
Cerita tentang ke angkeran hutan gantarawang masih menjadi perbincangan bagi para warga desa bojong pinang mereka menganggap nya sebagai hutan keramat , setelah kepergian Riki, hutan itu memang tidak pernah sama sekali terjamah oleh manusia , tidak mungkin ada orang yang berani masuk ke hutan tersebut , karena bagi warga desa , hutan itu adalah tempat bersemayam nya pocong Marwi , kini hutan itu tak terurus lagi, pepohonan terus tumbuh menjulang tinggi dan besar , jalan setapak yang biasa di lalui warga untuk pergi berobat ke gubuk Riki kini telah hilang , tertutup oleh semak-semak rumput liar , hutan tersebut gelap dan rimbun menambah kesan keangkeran di dalam nya , rumor tentang pocong Marwi telah melekat kental di telinga para warga desa bojong pinang .
Di suatu hari , jauh dari desa bojong pinang , ada sepasang suami istri yang belum juga di karuniai anak , mereka bernama Bardu dan Munah , 10 tahun pernikahan nya , Munah belum juga di karuniai seorang anak , oleh karena itu kelakuan mereka berdua cukup meresah kan para orang tua di desa nya , mereka sangat terobsesi dengan anak kecil , bahkan kelakuan jail nya sampai bisa membuat anak kecil itu menangis , lari ketakutan .
Kehidupan Bardu dan Munah juga tidak begitu mapan , Bardu hanya penjual sayuran di pasar , sedangkan Munah hanya berdiam diri dirumah , kadang-kadang dia membantu suami nya berjualan , keadaan rumah nya pun cukup memprihatin kan , rumah nya terbuat dari kayu , itu pun sudah dalam posisi miring dan hampir rubuh , atap nya sudah banyak yang bolong , terkadang kalau hujan nya cukup besar mereka berdua mengungsi ke sebuah mushola desa , penghasilan Bardu berjualan di pasar , memang hanya cukup untuk makan sehari-hari , makannya Bardu belum mampu untuk merenovasi rumah nya tersebut .
__ADS_1
Ke esokan hari nya , seperti biasa Bardu bangun jam 3 pagi untuk segera berangkat ke pasar , dia mengambil dulu beberapa sayuran dari tetangga nya yang memang seorang petani, setelah terjual biasa nya Bardu baru memberi hasil storan kepada pemilik sayur tersebut, kalau ada yang tidak terjual , pemilik sayuran pun tidak keberatan untuk mengembalikan nya kembali , kadang dia beri untuk makan Bardu dan Munah , suasana pasar seperti biasa , cukup ramai , dan banyak lalulalang kendaraan roda dua , namun sampai menjelang pagi , dagangan Bardu belum juga di kunjungi oleh pembeli , pada pukul 6 pagi , tiba-tiba saja Bardu di datangi pembeli misterius , dia seorang nenek-nenek memakai jubah putih, kepalanya di tutupi juga dengan sorban berwarna putih , dia menghampiri dagangan Bardu sambil terlihat sedang memilih "Silahkan nek sayuran segar nya" kata Bardu menawari dagangan nya tersebut , tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja nenek itu berkata "kalau kau ingin segera di karuniai anak , dan juga dagangan mu laris manis atau kau ingin kaya raya , datang lah bersama istri mu ke hutan gantarawang , kau harus melakukan sebuah ritual disana , kalau kau bisa melakukan nya maka segala keinginan mu akan segera terpenuhi" , jelas saja Bardu kaget dan tak percaya apa yang di omongkan nenek tua tersebut , Bardu menyangkal omongan nenek itu, dan menganggap itu sebagai sebuah candaan , namun tiba-tiba saja nenek itu menunjukan kesaktian nya , dia dapat mengubah beberapa lembar daun sayuran menjadi uang , melihat kesaktian nenek tua tersebut , Bardu terdiam terkagum-kagum "Baik nek , akan saya lakukan apapun ritual nya , saya akan pergi ke hutan gantarawang bersama istri saya" jawab Bardu, kini dia percaya 100 persen pada perkataan nenek tua tersebut , walaupun Bardu benar-benar tidak tahu bahkan tidak pernah melihat nenek tua tersebut di pasar , tapi dia akan melakukan apapun demi segera mempunyai anak . "Baik lah kalau begitu , nanti malam kau datang bersama istri mu , bawa kembang tujuh rupa dan kemenyan dan membawa ayam cemani, lalu kau potong ayam itu dan mencampurkan darah nya ke air yang akan kau gunakan untuk mandi , kau harus mandi di tengah hutan sebanyak tiga kali , kalau kau berhasil aku menemui mu di hutan" pinta nenek tua tersebut, lalu nenek tua tersebut memberi tau namanya , dia adalah nenek Liman , dan tinggal di tengah hutan gantarawang , lalu dia pergi tanpa pamit dan tiba-tiba saja menghilang .
Ah kalau cuman begitu doang syarat nya itu sih gampang , fikir Bardu, dia sangat senang maka dari itu siang itu pula dia langsung membereskan dagangan nya dan pulang menemui istri nya memberi kabar pada istrinya tersebut . Setiba nya Bardu di rumah ternyata istrinya sedang tidur pulas di sofa ruang tamu , Bardu langsung membangunkan istri nya tersebut "buu...buu.. bangun bapa dapet kabar gembira" kata Bardu sambil mengoyangkan tubuh istri nya "duuuhhh bapa... ko udh pulang ? Emang dagangan nya udah habis , tumben bapa jam segini udah pulang" jawab istri nya yang belum penuh sadar , "gini bu.. tadi dagangan bapa di datangin nenek-nenek sakti , nenek itu bisa tau kalau bapa belum punya anak , dan juga nenek tua tersebut bisa ngubah daun sayur jadi uang loh bu, ini liat...." kata Bardu yang masih merasa senang memberi kabar ke istrinya tersebut "nenek itu minta untuk bapa sama ibu melakukan ritual mandi kembang di tengah hutan gantarawang bu, setelah itu kata nenek tua tersebut segala keinginan kita bisa terkabul bu termaksud untuk kita segera mempunyai keturunan bu" sambung Bardu .
Awal nya Munah langsung menolak , dia tahu rumor tentang keangkeran hutan gantarawang , tapi Bardu dan Munah tidak tahu bahwa di sana adalah tempat nya pocong , karena cerita ke angkeran hutan gantarawang hanya di dengar nya dari mulut ke mulut para warga desa nya, Bardu tak pantang menyerah , dia terus membujuk , merayu dan meyakinkan istri nya bahwa tidak akan terjadi apa-apa nanti karena Bardu akan menjaganya , akhirnya Munah pun luluh dan menuruti saja kemauan suami nya itu , Bardu meminta Munah untuk mencari ayam cemani , dan juga beberapa kembang tujuh rupa , dan Bardu akan mengambil air ke sungai menggunakan jerigen .
__ADS_1
Mereka langsung mempersiapkan ritual mandi kembang nya , Munah menyiapkan air kembang dan membakar beberapa menyan ,sedangkan Bardu , mulai memotong ayam cemani , dan memeras darah ayam tersebut untuk disatukan ke dalam air , setelah semua nya siap , Munah telah berganti pakaian hanya menggunakan kain , dan Bardu hanya menggunakan celana pendek , mereka berdua harus mandi bersamaan , banjuran pertama mereka tidak merasakan apapun , banjuran kedua mereka mulai merasa dingin yang amat sangat sampai membuat tubuh mereka terasa kaku , sampai banjuran ketiga "BYUUURRRRR" tiba-tiba saja mereka berdua ambruk , tubuh mereka berdua serasa mati rasa dan tidak dapat menggerakan apapun , Munah mulai ketakutan "paakk, kenapa ini pak? Kenapa tubuh kita tidak bisa di gerakan" kata Munah dengan wajah yang panik "Bapa juga tidak tau Munah , apakah ini resiko kita melakukan ritual di tengah hutan keramat ini? Semoga ritual kita ini di terima Munah, sebentar lagi nenek Liman juga akan datang membantu kita" jawab Bardu sambil menenang kan istrinya , semalaman Bardu dan Munah hanya bisa terkapar , sampai menjelang pagi , nenek Liman tidak kunjung datang .
Matahari pun mulai terbit , Bardu dan Munah masih dalam keadaan yang sama , mereka terkapar di tengah hutan gantarawang , Bardu berusaha berteriak minta tolong , namun usaha nya itu sia-sia , karena memang hutan gantarawang tidak pernah terjamah oleh manusia, dan juga posisi mereka berdua yang cukup jauh dari pemukiman warga desa , mana mungkin ada warga yang tau bahwa ada sepasang suami istri yang terkena kualat di tengah hutan gantarawang , saat itu hanya ada koloni monyet yang bergelantungan dari dahan ke dahan , monyet-monyet di atas sana seperti sedang berkumpul , menyaksikan penderitaan Bardu dan Munah .
Hari pun mulai menjelang malam , seharian suntuk Bardu dan Munah terkapar di tengah hutan , mereka berdua memang tidak dapat merasakan apapun di tubuh nya , namun bisa merasakan lapar, kini Bardu dan Munah mulai lapar , karena sudah sehari semalam mereka hanya berbaring di tengah hutan "pa.. apa kita akan mati disini? Dalam keadaan seperti ini" tanya Munah, kini dia dalam keadaan pasrah , dan mulai menangis sejadi-jadi nya , perut nya pun mulai merasa keroncongan "tenang Munah, kita pasti akan selamat, nenek Liman pasti akan menolong kita , karena kita telah berhasil melakuksn ritual nya itu" jawab Bardu yang berusaha menenangkan Munah, dalam hati kecil Bardu pun tidak tahu, apakah mereka akan benar bisa selamat , atau nenek Liman hanya mengerjai nya saja , tapi hal itu tidak di ungkap kan Bardu karena tak ingin membuat istrinya semakin sedih dan merasa putus asa . Nasib nya kini sudah berada di ujung tanduk hanya kehadiran nenek Liman saja lah yang ia harapkan .
__ADS_1
Di malam kedua , demit gantarawang mulai berdatangan menampakan wujud nya kepada Bardu dan Munah , demit itu menyaksikan penderitaan Bardu dan Munah ada yang tertawa suara nya melengking samai terngiang ngiang di telinga , ada juga yang meraung seperti macan membuat gema di sekitar , wujud para demit itu berbagai macam dan juga sangat mengerikan , ada yang bertubuh ular tapi kepala nya manusia , ada yang wujud nya raksasa hingga melampaui pepohonan , ada juga genderuwo yang bulu nya sangat lebat bergelantungan di dahan pohon. Mereka semua seolah senang melihat penderitaan yang Bardu dan Munah alami . Tak jauh dari tempat Munah terkapar , Bardu melihat ada seekor ular yang mulai berjalan mendekati Munah, Munah berteriak-teriak histeris , Bardu terus menenangkan istrinya untuk meminta nya untuk tenang dan diam , ketika ular tersebut semakin mendekat , Munah malah semakin kencang berteriak diiringi dengan tangisan sejadi-jadi nya . Ular itu berjalan merayap dari kaki Munah menuju badan nya , saat tiba di dekat wajah nya seketika saja Munah pingsan , Bardu terus berteriak memanggil nama Munah , namun tak ada respon dari istrinya tersebut , Bardu fikir Munah telah di gigit ular tersebut, ketika ular tersebut hendak mengigit pipi sebelah kiri , tiba-tiba saja ada yang mengambil badan ular tersebut lalu melemparnya kedalam semak-semak , ternyata itu adalah nenek Liman . "akhirnya nenek datang juga, kami fikir kami akan mati disini... tolong kami nek" Pinta Bardu , nenek Liman tidak membalas perkataan Bardu , dia malah menoleh ke sekeliling nya , nenek Liman menyadari akan kehadiran para demit yang sedang berkumpul menyaksikan penderitaan Bardu dan Munah "Pergii kalian semua!!!" kata nenek Liman mengusir para demit , para demit itu pergi berterbangan , setelah itu nenek Liman menyuruh Bardu untuk bangun , ajaib nya tubuh nya kini bisa di gerakan , dia bisa bangun , dan segera memakai kembali pakaiannya "sadarkan istri mu dia hanya pingsan" jelas nenek Liman , lalu Bardu menggoyang-goyangkan tubuh istri nya sambil menepuk-nepuk wajah istrinya tersebut akhirnya Munah sadar , "pa ko kamu bisa bangun?" Tanya Munah yang masih kebingungan "iya Munah , nenek Liman sudah datang , kamu juga pasti sudah bisa gerak , bangun lah dan aku bantu untuk menganti pakaianmu" akhir nya Bardu memapah istri nya sambil membantunya menggantikan pakaian , kondisi Munah saat itu memang sudah sangat lemah karena dia sudah 2 hari tidak makan atau pun minum , ditambah syok tadi karena ular , berbeda jauh dengan kondisi Bardu yang sudah lebih siap mental , karena dia sudah tau dan menerima segala resiko nya melakukan ritual di tengah hutan keramat ini demi mendapatkan keturunan "bawa istri mu, dan ikuti aku..." pinta nenek Liman , "pa, apa ga sebaiknya kita batalkan saja dan pulang, kejadian ini aja udah hampir bikin kita mati di tengah hutan pa" kata Munah berbisik ke suaminya "kita sudah berhasil melakukan ritual pertama Munah, aku yakin kita akan baik-baik saja" jawab Bardu yang saat itu sedang memapah istrinya dan mengikuti arahan dari nenek Liman , mereka berdua lalu melanjutkan berjalan masuk ke dalam hutan gantarawang