
Menyadari bahwa Ki Sugeng terkena air liur pocong itu , segera Ki Sugeng berlarian ke sumur yang ada di belakang rumah nya, dia segera mungkin membersihkan nya . Keesokan hari nya nasib naas menimpa Ki Sugeng , Efek dari Ludah Pocong Marwi itu perlahan membuat Rambut Ki Sugeng Rontok sedikit demi sedikit , Kepala nya pun kini seperti terkena luka bakar . Makin hari luka itu semakin parah , kini luka itu sudah mengeluarkan nanah, berbondong-bondong warga menjenguk Ki Sugeng , Warga terheran dengan penyakit yang di derita Ki Sugeng , luka seperti itu.. Tidak ada seorang warga pun yanfg pernah melihat luka seperti itu . Para Tabib dan ahli pengobatan tradisional dari desa tetangga pun berdatangan, mereka berusaha membantu Ki Sugeng mengobati penyakit nya , tetapi tetap saja Luka itu tidak kunjung mengering dan dapat di sembuhkan , Semakin hari kondisi Ki Sugeng semakin menurun , dia merasa sudah tidak sanggup lagi menjalani berbagai macam ritual pengobatan tradisional , dia meminta warga untuk memangil Pak Soma , dia lah orang yang mencabut kris itu dari tubuh Marwi , setelah Pak Soma datang kerumahnya "ada apa ki... ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Soma "mumpung aku ini masih hidup.. aku mau berpesan pada mu" ujar Ki Sugeng "perihal apa ki?" Tanya Pak Soma lagi . Lalu Ki Sugeng perlahan mengambil kris yang ada di sebelah tempat tidurnya itu, tangan nya bergetar karena kondisi tubuh nya sudah benar-benar sangat lemah "kau yang memulai ini semua , dan kau pula yang harus mengakhiri nya... kau sudah mencabut kris ini dan membangunkan orang yang paling sakti yang sudah hidup berpuluh puluh tahun silam , aku yakin kini dia sudah menjadi demit yang kuat. Konon dia yang memiliki Ajian Ilmu Pancasona dan hanya dengan kris ini lah yang bisa menghentikannya. Kau harus kembali menancapkan kris ini pada demit itu, agar pocong itu bisa berhenti meneror desa kita" Begitu kata Ki Sugeng, kedua tangan Pak Soma sangat bergetar setelah menerima kris dari Ki Sugeng "bagaimana saya bisa melakukannya ki?" tanya Pak Soma . "kau harus cari demit itu" Jawab Ki Sugeng . "dimana ki?" tanya lagi Pak Soma "Yaa.. mana saya tau, sudah kau cari tahu sendiri , kau harus bertanggung jawab soma" Pinta Ki Sugeng yang terlihat kesal karena Soma terus bertanya "Baik ki... akan saya fikirkan bagaimana caranya" jawab Pak Soma Terbata-bata karena mulai merasa cemas . Pak Soma berpamitan dan langsung meninggalkan rumah Ki Sugeng.
Keesokan harinya , Warga kembali di gegerkan dengan ulah demit itu, Kini perkebunan timun nya rusak, dan timun-timun nya rusak seperti ada yang menginjak-injak, semua nya hancur tak tersisa , padahal , perkebunan itu salah satu mata pencarian warga desa selain menanam padi para warga pun banyak yang berkebun timun untuk menopang kehidupan perekonomian mereka. Dan kini kebun itu hancur tak tersisa , pemilik kebun menangis sedih, mereka tidak tahu apa yang harus di lakukan, mereka terancam sengsara . Ki Sugeng yg menjadi pimpinan desa sudah tidak bisa di harapkan, karena dia sedang sakit parah kondisinya yang semakin hari semakin memburuk. Keadaan desa saat itu benar-benar sedang kacau, saat warga sedang meratapi kebun mereka yang hancur, munculah Pak Soma ,dia bilang ke warga bahwa, satu-satunya cara untuk menghentikan teror ini, kita harus menangkap demit itu, dan menancapkan kris sakti itu lagi ke tubuhnya, Pak Soma juga menunjukan Kris itu di hadapan para warga, "apakah demit itu bisa di tangkap?" tanya salah satu warga . "Pasti bisa.. Ki Sugeng yang memberi tahu bahwa demit itu pasti bisa di tangkap" jawab Pak Soma "lalu cara nya bagaimana?" tanya lagi dari salah seorang warga "kita jebak saja.. Demit itu sudah menyerang sawah kita dan kebun timun kita lalu selanjutnya aku yakin pasti dia akan menyerang hewan ternak kita , nah sekarang kita harus mengumpulkan kambing peliharaan di sebuah lahan untuk menjebak demit itu" jawab Pak Soma "wahh... masuk akal sekali ide mu Soma" kata para warga . Mereka pun akhirnya mengumpulkan para kambing di sebuah lahan , di sekeliling lahan nya mereka membuat kan pagar dari bambu , seluruh warga bekerja sama dengan harapan ide itu berhasil dan mengakhiri teror di desa tersebut, warga sudah benar-benar kesal karena demit itu sudah merusak mata pencarian mereka .
__ADS_1
Malam pun tiba , warga berkumpul di suatu tempat mereka berpencar dan bersembunyi di balik pepohonan dan semak belukar setiap warga membawa senjata masing-masing , ada yang membawa arit, golok, tombak, dan jaring . Namun yang terpenting adalah Kris sakti yang di bawa Pak Soma ,kris itu harus di tancapkan ke tubuh Pocong Marwi tersebut . Sudah berjam-jam warga bersembunyi sebagian dari mereka pun sudah ada yang mulai mengantuk , namun belum ada tanda-tanda kemunculan dari pocong Marwi , namun tiba-tiba terdengar suara wanita yang meminta tolong , suara nya semakin dekat , ternyata yang datang adalah Mak Ai ,ia adalah istri dari Ki Sugeng , Mak Ai meminta tolong karena anak dari Pak Soma kesurupan , "kang tolong kang... si ratih sepertinya kesambet" timpal Mak Ai yang nafas nya masih ngos-ngosan "hahh?? kesambet?..." Ujar Pak Soma yang panik ,ia langsung berlari menuju rumahnya sebagian warga pun ikut berbondong2 kerumahnya , setiba nya dirumah Pak Soma langsung masuk menuju kamar nya Ratih ,didalam kamar itu Ratih terbaring di atas tempat tidurnya ,kedua matanya melotot seperti telah melihat setan yang sangat mengerikan "nakk.. bangun nakk" Pak Soma yang tampak panik sambil menggoncangkan tubuh putrinya, Umur Ratih ini sekitar 21 tahunan dia adalah putri satu-satunya Pak Soma , Ratih tetap terdiam , ia tidak menjawab pertanyaan bapak nya. Dia seperti mengalami trauma yang sangat parah. "apa yang sebenarnya terjadi mak?" tanya Soma kepada Mak Ai , Mak Ai pun menceritakanya pada Pak Soma kejadian yang menimpa anaknya, kata Mak Ai sebelumnya ia mendengar suara seorang laki-laki Memanggil nama Rara ,"siapa rara?" tanya Pak Soma . Mak Ai menggelengkan kepala, soalnya tidak ada di desa yang beranama Rara , Mak Ai melanjutkan ceritanya kata Mak Ai , setelah ia mendengar suara lelaki tersebut, ia mencari sumber suaranya , makin mendekat kerumah Pak Soma ini suaranya semakin jelas, malah suara itu bersumbar dari kamer nya Ratih ini , karena penasaran Mak Ai masuk dan segera menuju kamar nya Ratih ini, namun sayang nya pintu kamar Ratih ini seperti di kunci dari dalam , Mak Ai kesulitan untuk membuka kamar Ratih , tak lama kemudian , Ratih berteriak histeris seperti ada yang mengejutkannya, Mak Ai juga panik, ia mengintip dari celah-celah bilik dan... Mak Ai melihat seseorang terbungkus dengan kain putih ini sedang berada di atas tubuh nya Ratih yang sedang berbaring , Mak Ai langsung berlari ke dapur untuk mengambil sebuah golok , pintu kamar Ratih di cungkil Mak Ai akhirnya bisa masuk ke dalam kamar nya itu , namun sosok yang sudah menindih Ratih itu, tiba-tiba menghilang entah kemana , lalu Ratih melotot seperti sudah melihat setan . Mendengar cerita Mak Ai , Pak Soma langsung naik pitam "B**ADJI**NGAN" kata Pak Soma yang telihat sudah meluap-luap amarah nya, ia yakin bahwa sosok itu adalah sosok demit dari lembah rara , memang betul, yang di lihat Mak Ai itu pocong Marwi , dia mendatangi Ratih karena wajahnya yang mirip sekali dengan Rara kekasih hatinya . Saat Pak Soma masih berusaha menyadarkan anak nya , tiba-tiba puluhan warga diluar berteriak , ternyata Pocong Marwi terbang di atas mereka dan meludahinya dengan air liur , ada sekitar 5 orang yang terkena air liur nya Marwi , warga semua berhamburan menuju sumur untuk segera membersihkan kepalanya, sudah dapat di pastikan bahwa nasib para warga yang terkena air liur Marwi itu akan bernasib seperti Ki Sugeng, kepala mereka pasti akan segera membusuk, Pak Soma kini sudah mulai emosi dan kehabisan kesabaran "Mati kau di tangan ku Pocong Si*alan" sambil mengacungkan kris nya kelangit , Pocong Marwi yang terbang meninggalkan warga tertawa jahat dengan suaranya yang bergema .
Keesokan hari nya warga kembali geger., karena kambing ternak yang di kumpulkan di satu lahan itu kini mati semua , tubuh kambing itu hancur, jeroan nya acak-acakan . Pak Soma pasti yakin bahwa lagi-lagi ini pasti ulah demit itu , di hari yang sama pula, Ki Sugeng kini telah meninggal dunia karena kepala nya yang sudah semakin membusuk , warga benar-benar sudah mulai ketakutan, bahkan sebagian warga memilih untuk mengungsi di desa dekat lereng gunung yang jarak sangat jauh , mereka sangat takut terkena ludahan demit, 5 orang yang di ludahi Marwi malam itu kini kondisi nya makin parah, rambut nya rontok, kepalanya membiru seperti akan mebusuk , keadaan desa Bojong Pinang sudah benar-benar kacau dan tidak terkendali lagi , Pak Soma tidak tinggal diam , dia pergi berkelana dari desa ke desa mencari seorang dukun yang sakti . Tiba di salah satu desa ia di perkenalkan oleh seseorang untuk menemui dukun sakti di desa tersebut , Dukun itu bernama Mbah Unang ,ia juga mengerti ilmu pancasona yang dimiliki Pocong Marwi , setelah Pak Soma mendatangi rumah Mbah Unang , tanpa bercerita panjang lebar keadaan desa Bojong Pinang ,Mbah Unang sudah memahaminya , lalu Mbah Unang memberikan Pak Soma 10 liter beras , Mbah Unang bilang itu bukan beras biasa, itu adalah beras yang sudah di bacakan mantra-mantra , warga yang tinggal di desa Bojong Pinang harus menelan beberapa butir beras untuk menangkal gangguan dari demit pocong Marwi , Mbah Unang juga memberi air obat yang di masukan ke dalam sebuah bambu ,katanya air itu dapat menyembuhkan penyakit Ratih dan beberapa warga yang terkena air liur pocong tersebut . "lalu bagaimana cara saya untuk bisa menangkap demit itu mbah?" tanya Pak Soma "kau harus datangi sarangnya" timpal Mbah Unang "dimana?" tanya lagi Pak Soma "begini...sepenglihatan ku pocong itu menampakan wujud nya di lembah rara saat subuh sebelum matahari terbit, dan saat kau melihat demit itu segera kau lemparkan beras mantra ini ketubuh nya , seketika pocong itu pasti tidak akan bisa lari" Pak Soma mengiyakan saran Mbah Unang , ia pun berterimakasih dan pamit untuk segera kembali ke Desa Bojong Pinang .
__ADS_1
Jam 2 dini hari , Pak Soma mengajak beberapa warga untuk ikut menuju lembah Rara , akhirnya Pak Soma di temani Oleh 5 orang warga desa, mereka langsung menuju Lembah rara sebelum matahari terbit, masing-masing dari mereka membawa jaring, tali, golok dan tak lupa Pak Soma membawa kris sakti nya it . Hanya 2 buah obor lah yang menjadi penerangan mereka menuju lembah itu, setiba nya di lembah rara , Pak Soma meminta ke lima warga itu untuk berhati-hati dan tidak menimbulkan suara apapun , lembah itu tentu sangat gelap karena kabut yang tebal, mereka semua merayap perlahan-lahan menuju sarang demit tersebut , lembah itu memang tidak terlalu besar , tepat nya di hadapan mereka ada semak belukar ada sesosok orang yang memakai kain putih, tidak salah lagi itu pasti demit itu gumam Pak Soma di dalam hati ,Pocong itu sedang berdiri sambil memejamkan matanya, tanpa ancang-ancang lagi Pak Soma langsung melemparkan beras mantra ke tubuh Pocong Marwi, seketika Mata Marwi melotot ia meraungg seperti kesakitan tapi pocong itu tetap diam dan tidak bergerak , tanpa membuang-buang waktu Pak Soma langsung menancapkan lagi kris sakti itu pada tubuh Marwi "*PERGIII LAH KAU DEMIT S*IALAN*" teriak Pak Soma. Seketika tubuh Marwi lunglai dan langsung terkapar , para warga yang ikut,h segera mengikat tubuh Marwi dengan tali yang mereka bawa, Tubuh Marwi di seret keluar lembah rara dan di bawa ke desa Bojong Pinang dengan keadaan kris yang sudah menancap di tubuhnya. Marwi di bawa tepat di halaman rumah Pak Soma , Warga yang mengetahui penangkapan demit itu berhasil ,langsung berbondong-bondong menuju rumah Pak Soma untuk melihat demit yang sudah mengacaukan desa mereka , merusak sawah, kebun dan membunuh ternak milik mereka . tidak sedikit warga yang bergidik ngeri melihat wajah Marwi yang sangat pucat dan mengerikan , ada pula warga yang sudah benar-benar kesal saat melihat Pocong Marwi sampai ia menendang kepala Marwi dengan sangat kencang dan meludahi nya tapi Pak Soma meminta para warga untuk tetap tenang . "lalu kita apakan demit ini" kata salah satu warga"mari kita bakar saja demit ini... demit ini sudah benar-benar memporak porandakan desa kita!!!" jawab salah satu warga yang nampak nya begitu marah terhadap Marwi.
Pak Soma menyetujui usulan warga tersebut , dan semua warga kini saling membantu mengumpulkan kayu bakar . Tubuh Marwi kini telah di timbun kayu bakar , Pak Soma dan para warga sangat berhati-hati untuk memastikan kris itu tetap menancap di tubuh pocong tersebut . Api itu kini telah di nyalakan, semakin besar berkobar-kobar membakar tubuh Marwi , namun setelah api itu padam para warga terkejut dan heran mengapa tubuh Marwi sama sekali tidak terbakar , bahkan kain putih yang membungkus tubuh Marwi itu masih tetap utuh seperti sama sekali tidak terkena api, padahal jelas-jelas semua warga melihat api yang begitu besar melahap semua kayu bakar yang mereka kumpulkan dan juga Pocong Marwi , tetapi aneh nya setelah api itu padam pocong itu masih utuh bahkan seperti sama sekali tidak tersentuh api .
__ADS_1