
Keesokan hari nya warga menemukan tiga para pemuda korban air liur Marwi tergeletak di tengah-tengah desa , kepala nya melepuh dan mengeluarkan bau yang sangat busuk , Pocong Marwi itu kini mulai meresahkan warga desa , Pak Komar yang saat itu menjadi yang di tuakan di desa, sangat bingung apa yang harus di lakukannya , sementara itu teror pocong Marwi kembali menimbulkan kekacauan , kini bukan hanya warga desa saja yang menjadi korban, tapi perkebunan , sawah dan juga hewan ternak kini di bantai habis oleh pocong Marwi sawah di buat nya menjadi kekeringan sehingga banyak padi yang mulai kering dan mati , perkebunan di buat nya membusuk semua sehingga tak ada satupun singkong atau pun buah-buahan lain nya yang bisa di panen , peternakan warga pun tak luput di habisi nya oleh Marwi , kondisi desa semakin mencekam , Pak Komar melarang para warga untuk keluar rumah di malam hari , warga mulai sengsara akibat teror pocong Marwi , Pak Komar tak tinggal diam , dia memikirkan berbagai hal untuk menghentikan pocong Marwi , akhirnya dia berfikir untuk meminta tolong kepada Riki, karena dia berfikir bahwa hanya Riki yang dapay mengendalikan pocong Marwi tersebut, kebetulan Pak Komar kenal dengan Ki Surya ayah dari Mawar , dan dia pun tau rumah dari ki Surya tersebut , Pak Komar berharap bahwa Riki tinggal bersama mertua nya .
Keesokan pagi nya, pak Komar pamit ke istri nya untuk segera menuju rumah Ki Surya , menggunakan delman yang telah ia pesan , perjalanan menuju rumah Ki Surya memang cukup jauh , sampai-sampai pak Komar ketiduran di perjalanan , sampai hari sudah mulai petang, akhirnya pak komar tiba di desa ki surya , walaupun hari mulai larut malam , di desa itu masih cukup ramai, banyak anak kecil yang masih bermain di luar rumah , adapun bapak-bapak yang masih ngumpul di sebuah saung , Pak Komar pun menanyakan pada salah satu bapak-bapak tersebut dimana rumah Ki Surya , akhir nya salah satu warga mengantar pak Komar ke rumah ki Surya, setiba nya di sana , segera pak Komar mengetuk pintu rumah nya sambil memberi salam , tak lama ada seseorang yang menggerakan gagang pintu, tanda ada orang di dalam nya, lalu keluar lah Ki Surya dari dalam rumah tersebut , tanpa basa basi pak Komar langsung memohon pada Ki surya "Kii tolong lah desa saya" kata pak Komar dengan nada yang memelas "kamu siapa? emang kenapa desamu?" tanya Ki Surya yang saat itu masih bingung dengan kehadiran pak Komar "saya Komar ki dari desa Bojong Pinang , saya orang yang di tuakan di desa , kini desa saya sedang di teror oleh pocong" jawab Pak Komar . "haahh? pocong? yang betul saja kamu?" kata Ki Surya yang masih kebingungan dengan perkataan pak Komar "iya ki, pocong ... apa ada Riki disini? karena hanya dia lah yang tau seluk beluk pocong itu ki" timpal Pak Komar , "Riki tidak tinggal dengan ku" jawab Ki Surya "sekarang Riki tinggal di mana ki? saya sangat memerlukan bantuan dia , karena hanya dia lah yang dapat menaklukan pocong tersebut" kata Pak Komar sambil terus memelas "dia tinggal di desa Reban" saat itu percakapan mereka pun berakhir , akhirnya Pak Komar berterimakasih dan izin untuk pamit pulang namun ki Surya melarang nya karena hari sudah mulai malam , ki Surya meminta Komar agar menginap di rumah nya dan ke esokan hari nya dia akan bersedia mengantarkan pak Komar ke desa Reban , lagi-lagi pak Komar berterimakasih kepada ki Surya dan bermalam di rumah nya .
Ke esokan pagi nya ki Surya dan pak Komar segera menuju desa Reban menggunakan delman yang pak Komar bawa dari desa , beberapa jam kemudian, mereka tiba di desa Reban , pak Komar sangat terkejut, bahwa kini Riki tinggal di rumah panggung yang amat sederhana, padahal dulu Riki adalah seorang tabib tersohor di desa bojong pinang , kini hidup nya berubah sangat drastis , pintu rumah tersebut terbuka , nampak nya ada Mawar dengan anak nya yang sedang bermain, Mawar senang saat melihat bapak nya itu yang turun dari delman , segera dia menghampiri bapaknya dan memberi salam , mempersilahkan ki Surya dan pak Komar untuk masuk "suami mu kemana?" tanya ki Surya , "ohh.. mas Riki lagi mencangkul di sawah pak" jawab Mawar "tolong desa kamiii Mawar , desa kami sedang di porak porandakan oleh pocong" yang jawab malah Pak Komar , mendengar perkataan pak Komar awal nya Mawar kaget, namun tiba-tiba wajah Mawar menjadi murung "mas Riki, kini tidak punya ilmu apa-apa lagi pak, dia hanyalah orang biasa , jadi percuma kalau mau minta tolong pada mas Riki" ujar Mawar , tak lama kemudian , ada yang mengetuk pintu dapur , itu adalah Riki, semenjak melepaskan Marwi kini Riki bekerja sebagai petani di sawah nya , ia tak punya kekuatan apapun untuk menyembuhkan orang lain seperti dulu, namun kini hidup nya jauh lebih tenang .
__ADS_1
Pak Komar bangkit dari duduk nya, langsung menghampiri Riki, dan sujud di hadapan nya "raden ... tolong desa kami, pocong itu kini telah menghancurkan desa bojong pinang tolong kami , kami semua ketakutan" pinta Pak Komar yang sambil bersujud memohon agar Riki dapat membantu nya wajah nya nampak panik dan sangat ketakutan , "Marwii??? bagaimana bisa pocong itu bangkit?" tanya Riki yang saat itu ikut terkejut "saya tidak tahu raden.. yang jelas kini teror pocong itu telah membuat desa kami hancur pesawahan ,perkebunan, serta ternak milik warga telah di bantai habis oleh pocong itu raden, tolong kami" pinta pak Komar kembali sambil terus memohon . "pocong itu pun telah membunuh beberapa warga juga raden" sambung pak Komar . Riki hanya bisa menggelengkan kepala, karena dia berfikir bahwa dirinya saat ini memang tidak mempunyai ilmu apapun , mana mungkin dia dapat menghentikan kebringasan pocong Marwi , Riki berjalan menuju ruang tamu anak perempuan nya yang kini berusia 5 tahun bernama Dahlia duduk di sebelah ayah nya dan berkata "aku kini hanya petani biasa tidak punya ilmu apapun, bagaimana bisa aku menghentikan Marwi" .
"raden tolong lah desa bojong pinang , kalau pocong itu tak segera di hentikan , akan ada terus korban bertambah raden" sergah pak Komar
"Raden... Kami tidak akan meninggalkan desa bojong pinang karena rumah kami disana, tidak masalah kalau Raden tidak ingin menolong kami, tapi raden harus ingat , kalau raden Riki adalah warga desa bojong pinang , kami selalu baik pada Raden , bahkan kami telah menganggap raden Riki sebagai tetua di desa bojong pinang , semoga raden tidak melupakan dari mana raden berasal" kata Pak Komar , Riki pun menatap pak Komar dengan tatapan yang tajam
__ADS_1
"aku bukan lah berasal dari desa bojong pinang, kau tak tau apa-apa tentang ku , lebih baik sekarang kau pergi dari sini karena sudah ku tegaskan berkali-kali bahwa aku tidak punya ilmu apapun" jawab Riki dengan datar , dia nampak nua kini mulai risih dengan perkataan-perkataan pak Komar , pak Komar pun beranjak pergi tanpa sepatah kata pun .
Melihat kejadian tersebut Mawar dan Ki Surya memang tidak bisa berbuat apa-apa , mereka tidak mungkin memaksa Riki untuk melawan pocong Marwi , karena mereka tahu memang kini Riki sudah tidak memiliki ilmu apapun , selang beberapa saat Ki Surya pun pamit pulang, sebenar nya ki Surya sangat prihatin mendengar kabar desa bojong pinang , tapi ki Surya paham mana mungkin Riki dapat berhadapan dengan pocong Marwi .
Malam pun tiba, saat itu Riki dan anak istrinya sedang tidur di kamar , tiba-tiba saja jendela kamar nya pun terbuka sendiri , lalu terdengan rintihan "GEEETTIIHHHHHHHH" jelas itu suara Marwi , dia mulai menghampiri Riki yang dulu menjadi majikan nya, Mawar pun terbangun, kedua mata nya langsunv meletot Mawar berteriak sekencang mungkin sampai membuat anak nya terbangun sampai menangis ketakutan , mendengar teriakan dari istrinya membuat Riki terbangun "ada apa Mawar?" tanya Riki dengan panik, namun Mawar tidak menjawab nya dia hanya terus berteriak sambil memegangi perut nya , kepala nya mendongak ke langit sambil terus memegang perutnya seperti nya Mawar masih merasa sakit saat Marwi merintih kata getih . "GEEETTTTIIIHHHHH" begitu rintihan Marwi, Riki langsung melihat keluar jendela "B*ngsaaaatttt kauu!!!!!" Riki langsung lari ke dapur untuk mengambil sebuah golok, setelah itu buru-buru Riki keluar rumah nya, saat itu Marwi berdiri tepat di depan rumah nya "apaa yang kau mau pocong sialan! aku sudah tidak punya urusan lagi dengan mu!" bentak Riki sambil mengacungkan golok nya, saat itu Riki tidak menggunakan baju, dia hanya memakai sarung , saat itu Riki benar-benar merasa murka , karena pocong Marwi mulai meneror istri nya lagi, pocong itu masih berdiri di depan rumah nya Riki sambil terus merintih kata getih "*aku tidak punya getih untuk mu, karena memang sudah lama aku tidak mau berurusan dengan mu, pergi kau b*ngsat*!!!" teriak Riki sambil berlari ke arah Marwi, dia hendak menebas kepala tepat ke kepala Marwi , namun tiba-tiba saja Marwi menghilang, Riki menoleh ke segala arah , dia mencari keberadaan Pocong itu , ternyata pocong Marwi telah berada di dalam kamar menghampiri Mawar, Marwi berdiri tepat di hadapan Mawar yang masih meringis kesakitan memegangi perutnya, jelas saja membuat Riki kaget, dia segera masuk lagi ke dalam rumah , tanpa ancang-ancang lagi Riki langsung mengayunkan golok itu tepat mengenai bahu Marwi , namun golok itu tak mampu melukai pocong tersebut, tubuh Marwi sangat keras seperti besi . sedangkan Mawar masih terus berteriak kesakitan , seperti ada beling yang mengaduk-aduk perutnya, ia merasakan perih yang amat luar biasa , kini Mawar berganti posisi tengkurap, seketika saja Mawar seperti mengalami pendarahan , kini di kasur dan baju nya Mawar sudah di penuhi darah , ternyata Marwi telah mencakar punggungnya Mawar , sementara itu Dahlia , anak dari Riki dan Mawar masih menangis ketakutan sambil memeluk tubuh ibu nya. "hentikan , aku mohon hentikan , jangan sakiti istri dan anak ku , kau mau getih kan ? baik nanti akan ku ambilkan" kata Riki sambil bersujud di hadapan Marwi yang saat itu masih berada di dalam kamar, Riki langsung berlari ke belekang rumah nya dan mengambil seekor ayam kampung dari dalam kandang, langsung Riki berlarian lagi ke dalam kamar , "ini kau mau getih kan" bujuk Riki sambil memotong leher ayam tersebut , Pocong Marwi menoleh ke arah Riki namun nampak nya dia tidak tertarik pada darah ayam, dia mengabaikan Riki , malah dia hampir mendekat pada Mawar dan membuka mulut nya lebar-lebar "GETIIIHHHH" , pocong itu ingin mencabik-cabik tubuh nya Mawar dan menikmati darah nya, mulut Marwi berlendir dan gigi nya sangat tajam seperti hiu, Mawar semakin panik , dia semakin menjerit sejadi-jadi nya .
__ADS_1