Teror Pocong Marwi

Teror Pocong Marwi
Eps.05 Kisah Seorang Kakak Dan Adik Nya Yang Buta


__ADS_3

"Bagaimana ini?" tanya seorang warga .


"Yasudah.. kita kubur saja, tapi kita pastikan bahwa kris itu masih menancap di tubuh demit itu" jawab Pak Soma. Akhirnya tubuh Marwi di bawa ke sebuah hutan, hutan itu jarang terjamah oleh manusia dan jauh dari pemukiman penduduk . Para warga saling membantu untuk membuat kuburan nya, setelah tubuh Marwi di masukan ke dalam tanah, Tanah nya segera di ratakan , dan di timbun oleh rerumputan dan semak belukar , agar kelak tidak ada yang dapat menemukan Kuburan demit itu, di Hutan itu lah kini Marwi di kubur selama berpuluh-puluh tahun.


Kisah demit yang di bungkus dengan kain putih itu kini di ceritakan oleh para warga desa Bojong Pinang secara turun temurun , hingga mereka menyebut nya sebagai "Demit Pocong" karena bentuknya yang seperti pocongan padi , cerita Demit pocong itu kini dianggap sebagai legenda yang sangat mengerikan. Cerita dan mitos demit pocong kini telah menyebar ke berbagai daerah , mereka bahkan mampu menggambarkan perwujudan demit pocong dengan sangat rinci. Tapi ada satu hal yang di rahasiakan leluhur mereka tentang demit pocong , yaitu Kris sakti nya .


Cerita turun temurun tentang Pocong Marwi itu ,kini sudah sangat melekat pada tiap-tiap orang . Jadi, hutan gantarawang kini menjadi sangat keramat, Pohon-pohong yang menjulang tinggi dan sangat besar, tanah nya lembab , serta banyak kolonial monyet yang hidup subur disana. Menambah nuansa seram hutan gantarawang .

__ADS_1


Suatu ketika , ada seorang pengembala bebek yang sedang berada di pinggiran hutan gantarawang, ia pernah mendengar suara raungan dan bergema di dalam hutan itu "aaaaaaarrrrggģhhhhhh" . Pengembala bebek yang medengar raungan itu, langsung lari terbirit-birit menjauhi hutan gantarawang, si pengembala bebek langsung menceritakan kejadian itu pada warga, dan mereka meyakini , bahwa suara raungan itu, adalah suara pocong Marwi yang terkubur puluhan tahun di hutan gantarawang , sayang nya cerita kali ini bukan tentang si pengembala bebek, melainkan tentang seorang kakak dan adik yang tinggal jauh dari desa Bojong Pinang mereka bernama Raka dan Riki , Raka berumur 12 tahun sedangkan Riki berumur 6 tahun , perbedaan umur mereka cukup jauh soalnya Raka adalah anak hasil adopsi , soalnya Harun dan Tini susah sekali mempunyai anak walau pernikahan mereka sudah berjalan sekitar 5 tahun, makannya mereka mengadopsi anak, untuk memancing kehamilan. dan ternyata cara mereka berhasil, mereka mengandung seorang anak laki-laki. Kehidupan Harun dan Tini berjalan dengan baik, mereka hidup dengan segala kecukupan. Mereka memiliki kebun pisang yang lumayan sangat luas, jadi bisa di pastikan bahwa anak-anak nya hidup dengan senang, karena apa yang mereka mau pasti di turuti . Harun dan Tini selalu berlaku adil pada kedua anak nya itu dan tidak pernah membeda-bedakan , Raka ini sering sekali cemburu semenjak ia punya adik, dia merasa kasih sayang orang tua nya itu berkurang tak jarang dia selalu menunjukan rasa cemburunya itu pada mereka, tapi Harun dan Tini sebagai orang tua mereka selalu berusaha agar kedua anaknya bisa akur . Suatu ketika ada pesaing bisnis mereka yang iri pada Harun, wajar jika ada seseorang yang iri pada Harun, karena pada saat itu, Harun sudah menjadi bos besar di dunia jual Pisang, seluruh toko-toko yang ada di pasar saat itu selalu merestok Pisang nya pada Harun, langganan Harun sudah banyak bahkan sampai keluar daerah, pesaing bisnis ini sangat iri dengan kesuksesan Harun, ia mendatangi dukun santet di desa yang jauh sekali dari desa Bojong Pinang , tak tanggung-tanggung pesaing bisnis itu ingin keluarga Harun hancur, ia mengirimkan Santet Banaspati, tiba-tiba Bola api keluar dari salah satu ruangan dukun itu, iya terbang dari desa ke desa menuju rumah Harun. Saat itu Harun sedang tidur pulas , saat itu mereka terbangun saat mendengar ledakan di atas rumahnya, Harun langsung lari kehalaman rumah, lalu melihat ke atas rumahnya , tapi atas rumah nya itu terlihat biasa saja dan tidak ada yang berubah seperti tidak terjadi apapun, lantas Harun heran apa yang barusan meledak di atas rumah nya itu, ia pun langsung kembali masuk ke dalam rumah, namun sesaat kemudian tiba-tiba saja Harun ambruk, ia berteriak-teriak kesakitan, dari badannya keluar asap tapi tidak terlihat ada api di tubuhnya, Harun seperti sedang di bakar hidup-hidup tiba-tiba saja keluar darah kental dari telinga Harun, ia tewas seketika . Tini dan anak nya hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong , warga yang mendengar nya buru-buru menghampiri rumah Tini, melihat Harun yang tergeletak di bawah sambil terus mengeluarkan asap , warga pun tidak bisa berbuat apa-apa karena Harun sudah tewas seperti seorang yang dibakar hidup-hidup.


2 Minggu kemudian , kini giliran istrinya Tini , seperti biasanya bola api meluncur terbang melewati desa-desa menuju rumah Tini, saat itu Tini sedang tertidur di kamar bersama kedua anaknya , lalu terdengar lah suara ledakan di atas rumah nya , Tini panik, dia tahu bahwa itu pasti ilmu santet yang telah menghabisi nyawa suami nya, buru-buru Tini membangunkan kedua anak nya dan lari keluar rumah, baru beberapa langkah mereka keluar dari rumahnya , tiba-tiba Tini sudah ambruk , kejadiannya seperti almarhum suami nya , sesekali Tini berteriak minta tolong , tapi para warga tidak ada yang berani menghampirinya ,mereka hanya mengintip dari celah-celah jendela, warga takut kalau nanti malah ikut terkena santet, mereka sudah tahu bahwa Tini tidak akan selamat tubuh nya pasti hangus , karena santet banaspati pasti menghabiskan target nya seperti terbakar. Benar saja tidak kurang dari satu jam Tini meninggal, darah mengucur dari telinga, mulut dan hidungnya.


Kini Raka dan Riki menjadi anak yatim piatu, dukun santet itu tidak menghabisi nyawa anaknya , mungkin saja pesaing bisnis itu hanya ingin anak dari Harun dan Tini hidup menderita tanpa orang tua nya. Raka anak tertua dari mereka tidak mengerti dan mengurus perkebunan milik bapak angkat nya itu, hingga Raka punya fikiran licik untuk menjual seluruh kebun pisang dan rumah milik bapak angkat nya dan pergi dari desa itu, tanpa membawa Riki adiknya , karena bagi Raka , Riki hanyalah penghambat bagi keluarga nya itu , karena kehadiran Riki pula Raka merasa kurang kasih sayang dari orang tuanya, padahal Riki adalah anak kandung, tapi fikiran licik itu memang sudah ada dari dalam diri Raka .


Beberapa jam kemudian , Raka meminta pak kusir itu berhenti di pinggiran hutan, itu adalah hutan gantarawang , dari tadi Raka telah memperhatikan hutan yang amat sangat sunyi dan pepohonan yang begitu lebat itu, setelah Raka membayar ongkos delman , pak kusir langsung menyambat lagi kuda nya dan pergi meninggalkan Raka dan Riki di pinggiran Hutan gantarawang.

__ADS_1


"begini dek... kaka sudah membeli rumah di sebuah desa yang aman bagi kita , tapi untuk menuju desa tersebut kita harus melintasi hutan ini dulu" Kata Raka, Riki memperhatikan hutan tersebut dan merasa takut , karena hutan itu begitu sunyi, pepohonan yang tinggi dan rumput liar yang begitu lebat. Raka mengajak adik nya untuk segera masuk ke dalam hutan tersebut, awal nya Riki menolak karena merasa takut, tapi Raka berhasil meyakinkan adik nya untuk tetap tenang dan tidak akan terjadi sesuatu padanya . Sebenarnya desa yang di tujuan Raka adalah desa Bojong Pinang , dulu sewaktu bapak nya masih hidup , Raka telah beberapa kali mengunjungi desa tersebut untuk mengantarkan pisang kepada pelanggan, makannya dia tau persis bahwa desa Bojong Pinang ada di sebelah selatan hutan gantarawang.


Hari sudah mulai malam ,Raka menyalakan obor yang telah dia siapkan dari rumahnya , Riki terus memegangi tangan kakak angkat nya , dia sangat ketakutan. Terdengar suara koloni monyet yang bergelantungan di dahan-dahan pohon besar . "kaaakk... aku takut!" kata Riki sambil gemetaran memegangi tangan kakaknya itu . Jujur saja yaahh... Sebenarnya Raka itu tidak tega untuk membunuh adiknya itu, sambil berjalan Raka terus memikirkan cara untuk menghabisi adik nya itu, atau dia membiarkan adiknya tersesat di dalam hutan ini selamanya sampai mati, Raka tahu betul bahwa hutan ini keramat dan sangat angker, almarhum bapak angkat nya pernah bercerita tentang hutan ini . Raka dan Riki terus berjalan memasuki hutan , tak selang beberapa lama, Riki berteriak kesakitan sambil memegangi matanya , sepertinya ada serangga kecil yang memasuki matanya, ia teriak menangis kesakitan sambil meminta tolong kakaknya , tapi kakak nya tidak berbuat apa-apa ia terus membiarkan Riki kesakitan sambil terus berjalan, Raka justru merasa senang melihat Riki kesakitan , padahal di dalam karungnya Raka membawa bekal air minum, seandainya air itu di basuhkan ke mata Riki, pasti Riki sembuh, tapi Raka malah meminta Riki untuk terus berjalan "sudah... jangan cengeng itu cuman serangga" Kata Raka "tapi kedua mata ku sakit kak, aku tidak bisa melihat" timpal Riki sambil meringis kesakitan memegangi kedua matanya "sudah , kita harus terus jalan , apakau mau kita tersesat disini? kakak tuntun ya" kata Raka yang terus menarik adiknya agar tetap melanjutkan perjalanan .


Tak sampai satu jam kini kedua mata Riki pun membengkak, entah serangga apa yang memasuki kedua mata Riki itu , Riki kini sama sekali tidak bisa melihat , pandangannya gelap , sepanjang perjalanan Riki terus meringis kesakitan dan juga mengeluh dirinya tidak bisa melihat sama sekali . Hingga tibalah mereka di sebuah runtuhan batang pohon yang besar, Raka berhenti disitu karena ia merasa lapar , ia mengambil beberapa potong roti dan memakannya . "kakk, kaka lagi makan ya?" tanya Riki yang tidak bisa melihat kakak nya sedang memakan roti . "Enggak.. Kok" kata Raka berbohong "tapi kak, aku lapar ka, aku mau makan" jawab Riki "dek , kakak engga bawa makanan , udah kamu istirahat dulu aja kaka juga cape banget ini" Kata Raka sambil menahan tawa, Raka senang melihat adik nya menderita, Riki yang sudah merasa lelah dan lapar hanya bersandar pada batang pohon yang runtuh itu, saking lelah nya Riki sampai tertidur dengan sangat lelapnya, sedangkan Raka ia masih asik melahap roti tersebut .


Keesokan harinya keadaan Riki semakin memburuk , kedua matanya kini bengkak, membiru dan mengeluarkan nanah, sekarang Riki menjadi buta permanen "kakakk.... kakk... kakak dimanaa" teriak Riki mencari kakak nya sambil meraba raba sekitarnya. Namun kakak nya itu telah meninggalkan Riki sendirian di hutan , "kaaakk... kakakk...." kini Riki berdiri sambil meraba-raba mencari kakak nya itu. Tidak ada jawaban dari siapapun disana, karena Raka telah jauh pergi . Kini Riki sendirian di tengah hutan gantarawang dalam keadaan buta, kini Riki perlahan berjalan sambil meraba pohon demi pohon sambil terus memanggil-manggil kakaknya itu , sesekali Riki terjatuh karena kaki nya tersandung akar pohon , Riki merasa sangat lapar ,karena dari kemarin dia belum memakan apapun , sekuat tenaga Riki bangkit lagi dan berjalan sambil meraba-raba sekelilingnya , tak sengaja tangan kanan Riki menyentuh sebuah batang pohon kecil , dan sialnya pada batang pohon kecil itu terdapat sarang semut api, Riki sempat menguncangkan batang pohon tersebut, membuat para semut itu marah dan menyerang tubuh Riki, seketika saja Riki menjerit kesakitan, tubuhnya seperti terbakar karena digigit oleh koloni semut api. Riki membuka bajunya dan berguling-guling di atas rerumputan , Riki menjerit kesakitan , tapi tidak ada seorang pun mendengar jeritannya kecuali para koloni monyet yang seakan menertawakan Riki . Riki berdiri sekuat tenaga dan berlari karena merasa kesal dengan hidupnya sekarang, sampai dia menabrak sebuah pohon besar seketika Riki pun pingsan , kepala nya terbentur dan mengeluarkan darah, tubuhnya kini bentol-bentol karena terkena sengatan dari semut api. Secara logika manusia , tidak ada harapan Riki untuk tetap hidup di tengah hutan gantarawang.

__ADS_1


__ADS_2