
Keesokan pagi nya, saat fajar baru sedikit terlihat cahaya nya Riki sudah tergesa-gesa membangun kan putri nya untuk segera pergi, takut nya nanti keburu ada warga yang melihat, dengan segera Riki dan Geni membopong tubuh Marwi ke atas gerobak roda yang kemarin Riki buat, tanpa sarapan terlebih dahulu karena mereka sangat terburu-buru takut kereta nya malah sudah lewat terlebih dahulu.
Riki menarik gerobak itu, sedangkan Geni mendorong dari arah belakang, perut Geni sangat keroncongan begitu pula Riki namun mereka berdua mengejar waktu demi tak di dahului oleh laju kereta nya.
Dengan susah payah akhir nya mereka tiba di pinggiran rel perlintasan kereta api, lalu terdengar lah gemuruh suara kereta api dari kejauhan, mereka berhasil tiba tepat waktu.
Riki membawa beberapa potong kain dari rumah Ki Suri saat itu guna untuk menutupi pocong Marwi agar tidak di curigai oleh masinis kereta, tak lama kemudian nampak lah kereta api dengan laju nya yang lambat, Riki dan Geni sudah bersiap untuk melemparkan jasad pocong Marwi ke atas tumpukan batu bara, Geni memegangi bagian kaki sedangkan Riki memegangi bagian kepala Marwi, tubuh pocong itu telah tertutup kain.
Tibalah kereta di hadapan nya laju nya pun lambat karena memang itu adalah kereta barang yang bermuatan batu bara, saat itu Riki memberi aba aba dengan menghitung nya sampai tiga, dalam hitungan ke tiga Riki dan Geni dengan kompak melempar pocong itu. Kini pocong itu telah mendarat dengan sempurna berada di atas bak tumpukan batu bara, entah kemana kereta barang itu akan membawa Marwi, hal itu ia lakukan karena Riki tidak mau peduli dan berurusan lagi dengan pocong ia benar-benar muak. Yang terpenting bagi nya kini adalah terbebas dari teror pocong Marwi. Lalu Riki dan Geni kembali menjalani hidup nya di Desa Reban.
Waktu terus berjalan, kereta itu telah melewati desa demi desa, saat malam tiba tepat nya pukul 8 ada sekelompok pemuda yang berjumlah 5 muncul dari balik semak-semak mereka semua bersiap melompat menaiki kereta barang tersebut, mereka bergelantungan pada sisi bak, namun dengan mahir dan kerjasama kelima pemuda tersebut telah berhasil menaiki salah satu bak yang berisi batu bara.
__ADS_1
Kelima pemuda itu memakai pakaian yang sangat lusuh, di penuhi dengan noda hitam mereka semua telah mengunakan sarung tangan yang sudah jelek sambil membawa peralatan tambang seperti palu dan linggis, ternyata kelima pemuda itu berada di bak terakhir kereta, mereka berlima telah bersiap untuk melakukan pembajakan kereta.
Kemudian tiga orang dari mereka turun dari bak, dan berdiri tepat di atas sambungan kereta, jika rangkaian besi yang menyambungkan antara bak itu berhasil di lepas, maka bak belakang akan terpisah dengan kereta, sayang nya itu semua tida semudah yang di bayangkan mereka bertiga kesulitan melepaskan rangkaian sambungan tersebut karena kondisi kereta yang berjalan membuat nya berayun-ayun dan tidak stabil.
"Selipkan linggis nya pada lubang diantara sambungan itu" bentak Sujoni pada ketiga anak buah nya. Akhir nya linggis itu berhasil di selipkan di antara sambungan kereta , Sujoni berada di pinggir bak kereta tepat nya di ujung sambungan itu.
"Cungkil.... Ayo Cungkil" suruh Sujoni.
Lalu ketiga anak buah nya itu mengeluarkan seluruh tenaga nya untuk mencungkil sambungan kereta namun masih belum berhasil, karena bagi Sujoni dan anak buah nya yang lain saat itu adalah pertama kali nya bagi mereka membajak kereta batu bara.
"Aang kemari bawa palu" kata Sujoni memerintahkan anak buah nya yang berada di atas bak.
__ADS_1
Lalu dengan sigap, Aang pun segera lompat kebawah menghampiri bos nya, Sujoni meminta kedua anak buah nya untuk mundur, lalu ia berjalan ke tengah-tengah sambungan rel dan dengan sekuat tenaga Sujoni menghantam kan palu itu ke linggis yang menancap di antara kereta dengan bak yang lain namun tetap saja belum berhasil, karena memang bukan seperti itu cara melepaskan sambungan antara bak kereta.
Keringat membasahi wajah Sujoni karena ia terus menghantam-hantamkan palu ke arah linggis tersebut,tak lama kemudian Sujoni pun kelelahan nafas nya ngos-ngosan kereta masih terus melaju walaupun lambat.
Lalu Sujoni kembali berjalan ke sisi bak nya untuk beristirahat dalam keadaan jongkok Sujoni meraba bagian bawah sisi bak tersebut, dia pun menemukan tuas di bawah nya, tuas itu memang cukup mungil sehingga dari tadi tidak terlihat.
"Ayo.. Bantu aku" pinta Sujoni sambil menarik tuas tersebut yang berada di bawah sisi bak batu bara.
kedua anak buah nya membantu menarik sedangkan yang lain nya menahan pegangan Sujoni dari atas bak, mereka bertiga terus mengeluarkan sisa tenaga yang ada , akhir nya mereka berhasil mencabut tuas tersebut dan akhir nya sambungan antara bak kereta pun terputus, mereka bertiga bersorak gembira.
Tak lama kemudian bak yang terpisah dari kereta nya itu berhenti di tengah-tengah rel, mereka bertiga melompat turun setelah bak nya berhenti.
__ADS_1
"Kita berhasil bos!!!" ucap kedua anak buah nya yang masih berada di atas tumpukan batu bara.
Lalu Sujoni pun segera menaiki bak batu bara sambil tersenyum gembira, namun senyuman nya itu teralihkan sesaat ketika ia melihat seperti ada manusia yang terbungkus kain berada di sisi kiri bagian bak batu bara tersebut, siapa yang membuang mayat di kereta batu bara tanya nya di dalam hati.