
Kini perlakuan keluarga Raden Jaya dan Laras semakin baik kepada Marwi, istilah nya kini ia di anak emas kan, gubuk tempat Marwi tinggal kini di perbagus, makanan-makanan yang di antar untuk Marwi juga kini berbeda dari pekerja lain, Marwi di beri makanan yang lebih enak seperti ayam bakar, ikan goreng dan juga sayurannya perlakuan yang diberi Raden Jaya kepada Marwi membuat Ki Sarkam semakin iri terhadap Marwi ,walaupun sudah tua rasa dengki Ki Sarkam kepada Marwi tidak kunjung hilang dia tidak mau bertaubat dan selalu menindas para pekerja yang lemah ,tapi tidak ada satu pun yang berani mengadukan perlakuan Ki Sarkam kepada Raden Jaya karena takut akan ancamannya .
Kini Ki Sarkam tertarik akan kris yang di miliki Marwi , ia sudah berniat untuk mencurinya . Maka tengah malam saat Marwi tengah tidur di gubuk nya untuk beristirahat , Ki Sarkam diam-diam mengendap-endap masuk ke dalam gubuk Marwi dan mencari kris itu , saat sedang mencarinya... Marwi tiba-tiba terbangun dan menendang Ki Sarkam sampai tersungkur , tidak terima di tendang , Ki Sarkam Langsung mengeluarkan golok yang selalu ia bawa, ia langsung menebas kan golok itu ke leher nya Marwi, seketika kepala Marwi terputus darah berceceran kemana-mana, Marwi langsung tewas di tempat , buru-buru Ki Sarkam mengambil kris yang ada di saku Marwi , untuk menghilangkan jejak nya Ki Sarkam segera mengubur Jasad Marwi di belakang gubuk nya dan meratakan tanah nya dengan rapih lalu menumpuk tanah tersebut dengan kayu bakar , Ki Sarkam juga segera membersihkan darah yang berceceran di gubuk Marwi. Pembunuhan tersebut sama sekali tidak meninggalkan jejak .
Ke Esokan paginya, saat Ibu Laras Menyuruh seorang wanita mengantarkan makanan ke gubuk Marwi, wanita itu malah balik lagi kerumah sambil membawa rantang makanan milik Marwi, Laras Terheran "loh kenapa makanannya di bawa lagi kesini?" tanya Laras "tidak ada Marwi di gubuk nya bu" jawab perempuan itu segera Laras melaporkannya kepada Raden Jaya bahwa Marwi tidak ada di gubuknya. Saat itu Raden Jaya langsung memanggil Ki Sarkam , saat itu Ki Sarkam pura-pura tidak tahu, "aneh sekali, tidak biasa nya Marwi hilang seperti ini" ujar Laras "dari kemarin saya ada di kandang bu, dan belum melihat Marwi" Timpal Ki Sarkam dia ini sangat pintar sekali menyembunyikan kepanikannya itu "aneh,.. Kemana ya?" kata Raden Jaya . Saat semua nya sedang kebingungan tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang muncul dari pintu depan .
__ADS_1
"Raden cari saya?" kata seorang laki-laki yang muncul dari depan pintu itu, yaa... itu adalah Marwi , dia tampak sehat dan baik-baik saja ,dia tersenyum sopan sambil menghampiri Raden Jaya dan yang lainnya, "wah aku kira kamu bakal kabur Marwi hehe.." kata Raden Jaya sambil mengajak nya bercanda . Ki Sarkam benar-benar terkejut saat Marwi muncul iya bingung kenapa Marwi masih hidup padahal jelas-jelas semalam Marwi telah berhasil aku bunuh timpal Sarkam di dalam hati .
"maaf raden, tadi saya sedang buang air besar di sungai" jawab Marwi . Sarkam langsung meraba-raba saku celana miliknya, benar saja kris kecil yg semalam ia curi dari Marwi sudah menghilang, Kris itu sudah balik lagi di tangannya Marwi . Tanpa bìcara apa-apa lagi Ki Sarkam langsung pamit kepada Raden Jaya ,wajah Sarkam pucat ia seperti ketakuan melihat Marwi kembali "Ki Sarkam mau kemana" tanya Laras "maaf bu saya harus menjaga kerbau lagi bu" jawab Ki Sarkam , Sarkam pun pergi dari rumah Raden Jaya .
Marwi sempat berbincang sebentar dengan Raden Jaya dan juga Laras , lalu Marwi kembali ke gubuk nya untuk beristirahat sebentar, dan segera melanjutkan mencangkul sawah. Saat Marwi sedang sibuk mencangkul sawah nya , Ki Sarkam diam-diam menghampiri gubuk Marwi, dia diam-diam memeriksa kuburan yang semalam dia buat, dia memindahkan tumpukan kayu bakarnya dam mulai menggali, betapa terkejut nya Ki Sarkam melihat kuburan Marwi yang ia buat semalam jasad nya sudah menghilang apakah Marwi sekarang sudah jadi hantu? fikir Sarkam saat itu . Diam-diam ia mengintip dari balik pohon pisang, si Marwi yang ia lihat masih sibuk mencangkul di tengah sawah, tak ada yang berbeda dari penampilannya, dia masih seperti manusia biasa, kedua kaki nya juga masih napak di tanah Ki Sarkam bingung dengan apa yg di lihat nya ,dia pun sengaja langsung menghampiri Marwi . "Marwi kesini dulu kamu.." kata Ki Sarkam, Marwi mengelap keringat nya dan meletakan cangkulnya segera ia menghampiri Ki Sarkam "ada apa ya mang?" jawab Marwi keheranan sambil mengelap keringatnya itu, siang itu memang Matahari sedang Terik-teriknya .
__ADS_1
Malam pun tiba , Marwi pulang ke gubuk nya untuk segera beristirahat, seharian Marwi bekerja membuat badan nya terasa sangat lelah, tidak lama setelah Marwi membersihkan dirinya , Marwi langsung tertidur dengan sangat nyenyak , dan tengah malam lagi-lagi Ki Sarkam mengendap-endap masuk ke gubuk nya Marwi , dilihatnya Marwi sedang tertidur lelap tanpa ancang ancang lagi , Ki Sarkam langsung mengayun kan golok nya dan menusuk golok nya tepat di dada nya Marwi, Marwi sempat berteriak kesakitan, sampai akhirnya ia pun meninggal . Ki Sarkam takut kalau nanti Marwi bangun lagi , makannya malam itu juga ia langsung menggendong tubuh Marwi dan membawa nya ke sungai, Ki Sarkam langsung melempar tubuh Marwi ke sungai , tubuh Marwi pun hanyut seketika terbawa arus sungai . Ki Sarkam langsung balik lagi ke gubuk Marwi dan membersihkan ceceran darah nya , tak lupa Ki Sarkam mengambil kris yang ia yakini sebagai sumber kekuatannya Marwi . Dan ke Esokan pagi nya tetap saja Marwi hidup lagi, Ki Sarkam melihat pemuda itu sedang sibuk mencangkul di sawah , Ki Sarkam akan mengadukannya kepada Raden Jaya bahwa Marwi mempunyai ilmu hitam .
Pagi itu juga Ki Sarkam buru-buru mendatangi rumah Raden Jaya, ia bercerita bahwa Marwi melakukan persekutuan dengan setan, dan pemuda itu membawa ilmu hitam dan bisa membawa malapetaka bagi warga desa . Memang begitulah sifat Ki Sarkam yang senang mengadu domba seseorang . Sayang nya Raden Jaya dan Laras langsung percaya saja dengan apa yang di bicarakan oleh Ki Sarkam ini , di tambah pada saat Marwi mengobati Rara anak nya membuat Raden Jaya semakin yakin . Lain hal nya dengan Rara putri satu-satunya itu , dia tidak percaya sama sekali dengan kesaksian Ki Sarkam ini . Akhirnya Marwi dipanggil untuk memberikan penjelasan kepada Raden Jaya , Marwi malah merasa bingung kenapa dia di tuduh punya ilmu hitam . "ayo ngaku saja kau!!" bentak Sarkam yang sangat kesal terhadap Marwi "saya tidak punya ilmu apa-apa mang, saya hanya pekerja biasa sebagai kuli cangkul" jawab Marwi sambil merasa ketakutan . Raden Jaya pun angkat bicara "Sarkam apakah kamu punya bukti kalau Marwi penganut ilmu hitam?" tanya Raden Jaya "Raden.. dia bisa sembuh dari luka nya dengan sangat cepat , apalagi namanya kalau bukan ilmu hitam... Kita lukai saja Marwi saat ini, kita buktikan bahwa dia bisa menyembuhkan luka nya dengan sangat cepat" jawab Ki Sarkam "jangan! Apa-apaan ini, ayah jangan mau di adu domba seperti ini" kata Rara sambil memegang lengan nya Raden Jaya , "yasudah... Marwi silahkan kamu kerja lagi ya... benar kata Rara , Sarkam kamu tidak punya bukti yang kuat untuk menuduh Marwi menganut ilmu hitam tidak mungkin aku melukai pemuda tersebut tanpa sebab" ujar Raden Jaya "baik Raden..." ujar Marwi sambil kembali menuju sawahnya . Belum puas Ki Sarkam meyakini Raden Jaya dan keluarganya "Raden... nanti pasti akan saya buktikan sendiri bahwa Marwi memang mempunyai ilmu hitam yang akan sangat membahayakan bagi warga desa kita ini" ujar Ki Sarkam yang masih bersiteguh meyakinkan Raden Jaya "ah...tidak perlu, saya yakin Marwi bersih dari hal-hal semacam itu. Lebih baik sekarang km kembali bekerja dan urusin saja kerbau kerbau ku sana.." ujar Raden Jaya . Ki Sarkam tidak bisa beragumen lagi, Sarkam langsung pergi dari hadapan Raden Jaya dan keluarganya dengan perasaan kesal. Dan kris kecil yang Ki Sarkam curi itu kini telah Raib lagi dari saku celananya dan sudah berpindah tangan lagi ke Marwi , berkali kali Ki Sarkam mencoba membuktikannya kalau Marwi punya ilmu hitam tapi selalu gagal , dia bingung.. Bagaimana lagi cara melenyapkan Marwi.
Tahun demi tahun berlalu, siapa sangka kalau Rara ternyata menyimpan perasaan cinta terhadap Marwi ,tapi jelas Raden Jaya dan Laras tidak akan merestui cinta mereka.. Apa kata warga nanti, kalau anak nya nanti menikah dengan seorang kuli cangkul , Raden Jaya takut kalau nanti Rara berbuat yang tidak-tidak , maka ia langsung menjodohkan dan menikahkan Rara dengan seorang anak juragan kaya dari Desa di Lampung , lelaki itu bernama Fatih dia pemuda yang tampan dan dari keluarga berada pula , sangat cocok kalau nanti bersanding dengan Rara . Ya... mau tidak mau Rara harus mematuhi kedua orang tua nya itu , sedangkan nasib Marwi ia akan tetap menjadi kuli cangkul . Lalu Raden Jaya menggelar pesta mewah , ia menyembelih 5 kerbau , Pesta di gelar 7 hari 7 malam tanpa henti. Tapi sebenar nya Rara masih mengharapkan perasaan nya terhadap Marwi, ia menunggu kehadiran Marwi di pestanya, tapi Marwi tidak kunjung datang, Rara tidak tahu bahwa Marwi di larang datang ke pesta nya oleh Raden Jaya, Raden Jaya tidak ingin acara putrinya itu jadi berantakan , karena ia tahu bahwa Rara dan Marwi sama-sama saling menyukai .
__ADS_1
Satu bulan kemudian Rara malah makin mencintai lelaki itu, ia benar-benar merindukannya . Padahal Rara telah mencoba melupakan nya ,tetapi tidak bisa.. Padahal ia sudah mempunyai suami yang sah dan lagi Fatih itu cukup baik dan juga tampan , begitu pun dengan Marwi , dia sama sekali tidak bisa melupakan Rara tak banyak yang bisa ia lakukan karena Marwi pun sadar diri, setiap malam Marwi hanya bisa melamun didepan Gubuk nya sambil meratapi nasib nya yang malang , berbeda dengan Rara dia tidak bisa menahan lagi rindu nya terhadap Marwi , maka tengah malam.. Saat suami nya sudah tertidur ,diam-diam Rara mengendap endap keluar dari kamar nya , malam itu juga sambil membawa obor Rara lari ke dalam sawah menghampiri gubuk Marwi , Marwi yang saat itu sedang melamun di depan gubuknya terkejut, Rara memeluk Marwi dengan sangat erat nya , "bagaimana kamu bisa kesini? nanti kalau ada orang yang tahu, Raden Jaya bisa marah padaku" kata Marwi merasa cemas "aku sudah tidak tahan lagi memendam perasaan ini, selama pesta berlangsung aku selalu menunggumu , tapi kau tak kunjung datang, aku sudah berusaha untuk melupakan mu tapi perasaan ini malah semakin tidak tertahankan melihat mu tidak pernah lagi mengunjungi rumahku..aku benar-benar mencintai mu Marwi" ujar Rara sambil menahan tangis nya "aku juga mencintai mu Rara, maaf tidak banyak yang bisa ku perbuat karna aku ini sadar diri ,aku hanya lah seorang kuli cangkul yang tidak pantas bersanding dengan mu" ujar Marwi merasa sedih juga akhirnya mereka pun berciuman melepas kan rasa kerinduan yang sama-sama mereka pendam selama ini, dan mereka melakukan hubungan badan di gubuk itu, mereka tidak menyadari bahwa diam-diam Ki Sarkam mengikuti Rara , Ki Sarkam mengintip mereka dari celah bilik gubuk itu , buru-buru Ki Sarkam Lari ke rumah Raden Jaya untuk melaporkan kejadian yang di lihat nya . Raden Jaya, Laras dan Fatih benar-benar murka mendengar kabar itu, Raden Jaya meminta Sarkam untuk membangunkan penduduk desa untuk mengepung gubuk Marwi , malam itu pulahan warga dengan membawa obor langsung menuju ke sawah untuk mengepung gubuk si Marwi , sesampai nya Raden Jaya dan juga warga di gubuk Marwi , ternyata mereka berdua masih dalam keadaan belum memakai pakaiannya , buru-buru Rara menutupi tubuh nya dengan sebuah kain , sedangkan Marwi belum sempat mengenakan pakaiannya , Marwi langsung di tarik warga dalam keadaan belum menggunakan pakaian apapun , lalu Marwi di arak ke desa dan langsung di pukuli seluruh warga desa yang ada ,Marwi sekarat... Namun tanpa belas kasihan Ki Sarkam langsung menghantam kepala Marwi dengan menggunakan batu yang besar . "dia sudah mati..." ucap Raden Jaya . Laras sebenar nya kasihan melihat kejadian yang menimpa Marwi saat itu tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menyaksikan nasib naas yg menimpa Marwi