Teror Pocong Marwi

Teror Pocong Marwi
Eps.06 Karma itu berlaku!


__ADS_3

Riki masih terbaring di tengah hutan , ketika hari mulai menjelang malam ternyata Riki ini siuman ,tangan masih berusaha meraba-raba semak semak dan saat itu lah , tiba-tiba ada yang menyentuh tangan Riki , hal ini membuat Riki sangat bahagia , akhirnya kakak nya itu datang fikir Riki di dalam hati . "kakak... kak Raka, kaka dari mana ? kenapa aku ditinggalkan ka, aku sangat takut . Aku kan sekarang ga bisa lihat ka dan lagi mata ku ini masih sangat terasa sakit" ujar Riki sambil tersendu-sendu, ia menyangka bahwa yang memegang tangan nya itu adalah kakak nya Raka . Riki di tuntun terus berjalan entah kemana "kak, kau kan itu? apakah desa nya sudah dekat ka?" tanya Riki sambil tersenyum "aku bukan lah kakak mu" Riki mendengar itu adalah suara nenek-nenek "aku adalah Nenek Narsih , kau jangan khawatir aku akan mengobatimu. kakak mu telah pergi meninggalkanmu" . Mendengar kabar itu , Riki merasa sedih dan kesal tau bahwa kakak nya pergi meninggalkannya Riki berfikir kenapa kakak nya tega meninggalkan dia di tengah hutan dengan keadaan Riki seperti itu, akhirnya Riki menurut saja pada nenek Narsih , dia juga senang bahwa ada seseorang yang akhirnya menolongnya di tengah hutan lebat seperti ini . Riki di bawa ke sebuah gubuk di tengah hutan, atap gubuk itu terbuat dari rumbia dan dinding nya terbuat dari anyaman bambu tak ada ada dipan atau lantai di dalam gubuk itu, gubuk itu beralaskan tanah. Ada dapur dan tungku perapian , dan ada ranjang yang terbuat dari bambu. Riki disuruh berbaring di atas ranjang oleh nenek Narsih, nenek Narsih pergi ke belakang gubuk, di belakang gubuk itu ada sebuah sumur yang air nya sangat jernih dan di sebelah sumur itu ada pohon bambu yang sangat rindang, lalu nenek Narsih mengambil beberapa daun yang ada di batang bambu, dan di masukan daun itu kedalam sumur, lalu nenek Narsih membaca-baca sebuah mantra dan mengambil lagi daun bambu tersebut dari dalam sumur, setelah itu nenek Narsih masuk lagi kedalam gubuk, Riki masih terbaring saat itu, tubuhnya masih sangat lemas di atas ranjang . Nenek Narsih duduk di tepi ranjang sebelah Riki , ia mengoleskan daun bambu pada kedua mata Riki, Ajaibnya mata Riki seketika sembuh seketika, dia sudah bisa melihat sekarang , tampak di hadapannya seorang nenek-nenek , dia menggunakan jubah hitam ,rambut nya panjang dan sudah di penuhi oleh uban, punggung nya pun bungkuk nenek Narsih tersenyum pada Riki "aku sembuh nek.." kata Riki kegirangan , bentol-bentol di tubuhnya pun kini telah hilang "iya cu.. kamu sudah sembuh" jawab nenek Narsih . Riki di asuh oleh nenek Narsih di tengah hutan gantarawang , hingga akhirnya dia tumbuh dewasa , kini umur Riki sudah beranjak 20 tahun , selama di asuh oleh Nenek Narsih, Riki tidak pernah melihat nenek itu makan dan tidur, nenek Narsih juga selalu membawa makanan yang enak untuk Riki, saat Riki tanya dari mana makanan enak yang terus nenek bawa itu , katanya nenek bekerja serabutan di desa Bojong Pinang dan upah kecil nya ia berikan untuk membeli makanan buat Riki. Selama Riki di asuh oleh nenek Narsih, dia tidak di perbolehkan untuk keluar dari hutan keramat itu .


Hari demi hari berlalu Riki semakin tumbuh dewasa , di suatu malam , tiba-tiba Riki mendengar suara seseorang yang sedang meringis kesakitan , suara itu seakan menggema di langit , Riki terbangun karena hal itu, Riki berdiri dan mencari nenek Narsih, tapi tak ada nenek Narsih di gubuk nya saat itu, entah kemana nenek itu. Riki keluar dari rumah , dan memperhatikan sekeliling dan melihat ke langit-langit, siapa suara orang yang meringis kesakitan itu , tak lama kemudian saat Riki terus memperhatikan sekelilingnya , tiba-tiba suara itu menghilang, Riki segera masuk lagi kedalam gubuk nya , mungkin nenek sedang pergi ke suatu tempat dan tidak bisa kemari saat ini , fikir Riki dalam hati . Keesokan hari nya , saat Riki terbangun tiba-tiba sudah ada nenek Narsih yang sedang menyiapkan makanan untuknya, nenek itu sedang memasak nasi . "nek.. semalem Riki mendengar ada suara seseorang yang meringis kesakitan itu siapa nek?" kata Riki yang memberitahu nenek Narsih dan rasa penasarannya "oh... itu suara Marwi" jawab nenek Narsih "kalau begitu , ada orang lain lagi nek yang tinggal di tengah hutan ini?" tanya lagi Riki, ekspresi mukanya Riki sangat senang mengetahui ada yang hidup di tengah hutan keramat ini selain dia dan nenek Narsih .


"iya memang benar , ada banyak sekali yang tinggal di sini ini" jawab nenek Narsih sambil meniup tungku perapian


"memang nya dimana rumah Marwi nek?" tanya Riki lagi penasaran


"disana..." Jawab nenek Narsih sambil berdiri dan menunjuk ke arah Timur . Riki hanya mengangguk , saat ini umur Riki sudah 23 tahun, dia sangat ingin keluar dari hutan gantarawang ini, dan menjalani hidup normal. Maka pagi itu juga, Riki meminta izin pada nenek Narsih untuk keluar dari hutan .

__ADS_1


"apa yang kau ingin kan hidup di luar sana?" tanya nenek Narsih


"saya ingin usaha nek.. saya ingin mencobanya seperti almarhum bapak saya, agar saya bisa hidup kaya nek dan membalaskan dendam saya pada kakak saya" kata Riki


"kamu ingin kaya? kamu ingin dendam mu terbalas kan kepada kakak mu?" tanya lagi nenek Narsih


"iya nek.." jawab Riki


"apa itu pesugihan pocong nek? bagaimana caranya aku melakukan pesugihan pocong itu nek?" timpal Riki yang penasaran . Nenek Narsih tidak menjawab pertanyaan Riki, dia langsung pergi ke dapur , dan membawakan cangkul di hadapan Riki , itu cangkul yang sudah usang dan sangat berkarat .

__ADS_1


"nanti tengah malam, saat kau mendengar lagi suara rintihan seseorang, kau ikuti sumbar suara tersebut sampai kau tiba di titik nya , gali lah tanah itu , dan bawalah jasad Marwi ke gubuk ini . Ada kris yang menancap di tubuh nya jangan sampai kris itu terlepas" jelas nenek Narsih , Riki hanya memanggut dan menuruti kata nenek Narsih tersebut.


Saat tengah malam tiba, Riki mendengar suara rintihan itu, bergegas Riki mencari sumbar suara tersebut , tak lupa pula Riki membawa cangkulnya . Dia pergi ke arah Timur , semakin ia mengikuti suaranya maka semakin dekat pula suara itu, tak butuh waktu lama bagi Riki , dia rasa dia sudah berada di titik suara tersebut , Riki menempelkan telinga nya ke tanah , Riki sudah sangat yakin itu adalah titik suara tersebut . Riki segera menggali tanah itu dengan cangkulnya , Riki berusaha sekuat tenaga bergegas menggali tanah tersebut , karena cangkul yang Riki bawa sudah usang dan sangat tumpul . Entah sudah dalam berapa meter tiba-tiba saja cangkul Riki menghantam sebuah jasad yang di bungkus dengan kain putih , kain itu sudah sangat dekil, tidak salah lagi itu pasti jasad Marwi. Wajah nya sangat pucat , sudah seperti mayat yang di awetkan, aneh nya meski sudah terkubur selama berpuluh puluh tahun , jasad Marwi ini masih sangat utuh, mungkin itu karena ilmu pancasona yang Marwi miliki . Tiba-tiba saja hujan turun, itu membasahi permukaan tanah, dengan begitu Riki dengan mudah dapat mengeluarkan jasad Marwi ke atas tanah. Riki sangat hati-hati saat mengeluarkan Marwi, karena takut kris nya tercabut dari tubuh nya Marwi, Riki yakin itu bukanlah kris sembarangan. di tengah hujan deras dan petir bersekelabatan Riki menggendong jasad Marwi dan segera membawanya ke gubuk .


Setiba nya di gubuk, ternyata sudah ada nenek Narsih yang menunggu , nenek menyuruh Riki membaringkan jasad Marwi di atas ranjang bambunya itu . Lalu nenek Narsih pergi ke dapur dan membawa pisau yang sangat tajam, nenek Narsih membaca-baca mantra , lalu nenek Narsih memotong sebuah tali yang ada di bagian pinggang jasad nya Marwi, nenek Narsih hanya memotong satu tali saja, sehingga kain itu masih membungkus rapih jasad Marwi.


"buka baju mu" pinta nenek Narsih kepada Riki , Riki menuruti saja perintah nenek Narsih , lalu nenek mengikat tali itu pada pinggangnya Riki dan menyuruh Riki mendekatkan dirinya pada tubuh nya Marwi , nenek itu pun memegang tangan nua Riki dan mengiris kecil jari tangannya , darah keluar dan mengucur ke tubuh nya Marwi dan saat itu juga Jasad Marwi matanya melotot , wajahnya sangat mengerikan , Riki meringis kesakitan karena jarinya di iris oleh nenek Narsih . "Sekarang darah mu telah mengalir di tubuh Marwi sekarang kau bisa memelihara Marwi untuk pesugihan bahkan bisa untuk membunuh manusia" kata Nenek Narsih , nenek Narsih pun mencabut kris yang ada di tubuh Marwi , dan aneh nya Pocong Marwi itu hanya diam saja matanya melotot memperhatikan Riki , sepertinya pocong Marwi kini sudah bisa di kendalikan .


Besok nya Riki keluar dari hutan gantarawang , dia menjadi sangat sakti dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit , selama berbulan-bulan Riki tinggal di desa Bojong Pinang, kini ia hidup sebagai tabib yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, di desa juga Riki belajar membaca dan hitung-hitungan , gubuk nya kini di perbaiki, Riki membuat kamar khusus untuk menyimpan Pocong Marwi . kepada warga desa , Riki menceritakan kisahnya , bahwa di hutan gantarawang ada seorang nenek-nenek yang hidup disana , dia yang mengurus Riki selama ini, nama nenek itu adalah nenek Narsih, namun para warga malah tertawa mendengar cerita Riki tersebut, warga bilang bahwa nenek Narsih telah meninggal puluhan tahun lalu dan menjadi demit di hutan gantarawang , kuburan nenek Narsih ada di hutan tersebut. Riki benar-benar terkejut mendengar penjelasan warga, tentunya Riki tidak langsung percaya dengan apa yang warga katakan , sudah jelas bahwa yang menolong, mengurus, dan memberi makan Riki selama ini adalah nenek Narsih . Hingga ketika suatu sore , ia pulang mengobati seseorang dari desa menuju gubuknya , dia tidak sengaja melihat sebuah batu nisan yang sudah sangat berlumut, Riki menghampiri kuburan tersebut, dan membersihkan lumut yang ada di tulisan batu nisan tersebut, dan nampak lah nama yang bertulusan nenek Narsih, semenjak saat itu Riki akhirnya percaya dengan apa yang warga katakan bahwa nenek Narsih adalah demit penghuni hutan gantarawang . Namun hal tersebut tidak jadi masalah bagi Riki, lagi pula selama ini nenek Narsih sudah sangat baik mengurusnya .

__ADS_1


Hari demi hari berlalu, kini kekayaan Riki bertambah , dia semakin tersohor di berbagai daerah Riki sudah di kenal sebagai tabib yang sakti , hal ini tak lain karena bantuan dari pocong Marwi, suatu hari itu malam pun tiba, saat Riki ingin tidur dan beristirahat di gubuknya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu gubuknya tersebut , Riki bangun dan berjalan menuju pintu , melihat siapa yang datang ke gubuk nya malam-malam begini , pelan-pelan saat pintu nya di buka Riki sangat terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu, itu adalah kakak Angkatnya Raka , pakaian Raka compang camping, rambutnya acak-acakan ternyata dia jatuh miskin , seluruh emas di kopernya telah di curi, selama ini dia hidup sangat susah, Raka sujud dan meminta maaf kepada adiknya itu, Riki pun menyuruh kakak angkat nya itu untuk masuk , Riki menyuguhkan kakaknya minuman , buah-buahan, dan berbagai makanan di atas meja . "Aku sangat bangga memiliki adik seperti mu , usaha mu benar-benar sukses, rumahmu pun di Bojong Pinang sangat lah besar. Aku mengunjungi rumahmu disana, namun kata warga kau tinggal di gubuk hutan gantarawang , tolong aku Riki, hidup ku sangat susah sekarang, aku ingin sukses seperti mu tolong beri tahu aku caranya dek.." pinta Raka saat itu , sambil melahap makanan yang di suguhkan adiknya itu . "sangat lah mudah ka, aku melakukan pesugihan pocong" Jawab Riki ," bagaimana caranya dek, aku mau sepertimu, ajari aku...." pinta Raka. Riki pun mengajak kakaknya untuk melihat kamar yang berisi pocong Marwi, perlahan Riki membukakan pintu kamar itu, tampak lah pocong Marwi terbaring disana, Riki menceritakan bahwa pocong itu adalah mahluk pesugihannya , pocong itu sangat sakti tetapi Riki bisa mengendalikannya cerita Riki kepada kakaknya , Riki mempersilahkan Kakaknya untuk masuk dan melihat dari dekat pocong Marwi itu, Raka sangat bergidik ngeri melihat pocong itu matanya melotot , tapi pocong itu hanya diam saja Raka memberanikan diri . "dari mana kau mendapatkan pocong ini dek" tanya Raka , "setelah aku ditinggalkan kakak, aku di asuh seorang nenek di hutan ini, nenek itu yang memberitahuku tentang pesugihan pocong ini, aku di beri petunjuk dan mencari pocong ini di tengah hutan gantarawang" jelas Riki .


"sekarang kakak, duduk di dekat pocong ini, tenang saja pocong nya tidak akan melukai kakak, aku aka mengambil menyan dan beberapa alat yang aku butuhkan untuk membantu kakak agar bisa pesugihan pocong dan jadi sakti seperti ku di dapur aku akan membacakan mantra dari luar setelah itu pasti nanti kakak akan kaya raya sepertiku" jelas Riki kepada kakaknya , Raka pun menuruti saja perintah adik nya itu, kemudian Riki keluar kamar dan menutup pintu tersebut , Riki menuju ke dapur dan mengambil telur dan menyan , setelah itu Riki kembali ke depan pintu kamar pocong Marwi dia duduk sila di depan kamar sambil membaca mantra ia membakar menyan dan meremas telur tersebut sampai pecah .


__ADS_2