
Kali ini, Riki sudah benar-benar habis kesabaran nya , ia akan menghabisi siapa saja orang yang telah berani-berani nya mengirimi dia dan istri nya santet banaspati. Pocong Marwi melayang melintasi desa Bojong Pinang, warga desa yang melihat penampakan pocong terbang melintasi desa nya lari ketakutan, karena selama ini warga hanya mendengar bahwa ada pocong di dalam gubuk Riki di tengah hutan gantarawang, dan baru kali ini warga menyaksikan nya langsung pocong tersebut . Marwi mengikuti jejak santet banaspati yang dikirim dukun tersebur , hingga akhirnya Marwi tiba di sebuah rumah panggung, rumah itu di tinggali oleh seorang lelaki yang sudah sangat tua umur nya mungkin saja sudah hampir seratus tahun, punggung nya bungkuk dan wajah nya sudah sangat keriput rambut nya sudah uban semua , dia bernama Kakek Bogo dia satu-satunya dukun santet yang punya ilmu banaspati, kakek Bogo sedang duduk sila di dalam sebuah ruangan, di hadapan nya sudah ada menyan yang di bakar, menyan itu mengeluarkan asap yang mengepul memenuhi ruangan, Kakek Bogo telah menyadsri bahwa dia sedang di serang balik oleh mahluk ghaib yang sangat kuat , kedua matanya terpejam , dan saat itu lah pocong Marwi sudah berada di hadapan nya Kakek Bogo "GEEEETTTIIIHHHH" rintihan Marwi suara nya menggema membuat seisi ruangan itu bergetar, mulut nya mengeluarkan lendir, dan pada saat Marwi ingin menerkam Kakek Bogo, tiba-tiba saja ada Banaspati yang menyerang balik Pocong Marwi, ya... itu adalah Banaspati peliharaan nya kakek Bogo , banaspati itu telah membunuh puluhan ribu manusia, termaksud orang tua nya Riki, banaspati itu meraung , mencoba terus menyerang balik Marwi, kobaran api ghaib tersebut terus membesar , dan munculah figur wajah mengerikan dari bola api tersebut . Banaspati dan Pocong Marwi terus mengeluarkan ilmu mereka , sampai ia terbang menembus atap rumah Kakek Bogo, sementara itu Kakek masih dengan posisi duduk sila, bibir nya terus bergerak-gerak merapalkan mantra, entah mantra apa yang di ucapkan Kakek tersebut , tiba-tiba saja kakek tersebut mendesis "Pancasona" suara nya lirih ,sambil tiba-tiba membuka kan matanya , dia sangat terkejut, ada energi ilmu pancasona dari dalam tubuh pocong tersebut. Malam itu duel antara Banaspati dan Pocong Marwi berlangsung selama berjam-jam , pertarungan itu sangat sengit, banaspati itu telah berhasil membakar sebagian tubuh Marwi, tapi pocong itu masih tetap tenang tak lama tubuh Marwi kembali utuh , seperti nya api banaspati itu tak mampu melawan Pocong Marwi , Pocong Marwi kini melahap api banaspati dan meludahi nya kembali tepat ke atap rumah Kakek Bogo , kini santet banaspati itu berbalik menyerang kakek bogo, tubuh si kakek terbakar bersamaan dengan rumah nya sendiri , tak lama kemudian terdengar ada suara pentungan, warga yang panik karena ada rumah yang terbakar, mereka berbondong-bondong membantu memadamkan rumah Kakek bogo, tapi seperti yang kita tahu, itu bukan lah api sembarangan, walau warga sudah susah payah memadamkan api itu, tapi api banaspati tak juga kunjung padam , bahkan saat rumah itu sudah rata oleh api dan menjadi abu ,kobaran api banaspati masih tetap menyala membakar sampai ke tanah-tanah nya , kurang lebih selama satu minggu, tak ada lagi warga yang berani mendekati api tersebut, mereka memilih diam di rumah masing-masing, karena mereka takut terkena api banaspati , lagi pula rumah kakek bogo ini berada di sudut desa yang jauh dari pemukiman warga, sehingga api itu tidak merambat ke rumah-rumah warga yang lain setelah satu minggu berlalu kini api banaspati itu telah padam, kabar ke gagalan Kakek Bogo , kini sudah di dengar oleh Salim , hal itu tidak membuat Salim berubah fikiran untuk menghancurkan Riki, kini dia bertekad untuk membunuh Riki dengan tangan nya sendiri .
__ADS_1
Tengah malam.. Salim mendatangi gubuk nya Riki yang berada di tengah hutan gantarawang, dia sudah menenteng celurit yang sangat tajam , kebetulan pada saat itu, Riki sedang menyembelih beberapa ekor kambing untuk di berikan kepada pocong Marwi , setiba nya Salim di gubuk Riki, tanpa banyak ancang-ancang Salim langsung menyerang Riki dari belakang, tapi.... Aneh nya Celurit tajam itu tak mampu melukai sedikit pun tubuh Riki , celurit itu malah patah , Riki dengan santai nya membalikan badan , dan langsung mencekik leher Salim dan mengangkat nya , Salim meronta-ronta namun ia tak mampu melepas kan diri dari cengkraman Riki , Salim pun kehabisan nafas dan tewas begitu saja , Riki menggantung tubuh Salim di sebelah Kambing nya , dan perlahan ia mengiris leher salim menggunakan golok yang sangat tajam , seketika saja darah mengalir dengan deras dari leher Salim, Riki senang karena kali ini dia bisa memberikan darah manusia pada pocong Marwi .
__ADS_1
Riki yang saat itu sedang berdiri di tengah-tengah ruang tamu , tidak sengaja dia melihat foto hitam putih yang sudah sangat usang , terselip pada dinding bilik, Riki mengambil foto tersebut dan dia sangat kaget saat melihat dua sosok lelaki di dalam foto, itu adalah foto Ki Surya dan ayah nya Riki, mereka saling merangkul dan tampak akrab dalam foto itu . "ada apa raden?" tanya Ki Surya dengam senyum ramah nya menghampiri Riki di ruang tamu "tidakk ada ki, hanya kagum melihat Ki Surya saat masih muda" jawab Riki, dia tidak ingin memberi tahu pada Ki Surya bahwa yang ada di foto sebelah nya adalah ayah nya, Riki dan istrinya menginap satu malam di rumah Ki Surya, dan ke esokan harinya baru lah mereka pamit, lagi pula Riki telah menyiapkan rumah yang lumayan besar di Desa Reban , Riki juga telah membeli beberapa petak sawah dan beberapa ekor kambing, Riki membeli itu semua dari tabungan nya dulu saat masih menjadi seorang tabib di desa Bojong Pinang . Di Desa Reban kini Riki akan memulai hidup normal seperti orang-orang pada umum nya ,Riki tidak ingin berurusan lagi dengan ilmu-ilmu ghaib . Kini Riki dan Istrinya hidup dengan bahagia .
__ADS_1