
Sejak pertemuan Gisel dan Bryan saat itu, sepertinya sekarang mereka jadi sring berpapasan, entah itu di lobi, ataupun cafe yang ada di apartement itu.
Bryan sepertinya sedikit penasaran dengan sifat Gisel, karena setelah dia amati beberapa saat ini, Gisel adalah orang yang tertutup, kemarin pun waktu mereka berpapasan di kampus, Gisel terlihat tidak banyak bicara, seperti banyak sekali beban yang ada pada dirinya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Gisel saat dia menyadari sedari tadi Bryan menatapnya.
"Tidak ada, aku tidak melihat mu, hanya saja sepertinya yang kamu pegang itu sangat enak." elak Bryan, tentu saja dia tidak mau jika Gisel berpikiran buruk tentangnya.
"Ini? kamu mau?" tanya Gisel kepada Bryan yang saat ini terlihat banyak berkeringat.
"Jika kamu mau berbagi, kebetulan sekali aku belum sarapan." ucap Bryan.
"Ambilah." ucap Gisel. Bryan yang melihat Gisel memberikan kotak bekalnya itu pun sontak tidak enak hati, bagaimana bisa Gisel benar-benar memberikannya, padahal itu dia buat untuk dirinya sendiri.
"Ah, tidak usah, aku hanya bercanda tadi." ucap Bryan yang tidak enak pada Gisel.
"Ambilah, tidak perlu sungkan. Lagi pula kamu sering membantu ku, hanya memberikan mu bekal ini bukanlah masalah besar bagi ku." ucap Gisel.
Gisel memang sudah menganggap Bryan temannya, karena selama ini Bryan sudah banyak membantunya. Saat ini sudah bulan ke 3 Gisel berada di Singapore sendirian tanpa sang kakak. Kakaknya sudah kembali ke Indonesia. Alina hanya 1 minggu berada di Singapore, karena ternyata perusahaan orang tuanya mengalami sedikit kendala, dan lagi, dia juga masih belum sidang akhir di kampusnya. Jadi mau tidak mau dia pulang lebih awal, dan harus berpisah dengan sang adik.
"Benar tidak apa? Iya sudah, terimakasih iya." ucap Bryan pada Gisel.
__ADS_1
Gisel hanya mengangguk menanggapi, setelah itu dia bsrpamitan untuk berangkat ke kampus, Gisel naik fasilitas umum yang tersedia disana.
Bryan yang melihat kepergian Gisel pun hanya tersenyum. Dia cukup baik. Batin Bryan.
Tentu saja dia berpikir begitu, awalnya dia mengira Gisel adalah orang kaya yang sombong seperti orang-orang lainnya, dan juga jika dilihat-lihat lagi, Gisel bukan mendekatinya karena ada maksud tertentu, saat ini dia sangat yakin, bahwa untuk menjadi teman Gisel bukanlah sesuatu yang mudah.
"Hai, jangan hanya dilihat, sebaiknya segera kita makan." ucap Candra.
"Enak saja, ini untuk ku, jika kamu mau makan, mengantri sana." tolak Bryan yang enggan memberikan bekal yang Gisel buat tadi.
Bryan pun langsung berjalan menuju ke kamarnya, sesampainya di kamar, dia langsung mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi, tubuhnya benar-benar terasa lengket dan gerah, karena sedari pagi dia sudah bekerja bersih-bersih.
Bryan sebenarnya bukanlah anak orang miskin, kedua orang tuanya sangat kaya dan bahkan kakak laki-laki nya pun sangat disegani oleh semua orang, wajar saja seperti itu, dengan umur yang masih 24 tahun, dia sudah menjadi Ceo disalah satu perusahaan ternama di Singapore. Yups benar sekali Bryan dan sang kakak sebenarnya berada di negara yang sama, hanya saja mereka jarang bertemu, dan lagi hubungan keduanya juga tidak terlalu dekat. Sang kakak yang sangat pendiam dan Bryan yang aktif membuat keduanya tidak pernah berada di jalan yang sama.
Bryan langsung menuju ke lemari dan mengambil celana panjang dan kaos biasa, setelah itu dia langsung duduk di kursi yang ada di meja belajarnya.
Dia mengambil kotak bekal yang tadi diberikan oleh Gisel. Dia membuka kotak itu dan ternyata isinya nasi goreng dengan nuget, sosis, telur dan sayuran segar. Sangat sesuai dengan selera Bryan.
Tanpa basa basi, Bryan pun langsung menyuap nasi itu kedalam mulutnya. Enak. ucapnya. Soal masak memasak Gisel memang sudah tidak bisa diragukan lagi, selama ini jika dirumah dialah yang memasak.
"Perempuan idaman." ucap Bryan lagi.
__ADS_1
*****
Sementara itu, di sebuah kantor didalam suatu ruangan, terlihat seorang pria berumur 24 tahun yang sepertinya sangat sibuk dengan berkas kantornya.
Alexander, seorang Ceo muda yang sudah sukses dan tengah naik daun saat ini, seorang pria yang workholic atau pekerja keras, terlihat bergekimang harta bukan berarti dia bahagia, terlahir dari keluarga kaya raya membuatnya dan sang adik terpaksa harus hidup mandiri, walaupun dilengkapi dengan semua fasilitas, tapi tetap saja, dia dan adiknya tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua mereka. Tapi nasibnya dan sang adik berbeda. Dia dituntut untuk menjadi seseorang yang sempurna, sangat berbeda dengan adiknya, adiknya masih mendapat kasih sayang dari sang kakek dan nenek mereka. Sementara Alex, dia selalu belajar, belajar dan belajar. Jadi wajar saja jika saat ini dia bisa mendapatkan semua ini, hal itu setimpal dengan semua kerja kerasnya selama ini.
Tok... Tok... Tok...
Ucap seorang karyawan yang hendak menyerahkan laporan untuk ditanda tangani oleh Alex.
"Maaf Pak, ini ada beberapa laporan yang harus bapak tanda tangani." ucap Karyawan itu setelah sebelumnya dia dipersilahkan masuk.
"Taruh saja disitu." ucap Bryan sambil menunjuk ke arah meja yang ada didekat sofa di dalam ruangan itu.
"Baik Pak....... Permisi." ucap karyawan itu setelah menaruh berkas laporan nya.
Setelah keluar dari ruangan karyawan itu nampak tersipu malu, sebenarnya hal itu sudah wajar untuk para karyawan perempuan di kantor itu, Boa mereka sangat tampan, jadi wajar saja jika mereka jatuh hati. Apalagi saat mereka tau jika atasan mereka itu belum memiliki seseorang disisinya. Walaupun sangat mustahil jika Alex akan memilih salah satu dari mereka, tetap saja mereka ingin berusaha dulu untuk meluluhkan hati atasan mereka yang dingin itu.
Selama Alex bekerja di perusahaan ini memang dia belum pernah membawa seorang perempuan bersamanya, kalaupun ada, itu hanya rekan biasa, sifat Alex yang terlalu dingin mungkin akan membuat semua orang enggan untuk mendekatinya, tapi nyatanya masih banyak perempuan yang mengantri untuk menjadi pasangannya.
Dan yang pasti banyak orang yang mengira bahwa menjadi pasangan dari seorang Alex sangatlah menyenangkan dan membahagiakan, padahal semua itu mungkin hanya akan ada didalam khayalan mereka saja. Karena terkadang, semua yang diharapkan tidak pasti sama persis seperti kenyataan.
__ADS_1