
Dengan kejam Ki Suri menyayat paha Geni dengan pisau kecil yang sangat tajam, darah menetes perlahan pada mangkuk yang telah Ki Suri siapkan, lelaki tua itu juga menekan-nekan paha gadis malang tersebut agar mangkuk nya cepat terisi penuh, Geni tak mampu melawan, dia hanya menangis meringis kesakitan.
Setelah mangkuk nya telah terisi penuh, segera Ki Suri bangkit dan beranjak pada dipan kayu tempat berbaring jasad istri nya, Ki Suri menaruh piring berisi menyan yang telah ia bakar di sebelah kepala jasad itu lalu darah Geni pun di kucurkan pada tubuh mayat tersebut sambil Ki Suri berkomat-kamit entah apa yang ia rapalkan. Selang beberapa saat, Ki Suri masih berdiri memperhatikan jasad istri nya.
"Sayang ayo bangun... Aku telah menyelesaikan semua ritual nya" kata Ki Suri sambil mengguncang-guncang kan jasad istri nya.
Ritual yang Ki Suri dapat kan hanya dari mimpi jelas tidak terbukti dan menyesatkan, kini lelaki tua itu menangis sesegukan dan merasa kesal lelaki tua itu membanting mangkuk kemenyan yang ada di sebelah jasad istri nya hingga pecah semua perjuangan yang ia lakukan itu hanya sia-sia.
Saat Ki Suri sedang menangis sambil memeluk jasad istri nya yang sudah mengering itu tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah nya, sontak Ki Suri terkejut buru-buru ia mengambil kris sakti di atas meja dan berjalan perlahan mendekati pintu, tampak lah seorang perempuan tua yang berdiri di luar rumah nya, Ki Suri tidak kenal siapa perempuan yang ada di luar rumah nya.
Penampilan nenek tua tersebut sangat mengerikan dia menggunakan jubah berwarna putih, rambut nya pun berwarna putih panjang tergerai sepinggang, kedua mata nya berwarna hitam pekat.
"Siapa kau?" tanya Ki Suri dari dalam rumah nya. Ia tak berani membukakan pintu karena penampilan nenek tua tersebut seperti hantu.
"Aku adalah nenek Liman, aku bisa membangkitkan istri mu" jawab perempuan tua itu.
Ki Suri terheran-heran dengan perkataan nya, dari mana nenek tua itu tau kalau Ki Suri sedang berusaha membangkitkan istri nya, karena penasaran akhirnya Ki Suri pun membukakan pintu rumah nya.
Belum sempat Ki Suri mempersilahkan masuk, nenek Liman tanpa basa-basi nyelonong masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di atas kursi kayu tatapan nya sinis memandangi Geni yang tak berdaya.
__ADS_1
"Apa benar nenek Liman bisa membangkitkan istri ku?" tanya Ki Suri yang masih berdiri di pintu rumah.
"Tentu, aku tidak berbohong. Dengan kesaktian pocong Marwi segala yang kau ingin kan dengan mudah akan terwujud. Kau harus menangkap dan membawa pocong itu di hadapan ku" jawab nenek Liman.
"Bagaimana cara nya aku agar bisa menangkap pocong Marwi itu Ni, dia sangat sakti dan juga air liur nya sangat mematikan" tanya Ki Suri.
"Dengan Kris Sakti" jawab nenek Liman singkat sambil menunjuk kris yang masih di pegang Ki Suri.
"Asal kau tau, kris yang di pegang kau itu sangat sakti, pemilik nya pun sudah turun temurun" sambung nenek Liman dan kembali menoleh pada Geni dengan tatapan nya sangat tajam seolah-olah ada dendam pribadi antara nenek Liman dan Geni.
"Buang saja gadis disana, biarkan dia menderita dan tersiksa sampai mati tak ada guna nya kau terus menahan gadis itu" ujar nenek Liman.
Maka malam itu juga Ki Suri melepaskan semua ikatan pada tubuh Geni dan membawa nya pada sebuah hutan yang tidak terlalu jauh dari pasar Induk, nama hutan itu adalah Alas Buntu , hutan tersebut jarang di masuki manusia karena ujung dari hutan tersebut adalah sebuah tebing yang sangat curam sesuai nama nya Alas Buntu yang berarti hutan tanpa jalan.
Setiba nya Ki Suri di tepi tebing , dia menyuruh Geni untuk berdiri di hadapan nya tanpa ancang-ancang lagi dengan kejam Ki Suri menendang tubuh gadis malang tersebut dari belakang, Geni terjungkal dengan refleks tangan meraih berpegangan pada ujung tebing, Ki Suri hendak menginjak tangan Geni tapi untung nya tidak jadi, Ki Suri berfikir untuk membiarkan Geni menderita bergelantungan di ujung tebing, lagi pula tak ada satu orang pun disini dan lagi Geni pasti tak akan bertahan lama, dia akan jatuh dengan sendiri nya dan mati, lalu Ki Suri pergi meninggalkan Geni.
Dengan susah payah Geni bertahan, kini lengan nya mulai berkeringat dan bergetar, tubuh nya sangat lemah dan dia merasa tak sanggup lagi menahan pegangan nya, perlahan tangan kiri Geni terlepas dari pegangan ujung tebing Geni mulai pasrah kalau dia harus mati disini, Geni memejamkan mata nya dia melihat kedua orang tua nya tersenyum, Geni sudah tak dapat menahan pegangan nya lalu tangan kanan nya pun terlepas.
Tiba-tiba saja, ada sebuah tangan yang meraih kembali tubuh Geni, Geni pun terkejut dan membukakan mata nya, dan dari atas tebing ia melihat wajah ayah nya, Geni mengusap air mata nya.
__ADS_1
"Ayahhh!!! Betulkah itu kau? apa kau demit perwujudan ayah ku?" teriak Geni
"Aku Riki ayah mu Geni... Aku bukan demit!" jawab Riki sambil masih terus menahan tubuh putri nya.
"Bagaimana bisa ayah ku sudah mati!" sentak Geni.
"Geni berpegang lah pada ujung tebing ayah bantu tarik dari atas sini nanti ayah jelaskan" tegas Riki.
Setelah Geni naik di atas permukaan, dia menepuk-nepuk wajah ayah untuk memastikan bahwa ayah nya itu bukan demit.
"Ayah......." ujar Geni setelah ia memastikan bahwa ayah nya bukan lah perwujudan dari hantu. Lalu Geni memeluk tubuh ayah nya sambil menangis sesenggukan.
Buru-buru Riki mengajak mengajak putri nya untuk segera pergi meninggalkan tebing takut nya Ki Suri memergoki mereka, karena yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan putri nya terlebih dahulu, karena kondisi Geni yang benar-benar sangat lemah Riki menggendong tubuh anak nya untuk segera mencari tempat yang aman.
"Maaf kan ayah nak, ini semua gara-gara ayah. Ayah yang meminta mu terlibat dengan pocong kau sampai seperti ini" ujar Riki di perjalanan .
Di masa remaja seharus nya dia telah menemukan seorang lelaki untuk di jadikan Suami, Geni terus menerus bernasib malang karena berusaha menjaga kepala pocong perintah ayah nya. Riki merasa menyesal telah melibatkan Geni, tak terasa Riki menitih kan air mata karena ia merasa sedih melihat kondisi putri nya menjadi sangat kurus, kedua lingkar mata nya yang menghitam, bibir nya pucat dan tubuh nya di penuhi luka sayatan dan memar-memar.
Disisi lain Geni merasa senang dan bingung bagaimana bisa ayah nya hidup kembali, tapi dengan kondisi nya yang lemah dia tak mampu lagi menanyakan apa-apa, dia akan menanyakan nya nanti ketika sudah tiba di tempat yang aman, Geni terus merangkul memeluk ayah nya.
__ADS_1