
Kali ini membahas bagaimana Riki bisa hidup kembali, pada suatu malam, saat itu Geni yang baru saja tertidur pulas tak akan mengira bahwa kuburan di belakang rumah nya yang baru ia buat itu akan di bongkar oleh seseorang.
Si Sakti atas perintah nenek Liman itu berhasil mengetahui lokasi tempat seorang yang telah melakukan ritual nyatu raga dengan pocong Marwi, belum lama Riki terkubur, Sakti menggali kembali kuburan itu dan membawa jasad Riki ke hutan gantarawang, sebenar nya Sakti bisa saja langsung mengambil kepala pocong Marwi, namun nenek Liman itu hanya memberitahu lokasi jasad nya Riki saja ternyata nenek tua tersebut tak mampu melacak keberadaan kepala pocong Marwi karena batu tempat menyimpan kepala pocong tersebut bukan lah batu sembarangan. Ternyata batu tersebut telah di bacakan mantra penghalang agar mahluk ghaib tak dapat mengetahui lokasi kepala pocong Marwi.
Setiba nya Sakti di hutan gantarawang, dia berhasil membawa jasad Riki di hadapan nenek Liman, jasad Riki di baring kan tepat di depan gua nenek Liman telah menunggu nya di sana, nenek Liman membawa pisau usang namun masih sangat tajam, lalu di hadapan jasad Riki ada tulang belulang Marwi yang telah Sakti kumpulkan pada sebuah kain berwarna hitam.
Nenek Liman pun mendekat pada jasad Riki, dengan raut wajah yang marah nenek itu teringat akan kejadian saat Riki berhasil mengalahkan Marwi, ia langsung menyayat perut Riki sampai darah nya keluar, darah itu belum membeku karena Riki belum lama terkubur.
Setelah darah di kucur kan pada tulang belulang Marwi, asap hitam pun keluar dari tulang Marwi, seperti arang panas yang baru saja di guyur air. Sakti terheran-heran melihat kejadian itu .
"Cari lah kepala pocong itu, dan buang jasad ini ke tengah hutan biarkan dia membusuk sampai di makan anjing" perintah nenek Liman, lalu wanita tua tersebut masuk lagi ke dalam gua, itu lah mengapa sebab nya setelah kepala pocong Marwi di buang oleh Ki Suri keluar rumah dan menyentuh tanah, pocong tersebut bangkit.
Lalu Sakti menuruti perintah nenek Liman dan menyeret jasad Riki ke tengah hutan gantarawang di arah barat, disana memang sering ada koloni anjing liar yang kelaparan karena letak nya tak jauh dari sebuah desa, Riki pun di buang begitu saja seperti bangkai hewan, luka di perut nya masih mengeluarkan darah lalu Sakti pun pergi kembali ke desa Reban untuk mencari kepala pocong, karena ia yakin kepala pocong itu ada disana.
Tak lama setelah jasad Riķi di tinggalkan di tengah hutan, para semut merah yang ukuran nya cukup besar mulai berkerumun mendekati luka di perut Riki, sekitar 2 jam tiba-tiba saja Riki bangun tersentak dan bernafas. Nafas nya ngos-ngosan seperti orang yang baru saja tenggelam, sesaat sebelum Riki terbangun dia seperti mendengar putri nya yang berteriak minta tolong dan mengatakan bahwa putri nya tak sanggup lagi bertahan hidup.
Keringat dingin membasahi wajah nya karena khawatir dengan keadaan anak nya, tiba-tiba Riki meringis kesakitan memegangi luka di perut nya yang sudah di kerumuni semut, lalu Riki bangkit dan mengibas-ngibas kan semut yang ada di tubuh nya, Riki menoleh ke segala arah dia bingung kenapa dia ada di tengah hutan seperti ini , lalu ia sadar ternyata dia mengalami mati suri lalu ada yang mengambil jasad dan melukai perut nya untuk membangkitkan pocong Marwi.
Perlahan Riki berjalan, dia tidak menggunakan sehelai pakaian apapun dia memperhatikan sekeliling hutan, dia merasa hutan ini memang tidak asing bagi nya. Lalu terdengar lah lolong anjing dari kejauhan, segera Riki pergi ke sumber suara anjing tersebut karena ia berfikir pasti tak jauh dari lokasi nya ada pemukiman warga.
Setiba nya di tepi hutan Riki menyadari desa di hadapan nya itu adalah desa Bojong Pinang, segera Riki berjalan keluar dari hutan gantarawang untuk mencari sehelai pakaian . Suasana di desa saat itu sangat sepi karena memang penduduk nya sudah tertidur pulas, lalu Riki berjalan mengendap-endap ke salah satu rumah warga karena ia melihat sebuah celana berwarna hitam menggantung di belakang rumah nya celana itu sangat kotor karena biasa di gunakan untuk pergi ke sawah, tanpa ragu Riki mengambil celana tersebut dan langsung mengenakan nya .
Dia beristirahat di saung milik salah satu warga sambil menahan rasa sakit di perut nya, besok pagi dia akan pergi ke desa Reban untuk menemui anak nya.
Keesokan pagi nya, Riki dibangun kan oleh salah satu warga yang hendak pergi ke sawah. Ternyata Riki masih sangat di kenal oleh para penduduk desa Bojong Pinang terlebih Riki telah berhasil mengalahkan pocong sialan itu saat dulu desa Bojong Pinang di porak poranda kan oleh pocong Marwi.
__ADS_1
Lalu warga yang mengetahui ada Riki di desa nya segera melaporkan pada Pak Komar karena dia adalah kepala desa, Pak Komar sangat senang melihat kehadiran Riki di desa, dia juga menanyakan mengapa Riki bisa ada di desa Bojong Pinang, namun Riki enggan memberitahu kejadian yang menimpa nya semalam di hutan gantarawang, karena dia tidak ingin membuat para warga desa Bojong Pinang panik. Pak Komar pun tak ingin memaksa nya jika Riki tak ingin memberi tau.
Pak Komar menyambut Riki dengan baik, dia membantu mengobati luka di perut nya lalu memberikan Riki hidangan-hidangan yang enak-enak, karena Riki telah di anggap sebagai pahlawan yang telah mengembalikan keadaan desa Bojong Pinang saat itu.
Setelah 2 hari Riki di rawat oleh pak Komar, luka di perut nya terasa membaik, Riki pun meminta tolong kepada pak Komar untuk mengantar nya pulang ke desa Reban, pak Komar dengan senang hati mengantar Riki dengan delman nya.
Setiba nya Riki di desa Reban dia merasa heran karena rumah nya sangat sepi, Geni dan kepala pocong itu sudah tidak ada di rumah Riki juga melihat ada sebuah lubang di belakang rumah nya, dia berfikir bahwa itu pasti adalah kuburan nya sendiri yang sengaja di bongkar oleh orang lain.
Riki bertanya pada para warga desa Reban, namun tak ada seorang pun yang tau kemana putri nya itu, Riki meminta pada Pak Komar untuk kembali ke desa Bojong Pinang mengantar pak Komar pulang lalu Riki ingin membeli kuda nya, dengan jaminan rumah nya di desa Reban, dia akan segera membayar nya ketika ia telah pulang kembali. Pak Komar manggut saja menuruti perintah Riki.
Hanya sampai gapura Desa Bojong Pinang Riki mengantar pak Komar, lalu ia memacu kembali kuda nya untuk berkelana mengunjungi tiap-tiap desa.
Berhari-hari Riki berkelana. Menanyakan pada setiap warga desa yang ia datangi mengenai ciri-ciri putri nya apakah pernah ada di desa tersebut, namun Riki belum juga menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaan putri nya .
Hingga tibalah Riki di Pasar Induk, sebuah pemukiman yang sudah lebih maju, sudah di aliri listrik dan bangunan-bangunan di pasar Induk pun sudah lebih bagus dari pada desa nya, namun aneh nya di perjalanan Riki tidak menemui satu orang pun, suasana di pasar Induk sangat sepi seperti pasar setan.
"*PERGI... SELAMAT KAN NYAWA MU
HA...HA...HA*..."
Riki kaget dengan seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di belakang nya dengan penampilan nya menggunakan kaos kumel dan bolong-bolong, rambut nya jabrik acak-acakan, dia tidak mengenakan celana sehingga burung nya kemana-mana .
Riki hanya diam, dia tau bahwa lelaki itu pasti adalah orang gila yang tinggal di pasar Induk.
"*NANTI POCONG DATANG LOH DAN DIA AKAN MEMBUNUH MU
__ADS_1
HA...HA...HA*..."
Sontak saja Riki terkejut "Hah Pocong?" sambil mengerutkan dahi nya.
Namun orang gila itu tak menimpali nya lagi dia malah pergi berlari sambil tertawa terbahak-bahak.
"*POCONG ...
MUKA MU JELEK SEKALI...
TUBUH MU BAU SEPERTI KU...
KAU ADALAH TEMAN KU...
AYO KITA HABISI ...
ORANG-ORANG YANG TELAH MENGEJEK KITA GILA..
ORANG-ORANG ITU HANYA IRI...
KARENA KITA LEBIH TAMPAN DAN BERANI...
HHAHAHA*..."
Riki yang mendengarkan orang gila itu seperti bernyanyi lari menjauhi nya dia nampak senang sambil mengayunkan tangan nya burung nya pun seperti menari ke kiri dan ke kanan. Lagu apa seperti itu fikir nya dalam hati.
__ADS_1
Lalu Riki kembali berjalan menyusuri pasar Induk untuk mencari putri nya , entah mengapa perasaan nya saat itu menyuruh nya untuk pergi ke sebuah hutan di ujung pasar.