
"Lain kali kalau mau menakut-nakutin orang mangkal nya di kuburan saja bukan masuk ke dalam Bar" ucap Bonti sambil tertawa.
"Ini... Minum tuak dulu bos biar segar" sambung Bonti sambil menyodorkan sebotol minuman.
Pocong Marwi tidak merespon sama sekali, tatapan nya kosong dan tiba-tiba saja Bonti yang berdiri di hadapan Marwi dia berteriak kesakitan sambil memegangi perut nya, Bonti terjatuh ambruk, semua pengunjung yang ada disana kaget dan langsung mengerumuni Bonti, lelaki itu meringkuk kesakitan darah mengalir membasahi baju nya, buru-buru Bonti membuka baju nya, percaya tidak percaya ada sebuah lubang sebesar kelereng di perut Bonti menembus hingga ke punggung nya darah terus mengalir dari perut Bonti, tangan nya meraih pada setiap tamu yang sedang mengerumuni nya meminta tolong namun tak ada seorang pun yang berani mendekati Bonti mereka semua malah mundur beberapa langkah menjauhi Bonti dengan wajah ketakutan.
"BRUUAAAKKK" seluruh pintu dan jendela tertutup dengan sendiri nya, pengunjung bar pun panik lari berhamburan, lalu pocong yang sedang berdiri di tengah-tengah bar berdiri sekarang giliran pocong itu yang tertawa terbahak-bahak suara nya begitu besar hingga membuat getaran kecil di bar, tak butuh waktu yang lama pocong Marwi berhasil membantai para pengunjung Bar, tak ada satupun yang dapat meloloskan diri karena seluruh akses jalan keluar bar telah tertutup rapat-rapat.
Marwi terbang meludahi para pengunjung ada pula Marwi langsung menerkam nya dengan mengigit leher nya seperti seorang yang sedang di terkam binatang buas, suara teriakan para pengunjung bar begitu ramai seperti sedang mengadakan konser, mereka semua ada yang berteriak minta tolong ataupun berteriak kesakitan seperti seseorang yang sedang di siksa.
Beberapa saat kemudian, suara-suara itu menghilang, kini hanya keheningan di dalam bar kepala manusia tergeletak dimana-mana potongan-potongan tubuh manusia pun tercecer di berbagai sudut ruangan, masih ada seseorang yang masih hidup di dalam bar itu, dia adalah seorang wanita penghibur, tubuh nya meringkuk di sudut ruangan, tubuh wanita itu di penuhi bercak darah, dia menyaksikan pembantaian yang sangat mengerikan terjadi di dalam bar, wanita itu juga melihat bagai mana pocong itu menghabisi seluruh pengunjung bar, tubuh nya di cabik-cabik dan darah nya di hisap sampai habis, dia kini pasrah kalau harus mati di dalam bar tersebut.
Mendengar lirih suara tangisan wanita tersebut, Marwi pun menyadari nya, perlahan pocong Marwi itu melayang mendekati wanita tersebut.
__ADS_1
"Tolong... Jangan bunuh aku, ada tiga orang anak yang masih kecil di rumah ku juga ibu ku sudah tua untuk menanggung mereka, tolong ampuni aku" ucap perempuan penghibur itu sambil menangis.
Namun pocong Marwi yang tak kenal ampun terhadap mangsa nya tidak menghiraukan ucapan wanita tersebut, lalu wanita itu pun tewas saat leher nya di terkam, lalu Marwi menghisap darah nya sampai kering kerontang, tak ada satu pun yang selamat di dalam bar, lalu pintu dan jendela bar pun kembali terbuka.
Keesokan pagi nya, jelas saja para warga pasar Induk geger melihat keadaan bar potongan tubuh berceceran dimana-mana seperti korban mutilasi dan juga bar itu di penuhi darah di lantai maupun di tembok-tembok nya, ada yang menduga pembantaian itu adalah ulah perampok, namun ada juga yang meyakini bahwa itu adalah ulah dari mahluk ghaib, sebagian warga di sekitar pasar mulai cemas, mereka tentu takut akan menjadi korban berikut nya.
Dan benar saja, kecemasan itu pun terjadi, pocong Marwi tiap malam hari berkeliling mengitari pemukiman pasar induk, dia akan membantai rumah yang terbuka dan menyala menerkam siapapun yang ada di dalam rumah, adapun warga yang berada di luar rumah di ludahi oleh nya sampai kepala nya membusuk, para warga pasar Induk kini menyadari bahwa ada pocong yang mulai meneror mereka, oleh sebab itu lah saat hari masih siang benderang para warga berbondong-bondong mendatangi rumah Ki Suri untuk minta tolong menghentikan pocong tersebut, awal nya Ki Suri enggan membukakan pintu, Ki Suri sudah menyadari bahwa pocong itu akan meneror pemukiman pasar Induk, seorang lelaki masih terus menggedor-gedor pintu rumah Ki Suri warga yang lain nya berteriak memohon Ki Suri untuk keluar.
Akhirnya Ki Suri pun membuka kan pintu rumah nya, wajah lelaki tua itu pucat sekali tubuh nya pun semakin kurus.
"Ki.. Tolong kami ki, ada pocong di pasar Induk" jawab salah satu warga.
Ki Suri malah menampakan wajah kesal, dia sebenar nya malas membantu warga, dia lebih mementingkan diri nya sendiri , tapi setelah Ki Suri memikirkan nya kembali, kecemasan warga itu bisa ia jadikan bisnis yang sangat menguntungkan bagi Ki Suri, akhirnya Ki Suri menjual garam yang telah di rapalkan mantra-mantra, setiap warga di kenakan biaya 100 perak untuk sekantung garam yang di anggap Ki Suri dapat menangkal gangguan demit, padahal Ki Suri pun masih ragu apakah garam itu ampuh atau tidak untuk pocong sakti tersebut, yang penting bagi Ki Suri adalah mencari keuntungan dari kecemasan warga, dia mendapatkan banyak uang dari hasil penjualan garam nya itu.
__ADS_1
Satu hari kemudian, ternyata garam dari Ki Suri itu tak bisa menyelamatkan warga dari teror pocong Marwi, satu persatu para warga pasar Induk mati di terkam pocong dan warga yang masih selamat kembali berbondong-bondong menuju ke rumah Ki Suri untuk protes, lelaki tua itu pun berdalih bahwa kekuatan pocong tersebut sangat besar, sehingga garam yang telah ia rapalkan mantra tak mampu menangkal dan menyelamatkan mereka, Ki Suri malah mengarahkan mereka untuk meninggalkan kawasan pasar Induk untuk segera mengungsi jika masih mau hidup, karena dia tidak menyanggupi jika harus berhadapan dengan pocong yang sangat sakti tak ada yang dapat menghentikan nya ujar Ki Suri.
Akhir nya para warga menurut dengan apa yang di ucapkan oleh Ki Suri. Warga yang masih selamat pun hari itu juga pergi berkemas meninggalkan kampung mereka mengungsi ke tetangga desa ada pula yang pergi menjauhi pasar Induk.
Pasar Induk pun sepi tak berpenghuni para warga nya telah pergi mengungsi seperti desa Bojong Pinang dulu, para korban bergeletakan dimana-mana, saking takut nya warga tak ada yang berani untuk menguburkan jasad para korban keganasan pocong Marwi. Tak ada lagi aktifitas jual beli di pasar Induk, pasar itu yang dulu nya ramai kini terlihat seperti pasar setan.
berbeda hal nya dengan Ki Suri, di penghujung jalan pasar Induk, dia masih tinggal di dalam rumah nya dia tidak pergi mengungsi, pocong itu tak berani mendekati rumah nya sudah jelas bukan karena garam yang ia taburi di sekeliling rumah nya, melainkan ada kris sakti milik Geni, kris itu memang sangat di takuti oleh pocong Marwi.
Malam yang di tunggu-tunggu Ki Suri pun tiba, dia sangat tidak sabar ingin segera membangkitkan istri nya itu ini adalah purnama di malam Jumat, kebetulan malam ini juga menjadi ritual terakhir dia akan mengucurkan darah Geni di tubuh mayat istri nya tersebut.
Melihat kondisi Geni sekarang sangat memprihatinkan dia sangat terpuruk, tubuh nya sangat kurus kering, ikatan yang di lakukan Ki Suri sangat kencang sehingga kini membuat tangan dan kaki Geni memar terluka, wajah Geni sangat pucat, lingkar mata nya hitam, bibir nya kering karena Ki Suri hanya memberi nya makan sehari sekali, Ki Suri takut kalau Geni bertenaga dia akan mengeluarkan kembali ajian brajamusti walaupun tubuh Geni belum kuat untuk menahan ajian brajamusti walaupun singkat kalau Ki Suri terkena satu pukulan brajamusti saja tubuh lelaki tua itu pasti akan hancur berkeping-keping makan nya Ki Suri tak memberi Geni cukup makan.
Gethok di tubuh Geni pun tak bisa berkutik, Ki Suri telah mengikat Gethok itu dengan mantra yang ia punya. Setelah membaca mantra dan membakar kemenyan di atas sebuah mangkuk Ki Suri berjalan mendekati Geni, ia membawa pisau kecil yang sangat tajam pisau itu memang biasa ia gunakan untuk melukai Geni dan mengambil darah nya, Geni menangis sesenggukan saat lelaki tua itu mendekat padanya, kain sarung yang di gunakan Geni di buka oleh Ki Suri , dan tampak lah paha Geni yang sudah di penuhi oleh luka sayatan, luka itu sudah mengoreng mengeluarkan nanah tak jarang pula lalat sering mengerumuni luka Geni.
__ADS_1
"Ku mohon hentikan, jangan sakiti lagi aku" lirih Geni, suara nya serak tenggorokan nya kering, dia tak sanggup lagi berteriak. Jelas Ki Suri mengabaikan perkataan Geni, dia sudah buta hati padahal ritual itu hanya ia dapatkan dari mimpi tapi Ki Suri sangat percaya akan mimpi nya tersebut .