
Sementara itu , di Desa Bojong Pinang tepat di sebuah rumah panggung , Asep sedang menyusun rencana untuk mencari istri nya di hutan gantarawang dia akan masuk ke dalam hutan tersebut , sebulan setelah istri nya hilang , Asep memang tidak tinggal diam, dia pergi ke sebuah desa disana ada dukun yang bisa mengajari nya ilmu hitam , Asep terus mempelajari ilmu hitam tersebut untuk bekal nya nanti ketika dia masuk ke dalam hutan gantarawang, istri Asep ini hilang misterius di sungai , saat istrinya sedang mencuci baju, tak ada jejak apapun , yang ada pada saat itu hanya ember dan beberapa pakaian yang sedang istri nya cuci itu , Asep sudah tahu bahwa hutan gantarawang lah yang menjadi penyebab nya , makannya ketika istri nya hilang dia tidak sibuk mencari istrinya melainkan pergi ke sebuah desa untuk mempelajari ilmu hitam , sudah pasti pelaku nya adalah Bardu , yang menjadikan istri Asep ini sebagai tumbal , perlu di ketahui umur Asep ini sekitar 45 tahun dia mempunyai seorang anak perempuan yang telah menikah , dan tinggal di desa yang jauh bersama suaminya, jadi kini dia hanya tinggal seorang diri di rumah nya .
Saat malam hari tiba , segera Asep mengambil tas jinjing yang terbuat dari karung goni, di dalam tas itu ada sebuah golok dan juga ada beberapa butir bawang merah, kemenyan dan juga korek api dia juga menjinjing sebuah obor , ketika melintasi desa , para warga hanya mengintip Asep dari celah-celah jendela , ada seorang warga yang memberanikan diri untuk keluar rumah dan melarang Asep untuk pergi ke hutan gantarawang , namun, Asep tidak bisa di larang, dia sudah mempertimbangkan keputusan nya ini dari jauh-jauh hari , lagi pula sekarang Asep sudah punya ilmu hitam untuk melindungi dirinya dari berbagai gangguan demit hutan gantarawang, setiba nya Asep di pagar pembatasan ,dia memandangi pagar tersebut yang menjulang tinggi , Asep memadamkan obor nya dan memasuki nya ke dalam tas goni nya itu, Asep menghela nafas yang panjang, dan segera memanjat pagar tersebut dengan lincah, Asep sama sekali tidak merasa kesulitan karena dia ini memang pandai memanjat, tak sampai 30 menit Asep dapat melewati pagar perbatasan tersebut , dia kembali menyalakan obornya dan mengambil sebuah golok , dia mulai berjalan memasuki hutan sambil menebas-nebas rerumputan yang menghalangi jalan nya , belum lama Asep memasuki hutan, dia merasa ada yang aneh , semak-semak nya tak begitu rindang seperti sering ada orang yang menebas nya, bukan hanya itu saja , Asep melihat bekas jejak kaki manusia di permukaan tanah yang basah itu, tak salah lagi ini pasti ada manusia yang bersembunyi di dalam hutan ini, Asep menggerutu di dalam hati .
__ADS_1
Asep terus masuk kedalam hutan mengikuti jejak kaki tersebut , sekitar 15 menit Asep berjalan , dia berhenti dan terkejut dengan apa yang di lihat nya , Asep melihat beberapa mayat yang di gantung terbalik di dahan-dahan pohon , dia melihat satu persatu mayat tersebut , seketika saja dia menjatuhkan obor nya dan berlari menghampiri salah satu mayat , ya itu adalah istri nya, Asep menangis nelangsa di bawah pohon besar , dia sangat tidak terima dengan kematian istri nya yang sangat tragis, segera dia memanjat pohon tersebut dan menurunkan jasad istrinya , setelah di turunkan ternyata ada luka sayat di leher istrinya , Asep yakin bahwa ini bukan ulah dari demit melainkan ini adalah pembunuhan , dia sangat kesal dan berjanji akan menemukan dalang dibalik semua ini , dia menyandarkan jasad istri nya pada batang pohon besar "bu , nanti bapa kesini lagi" ujar Asep sambil bangkit dan menghapus air matanya , jasad istri nya tersebut akan di bawa nya kedesa dan memberi kabar pada seluruh warga desa , kini Asep kembali melanjutkan perjalanan nya masuk ke dalam hutan untuk mencari pelaku pembunuhan sadis itu , ternyata tak jauh dari tempat para korban yang di gantungkan , Asep melihat ada sebuah gubuk yang lumayan besar , Asep perlahan mengendap-endap mendekati dan memperhatikan gubuk tersebut, di belakang gubuk tersebut terdapat lubang yang besar , Bardu memang belum sepat mengurub pasir nya kembali setelah dia menggali pocog Marwi .
Asep mengintip dari celah-celah bilik gubuk nya, kebetulan yang Asep intip itu langsung mengarah kedalam kamar Bardu dan Munah, kebetulan saat Asep sedang mengintip , Bardu memang sedang cerita kepada istri nya bahwa dia sangat sulit mendapatkan tumbal kesepuluh , "sabar mas... nanti juga kamu dapat ko...." timpal Munah yang saat itu sedang rebahan di atas kasur nya . Mendengar percakapan tersebut , Asep langsung naik pitam, dia yakin bahwa pasutri ini yang telah menghabisi nyawa istri nya dan 8 warga desa lain nya , tanpa ancang-ancang lagi , Asep langsung menendang pintu gubuk, dan menerobos masuk , Asep tidak perlu melempar bawang atau membakar kemenyan karena yang dia hadapi bukan demit ,segera dia mengeluarkan golok dari tas nya karena target nya itu hanya manusia biasa , Asep dengan emosi nya yang sudah menggebu-gebu yakin dapat membunuh kedua pasangan suami istri tersebut.
__ADS_1
Mendengar ada keributan di gubuk nya , Munah tidak berani keluar kamar, dia gemeteran sambil memeluk anak nya , sedangkan di luar kamar , suami nya sedang berkelahi dengan asep dengan sangat brutal, pertarungan mereka cukup sengit , Asep menendang perut Bardu hingga Bardu terpental ke dalam ruangan pocong Marwi, beberapa kali Bardu menahan serangan Asep , memang Asep ini seorang lelaki yang cukup tinggi dan besar berbeda dengan Bardu yang berbadan pendek , Bardu seperti nya kelelahan ,hingga Asep dapat dengan tepat menebaskan golok nya ke paha kiri Bardu, Bardu pun ambruk, darah segar mengalir dari bagisn paha nya , tak ingin melewatkan kesempatan, Asep langsung meloncat ke atas tubuh Bardu dan ingin menusukan golok ke dalam dada Bardu, namun Bardu yang saat itu tidak ingin menyerah , ia berusaha bangkit dan berhasil menahan golok Asep tersebut , tanpa banyak gaya lagi , Bardu mengayunkan celurit nya dan tebasan tersebut berhasil mengenai punggung Asep, kini Asep terkapar di samping peti nya Marwi, saat itu Bardu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan , segera ia mengayunkan golok nya tepat ke arah kepala Asep, lagi-lagi Asep berhasil menangkis serangan Bardu dengan golok di tangan kanan nya , ,Asep pun tak ingin menyerah begitu saja, dia sungguh bertekad ingin membalaskan kematian istri nya , pertarungan mereka cukup sengit , ketika saja , senjata tajam mereka saling terpental , kini mereka beradu menggunakan tangan kosong , kedua nya sudah di penuhi dengan luka dan darah yang mulai mengalir dari tubuh masing-masing ,gubuk Bardu pun sudah di kotori dengan darah di mana-mana , tubuh Asep yang lebih besar itu kini mulai mengalahkan Bardu, dia berhasil menumbangkan bardu, dan meninjukan tangan ke wajah Bardu berkali-kali ,sampai bonyok . Bardu pun tak tinggal diam , dengan sisa tenaga yang dia miliki , dia berusaha mencekik leher Asep sekuat tenaga, saat Asep mulai hampir kehabisan nafas , Bardu menendang Asep sampai ia terlempar dan terkapar , nafas nya mulai ngos-ngosan . Tetap saja Asep tak ingin menyerah demi istri nya , perlahan dia bangkit dan meraih golok yang tak jauh dari nya , dia ingin menebas leher Bardu, yang nampak nya mulai kehabisan tenaga , Bardu yang saat itu tengah bersandar pada peti Marwi ,ketika dia hampir mendekati Bardu , tiba-tiba saja "BRRRUUUAAAKKKK" ada yang memukul kepala Asep dengan Batu coet , nampak nya itu adalah Munah , Munah sempat melihat perkelahian suami nya dengan Asep, sampai dia melihat suami nya sudah kehabisan tenaga, buru-buru dia ke dapur untuk mengambil batu coet untuk menolong suaminya .
Munah masih berdiri disana sambil menangis dan ketakutan, tapi dia tidak akan membiarkan suami nya itu mati di tangan orang asing, saat itu Asep ambruk dengan keadan tengkurap di peti, tepat nya di atas Jasad pocong Marwi, segera Munah menghampiri suami nya , luka bacokan di paha Bardu itu cukup parah sehingga membuat luka yang cukup dalam dan terus mengeluarkan darah, Munah membantu Bardu untuk berdiri , "akhir nya kita mendapatkan tumbal yang kesepuluh ya Munah" kata Bardu . Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Bardu mencoba membalikan tubuh Asep , untuk di bawa nya ke halaman depan dan membuat ritual terakhir , Bardu dan Munah sangat senang , karena sebentar lagi wajah anak nya yang menyeramkan akan segera hilang dan mereka akan kaya raya hidup normal di desa .
__ADS_1