sana.


"Kamu ngapain berdiri di sini, Mas? "


Pertanyaan Amera membuat Al menoleh.


"Kasihan Disa ya, mas. Mama juga. Apalagi kan mama baru sembuh. Amu takut kalau mama sakit lagi karena nggak mau makan. Nanti, aku coba bujuk mama deh buat buka pintunya sebentar. Seenggaknya Mama harus makan biar gak sakit."


"Ya, saya gak mau mama saya sakit gara-gara Disa," ucapan Al kembali menciptakan pertanyaan di dalam pikiran Amera.


"Mas, dari tadi kamu bilang, apa lagi waktu ke Disa, Mama Ressa itu Mama kamu. Lebih ke cuma Mama Kamu sendiri. Padahal kan mama Ressa juga mamanya Disa. "


Menyadari hal itu harus segera merangkai kata guna mengatakan alasan pada istrinya.


"Ya itu karena saya anak pertama, makanya mama itu lebih dulu jadi Mama saya."


Mendengar alasan suaminya, Entah kenapa Amera merasa ragu. Seperti ada yang suaminya tutup-tutupi dari dia.


***

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi mama Ressa belum juga bisa tidur. Bagaimana tidak, pikiran dan hatinya terlalu kacau, sehingga dia sulit untuk tidur.


Setelah apa yang Disa lakukan, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Mungkin aku memang bukan mama yang tepat untuk dia. Tapi selama ini aku mendidik dia dengan benar. Tapi kenapa, kenapa Disa rela mencoreng nama baik dan merusak harga dirinya demi laki-laki yang sama sekali tidak menginginkannya? Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu, lalu laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab karena itu bukan salahnya. Tapi salah Disa. Ya Allah, aku harus gimana?


Air mata Mama Ressa mengalir begitu deras di kedua pipinya, yang bisa dia lakukan saat ini seakan hanya menangis, membuat kedua matanya kini sembab. Wanita paruh baya itu menyapu air mata di kedua pipinya, ketika dia menyadari tidak ada lagi suara orang yang mengetuk-metuk pintunya. Padahal tadi suara ketukan pintu juga beberapa orang yang memanggilnya sekedar untuk membujuknya makan terus terdengar. Namun sekarang sudah sepi. Mungkin semua orang sudah tidur, mengingat waktu sudah cukup malam.


Mama Ressa melangkahkan kaki turun dari tempat tidurnya. Kemudian berjalan ke arah pintu kamar guna mengecek keadaan di luar. Begitu membuka pintu, yang pertama kali dia lihat adalah putrinya. Yang kini tidur di samping pintu kamarnya dengan posisi duduk. Sebersit rasa tidak tega pun mulai menjalar ke hatinya. Namun mengingat apa yang sudah putrinya lakukan membuatnya kembali kecewa.


Mama Ressa memutuskan untuk kembali masuk ke kamar. Membiarkan Disa tidur di lantai sana. Namun hal itu gagal, saat dia hendak memasuki kamar, Disa membuka mata, perempuan itu bangkit berdiri kemudian memeluk tubuh mamanya dari belakang cukup erat.


"Mama ..." Dipeluknya tubuh wanita itu dengan erat.


"Makasih ya, Ma. Akhirnya Mama mau bukain pintu buat dengerin penjelasan aku. Aku bisa jelasin ini semua ke mama. Mama dengerin aku ya." Ucap perempuan itu sambil terisak, sehingga Mama Ressa pun tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan tangan putrinya yang melingkar di tubuhnya saat ini.


"Aku tahu Mama kecewa sama aku. Mama pasti marah banget sama aku. Tapi aku juga punya alasan kenapa aku bisa nekad ngelakuin ini semua." Tambah perempuan itu, membuat mama Ressa tak kuasa menahan tangis. Tangisnya pun kian pecah. Mama Ressa melepaskan tangan Disa, lalu memutar tubuhnya menghadap putrinya.


"Why, dear? Kenapa kamu harus melakukan semua itu? Setelah apa yang sudah Al lakukan untuk kamu. Dia rela menikahi perempuan yang Mama juga gak tau sampai sekarang apa dia sudah mencintai istrinya. Dan Amera, korban dari keegoisan kamu, sayang. Karena kamu, hubungan dia sama Revan hancur. Apa itu semua belum cukup buat kamu? Bahkan dengan Kkamu merusak harga diri kamu, Revan belum tentu akan mencintai kamu lagi."


Kata-kata Mama Ressa barusan membuat suasana kini berubah mengharu biru.


"Mama ... Mama dengerin aku dulu, mah! Iya, aku memang salah. Salah banget. Karena aku udah ngerusak harga diri aku. Itu karena aku berpikir, dengan aku melukkan itu semua, Revan akan jadi milik aku seutuhnya. Karena apa yang sudah Al lakukan ternyata gak ngerubah apapun. Revan tetap mengejar-ngejar Mbak Amera dan aku benci itu, " jelasnya seraya terisak.


"Dan kamu harus ingat, sayang! Apa yang sudah kamu lakukan pun belum tentu akan merubah apapun sama dengan apa yang sudah Al lakukan seperti yang kamu ucapkan barusan!" Seketika Disa dibuat bungkam oleh ucapan mamanya barusan.


Gue ngelakuin semua ini supaya gue hamil. Dengan begitu Revan mau nggak mau harus nikahin gue dan dia jadi milik gue seutuhnya. Tapi gimana kalau gue nggak hamil? Semua yang gue lakuin pun bakal sia-sia.


Bisa menggeleng keras. Enggak. Revan pasti akan jadi milik aku, ma. Revan cuma milik aku!" Tiba-tiba saja Disa histeris.


Mama Ressa langsung memeluk tubuh putrinya itu.


"Istighfar, sayang. Kamu nggak boleh seperti ini!"


Keduanya saling memeluk dan menumpahkan air mata di sana.

__ADS_1


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Arsen sudah ada di halaman rumah seseorang. Ia berdiri di depan pintu gerbang rumah tersebut.


__ADS_2