Teror Pocong Marwi

Teror Pocong Marwi
Eps.12 Kehidupan Bardu dan Munah


__ADS_3

Selang beberapa saat nenek Liman mengajak Bardu dan Munah berjalan , tiba lah mereka di sebuah gubuk reot , kondisi gubuk itu sangat memprihatinkan , ini lebih parah dari rumah tempat tinggal mereka , dinding yang terbuat dari bambu itu sudah bolong-bolong di gigiti rayap, atap nya pun sudah ada beberapa yang berjatuhan , rumput liar menjalar memenuhi bagian depan gubuk itu . Bardu heran , mengapa nenek Liman membawa nya kesini, apakah ini rumah nya ? Bardu terus bertanya-tanya di dalam benak nya .


Nenek Liman mempersilahkan mereka berdua untuk masuk, kondisi di dalam gubuk itu sebenar nya sangat tidak layak untuk di tinggali , bahkan rumput liar yang mereka lihat di depan gubuk ternyata sudah menjalar sampai ke dalam . "mulai sekarang gubuk ini akan menjadi tempat tinggal kalian" kata nenek Liman . "apa-apaan ini nek, gubuk ini sangat tidak layak untuk di tinggali nek!!!" bentak Munah , "kau harus balas budi , karena sebentar lagi perut mu itu akan ter isi jabang bayi ,kau akan segera hamil , sebagai balas nya kau harus tinggal sampai kau lahir di hutan gantarawang ini , kalau kau keluar dari hutan ini bayi yang ada di perut mu nanti akan hilang" ucap nenek Liman dengan nada yang sedikit mengancam . Mereka berdua hanya diam, Bardu dan Munah saling tatap , bagai mana bisa nenek Liman tau bahwa Munah sebentar lagi akan hamil . "baik nek baik kita akan tinggal disini" ucap Bardu , Munah dengan raut wajah yang kesal nampak nya tidak setuju dengan apa yang suami nya ucapkan itu , "tenang saja Munah... aku bisa membetulkan gubuk ini" kata Bardu .


"ingat ya , apapun yang terjadi , kalian tidak boleh keluar dari hutan gantarawang ini sampai bayi kalian lahir" pinta nenek Liman kembali menjelaskan pada mereka .


"jadii... kita harus tinggal berbulan-bulan disini?" kata Munah , nenek Liman hanya mengangguk menandakan dia mengiyakan pertanyaan Munah itu .


"tenang saja Munah, untuk makan nanti , aku bisa berburu , lagian ini cuman sampai bayi kita lahir ko Munah , jadi bersabar lah ya" kata Bardu berusaha meyakin kan Munah, dari awal Bardu memang sudah mengotot ingin segera mempunyai keturunan , makan nya apa pun yang di katakan nenek Liman , Bardu menurut saja . Tidak ada lagi percakapan setelah itu, nenek Liman pergi meninggalkan mereka berdua , dia berjalan ke arah selatan dan menghilang begitu saja .

__ADS_1


Banyak keraguan pada Munah dengan perkataan-perkataan nenek Liman , yang di fikirkan nya saat itu bahwa nenek Liman terus memberikan nya jebakan membuat hidup nya menderita seperti kejadian gancet saat itu , tapi Bardu lagi-lagi meyakin kan istri nya itu bahwa mereka akan baik-baik saja , siapa tau memang benar , bahwa sebentar lagi istri nya akan hamil .


Malam pun tiba , Bardu menyusuri gubuk reot tersebut, gubuk itu memang cukup besar, akan tetapi gubuk itu memang sudah tidak layak huni , sebagian atap nya ada yg bolong dan juga kanan kiri dinding itu sebagian telah habis di makan rayap , tetapi di sana sudah terasedia berbagai perabotan , namun ada sebagian perabot yang sudah kotor dan sangat usang karena sudah lama tidak di gunakan , di dalam gubuk itu, terdapat dua kamar, dan ternyata di salah satu kamar nya itu terdapat ranjang yang sudah ada kasur nya yang lumayan besar , di samping kasur itu , ada sebuah lemari yang masih berdiri kokoh karena lemari itu terbuat dari kayu jati, Bardu penasaran dan membuka lemari tersebut , beruntung nya dia , karena di dalam lemari itu ada beberapa helai pakaian yang masih terlipat rapih , Bardu memeriksa baju-baju tersebut , dan itu adalah baju milik perempuan dan lelaki, gubuk ini seperti bekas di huni oleh sepasang suami istri fikir Bardu saat itu .


Lalu ia menelusuri nya lagi ke belakang gubuk itu, ternyata di belakang ada dapur dan juga tungku perapian ada pula beberapa wajan yang bisa dia gunakan untuk memasak, Bardu juga melihat banyak perkakas yang bisa dia gunakan untuk memperbaiki gubuk tersebut , Bardu merasa lega, karena semua alat kebutuhan untuk dia bertahan di gubuk tersebut sudah ada , sehingga ia tidak perlu keluar dari hutan Gantarawang , Bardu mengajak istri nya untuk segera istirahat di dalam kamar , agar ke esokan hari nya Bardu bisa segera merenovasi gubuk tersebut .


Beberapa Minggu kemudian , perkataan nenek Liman itu benar , Munah kini telah hamil, perut nya terlihat membesar , hal itu jelas membuat Bardu sangat bahagia, akhirnya dia akan segera mempunyai keturunan .


Bulan demi bulan berlalu , mereka berdua tinggal di tengah hutan Gantarawang dan tidak pernah sekali pun mereka keluar dari hutan, tepat di bulan ke 9 nya , Munah mulai merasa kesakitan seperti hendak melahirkan , ia berbaring di atas ranjang dan sambil terus meringis kesakitan memegan perut nya yang besar , tak ada dukun beranak disitu , hanya ada mereka berdua saja, Bardu sangat bingung apa yang harus dia lakukan , dia sangat ingin memanggil dukun beranak dari desa Bojong Pinang yang letak nya memang tidak jauh dari hutan, tapi dia ingat perkataan nenek Liman untuk tidak pernah keluar dari hutan Gantarawang ini , nenek Liman yang sejak saat itu memang sudah tidak pernah terlihat lagi entah kemana dia pergi tak ada yang bisa di mintai tolong di tengah hutan tersebut. Akhirnya Bardu hanya pasrah , sambil menguatkan dan memegang lengan istri nya yang saat itu sedang berjuang antara hidup dan mati, dari luar gubuk terdengar suara-suara burung hantu yang sedang berkukuk membuat suasana tersebut semakin seram saja . Munah menarik nafas , sambil terus berusaha mengeluarkan jabang bayi yang ada di perut nya, Munah kembali menarik nafas panjang dan dalam sekali hentakan terakhir akhirnya , jabang bayi tersebut berhasil keluar, Munah sangat kelelahan , dia terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya , sedangkan Bardu saat itu kaget melihat wajah bayi nya yang hitam legam seperti sebuah tanda lahir dan juga banyak sekali bulu di wajah nya akan tetapi bagian tubuh lain nya normal , Bardu tidak mengerti , mengapa wajah anak nya jadi seperti itu , setelah dia cek ternyata bayi tersebut adalah laki-laki , Bardu sangat tidak menyangka bahwa dia akan mempunyai anak yang wajah nya sangat mengerikan , Bardu memangku bayi nya tersebut dan memperlihatkan nya pada Munah, saat Munah melihat bayi nya , seketika Munah terkejut dan tak sadarkan diri , Munah kaget melihat bayi tersebut yang wajah nya hitam legam dan berbulu , ke esokan hari nya Munah telah sadar , lalu Bardu langsung menghampiri istrinya dan menasehati nya , bahwa dia harus menerima kenyataan bayi nya seperti itu, walau wajah bayi tersebut mengerikan tapi tetap saja itu adalah anak Bardu dan Munah , mungkin ini sudah garis takdir yang sudah di tentukan Tuhan , kata Bardu saat itu . Akhirnya Munah mau menerima bayi nya dan akan mengurus dengan baik bayi tersebut . Akan tetapi mereka berdua tidak akan pulang ke desa karena malu dengan wajah anak nya tersebut, Bardu dan Munah akhirnya bersepakat untuk tetap tinggal di hutan Gantarawang, sebenar nya Bardu sangat ingin sekali menanyakan kejanggalan ini pada nenek Liman, tetapi wanita tersebut tak pernah terlihat lagi , setiap hari sambil berburu mengitari hutan Gantarawang , Bardu selalu berteriak-teriak memanggil nenek Liman, namun tetapi saja nenek Liman tak kunjung datang , entar kemana wanita tua tersebut seperti hilang di telan bumi .

__ADS_1


Bardu kini di landa dilema, sebenarnya ingin menjalani kehidupan nya seperti dulu, dia ingin hidup normal seperti orang lain , kembali ke desa dan berjualan kacang tanah di pasar, namun wajah anak nya yang mengerikan tersebut , para warga akan mengira Bardu dan Munah membawa petaka, soal nya warga di desa Bardu memang sangat percaya akan hal-hal mistis , soal nya nanti anak Bardu akan di cap segai keturunan iblis dan mereka pasti akan di usir dari desa , melalui banyak pertimbangan akhirnya Bardu dan Munah akan tetap tinggal di gubuk Hutan Gantarawang bersama keluarga nya .


Singkat cerita, satu tahun kemudian , saat Bardu sedang berburu kelinci di dalam hutan , dia bertemu nenek Liman, dia melihat nenek Liman yang sedang duduk di atas batang pohon sagu besar yang rubuh , Bardu langsung menghampiri nenek Liman dan bercerita tentang kondisi anak nya saat itu, belum lama Bardu cerita nenek Liman sepertinya sudah tau katanya dia bisa menghilang kan noda hitam dan bulu-bulu di wajah anak nya , namun ada syarat yang harus Bardu penuhi , lalu nenek Liman membisikan sesuatu ke telinga Bardu , tiba-tiba saja Bardu berteriak "Saya sanggup Ni" . entah apa yang di bisikan nenek Liman , Bardu langsung menyanggupi syarat tersebut .


Beberapa hari kemudian , di Desa Bojong Pinang geger dengan kabar hilang nya pengembala Domba yang sedang berada di pinggiran Hutan Gantarawang , pengembala itu masih muda umur nya baru 15tahun . sampai malam warga heran karena domba-domba nya itu masih ada sedangkan pengembala nya tidak terlihat, kedua orang tua nya itu panik mendengar anak nya hilang , mereka mencari ke seluruh desa , namun mereka tidak menemukan nya , sebenar nya warga sangat ingin membantu mencari nya di hutang gantarawang, tapi tidak ada satu pun orang yg berani masuk ke hutan gantarawang, bahkan kedua orang tua si pengembela pun ciut saat di minta untuk mencari nya ke dalam hutan , mereka semua sudah tau akan ke angkeran hutan gantarawang .


Hari-hari berikut nya setiap hari nya selalu ada saja orang yang meghilang , kini total sudah ada 5 orang yang menghilang secara misterius , tak ada satu pun warga yang menjadi saksi akan hilang nya orang-orang itu karena warga tidak ada yang tahu , kini warga desa bojong pinang mulai panik dan takut , tak ada satu orang pun yang berani untuk keluar rumah di malam hari , warga curiga dengan hutan gantarawang , namun lagi-lagi tak ada warga pun yang berani untuk memasukinya , warga tau bahwa di dalam hutan itu adalah tempat bersemayam nya pocong marwi .


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2