Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 7


__ADS_3

Setela beberapa lama, akhirnya pesawat yang mereka naikipun mendarat. Alina dan Gisel langsung turun dan berjalan menuju ke tempat pengambilan koper. Setelah mereka mengambil koper masing-masing mereka pun menyewa mobil untuk mengantar mereka ke aprtemen yang sudah Gisel sewa. Sebenarnya apartemen itu sudah Gisel beli, tapi dia menyuruh orang disana untuk bilang kepada kakaknya bahwa dia hanya menyewa saja, dan sang kakak pun percaya saja.


Sesampainya di aprtemen, mereka langsung meletakkan koper mereka. Alina memilih untuk merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sementara Gisel, dia langsung membereskan barang-barang yang dibawanya didalam koper tadi ke tempat yang tersedia di apartemen itu. Apartemen itu cukup besar, dengan satu kamar tidur, ruang tengah yang luas, meja pantri, dan dapur yang cukup luas. Gisel sengaja membeli apartmen yang cukup megah, karena dia ingin tempatnya kali ini membuatnya betah.


"Kak, baju mu ku taruh di lemari iya." Ucap Gisel yang saat ini mulai menaruh satu persatu baju yang dibawa oleh Alina kedalam lemari yang ada dikamar itu. Setelah selesai dengan baju, Gisel langsung menaruh buku-bukunya di rak buku. Kamar itu pun juga terlihat megah. Kasur king size, lemari besar, meja belajar, meja rias, kamar mandi, dan itu pun masih ada ruang yang tersisa cukup luas.


Gisel sengaja tidak mencari kamar mandi yang ada bathup nya, karena dia merupakan orang yang tidak suka berlama-lama di kamar mandi. Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar, Gisel langsung mandi dan kemudian menggunakan pakaian santai, kaos oblong dan celana pendek. Sang kakak sepertinya masih betah tidur di kasur nya. Gisel berjalan kearah dapur. Dia benar-benar puas dengan dapur dan meja pantri yang ada di Apartemen nya. Dapurnya pun cukup luas dengan desain klasik moderen yang disuguhkan, benar-benar desain yang sangat bagus. Pikir Gisel.


Setelah puas mengamati ruang dapur dan meja pantrinya, Gisel kemudian berjalan ke ruang tengah. Ruang tengahnya juga terlihat megah dan cukup mewah, ada tv, meja dan sofa lengkap, serta beberapa pernak pernik yang menunjang disana.


Gisel duduk disofa, dia tiba-tiba termenung, pikirannya seperti kosong. Tiba-tiba saja air matanya keluar, membasahi wajahnya. Seketika saja dia langsung menghapus air mata itu dan menarik nafas panjang. Dia sudah mencoba menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya, tapi air matanya masih saja menetes. Bahkan tidak mau berhenti.


"Tenang Gisel tenang, kamu kuat, kamu baik-baik saja." Ucap Gisel pada dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan perasaan yang Gisel rasakan saat ini muncul. Dan bahkan seperti goncangan panik yang muncul secara iba-tiba. Bayangkan saja, disaat seharusnya dia merasa bahagia dan merasa aman terlindungi, Gisel malah mendapatkan perlakuan sebaliknya. Depresi yang Gisel alami sebenarnya cukup parah, tapi dia tidak pernah menunjukkannya. Dia menyimpan rapat-rapat semua keluh kesahnya untuk dirinya sendiri selama ini.


Serangan panik pun akhirnya muncul, nafas Gisel saat ini sudah tidak karuan dia terlihat seperti orang yang habis lari, dan juga muncul keringat dingin di sekujur ditubuhnya. Dia segera pergi mangambil obatnya, ditengah serangan panik itu, dia masih berusaha bergerak pelan menuju kamarnya untuk mengambil kotak obatnya agar tidak membangunkan sang kakak. Setelah obatnya dia ambil, dia langsung berjalan ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


Gisel mengeluarkan pil obatnya dari dalam wadah dan segera meminumnya. Dia menolak untuk menarik nafasnya secara perlahan agar kembali stabil lagi seperti semula. Setelah itu dia mencuci mukanya, dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Dia tidak ingin kakaknya mencurigainya. Dia masih saja terus menerus menarik nafas dan membuangnya. Serangan paniknya pun mulai hilang secara perlahan, tapi tangannya masih terlihat sedikit gemetaran.


Setelah merasa cukup tenang, Gisel pun segera keluar dari kamar mandi. Dan saat dia keluar, dia dikagetkan dengan kehadiran sang akak di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Astaga." Ucap Gisel, yang seperti sedang melihat hantu.


"Astaga Gis. Kamu ini mengagetkan saja." Ucap Alina yang saat ini juga ikutan terkejut.


Gisel hanya diam, dia benar-benar terkejut dengan kemunculan sang kakak yang secara tiba-tiba didepan pintu kamar mandi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alina yang penasaran dengan sifat Gisel.


"Tidak, tidak ada." Ucal Gisel yang kemudian melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari tempat itu.


Alina yang melihat sifat Gisel pun jadi bertanya-tanya, pasalnya adiknya itu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.


"Kenapa dengn anak itu? Aneh sekali." Pikir Alina.


Dia menyalakan kompor dan merebus air, setelah mendidih dia memasukan mie kedalamnya, setelah itu dia membuka bungkus bumbunya dan menaruhnya di dalam mangkuk, tidak lama mie yang dia rebus pun akhirnya matang, dia pun memindahkan mie itu ke dalam mangkuk yang tadi juga ada bumbunya. Setelah siap, dia pun memanggil sang kakak.


"Kak, mienya sudah siap." Ucap Gisel saat sudah sampai kedalam kamar.


"Iya sebentar." Ucap Alina, tadi dia mandi, dan sekarang sedang mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Iya sudah, jangan lama-lama, nanti dingin tidak enak lagi dimakan." Ucap Gisel.


"Iya, iya, sebentar." Ucap Alina lagi.


Gisel pun kembali kedapur, dia meletakkan mienya diatas meja pantri. Dia memakan mienya. Gisel memang sangat menyukai mie, dia suka semua jenis mie, kecuali mie ayam.


Tidak lama saat Gisel memakan mienya, Alina pun datang dan duduk di sebelah Gisel.


"Mie?" Ucap Alina yang bertanya pada Gisel.


"Tidak ada bahan makanan? Oh iya kita baru saja sampai." lanjut Alina


Gisel hanya mengangguk mengiyakan.


"Iya sudah, nanti kita belanja saja. Sekalian untuk sebulan." Ucap Alina.


"Oke." Balas Gisel.


Setelah itu, mereka pun akhirnya memakan mienya dengan tenang dan diam. Walaupun sesekali mereka mengobrol santai membahas apa saja yang bisa mereka bahas.

__ADS_1


Walaupun sudah bersikap biasa, tapi Alina tetap oenasaran dengan apa yang terjadi pada Gisel tadi, pasalnya wajah Gisel tadi terlihat pucat pasih, dan tangannya juga terlihat gemetaran. Dia ingin sekali bertanya, tapi dia mengurungkan niatnya, karena dia tau betul sifat Gisel, adiknya satu itu tidak mau jika ditanya terlalu mendalam terlebih lagi urusan pribadi. Jadi dia memilih diam, tapi dia pasti akam mencari tau.


Saat ini sepertinya Gisel cukup beruntung, karena Alina tidak tau. Entah lah bagaimana kedepannya, apakah Gisel bisa menyimpan rahasianya ini selamanya. Hanya takdir lah yang akan menjawabnya.


__ADS_2