Teror Pocong Marwi

Teror Pocong Marwi
Eps.01 Siapa Itu Marwi?


__ADS_3

Marwi adalah seorang anak yang tinggal di desa yang jauh dari pusat kerumunan kota, Sejak Usianya 14 tahun Marwi sudah ditinggal kan oleh Kedua orang tuanya ... Ya Marwi adalah Seorang anak yatim piatu, ia kini hanya tinggal bersama Neneknya saja, Almarhum ayah nya adalah Petani , ia meninggal digigit ular beracun di sawah saat sedang menanam padi. Belum lama setelah kepergian Ayahnya saat Usia Marwi 10 tahun Ibunya jatuh sakit terkena serangan jantung dan meninggal dunia .


Hidup dengan Neneknya jauh dari kata kecukupan , Nenek nya hanya Seorang penjual tikar yg terbuat dari anyaman bambu , yg kadang tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari , pernah Marwi dan Neneknya tidak makan selama 2 hari berturut-turut, karena pada saat itu tikar buatan Nenek nya tidak kunjung Terjual, Setiap kali Marwi merasa lapar Nenek nya hanya menyuruh Marwi untuk minum air putih , maksudnya agar perut mereka kembung dan menghilangkan rasa lapar tapi tetap saja , walaupun Marwi sudah meminum banyak air ,Marwi masih mengeluh Lapar dan kini perutnya mulai terasa perih. Saat itu Marwi dan Nenek nya sudah benar-benar merasa sangat lapar karna sudah hampir 4 hari mereka hanya meminum air putih, Marwi sudah benar-benar tidak tahan ,dan memutuskan untuk ijin ke Nenek nya untuk mencari Pekerjaan di luar desanya , si Nenek mengijinkan Marwi untuk Pergi sambil memberi Marwi sejenis kris kecil yang di bungkus dengan kain berwarna hitam. Marwi bertanya pada nenek nya "apa ini nek?" Nenek nya pun menjawab "anggap saja ini jimat keberuntungan , di rawat ya nduk(cucu) kemana-mana kamu pergi kris ini harus berada di saku mu semoga kamu selalu bertemu dengan orang baik diluar sana" , bergegas Marwi membereskan barang bawaannya dan berpamitan dengan Nenek nya"amin... nek aku pamit dulu ya nanti kalau aku udah dapet uang aku langsung kemari membawakan nenek makanan yg enak" sambil tersenyum dan melambai-lambaikan tangan nya ke arah Nenek nya .


Marwi Kecil itu pergi meninggalkan Neneknya , ia berjalan ke arah barat keluar dari desa nya, Marwi yg tidak tahu arah dan tujuan itu terus berjalan mengikuti kata hatinya , Desa demi desa telah Marwi lewati ,hingga akhirnya Marwi Ambruk karena sudah tidak kuat Berhari-hari menahan rasa lapar nya ,tubuh nya gemetar hebat Marwi sudah tidak bisa bangun lagi ia benar-benar sudah kehabisan tenaga , yg Marwi fikirkan saat itu bahwa ia akan mati dan menyesal tidak bisa menepati janji kepada neneknya untuk pulang dan membawa makanan . Marwi Terkapar 3 Hari 2 Malam di jalan setapak Menuju Desa Bojong Pinang yg hanya tinggal beberapa Km lagi , anehnya Marwi masih bisa mendengar tapi tidak bisa melakukan apapun Marwi masih tergeletak tidak berdaya di tengah-tengah jalan .


Menjelang malam Marwi mendengar sayup-sayup bunyi kereta delman, melihat ada seseorang terkapar di tengah jalan Delman itu berhenti, seorang wanita turun dari delman tersebut, wanita itu sangat anggun dan berpakaian seperti bangsawan , dia kaget melihat ada anak kecil yang terkapar di tengah jalan sepi . "apakah kamu mengenal anak ini?" tanya wanita itu pada pak kusir delman "aku ga kenal bu , mungkin..dia dari kampung sebelah" jawab pak kusir .


Wanita itu bernama Laras dia adalah istri dari Orang Kaya yg Ada di Desa Bojong Pinang , Laras habis mengunjungi saudaranya yang habis melahirkan , melihat ada anak kecil yang pakaian nya sudah lusuh dan terkapar di tengah jalan Laras langsung merasa kasihan di perhatikannya anak kecil itu dari jauh merasa masih hidup karna matanya masih berkedap kedip Laras langsung memberhentikan delmannya , Laras langsung menghampiri Marwi ,sambil jongkok Laras Bertanya "kamu dari mana nak?" ,Masih berbaring Marwi membalas nya dengan bahasa isyarat karna mulut nya yg masih terbata-bata karna ia sudah sangat lapar, perlahan Marwi menggerakan tangan nya dan menunjuk ke arah barat . Lalu Laras meminta pak kusir untuk membawa Marwi ke dalam delman , pak kusir segera mengikat kan kudanya pada pepohonan dan menuruti saja pinta Laras , lalu pak kusir itu langsung menggendong tubuh Marwi ke dalam delmannya ,Marwi di ajak menuju rumah mewah milik Laras , sepanjang perjalanan Laras memberi Marwi sebuah nasi ketan yg ia dapat dari jenguk saudaranya itu, Marwi memakannya dengan sangat lahap Laras memberikannya air putih sambil berkata "pelan pelan nak nanti tersedak" Marwi mengangguk .


Perlahan-lahan Marwi pun sudah bisa berbicara lagi, ia menceritakan bahwa dirinya sudah berhari-hari tidak makan, Marwi juga meminta tolong kepada wanita itu , untuk menjenguk neneknya dan membawakan nenek nya makanan Marwi pun memberi tau kepada Laras dimana Nenek nya itu tinggal.

__ADS_1


Ke esokan harinya selepas Laras menjenguk saudaranya itu, Laras langsung menuju ke rumah Nenek nya Marwi , Laras Membawa Nasi dan berbagai jenis lauk pauk yg dia bawa dari rumah saudaranya. Namun Nasib Buruk menimpa Nenek Marwi , saat Laras dan Marwi tiba di rumah itu , Nenek nya sudah meninggal , "nenek itu pasti meninggal karena kelaparan" gumam Laras di Dalam hati . Memang di Desa Marwi tersebut sedang musim Panceklik entah kenapa tanah di desa tersebut tidak subur ,padi yg warga tanam tidak ada satu pun yg panen , banyak warga desa yg sudah meninggalkan desa Marwi tersebut , Desa itu benar-benar sepi . Setelah menguburkan jenazah nenek nya Marwi , Laras merasa kasihan, dan meminta kepada suaminya Untuk Mempekerjakan Marwi di Desanya.


Ke Esokan hari nya Laras menghampiri lagi Marwi kerumahnya "Nak apakah kamu mau untuk mengembala kerbau di desaku?" tanya Laras yg pada saat itu memang Kerbau nya sangat banyak dan sedang membutuhkan pengembala tambahan , Marwi dengan senang hati Menerima tawaran Laras itu , Di perjalan menuju Desa Bojong Pinang Marwi menceritakn hidup nya yg serba susah karena Nenek nya hanya sebagai penjual anyaman tikar yg kadang sulit untuk terjual kepada Laras ia juga menceritakan bahwa kedua orang tua nya telah meninggal sejak Marwi umur 10 tahun, Laras semakin kasihan dan merasa iba mendengar cerita anak kecil itu .


Setiba nya di rumah Laras ,Marwi benar-benar Terkesima melihat rumah Laras yang begitu Besar dan Luas, di belakang rumah itu ada kandang kambing dan kerbau peliharaan keluarga Laras, di depan Marwi berdiri keluarlah seorang laki-laki , ya.. itu adalah suami Laras Bernama Jaya Kusuma orang-orang biasa memanggil nya Raden Jaya . Raden Jaya Keluar menggunakan Jas hitam dan Sarung batik berwarna emas , berumur sekitar 40 tahun dan memiliki Kumis tebal, dia Adalah Orang Terkaya di Desa Tersebut, lalu Raden Jaya mempersilahkan Marwi Untuk Masuk ke dalam rumahnya Marwi di suguhkan Buah-buahan dan makanan enak lainnya . Raden Jaya dan Laras Benar-benar baik kepada Marwi .


Lalu Marwi di perkenal kan kepada Ki Sarkam oleh Raden Jaya, melihat Ki Sarkam Marwi bergidik ngeri , Ki Sarkam Berpenampilan Baju nya Hitam, Celana nya hitam dan juga ada sebilah golok di pinggang nya badan nya bertubuh agak gemuk dia duduk di sebelah Marwi . "nah Marwi kenalkan ini ki Sarkam dia yang akan bimbing kamu dalam mengurus kerbau" kata Raden Jaya , Marwi hanya menangguk , Ki Sarkam Melihat Sinis Ke Marwi dari atas ke bawah yg terlihat sangat mengerikan . Dari salah satu ruangan Keluar lah seorang anak perempuan yang sangat Cantik dan Anggun Umur nya 11 tahun Nama nya Rara , dia adalah satu-satu nya Anak Raden Jaya dan Laras .


Sepanjang hari Marwi mengembala kerbau itu seorang diri , sedangkan Ki Sarkam hanya duduk di bawah pohon sambil memperhatikan kerbau yang sedang memakan rumput .


Setiap sore Laras selalu menyuruh 2 orang wanita di rumah nya untuk mengantarkan rantang makanan kepada Ki Sarkam dan juga Marwi , setibanya 2 wanita itu di ladang mereka langsung memberikan nya kepada Ki Sarkam setelah itu 2 wanita itu kembali kerumah Laras , ketika hendak mengambil jatah makanan milik nya , Ki Sarkam justru menepis tangan Marwi "kenapa mang?" tanya Marwi terheran-heran . Tanpa menjawab pertanyaan Marwi , Ki Sarkam langsung membuang lauk pauk di Rantang makanan milik Marwi ,Marwi hanya di perbolehkan memakan nasi nya saja , memang Ki Sarkam ini orang nya memang kejam ia memang suka menindas pekerja yang umur nya di bawah lebih muda dari dirinya ditambah dia memang sedikit merasa tersaingi karna sikap nya Raden Jaya dan Laras yang baik terhadap Marwi.., Sarkam pun sering memukuli Marwi kalau-kalau Marwi membuat kesalahan kecil, punggung dan kaki paha Marwi sering membiru karna Sarkam sering memukuli nya menggunakan tongkat kayu...

__ADS_1


Tiap malam Marwi sebenarnya sering meringis kesakitan ia sejujurnya sudah tidak tahan berada disini karena siksaan dari KiSarkam tapi Marwi tidak punya pilihan lain kalau dia berhenti dari pekerjaan nya dia tidak tau harus kemana dan nanti dia akan kelaparan lagi gumam Marwi di dalam hatinya


Semakin hari tubuh Marwi semakin kurus, Marwi hanya punya sedikit waktu istirahat di waktu bekerja , berbeda dengan KiSarkam yang tiap hari kerjaannya hanya tidur-tiduran dan memakan singkong bakar di saung dekat ladang .


Tahun demi tahun berlalu, Marwi pun sudah tumbuh menjadi dewasa, di umur nya yg sudah 23 tahun ia masih bekerja untuk keluarga Raden Jaya namun sekarang tugas nya sudah berbeda bukan lagi pengembara kerbau melainkan kini ia bekerja sebagai penggarap sawah. Itu tugas yang cukup berat, jadi Marwi di beri kepercayaan memegang 5 petak sawah sekaligus pertahun, dia sendiri yang mencangkul, menandur, dan menjaganya sendiri dari serangan hama .


Suatu hari saat Marwi sedang mencangkul sawah ,tiba-tiba ada 2 orang ibu-ibu yg melintas di pinggiran sawah, mereka membicarakan Rara yang terkena gigitan ular tanah saat main di kebun. Marwi kaget dan langsung menyimpan cangkulnya segera ia menuju rumah Raden Jaya dengan masih memakai pakaian yang masih kotor oleh lumpur yang kering, setiba nya di sana Marwi melihat Rara yang terkapar di tempat tidur miliknya sambil meringis kesakitan , Marwi melihat ada bekas gigitan ular di kaki sebelah kanan nya , luka itu sudah membengkak dan membiru, saat itu memang belum ada dokter atau semacam nya Raden Jaya sudah mengobati nya dengan berbagai macam pengobatan tradisional dan juga memanggil tabib di desanya tapi luka nya tak kunjung sembuh malah kini luka itu mengeluarkan Nanah dan tubuh Rara pun semakin lemas wajah nya kini terlihat sangat pucat. Ibunya... Laras hanya bisa terus menangis melihat putri satu-satunya tidak berdaya seperti itu soalnya sudah banyak warga di desa Bojong Pinang yang meninggal akibat gigitan ular tanah. Marwi bingung dia sangat ingin membantu tapi tidak tau harus berbuat apa , dia tidak mempunyai ilmu apa-apa atau ahli dalam pengobatan ,akhirnya Marwi hanya bisa membantu alakadar nya saja seperti mencarikan dedaunan yang di pinta Raden Jaya untuk pengobatan tradisional nya .


Satu Hari berlalu luka nya semakin Parah kini luka itu sudah mengeluarkan bau,ibunya..Laras hanya bisa menangis melihat putrinya itu , seketika Marwi ingat akan Kris Kecil pemberian nenek nya itu , Marwi ingin mencoba nya karena nenek nya pernah berkata Kris itu seperti jimat siapa tau bisa menyembuhkan fikir marwi di dalam hati , Lalu Marwi meminta izin kepada Raden Jaya "maaf raden boleh saya coba untuk mengobati Rara?" pinta Marwi kepada Raden Jaya dengan sangat sopan "memangnya kamu bisa mengobati orang sakit?" tanya Raden Jaya "saya ingin mencobanya raden, mohon izin..." pinta Marwi sambil tertunduk lalu akhirnya Raden Jaya pun memberikan Marwi izin . Marwi pun langsung berlali menuju gubuk nya untuk mengambil kris kecil yg berada di saku baju di gubuk nya, setiba dirumahnya Raden Jaya, Marwi langsung menempelkan kris itu pada kaki Rara yang luka AjaibNya Luka itu langsung mengering seketika itu juga Raden Jaya, Laras dan semua yg ada di rumah langsung kaget melihat kesaktian kris milik Marwi "kamu mendapat kris itu dari mana nak?" tanya Laras sambil ia menghusap air matanya "ini pemberian nenek saya dulu" jawab Marwi, ia pun tidak menyangka kris nya itu sangat sakti.


Beberapa hari kemudian, Rara akhirnya sembuh total, luka nya sudah mengelupas ia akhirnya bisa berjalan seperti sedia kala .

__ADS_1


Setelah melihat kesaktian kris milik Marwi, Raden Jaya ingin membeli Kris itu dengan Harga yg sanģat Mahal, tapi dengan sangat sopan Marwi menolak tawaran itu dia bilang kalau kris itu kenang-kenangan dari nenek nya . Penolakan itu tidak membuat Raden Jaya marah , itu malah membuat keluarga Raden Jaya semakin baik


__ADS_2