Teror Pocong Marwi

Teror Pocong Marwi
Eps.37 Masa Pemulihan


__ADS_3

Menjelang pagi, sinar fajar pun mulai terlihat menyinari bumi, Riki pun terbangun bau amis menyengat menusuk hidung karena Riki semalaman pingsan di ceceran tubuh Ki Suri dan istri nya, Riki pun melihat putri nya yang tergeletak di sebelah pocong Marwi, Riki sangat bangga karena melihat putri nya lah yang telah berhasil menghentikan pocong sakti itu, Riki duduk terdiam sesaat untuk memulihkan energi nya lalu Riki merangkak mendekati putri nya.


"Nak... Nak... Bangun, kita pindah istirahat nya di dalam rumah ya" seru Riki sambil menepuk-nepuk pipi anak nya.


"Ayah...." Geni pun perlahan membuka mata nya, lalu Riki memapah anak nya untuk masuk ke dalam rumah Ki Suri, beruntung nya Riki karena di dalam rumah Ki Suri terdapat macam-macam rempah-rempah yang bisa ia jadikan obat tradisional, untuk beberapa saat Riki akan tinggal di rumah Ki Suri sambil mengobati putri nya dan dirinya .


Keesokan hari nya, kondisi Riki membaik dia hanya tinggal menunggu luka di perut nya mengering sedangkan kondisi Geni masih perlu di rawat karena ia kehilangan banyak darah.


Lalu Riki berjalan ke halaman belakang rumah Ki Suri, Riki berjalan mendekati pocong Marwi, dia juga memperhatikan wajah pocong Marwi, kalau di lihat-lihat wajah nya memang masih seperti manusia biasa, pocong itu tidak membusuk sedikik pun berkat ajian pancasona yang di miliki Marwi setelah itu, Riki menyadari bahwa tali pocong yang berada di pinggang Marwi itu tidak ada, segera Riki mencari nya.


Tak lama ternyata tali pocong itu berada di atas tumpukan daging jeroan Ki Suri.


"Tak salah lagi, lelaki tua itu benar-benar nekat memelihara pocong ini sampai dia harus memakan tali pocong Marwi" gumam Riki dalam hati.


Sebelum ada warga pemukiman pasar Induk yang datang, Riki juga menimbun ceceran darah dimana-mana dengan pasir, Riki tak ingin di sangka sebagai pembunuh berantai, jelas-jelas ini karena insiden untuk menghentikan teror pocong Marwi, Riki juga mengubur daging-daging, jeroan,tulang belulang milik Ki Suri dan Yuyun di satu liang lahat, karena sudah mulai menimbulkan bau busuk.


Setelah selesai menguburkan Ki Suri dan istri nya Riki juga bergegas menyeret tubuh pocong Marwi untuk masuk ke dalam rumah, agar tak ada yang melihat nya ataupun mengintai nya lagi Riki dengan susah payah menyeret-nyeret tubuh pocong Marwi karena memang tubuh nya sangat berat seperti besi baja, Geni yang sedang duduk di ruang tamu melihat ayah nya kesulitan memasukan pocong Marwi pun segera bangkit untuk membantu ayah nya.


Pocong itu pun di baringkan di depan pintu kamar, Riki segera memasangkan kembali tali pocong itu di tubuh Marwi.


"Kita apakan pocong ini ayah?" tanya Geni yang sedang memperhatikan ayah nya mengikat tali pocong .


"Ayah gak tau nak, tapi ayah sudah tidak ingin memelihara atau berurusan dengan pocong ini lahi nak, ayah sudah lelah" Jawab Riki sambil menatap wajah putri nya.

__ADS_1


"Apa kita kubur saja pocong ini yah?" tanya lagi Geni.


"Ayah sudah pernah melakukan nya dan ayah juga yang menghentikan nya saat itu bersama ibu mi" Jawab Riki.


"Kita lakukan saja seperti dulu ayah melakukan ritual nyatu raga" ujar Geni.


"Ayah ini sudah tua, kekuatan brajamusti ayah pun sudah melemah tidak seperti dulu saat masih muda,ayah tidak bisa terus menerus menjaga pocong sakti ini dan lagi ayah tidak ingin membahayakan kembali putri cantik ayah ini " jawab Riki .


"Asal kau tau anak ku, ada demit yang berwujud nenek tua yang sebenar nya adalah kekasih pocong ini, dia selalu mencari seseorang untuk membangkitkan kembali pocong Marwi dia adalah demit yang sangat licik" Sambung Riki.


"Lalu kita apakan pocong ini ayah?" tanya lagi Geni yang masih penasaran dengan apa yang ingin di lakukan ayah nya pada pocong Marwi.


Riki pun terdiam karena ia sendiri masih bingung apa yang harus dia lakukan.


Tak lama kemudian, sayup-sayup Riki mendengar suara bising dari kejauhan, itu seperti suara kereta fikir nya dalam hati, buru-buru Riki memanjat pohon mahoni yang sangat tinggi.


Walaupun Riki sudah tua namun karena ajian brajamusti milik nya tubuh nya masih ringan sehingga Riki sama sekali tidak kesulitan untuk memanjat pohon yang tinggi itu, benar saja sesampai nya Riki di atas pohon dia melihat sebuah kereta batu bara dari kejauhan, ternyata pemukiman pasar Induk lokasi nya sudah tidak jauh dari kawasan perkotaan, buru-buru Riki turun untuk memberitahukan putri nya.


Lalu Riki masuk lagi ke dalam rumah Ki Suri membawa beberapa potong umbi untuk di rebus...


"Nak... tadi ayah lihat ada kereta dari kejauhan kita buang saja pocong itu ke kereta nanti, lalu membiarkan kemana pocong itu pergi jauh" ucap Riki.


"Lalu kita akan kembali ke desa Reban, ayah sudah tidak peduli dan tidak mau lagi berurusan dengan pocong itu, biarkan saja kalau nanti ada yang mencabut atau membangkitkan lagi pocong itu yang penting pocong itu jauh dari desa kita... Ayah sudah lelah nak" sambung Riki sambil meniup tungku perapian agar api nya menyala.

__ADS_1


"Baik ayah kalau itu yang terbaik untuk ayah dan aku" jawab Geni sambil mengangguk menuruti saja apa yang di perintahkan ayah nya.


Lalu Riki dan Anak nya tinggal beberapa saat di rumah Ki Suri, hari demi hari tidak pernah Riki menemui seseorang pun yang kembali ke rumah nya di pemukiman pasar Induk, mungkin para warga masih belum ada yang berani untuk kembali ke desa nya karena takut akan keganasan pocong Marwi.


Tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari pintu depan rumah, buru-buru Riki membuka pintu rumah tersebut.


"Loh siapa kalian? Ki Suri dimana?" kata seorang lelaki yang umur nya kisaran 35 tahun.


"Aku Riki... kebetulan Ki Suri sedang pergi mencari potongan kayu bakar di hutan" jawab Riki dengan santai.


"Oh, kau sodara nya ya? kalau begitu apakah kau tau bagaimana sekarang keadaan pasar Induk? apakah pocong masih meneror pasar Induk" tanya lelaki tersebut yang ternyata adalah salah satu warga.


"Pasar mu kini telah aman, teror pocong itu telah di hentikan, kau bisa memberitahu warga lain nya untuk kembali kerumah nya masing-masing" ujar Riki sambil tersenyum tipis.


"Syukurlah pocong sialan itu telah di musnahkan, Ki Suri memang dukun yang bisa di andal kan" ucap lelaki itu, lalu ia pamit pergi.


Riki hanya tersenyum-senyum saja melihat tingkah laku pemuda tersebut, lalu dia kembali masuk ke dalam rumah.


"Nak, seperti nya para warga akan segera kembali ke desa nya, kita sudah harus meninggalkan rumah ini, dan membawa pocong Marwi pergi apakah kondisi mu kini sudah membaik nak?" tanya Riki yang duduk di sebelah anak nya .


"Aku sudah sehat ayah" jawab Geni singkat.


Lalu Riki beranjak pergi ke halaman belakang rumah Ki Suri, dia juga memotong satu buah pohon mahoni yang nanti kayu nya akan di jadikan gerobak roda kecil untuk membawa jasad pocong Marwi ke arah perlintasan kereta.

__ADS_1


__ADS_2