
Akhirnya tiba hari ini, hari dimana Gisel akan menjadi seorang istri dari orang ternama yaitu Leon. Tapi tidak ada rasa bahagia ataupun kebahagian atas semua ini. Pernikahan yang dia impikan sirnah. Pernikahan yang diimpikan semua wanita ialah menikah dengan laki-laki yang dia cintai dan juga mencintainya. Bukan hanya sebuah pesta kemeriahan yang penuh dengan gemerlap dan dihadiri oleh orang penting didalamnya. Semua itu tidak penting, karena yang terpenting adalah dengan siapa dia akan menikah, karena orang itu akan menjadi orang yang akan menemaninya hingga akhir hayatnya kelak.
Gisel selalu berharap bahwa nanti dia hanya akan 1 kali saja menikah, karena baginya dia akan setia pada pernikahan itu sampai akhir hayatnya, tapi saat ini, sepertinya dia harus mempertimbangkan kembali prinsipnya itu. Dia bahkan tidak berani memberitahu temannya jika hari ini dia akan menikah.
*****
Saat ini Gisel dan Leon sudah sah menjadi pasangan suami istri, mereka sedang berdiri berdampingan menyambut para tamu yang hadir, memang hanya sedikit, karena pernikahan mereka hanya dihadiri oleh keluarga Leon dan Gisel saja, serta beberapa teman dekat Leon dan kakeknya.
Pesta ini cukup mewah, tapi sayangnya Gisel sama sekali tidak merasa terkesan dengan semua ini.
"Untuk apa semua kemewahan ini, jika tidak ada rasa kebahagian disana." batin Gisel menatap sendu.
Gisel dan Leon terlihat sangat serasi saat ini, Gisel bahkan terlihat makin cantik dengan lautan gaun pengantin berwarna putih yang sudah dirancang dan disiapkan khusus untuknya. Walaupun tidak suka dengan pernikahan ini, Gisel tetap mencoba untuk tersenyum, dia sangat pandai menyembunyikan kesedihannya, dia bahkan tidak terlihat seperti orang tertekan. Hanya saja, jika dilihat lagi dengan teliti, senyuman yang ada di wajahnya bukanlah senyum kebahagiaan, melaikan senyum kesedihan.
Akhirnya dia harus menyerahkan hidupnya kepada laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai dan tidak juga mencintainya, Tuhan benar-benar hebat membuat scenario hidupnya. Sejak kecil tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya, dan ketika dewasa pun dia harus dijual untuk memperbaiki finansial keluarganya. Benar-benar suatu kesedihan yang tiada duanya.
Semua orang yang hadir dan berjabat tangan dengan Gisel selalu memuji kecantikannya, Gisel hanya tersenyum menanggapi pujian mereka.
__ADS_1
"Berhenti memberi senyum bodoh itu, bersikap anggun lah, tegakan kepala mu." ucap Leon yang memperingati Gisel.
"Yang membeli mu aku, bukan mereka, jadi kamu tidak perlu menunduk kepada mereka." ucap Leon lagi. Mendengar perkataan Leon benar-benar membuat Gisel semakin merasa sedih, tapi sekali lagi, dia tetap mencoba tersenyum, hanya untuk hari ini saja, aku harus kuat. Batin Gisel.
"Baik." jawab Gisel. Akhirnya saat ini Gisel menyadari seberapa besar dan kuat kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh Leon. Tapi Gisel sama sekali tidak merasa senang atas itu semua. Ditambah lagi saat dia melihat kearah orang tuanya yang sedari tadi menunjukan senyum penuh kebahagiaan mereka, padahal saat ini Gisel sama sekali tidak merasa bahagia. Tangannya menggepal kuat hingga terlihat gemetaran, dengan senyum yang sangat dipaksakan.
Bagaimana bisa mereka terlihat sangat bahagia saat ini. Batinnya lagi. Ayah dan ibunya terlihat sangat-sangat menikmati hari ini. Mereka telah berhasil mengembalikan kejayaan perusahaan dan menambah tinggi kehormatan mereka karena sudah menjadi besan dari orang ternama. Tanpa mereka pernah berpikir bahwa mereka mendapatkan kembali semua itu karena menjual anak mereka.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika ternyata aku serendah itu dimata kalian." batin Gisel lagi. Walaupun sedari tadi pikirannya terus saja memikirkan hal sedih, tapi wajahnya masih menampilkan senyum kebahagiaan, seolah-olah dia sangat bahagia saat ini.
****
Saat ini Gisel duduk di taman belakang yang ada dirumah itu, dia terlihat duduk sambil menikmati suasana dan dinginnya angin malam itu, tanpa mempedulikan bahwa saat ini baju yang dia gunakan cukup terbuka. Dan tanpa sadar juga ternyata ada air mata yang keluar dari mata indahnya itu. Dan seketika dia langsung menyekanya.
"Kamu akan sakit jika terus duduk disini seperti ini." ucap seorang laki-laki yang terlihat menghampiri Gisel.
Gisel menoleh kearah sumber suara itu, Gisel sama sekali tidak mengenal orang yang berbicara dengannya ini.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku orang baik, aku sahabatnya Leon." ucap orang itu.
"Namaku Steven, kamu bisa memanggil ku Steve." ucap orang itu lagi yang saat ini memperkenalkan dirinya.
"Nama ku Gisel." ucap Gisel. Terlihat Steven tersenyum ketika melihat Gisel yang terlihat takut dengannya.
"Tidak perlu takut dengan ku, kita akan sering bertemu nantinya, Leon hanya berteman dekat dengan ku, jadi nanti pasti kita akan sering bertemu." ucap Steven memberitau Gisel. Gisel hanya mengangguk menanggapinya.
"Dia bukan orang jahat." ucap Steven tiba-tiba. Yang membuat Gisel melirik kearahnya.
"Dia adalah orang yang menyedihkan, jadi kamu harus menghiburnya, dia orang yang moodian, sabar saja menghadapinya. Walaupun dia tidak menyukai mu, dia tidak akan pernah menyakiti mu, Dia bersikap seperti itu karena dia tidak terbiasa dengan orang asing disisinya." jelas Steven.
"Dari kecil dia juga tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dia dan adiknya dibesarkan oleh kakek mereka. Kebencian Leon dan adiknya sebenarnya sama besar, hanya saja Leon masih bisa bersikap dewasa, berbeda dengan adiknya yang bahkan sampai saat ini tidak mau kembali kesini. Kamu juga lihat kan, bahkan tadi kedua orang tua Leon tidak ada di acara pernikahan kalian." ucap Steven lagi.
Gisel hanya mendengarkan, dan sebenarnya dia juga tidak ingin terlalu tau dengan semua hidup Leon, dia tidak ingin mencampuri urusan Leon, lagi pula Leon juga tidak memberinya izin untuk itu,
"Hahh, sudahlah, yang terpenting kamu harus tau bahwa Leon bukan orang jahat. Aku kembali kedalam dulu, pakailah ini." ucap Steven yang kemudian memberikan jasnya kepada Gisel. Dan setelah itu dia melangkahkan kakinya meninggalkan Gisel sendiri di taman itu.
__ADS_1