
20 Tahun yang lalu... Pocong Marwi telah berhasil di kalahkan , namun ternyata anak dari Bardu dan Munah yang menghilang itu di urus oleh nenek Liman , dia menghilangkan bulu dan tanda hitam besar di wajah nya , hingga anak itu tumbuh dewasa dan setelah dewasa dia akan di manfaat kan oleh nenek Liman untuk membangkitkan Marwi , sebagai mana kita tau bahwa nenek Liman itu adalah demit Rara , yang dengan mudah dapat mengubah bentuk tubuh nya atau pun mengubah namanya . Rara tak ingin kehilangan kembali kekasih hati nya itu , maka dari itu dia akan melakukan cara apapun untuk dapat membangkitkan kembali Marwi dengan cara memperdayakan manusia .
Sementara itu , kondisi Riki saat ini terlihat sangat tidak berdaya , Riki sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan , wajah nya sudah keriput sudah satu bulan ini Riki hanya bisa berbaring di atas ranjang nya , Riki yang dulu memiliki tubuh yang kuat dengan ajian brajamusti nya , kini hanya tinggal tulang dan kulit nya saja , dia sangat kurus karena penyakit yang menggerogoti tubuh nya , untung nya Riki di urus oleh Geni anak perempuan satu-satu nya , istri nya Mawat telah meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit . Kini Geni berusia 23 tahun , dia tumbuh menjadi wanita yang cantik namun pendiam , bisa di bilang dia adalah anak yang introvert , Geni juga tidak mempunyai teman selain kedua orang tua nya sendiri, semenjak ibu nya meninggal , Geni lebih sering di rumah , dan mengurus ayah nya yang sedang sakit itu .
Sore itu , saat Geni sedang menumbuk rempah-rempah untuk mengobati ayah nya , terdengar lah suara ayah nya yang memanggil Geni dari dalam kamar , "Genii...." ucap Riki yang memanggil putri nya dengan suara Lirih sambil terbatuk-batuk , "iya ayah..." jawab Geni, dia segera menghampiri ayah nya tersebut , Riki meminta putri nya untuk mendekat lalu Geni mengambil sebuah kursi kayu dan duduk di sebelah ranjang kasur ayah nya "ada apa ayah?" tanya Geni . Riki terdiam sesaat , dia menatap dinding atap bilik rumah nya sesekali Riki terbatuk .
"Kalau ayah meninggal... kuburkan ayah di belakang rumah saja , dan jaga kuburan ayah baik-baik, kamu boleh meninggalkan kuburan ayah kalau sudah satu tahun" kata Riki . Geni meneteskan air mata , dia sangat sedih mendengarkan perkataan ayah nya itu .
"Ayah jangan ngomong kaya gitu ,pamali.. cuman ayah sekarang satu-satu nya yang Geni punya , ayah pasti sembuh" ucap Geni sambil memegangi kedua lengan ayah nya , Riki tersenyum sambil menatap putri nya , senyum nya layu dan juga wajah nya sangat pucat.
"Geni... Ayah rasa sekarang kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui hal-hal yang selama ini ayah jaga" kata Riki , dia akan membuka pembicaraan yang serius , Geni yang heran itu mengerutkan dahi nya , Geni mereka-reka apa yang ingin ayah nya katakan itu .
"iya ayah ... tentang apa yang ingin ayah katakan? " jawab Geni .
__ADS_1
"tentang pocong Marwi" ujar Riki , Geni sangat terkejut mendengar kata pocong , karena selama ini ayah dan ibu nya tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalu nya , apa lagi Marwi , siapa itu Marwi , Geni tidak pernah mendengar nama Marwi , di dalam benak Geni sangat bertanya-tanya .
Sambil terbatuk-batuk , Riki menceritakan masa lalu nya pada putrinya tersebut , dari awal sampai akhir, memang saat Riki bertarung dengan pocong itu, Geni masih sangat kecil , dia tidak tau menau tentang pocong itu , terlebih ayah dan ibu nya memang tidak pernah menceritakan apapun , "Geni... Ayah takut pocong itu akan di bangkitkan lagi" ucap Riki di akhir ceritanya .
"Lalu... ayah menyimpan kepala pocong tersebut dimana?" tanya Geni mengerutkan kening nya .
"Di sana .... " Jawab Riki, Jari nya menunjuk sebuah batu yang ada di pojok kamar nya , tinggi batu itu sekitar satu meter setengah , lebar nya sekitar tiga jengkal tangan orang dewasa , Riki melubangi batu tersebut untuk menyimpan kepala pocong Marwi, lalu dia tutup kembali dengan tumpukan batu kecil di atas nya biar aman .
"kenapa bisa seperti gitu ayah?" tanya Geni yang masih mendengarkan perkataan-perkataan ayah nya itu dengan sangat fokus .
"Dulu... saat pocong itu berhasil ayah kalahkan , ayah melakukan ritual nyatu raja pada kepala Marwi , agar dia tak mudah di bangkit kan. Geni... apapun yang terjadi ayah mohon , jaga jasad Ayah , jangan sampai lengah dan jangan percaya pada siapapun" ucap Riki sambil terbatuk-batuk .
Riki tidak ingin , saat dia mati jasad nya di curi orang lain , karena akan sangat berbahaya jika pocong itu bangkit . "Geni akan menuruti perintah ayah , Geni juga berjanji akan menjaga jasad ayah nanti dengan baik" ucap Geni sambil menangis .
__ADS_1
Setelah Riki telah menyampaikan seluruh ceritanya , Geni kembali ke dapur untuk menyiapkan obat ayah nya sekitar 10 menit kemudian , Geni kembali ke kamar ayah nya sambil membawakan rempahan obat yang telah dia buat , Geni melihat ayah nya yang memejamkan matanya , dia kira Ayah nya itu sedang tertidur , dia menggoyangkan perlahan tubuh ayah nya , dan berkata perlahan "ayah... bangun ayah Geni udab nyiapin obat buat ayah... ayah minum dulu ya" , namun Ayah nya itu tak kunjung membuka kan mata nya , Geni yang mulai panik , langsung meraba dada kiri ayah nya , sudah tidak ada detak jantung yang di rasa nya , Riki meninggal seketika itu saja . Geni menangis sejadi jadi nya sambil memeluk tubuh ayah nya , "ayah... Kini Geni sendirian , Geni berjanji akan menjaga jasad ayah" ucap gadis malang itu sambil menangis tersedu-sedu . tentu saja Geni tak mau memberitau kan kepergian ayah nya pada warga desa Reban, karena mereka pasti akan mengubur Riki di tempat pemakaman umum, dan itu sangat berbahaya , jasad Riki nanti pasti bisa di curi dengan sangat mudah nya oleh seseorang yang ingin membangkit kan pocong Marwi .
Menjelang malam , sebagai wujud berbakti pada orang tua nya , Geni membuka seluruh pakaian Riki , dan menutupi nya dengan kain , hanya bagian kepala nya saja yang tidak di tutupi nya, Geni membawa sebuah gentong yang sudah berisi air , lalu di atas ranjang ayah nya , perlahan Geni memandikan jasad ayah nya tersebut , padahal Geni sama sekali tidak tau bagaimana cara memandikan jenazah .
Dirasa sudah cukup , lalu Geni membungkus ayah nya itu dengan kain lagi , karena tubuh ayah nya sangat kurus , sekuat tenaga Geni membopong tubuh ayah nya menuju dapur ,dan di letakan dekat tungku perapian , lalu Geni mengambil sebuah cangkul , dan mulai menggali tanah tepat di sebelah tungku perapian .
Beberapa kali Geni harus berhenti dan beristirahat , dia benar-benar kelelahan saat menggali kuburan untuk ayah nya tersebut , 4 jam kemudian Geni berhasil membuat liang lahat untuk ayah nya . Riki di kubur tanpa ada ritual , atau pun doa dari para tetangga nya , Geni sengaja meratakan tanah kuburan ayah nya , agar tidak ketauan oleh siapapun bila mana nanti ada tetangga nya yang mengunjungi rumah nya .
Lalu Geni kembali menuju kamar ayah nya untuk membersihkan bekas pemandian jasad ayah nya , Geni melirik batu itu dan mendekati nya , terdapat kain hijau di atas batu tersebut , Geni menyingkirkan kain tersebut dan mencoba menyungkil batu-batu kecil yang menutupi lubang dengan sendok namun tidak berhasil , karena batu-batu kecil itu di baluri dengan tanah merah yang sudah mengering , lalu Geni mengambil sebuah pisau dan mencoba mencungkil kembali lempengan batu itu dengan sekuat tenaga , namun tetap tidak berhasil , Geni mencoba mencari sesuatu di dalam lemari ayah nya , dia menemukan sebuah kris kecil di bawah baju-baju milik ayah nya , kris itu terbungkus kain putih , kris itu terlihat sudah sangat usang namun ujung nya terlihat masih sangat berkilau dan tajam , Geni kembali mencoba mencungkil lempengan bebatuan yang menutupi kepala pocong Marwi , walaupun dia sudah sangat kelelahan , namun Geni sangat penasaran dengan kepala pocong tersebut , setelah berusaha sekuat tenaga Geni berhasil mencungkil satu persatu batu batu tersebut dan nampak lah sebuah lubang yang lumayan besar , Geni tak dapat melihat dengan jelas karena lubang tersebut sangat gelap , Lalu Geni mengambil lampu canting dan memasukan lengan nya yang membawa lampu canting ke dalam lubang batu tersebut , dan saat itu juga Geni melihat wajah dari kepala pocong Marwi yang sedang terpejam , walaupun telah tersimpan selama puluhan tahun , namun wajah pocong itu masih sangat utuh , Geni sangat kaget setelah melihat wajah dari kepala pocong yang selama ini ayah nya jaga .
Lalu Geni kembali ke dapur untuk mengambil sebuah papan kayu, dan menutupi kembali batu tersebut dengan sebuah papan kayu dan melapisi nya dengan kain hijau agar terlihat seperti sebuah meja di pojok kamar .
Kini tugas Geni adalah menjaga jasad ayah nya selama satu tahun ,agar tubuh ayah nya itu melebur dengan tanah .
__ADS_1