
Warga desa Bojong Pinang masih terus mencari keberadaan pengembala domba tersebut ke berbagai sudut desa , sebagian warga pula sudah menanyakan nya ke tetangga desa , ternyata bukan hanya pengembala kambing saja yang ikut menghilang sejak hari itu, sudah ada beberapa para warga lain nya yang ikut menghilang secara misterius. Hutan Gantarawang lah satu-satu nya tempat yang di curigai para warga, namun sayang nya , tidak ada satu orang warga pun yang berani masuk dan mencari ke hutan gantarawang , karena mereka tahu kalau di dalam hutan itu adalah tempat nya pocong Marwi , kasus beberapa orang yang menghilang itu membuat warga merasa cemas, bayangkan saja belum ada satu bulan sudah ada 9 warga yang hilang dengan misterius, mereka tak kunjung di temukan dalam keadaan hidup ataupun mati, seluruh warga berfikir pasti hutan gantarawang lah yang membuat 9 orang yang hilang itu.
Pada akhirnya warga sepakat untuk membuat pagar di sekitar perbatasan hutan gantarawang dan desa bojong pinang , pagar tersebut di buat dengan batang bambu , pagar tersebut di buat sebagai batas agar tidak ada lagi warga yang mendekat atau pun warga asing yang tidak tahu ke angkeran hutan keramat tersebut untuk masuk .
__ADS_1
Sementara itu , di dalam hutan gantarawang yang lebat dan gelap , keluarga Bardu dan Munah masih menjalani hidup nya , namun ada yang berbeda dengan keadaan gubuk nya , kini di depan gubuk nya tersebut ada beberapa sabut kelapa yang bergelantungan juga ada sebuah meja dari kayu yang di atas nya ada beberapa kembang 7 rupa dan juga sebuah batok yang berisi darah kental , mungkin itu ada lah sesajenan yang di buat Bardu .
Sedangkan di belakang gubuk nya tersebut, ada 9 manusia yang sudah mati dengan keadaan terbalik , kaki nya di ikat satu persatu di sebuah pohon-pohon besar, ternyata Bardu lah yang selama ini menculik dan membunuh para warga hilang di desa bojong pinang, Bardu membunuh mereka dan hanya mengambil darah nya saja, setelah darah itu berhenti mengalir baru lah Bardu menggantung mayat nya di dahan-dahan pohon , Bardu dan Munah sudah di pengaruhi oleh nenek Liman , apapun yang di perintahkan nenek Liman, Bardu akan menuruti perkataan nenek Liman demi untuk menghilangan tanda hitam dan bulu pada anak nya, perlu di ketahui, cara Bardu untuk menculik dan membunuh warga desa itu sangat cerdik , Bardu selalu menunggu di semak-semak tak jauh dari desa , saat ada warga yang melintas di dekat nya, maka ia akan menghantam kepala orang tersebut dengan sangat keras menggunakan batu, sekali hantaman nya dapat membuat orang langsung terkapar tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, setelah itu Bardu langsung memasukan jasad nya ke dalam sebuah karung besar yang telah ia siapkan dan langsung masuk ke dalam hutan gantarawang, sampai saat ini tak ada seorang warga pun yang tahu bahwa Bardu lah pelaku nya , karena kecerdikan Bardu yang selalu membersihkan dan merapihkan lagi tempat dia beraksi untuk menghilangkan tanda bukti , sehingga membuat para warga berfikir 9 orang itu hilang secara misterius .
__ADS_1
Di suatu malam , saat Bardu sedang melamun dan memikirkan bagaimana lagi cara mendapatkan tumbal yang ke 10 , tiba-tiba saja nenek Liman datang, Bardu terkejut karena sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan nenek Liman, dia pun tak pernah tau di mana tempat tinggal nenek Liman ,selama ini memang nenek Liman selalu muncul ataupun pergi dengan cara yang misterius , "sudah berapa banyak botol darah segar manusia yang telah kau kumpulkan ?" tanya nenek Liman , "sudah sembilan botol ni, aku kesulitan mencari tumbal yang ke 10 karena kini perbatasan antara hutan dan pemukiman warga sudah di pagari" jawab Bardu saat itu, "bawa semua darah segar yang telah kau kumpulkan itu , dan ikuti aku" pinta nenek Liman, tanpa banyak basa-basi segera Bardu masuk kedalam gubuk nya untuk mengambil karung , dan memasukan botol darah itu ke dalam karung , Bardu dan nenek Liman menuju ke belakang gubuk nya , tepat di dekat pohon mahono yang besar , nenek Liman berhenti , dia meraba-raba permukaan tanah dengan kaki kanan nya , "Bardu cepat kau gali permukaan tanah ini" ucap nenek Liman , Bardu terdiam , dia ingat bahwa di dapur nya terdapat cangkul, buru-buru ia lari ke dapur dan segera kembali membawa cangkul nya , Bardu segera menuruti permintaan nenek Liman , dia langsung menggali permukaan tanah tersebut , cangkul itu telah usang dan berkarat , dia membutuhkan tenaga yang ekstra untuk menggali tanah tersebut, saat itu nenek liman hanya berdiri dan memperhatikan Bardu yang sedang menggali tanah, tak lama kemudian tiba-tiba saja hujan turun dengan lebat, membuat permukaan tanah menjadi basah dan lembek, hal itu mempermudah Bardu untuk menggali, tak butuh waktu yang lama, cangkul Bardu menghantam sebuah kris , Bardu kaget dia meletakan cangkul nya dan melanjutkan dengan menggunakan kedua tangan nya, setelah dia menggaruk tanah tersebut , tampak lah seorang manusia , ya itu adalah pocong Marwi, wajah nya sangat pucat namun tubuh nya tak ada satupun yang membusuk sedikitpun , buru-buru dia naik ke permukaan tanah dan memberi tahu nenek Liman , "nii... aku menemukan jasad manusia" kata Bardu . "itu adalah Marwi, dia adalah pocong sakti dia bukan saja bisa menghilangkan tanda hitam dan bulu di wajah anak mu tapi dia juga bisa membuatmu kaya" ucap nenek Liman, "lalu, sekarang saya harus apa lagi ni?" jawab Bardu .
Nenek Liman tidak membalas pertanyaan dari Bardu, dia segera mendekat ke lubang pocong Marwi dan mengambil botol darah di dalam karung , lalu nenek Liman membuka botol tersebut satu persatu, dan mengguyur wajah Marwi dengan darah, seketika saja mata Marwi terbuka , matanya sangat merah ,namun dia tidak bergerak sama sekali . "angkat dan bawa jasad itu kedalam gubuk" pinta nenek Liman , segera Bardu turun lagi dan menarik jasad Marwi ke permukaan , Bardu melihat ada sebuah kris yang menancap di perutnya Marwi, ia bertanya tanya di dalam hati , Siapa Marwi ini, kenapa bisa ada kris yang tertancap di dalam tubuh nya , namun pertanyaan itu di simpan di dalam benak nya , karena yang terpenting saat ini nenek Liman bisa membantu nya menghilangkan wajah mengerikan pada anak nya . Sekuat tenaga Bardu menarik-narik jasad Marwi yang memang cukup berat , di tambah hujan deras yang membuat nya semakin berat saja, kini kain kafan Marwi berubah menjadi coklat karena terkena kotor dari tanah, dia terus berusaha membawa jasad Marwi ini ke dalam gubuk nya , mendengar ada yg berisik di dalam gubuknya , Munah pun terbangun , "siapa ini? tumbal kesepuluh pa?" tanya Munah, "bukan , dia ini Marwi , nenek Liman yang menyuruh ku untuk membawa nya ke dalam gubuk kita lebih baik kamu bantu aku untuk membawa nya kedalam ruangan kosong " jawab Bardu sambil masih terus menyeret-nyeret tubuh Marwi "siapa Marwi pak?" tanya istrinya kebingungan "entah lah aku pun tidak tahu , tapi kata nenek liman Marwi adalah pocong sakti yang bisa menghilangkan wajah mengerikan di anak kita bukan itu saja dia juga bisa membuat kita kaya raya" ucap Bardu , tubuh nya basah kuyup . Di dalam ruangan tersebut sudah ada nenek Liman yang menunggu, kata nenek Liman ini , pocong Marwi harus segera di beri tumbal yang kesepuluh, nenek Liman juga berpesan untuk tidak pernah mencabut kris yang tertancap di perutnya si Marwi, "kenapa tidak boleh di cabut ni?" tanya Bardu . "ada ritual yang harus kita lakukan sebelum mencabut kris itu biar si Marwi ini bisa di kendalikan" jawab nenek Liman , Bardu pun hanya mengangguk menuruti segala perintah nenek Liman, setelah itu nenek Liman keluar dari gubuk Bardu tanpa berpamitan, lalu dia pergi menghilang di antara semak belukar dan pepohonan .
__ADS_1
Ke esokan harinya Bardu pun membuat peti tanpa tutup , untuk menyimpan jasad Marwi di dalam ruangan kosong tersebut , Bardu juga meyakinkan dirinya untuk segera mendapatkan tumbal kesepuluh, apapun akan ia lakukan demi anak nya dan Bardu ingin menjadi kaya menjalani kehidupan nya bersama anak dan istri nya di luar hutan gantarawang ini .