
Pagi ini Gisel bangun cukup pagi. Badannya terasa cukup segr setelah istirahat yang cukup semalam.
"Ummhh,,,,," ucap Gisel sambil merengangkan tubuhnya. Dia beranjak dari kasurnya dan berjalan untuk membuka hordeng kamarnya. Dia membuka sedikit jendela, sehingga udara segar di pagi hari itu menerpa kulit putih Gisel yang mulus.
Gisel sedikit melakukan perenggangan pada tubuhnya. Dia menggerakan otot-otot tubuhnya yang sebelumnya terasa sedikit kaku. Setelah melakukan sedikit perenggangan Gisel bejalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tidak lama di keluar dari kamar mandi. Dan di memegang perutnya yang sedikit berbunyi tanda dia sedang kelaparan.
"Sepertinya kemarin malam aku lupa untuk makan, perut ku terasa sangat lapar sekarang, padahal baru jam segini." ucap Gisel sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Gisel berjalan menuju ketempat gantungan tasnya, dia mengambil tas kecilnya, dan berjalan keluar apartemennya untuk mencari makan, karena dia sangat malas untuk memasak pagi ini, jadi dia memutuskan untuk keluar mencari makanan.
Gisel pun keluar dari apartemen dan mengunci pintunya. Saat hendak keluar tiba-tiba Gisel dikagetkan dengan seseorang yang menyapanya.
"Hallo, salam kenal." ucap orang itu. Gisel yang terkejut pun sontak memundurkan langkah kakinya dengan wajah yang sedikit terkejut.
"Oh, hallo juga." jawab Gisel.
"Perkenalkan nama ku Tasya." sapa perempuan itu dengan ramah.
"Oh, nama ku Gisel." sapa balik Gisel.
"Senang berkenalan dengan mu." lanjut orang itu, yang hanya ditanggapi dengan senyuman canggung dari Gisel.
"Mau kemana pagi-pagi seperti ini sudah keluar?" tanya Tasya pada Gisel.
"Aku? Mencari sarapan." jawab Gisel. Sebenarnya Gisel cukup merasa risih, karena ini adalah kali pertamanya di ajak berbicara panjang lebar oleh orang yang baru saja dia kenal.
"Woah kebetulan sekali, aku juga ingin mencari sarapan, dan kebetulan juga aku tau beberapa tempat yang menjual sarapan enak disekitar sini." ucap balik Tasya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Gisel. Entah bertemu dengan Tasya adalah suatu keberuntungan atau musibah, yang pasti dia senang karena ada orang yang akan menunjukan tempat padanya, tanpa perlu dia bertanya lagi.
"Iya, ayo ikut aku." ajak Tasya pada Gisel.
Gisel pun menurut dan mengikuti Tasya. Entah lah mengapa, tapi sepertinya Tasya adalah orang yang dapat dipercaya.
Gisel dan Tasya pun turun menggunakan lift yang ada disana, mereka keluar dari tempat mereka menuju ke sebuah tempat yang menjadi tempat kuliner pagi didaerah tersebut.
Setelah jalan cukup lama, akhirnya mereka berdua pun sampai, tempat itu cukup ramai dan padat akan penjual, sangat banyak sekali macam makanan yang dijual disana.
Gisel dan Tasya pun membeli roti yang sangat ramai pembelinya. Mereka rela mengantri asalkan mendapatkan roti yang mereka inginkan, setelah cukup lama mengantri akhirnya tiba giliran pesanan mereka yang diberikan, Gisel dan Tasya pun langsung mengambil dan membayarnya, setelah itu, mereka mencari tempat yang pas untuk bersantai sambil menikmati sarapan mereka.
"Kamu penghuni lama disana?" tanya Tasya pada Gisel saat mereka sudah duduk di salah satu kursi yang ada didekat taman.
"Iya, tidak terlalu lama juga sih, sekitar 3 bulan. Lalu bagaimana dengan mu, kamu orang baru? Sepertinya selama ini aku belum pernah melihat mu." ucap Gisel sembari bertanya.
"Iya, aku baru pindah tadi malam, tempat lama ku sudah membosankan, jadi aku mencari suasana baru." jawab Tasya.
Tempat Tasya masih sedikit berantakan, karena dia belum sempat membereskan semua barang-barang yang dia bawa, jadi Gisel menawarkan kepada Tasya untuk beristirahat saja ditempatnya sampai Tasya merasa mempunyai tenaga yang cukup untuk membersihkan tempat tinggal barunya.
"Masuklah." ajak Gisel saat dia telah berhasil membuka pintu apartemen nya.
Tasya pun tanpa segan segera berjalan masuk kedalam, dan mengganti sendal yang tadi dia buka menggunakan sendal rumah yang telah Gisel sediakan.
"Woah...." ucap Tasya yang terkagum melihat penampilan dalam apartemen Gisel. Tempat ini sangat bagus, batinnya.
"Ini milik mu?" tanya Tasya memastikan.
"Tidak, ini bukan milik ku." elak Gisel.
__ADS_1
"Lalu ini miliki siapa? kakak mu? Orang tua mu? atau siapa?" tanya Tasya pada Gisel. Gisel tampak santai saja menanggapi pertanyaannya itu.
"Aku menyewanya." jawab Gisel.
"Menyewa? Ayolah, berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk 1 bulan disini, ini terlalu bagus." ucap Tasya.
"Kamar mandinya sudah siap, kamu bisa segera mandi." ucap Gisel mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Tasya pun berjalan ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari tempatnya sekarang berdiri. Dia benar-benar takjub dengan desain apartemen Gisel yang bergaya modern tapi bernuansa clasic, benar-benar sangat bagus dipandang mata.
Sambil menunggu Tasya mandi, Gisel pun menyalakan TV yang ada didalam kamarnya, dia duduk diatas kasur sambil menonton TV, walaupun biasanya dia tidak menonton TV, tapi kali ini dia tidak tau harus melakukan apa. Gisel memang jarang sekali menonton TV, dia lebih suka melakukan hal lain, terlebih lagi jika berkreasi di dapurnya, tapi kali ini tidak dia lakukan, karena ada Tasya disana, dia tidak ingin tamunya merasa jika dia terlalu sibuk, alhasil dia memilih untuk menonton TV.
Cukup lama berada dikamar mandi, akhirnya Tasya keluar dengan memakai piyama tidur, dengan handuk yang masih berada di kepalanya. Tasya duduk didekat Gisel.
"Kamu berkuliah disini?" tanya Tasya pada Gisel yang sedari tadi fokus ke layar TV yang ada dikamar itu, Gisel menoleh kearah Tasya.
"Iya, baru saja masuk." jawab Gisel yang kembali fokus pada acara yang sedang ditayangkan di TV.
"Lalu, kamu bukan asli orang sini, dari mana kamu? Indonesia?" tanya Tasya lagi.
"Iya, aku dari Indonesia, tepatnya dari Jakarta." jawab Gisel lagi.
"Ohh, Indonesia adalah tempat yang bagus, aku pernah sekali datang kesana, kepulau bali, disana benar-benar sangat indah." ucap Tasya panjang lebar.
"Bali memang bagus, disana seperti tempat wisata, setiap turis yang datang pasti pernah ke Bali, tapi sebenarnya Indonesia itu punya banyak tempat wisata yang bagus, hanya saja belum tersentuh oleh tangan-tangan handal, sehingga membuat tempat wisata itu hanya diketahui oleh orang lokal saja, tidak dengan orang asing." jawab Gisel sambil menjelaskan.
"Benarkah, woah kalau begitu, nanti saat aku ke Indonesia kamu harus mengajak ku berkeliling, aku sangat suka berlibur." ucap Tasya antusias.
Mendengar perkataan Tasya barusan, entah mengapa membuat Gisel sedikit terkejut, mereka baru saling kenal, tapi Tasya bisa bersikap seramah ini, dia cocok untuk dijadikan teman. Batin Gisel.
__ADS_1
"Baiklah, mulai sekarang ayo menjadi teman." ucap Tasya sambil tersenyum dan mengajak Gisel untuk berjabat tangan, Gisel pun membalas senyuman Tasya dan meraih tangan Tasya untuk berjabat tangan pula.