
Malam pun tiba , Bonti memberikan Geni kain batik dan kebaya , dia menyuruh Geni untuk segera mandi dan mempercantik dirinya , dia meminta Geni untuk memakai kebaya seksi nya , karena semakin perempuan di bar itu seksi maka akan semakin banyak juga tamu yang datang .
Saat nya Geni untuk bekerja , saat sudah mengenakan pakaian seksi nya , dia keluar dari kamar nya dan menuju ke tempat perjudian , Geni tampak sangat cantik sekali , dengan kebaya dan kain batik yang ia gunakan . Hampir semua orang yang ada di meja perjudian , memandang Geni dengan tatapan kagum , hampir semua lelaki yang ada di bar , terpesona melihat kecantikan Geni . Lalu Geni berjalan perlahan menuju meja tempat Bonti , dan mengambil sebotol tuak , Geni lalu menawarkan tuak tersebut kepada para tamu yang ia hampiri , namun para tamu di meja yang lain nya berebut ingin membeli tuak yang Geni bawa , hingga akhir nya Bonti berteriak barang siapa yang berani membeli tuak dengan harga mahal , maka Geni akan mendampingi nya , lalu perebutan itu di menangkan oleh seorang lelaki , dia bernama Ardi , dia adalah seorang pemuda yang kecanduan berjudi , namun rupa nya tak sebagus dompet dan nama nya , wajah nya di penuhi dengan luka bakar , dan hidung nya sedikit mentereng dan miring , untung nya masih ada lubang nya sehingga ia masih bisa bernafas . Lalu Ardi menarik lengan Geni , untuk duduk di samping nya menemani nya berjudi , Geni pun tidak keberatan , karena memang itu lah pekerjaan nya .
Geni lebih banyak diam , tak membuka percakapan apapun dengan Ardi , sambil memperhatikan permainan judi qiuqiu di hadapan nya , kebanyakan bandar-bandar judi di sana adalah keturunan Tionghoa , mereka lah yang memperkenal kan permainan judi di Indonesia kala itu .
Saat Geni sedang bekerja menemani tamu nya duduk di meja perjudian , entah kenapa ia merasa lapar kembali , padahal baru saja sebelum mandi dia sudah memakan nasi, tapi entah kenapa rasa lapar nya tak mau hilang .
Beberapa saat kemudian , tiba-tiba saja Ardi berteriak sorak gembira , karena dia memenangkan permainan judi tersebut , buru-buru Ardi memasukan tumpukan uang koin kedalam kantong kain berwarna hitam , dia masih tertawa-tawa bahagia sambil memeluk Geni , tapi yang di peluk diam saja , Geni tidak perduli dengan kemenangan Ardi .
Sementara itu para pemain lain malah menepuk jidat nya sendiri , mereka kesal karena uang nya habis sekejap mata dalam permainan judi itu. Setelah menang banyak , Ardi tidak ingin bermain kembali , ia malah mendatangi Bonti dan membisikan sesuatu pada lelaki gendut itu , Ardi lalu memberi Bonti beberapa keping uang koin nya , lalu lelaki gendut itu memanggil Geni , dia menyuruh Geni untuk naik ke lantai dua , ada pekerjaan lain yang harus Geni lakukan, sebelum Geni naik ke lantai dua , dia mengambil kepala pocong Marwi dan kris sakti nya , dia selipkan kris itu di belakang pakaian nya, Geni tidak ingin ambil resiko , dia ingin kepala pocong itu selalu aman dalam pengawasan nya .
__ADS_1
Setiba nya di lantai dua , Geni melihat ada koridor, disana berjejer banyak sekali kamar , ia di bawa oleh Bonti menuju salah satu kamar yang berada paling ujung . Perlahan Geni berjalan mengikuti Bonti , namun saat ia berjalan melewati kamar-kamar , dia mendengar ada suara desahan suara wanita dan erangan suara lelaki dari salah satu kamar tersebut , Geni mulai takut , untung saja ada kris yang Geni bawa di punggung nya untuk pertahanan diri .
"Sekarang kamu punya pekerjaan tambahan , yaitu jadi tukang pijat untuk pelanggan kita" ujar Bonti .
"Tapi... Aku tidak bisa memijat orang" timpal Geni .
"Tidak apa-apa Geni...cuman pijat-pijat biasa ko , nanti di dalam kamu juga bisa . Nanti aku kasih tambahan makanan yang banyak buat kamu" jawab Bonti sambil mencubit pipi Geni .
Geni malu-malu dia hanya menundukan wajah nya ,sementara Ardi membuka baju nya dan berbaring di atas ranjang , ada botol minyak di atas meja , Geni pun mengambil nya, kemudian mengoleskan minyak itu di punggung nya Ardi . Si Geni mulai memijat, namun semakin lama tingkah Ardi semakin mencurigakan , dia mengelus-elus paha Geni , sesekali gadis itu menepis tangan Ardi , namun lelaki itu malah semakin berani , Ardi membalikan badan nya dan mendorong Geni , lalu menindih tubuh gadis itu , Geni berteriak meminta tolong, tapi tidak ada seorang pun yang datang ke kamar nya , dari awal semua nya telah di rencanakan oleh Bonti dan juga Ardi .
Ternyata bar ini selain menjadi tempat perjudian , juga menjadi sarang prostitusi . Saat Ardi masih berada di atas tubuh Geni , sambil menggerayangi tubuh nya , Geni masih berusaha mengambil kris yang ada di belakang punggung nya, namun tidak berhasil , tubuh Ardi yang besar membuat Geni sulit untuk bergerak .
__ADS_1
Lalu lelaki itu hendak merobek kebaya yang di gunakan Geni, gadis itu benar-benar terdesak , dia tidak dapat melawan sama sekali . Namun tiba-tiba saja Geni berhenti meronta-ronta , dia malah tertawa terbahak-bahak , mata nya kini berubah menjadi merah menyala , Gigi nya memanjang runcing seperti gigi hiu , ada lendir yang menjijikan keluar dari mulut nya , suara Geni juga berubah drastis menjadi sangat mengerikan . Sekujur tubub Geni pun berubah menjadi putih pucat seperti mayat yang tidak di kuburkan selama berhari-hari , urat-urat berwarna hitam menonjol di wajah nya .
Nafsu nya lelaki itu tiba-tiba saja menciut saat melihat wujud Geni saat itu yang sangat mengerikan , Ardi berdiri dan hendak kabur , namun dengan cepat Geni menggigit leher lelaki tersebut sampai jakun di tenggorokan nya keluar, Geni mengunyah tenggorokan , tentu saja Ardi tewas seketika . Dengan cepat dan sangat rakus , Geni memakan tubuh Ardi hingga hanya tersisa tulang belulang nya saja .
Tak lama setelah Geni menghabisi tubuh Ardi , gadis itu pun tersadar kembali, dia kaget saat melihat tulang belulang manusia yang berceceran di lantai , wajah Geni di penuhi darah , ia mengusap darah di wajah nya dengan seprai kasur . Segera Geni berdiri dan berjalan menuju cermin yang menempel pada dinding, cermin itu sedikit buram , tapi masih bisa memantulkan wajah Geni, aneh nya di dalam cermin tersebut , Geni malah melihat wajah nya sedang tersenyum mengerikan dengan gigi-gigi yang sangat tajam . Padahal asli nya Geni sama sekali sedang tidak tersenyum , dia masih membersihkan darah pada wajah nya .
Geni menampar wajah nya sendiri untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi , sekali lagi Geni melihat wajah nya di dalam cermin , namun tetap saja , dia masih melihat hal yang sama pada cermin tersebut . Entah apa yang terjadi pada tubuh Geni , ajaib nya sekarang Geni malah merasa sangat kenyang, rasa lapar yang aneh itu kini sudah hilang .
beberapa jam kemudian , ada seseorang yang mengetuk-ngetuk pintu kamar nya .
"Geni... Buka Pintu nya" Itu adalah suara Bonti . Nada bicara nya sangat tinggi , ternyata tadi ada orang yang mendengar teriakan Ardi seperti sedang di siksa , lalu seseorang itu melaporkan nya pada Bonti , segera Bonti lari menuju lantai dua untuk memeriksa nya . Dia terus menggedor-gedor pintu kamar tersebut meminta agar Geni segera membukakan pintu kamar nya .
__ADS_1
Geni panik , dia menoleh ke arah tulang belulang yang berceceran di lantai dan juga darah di mana-mana , saat itu Geni benar-benar kebingungan entah apa yang harus di lakukan nya saat itu .