Teror Pocong Marwi

Teror Pocong Marwi
Eps.25 Pekerjaan Baru Untuk Geni


__ADS_3

Kini gua itu tak lagi aman bagi tempat persembunyian Geni, Geni pun pergi meninggalkan gua itu dengan membawa kepala pocong Marwi dan juga kris sakti . Entah kemana gadis itu akan pergi , langkah nya terus berjalan tanpa tujuan pasti , selang beberapa lama Geni berhasil keluar dari hutan , dia berjalan di sebuah jalanan desa yang sepi dan gelap , karena saat itu masih pukul 2 dini hari , hanya remang-remang cahaya bulan saja yang menemani langkah kaki Geni .


Sementara itu , Sakti yang masih memecut kuda nya dengan sangat keras agar kuda itu lari dengan cepat menuju hutan gantarawang , Sakti tak sabar untuk memberikan kepala Marwi pada nenek Liman . Beberpa jam kemudian , Sakti tiba di hutan gantarawang , dia langsung menuju gua tempat nenek Liman bersemayam , disana Sakti terus memanggil-manggil nama nenek Liman dari bibir gua, namun perempuan tua itu tak kunjung datang keluar menemui nya , karena penasaran Sakti membawa obor dan masuk ke dalam gua tersebut , ternyata nenek Liman tak ada di dalam , beberapa kali juga dari dalam gua Sakti berteriak memanggil nama nenek Liman , namun tetap saja tak ada tanda-tanda akan kehadiran nya perempuan tua tersebut .


Lalu Sakti duduk di atas batu , ia melihat buntelan yang ia bawa , dia sangat penasaran seperti apa wajah dari pocong Marwi itu .


Lalu dia pun membuka bungkusan kain tersebut, dan seketika saja Sakti terkejut melihat isi buntelan yang ia bawa, dalam buntelan itu hanya ada batok kelapa . Sakti marah , dia membanting batok kelapa itu dan membakar kain pembungkus nya , dia berteriak tak karuan , pantas saja nenek Liman tak mau menampakan wujud nya, ternyata yang Sakti bawa hanyalah sebuah batok kelapa dia sangat marah dengan gadis di hutan belantara tersebut .


Tak ada cara lain , Sakti akan balik lagi ke hutan tersebut dan segera mengambil kepala pocing Marwi , ia yakin bahwa kepala pocong itu pasti di sembunyikan di dalam gua nya. Maka malam itu juga dia memacu kuda nya kembali untuk balik lagi ke hutan tempat Geni bersembunyi .


Sementara itu , Geni sudah berjalan jauh meninggalkan hutan dan tak terasa , Geni sudah berada di sebuah pasar , di sepanjang jalan nya Geni terkagum-kagum karena sudah ada beberapa bangunan bagus yang besar dan tinggi juga ada beberapa tenda para pedagang yang berjejer rapih di pinggir jalan .


Saat itu memang suasana pasar sedang sepi , karena memang masih tengah malam . Di ujung jalan bangunan besar itu Geni melihat ada salah satu ruko yang lampu nya menyala , dari kejauhan juga Geni mendengar sayup-sayup orang ramai yang sedang tertawa terbahak-bahak , Geni berjalan perlahan mendekat kesana , ia sangat berhati-hati ... sesampai nya Geni di ruko itu , Geni mengintip dari celah jendela yang berada di samping bangunan tersebut , dan tampak lah banyak kerumunan orang yang ada disana , orang-orang disana seperti nya sedang berjudi, meja perjudian berjejer dimana-mana . Selain itu Geni juga melihat banyak wanita yang menggunakan kebaya ketat dengan kain batik pendek bisa di bilang para wanita itu berpakaian seksi , para wanita itu seperti sedang melayani orang yang sedang berjudi , tugas wanita itu seperti menyuguhkan minuman tuak dan mendampingi para lelaki saat berjudi .

__ADS_1


"Tempat apa ini" tanya Geni di dalam hati , soal nya Geni tidak pernah melihat tempat seperti ini di desa Reban . Kemudian Geni melihat seorang lelaki yang rambut nya sebahu dia berjalan seperti hendak keluar dari dalam ruko, buru-buru Geni pergi menjauhi tempat tersebut dia tidak mau ada orang yang memergoki nya, Geni berjalan menjauh dari ruko itu, Geni sangat kelelahan , tapi dia bingung mau tidur di mana . Tak jauh dari ruko tadi , Geni melihat ada sebuah kuda yang membawa gerobak , di dalam gerobak itu di penuhi dengan jerami sedangkan kuda nya di ikat di sebuah pohon yang cukup besar . Segera Geni mendekati kuda itu , untuk sementara Geni akan beristirahat disana fikir nya saat itu , Geni segera menaiki gerobak tersebut dan menimbun kepala pocong Marwi dengan beberapa jerami , dia juga membaringkan badan nya dan menutupi nya juga dengan jerami , hanya bagian wajah nya saja lah yang tidak di tutupi oleh jerami, tak butuh waktu yang lama , Geni pun tertidur dengan sangat pulas . Ini adalah malam yang panjang bagi Geni .


Keesokan pagi nya , Geni di bangun kan oleh suara rengekan kuda , buru-buru Geni bangun dan segera mengambil buntelan kepala Marwi , Geni yang masih setengah sadar itu masih mengucek-ngucek kedua mata nya .


"Hey turun kau , dasar gembel pemalas" tiba-tiba ada seorang lelaki yang umur nya kisaran 45 tahun , menghampiri Geni , lelaki itu berjalan menghampiri Geni sambil mengangkat lengan nya seakan hendak memukul Geni , buru-buru Geni loncat dari gerobak , dan lari terbirit-birit menjauh dari lelaki tersebut .


"Lain kali jangan datang ke Pasar Induk , kalau mau jadi orang pemalas" Bentak si lelaki tua itu dari kejauhan, ternyata pasar yang di datangi Geni bernama pasar Induk, memang pasar itu cukup besar , dan banyak sekali pengunjung nya . Ternyata Geni berlari memasuki komplek pasar , perut nya sangat lapar , tapi tak ada satu pun yang perduli pada nya , penampilan Geni memang seperti gembel , dia membawa tas dari karung yang terlihat sangat kotor yang isi nya adalah kris sakti dan juga menenteng sebuah buntelan kepala pocong di tangan kiri nya .


Saat itulah , tiba-tiba terfikir dari dalam benak Geni untuk masuk ke dalam ruko yang semalam ia lihat


Saat Geni masuk ke dalam ruko , tiba-tiba saja semua orang yang ada di dalam ruko , tatapan nya langsung tertuju pada Geni , gadis itu perlahan berjalan masuk melewati orang-orang yang sedang asik berjudi , tenggorokan nya sangat kering , Geni sangat haus dan kelaparan , lalu Geni berhenti di meja pelayan , ada lelaki gendut berkulit hitam yang berdiri di belakang meja itu .


"hai adik manis... kau mau mencari apa kesini?" tanya lelaki itu sambil menggoda Geni . Walaupun Geni berpenampilan seperti gembel , dengan pakaian nya yang terlihat sangat kotor dan rambut nya yang acak-acakan , tapi penampilan nya tak menghilangkan wajah cantik nya . Geni memiliki bentuk tubuh yang anggun , rambut nya terurai panjang , bentuk kulit nya putih ke kuning-kuningan , karena dia memiliki keturunan ningrat dari ibu nya , dengan lesung pipit di pipi kanan nya , kecantikan Geni tidak pudar saat di lihat .

__ADS_1


"Mas... saya lapar, tolong beri saya makanan kalau pun harus jadi tukang sapu disini , saya mau asalkan saya di beri makan" Ujar Geni dengan nada bicara nya yang sangat melas .


Lelaki gendut itu tidak menanggapi perkataan Geni, dia malah membalikan badan sambil berjalan ke dapur lalu membuka rak , lelaki gendut itu mengambil 2 buah pisang ambon , lalu memberikan nya pada Geni .


"Ayo... Silahkan di makan" kata lelaki itu sambil tersenyum genit , ragu-ragu Geni mengambil pisang di atas meja , namun rasa lapar nya itu sudah tidak tertahan kan . Geni langsung mengambil pisang itu dan memakan nya , namun nampak nya ada yang aneh saat itu , Geni tidak membuka kulit pisang nya melainkan langsung di makan nya bulat-bulat , si lelaki gendut itu terheran-heran melihat tingkah laku gadis di hadapan nya .


"Kamu dari mana? kok bisa ada di sini ?" tanya si lelaki gendut , ia menatap Geni yang sedang memakan pisang dengan sangat lahap . Geni tidak menjawab pertanyaan nya , Geni enggan menjawab tentang asal-usul nya , namun lelaki itu tidak marah saat pertanyaan nya tidak di jawab oleh Geni , dia malah menawarkan pekerjaan pada gadis tersebut .


"Di Bar ini kebetulan lagi ada lowongan kerja untuk jadi pelayan tamu, kalau kamu mau... Nanti malam kamu bisa langsung kerja." ucap si lelaki gendut "ohiya... kenal kan nama ku Bonti" sambung nya .


Geni malah menahan tawa , menutup mulut nya dengan kedua tangan nya mendengar nama yang aneh itu .


"Ih kamu malah ketawa. Jadi gimana apa kamu mau kerja di sini?" tanya si lelaki gendut itu .

__ADS_1


"iya. Aku mau" jawab Geni dengan singkat , namun belum juga kerja , Geni malah minta tambahan makanan lagi dia masih lapar . Bonti pun pergi kembali ke dapur , untuk mengambil beberapa roti dan di berikan pada Geni , tapi tetap saja , setelah Geni memakan roti-roti tersebut , dia masih merasa lapar , Geni pun tidak mengerti apa yang terjadi pada nya , namun makanan yang ada di dapur saat itu sudah habis akhir nya Bonti memberikan Geni sejumlah uang , Bonti menyuruh Geni membeli sendiri makanan yang ia mau ke pasar induk .


Lalu Geni berjalan masuk menuju arah gudang , dan menyimpan buntelan kepala pocong dan juga tas yang berisi kris sakti nya ke dalam laci yang sudah tidak di gunakan , lalu Geni berjalan keluar menuju pasar induk .


__ADS_2