Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 16


__ADS_3

Siapa yang akan ku nikahi, apakah pria tua yang sebentar lagi akan menemui ajalnya, atau malah pria muda, tapi mempunyai gangguan dalam psikisnya.


Seharusnya orang yang akan menikah dengan ku ini pasti sangat kaya sehingga dia bisa menolong perusahaan keluarga mereka, tapi kenapa harus aku yang menjadi tumbal, apakah dia tidak bisa mencari perempuan lain, dan lagi kenapa harus perusahan ini yang dia bantu.


Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui Gisel. Kenapa nasibnya begitu buruk. Menikah, tapi tidak tau siapa orang yang akan menikah dengannya.


"Kita sudah sampai nona." ucap orang yang duduk disamping Gisel itu. Gisel pun mengangguk dan keluar dari dalam mobil.


"Ayo Gisel, kamu kuat, kamu mampu, kamu pasti bisa." ucap Gisel mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Saat ini mereka sudah berada didepan rumah orang yang akan menjadi suami Gisel nantinya. Bahkan sampai saat ini, Gisel masih tidak percaya bahwa orang tuanya sendiri telah menjual nya hanya untuk kepentingan mereka.


Sedetik kemudian Gisel mengikuti langkah kaki orang yang ada didepannya tadi.


"Silahkan duduk nona, tuan besar dan tuan muda akan segera datang." ucap orang itu. Bahkan sampai saat ini Gisel masih belum mengetahui sebenarnya siapa orang itu.


"Iya." ucap Gisel simple. Lalu dia segera berjalan menuju sofa yang ada diruangan itu, sebenarnya Gisel ingin mengajak orang tadi mengobrol, tapi dia mengurungkan niatnya karena dia tidak ingin dinilai aneh, karena sudah pasti Gisel tidak bisa mengontrol dirinya nanti.


Gisel duduk dikursi itu. Walaupun dia bukan anak kesayangan keluarganya, tapi Gisel tetap pandai merawat dirinya, lihat saja saat ini, gaun putih itu sangat cocok dikenakan oleh nya, sangat elegan dan juga cantik, ditambah dengan rambutnya yang dikuncir setengah dengan sedikit hiasan menambah kesan simple tapi elegant pada dirinya.


Gisel yang sesudadi Singapore sudah terbiasa bersikap ramah kepada orang lain pun mencoba untuk tersenyum walaupun hatinya sedang terluka saat ini.


Belum lama Gisel duduk, dari lantai atas terlihat dua orang pria berjalan menuruni anak tangga, yang satunya sudah terlihat paruh bayah, dan yang satunya lagi masih sangat muda, mungkin hanya berjarak 4 atau 5 tahun dari Gisel.


Berbeda dengan pria tua yang memasang senyuman diwajahnya yang sudah keriput itu, orang yang dibelakangnya justru terlihat sangat dingin dan mengintimidasi, tatapannya benar-benar membuat Gisel ketakutan, bahkan tangannya sampai gemetaran.


"Silahkan tuan." ucap orang tadi. Yang mungkin dapat Gisel simpulkan bahwa orang itu adalah tangan kanan dari pak tua tadi.


Kemudian mereka duduk disofa yang ada didepan Gisel. Orang yang tadi menjemput Gisel kemudian mengeluarkan sebuah map yang entah apa isinya itu.


"Map? Surat? Apa yang ingin mereka lakukan." batin Gisel yang sedikit curiga. Gisel tau saat ini dia sedang melakukan pernikahan bisnis, jadi dia sudah menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya.


"Bacalah! Ini peraturan yang harus kamu jalankan selama kamu menjadi istriku." ucap orang itu.

__ADS_1


"Leon, kamu ini, tidak bisa sedikit lembut ya pada perempuan." ucap orang yang diketahui Gisel akan menikah dengannya itu, Leon? Namanya tidak asing. Batin Gisel.


Sebelumnya Leon bersikeras untuk menolak pernikahan ini, tapi sang kakek selalu mengancamnya, alhasil dia pun menyetujui pernikahan ini, asalkan perempuan yang ingin dinikahkan dengannya itu mengikuti syarat yang akan Leon berikan padanya.


Gisel pun membaca isi dari surat itu dengan sangat teliti.


Peraturan pernikahan


Pihak pertama : Leon Putra Wijaya


Pihak Kedua : Gisel Larasati



Pihak pertama tidak boleh dirugikan.


Pihak kedua harus menuruti semua perintah dan keinginan pihak pertama.


Pihak kedua tidak boleh melarang apapun yang ingin dilakukan oleh pihak pertama.



Setelah membaca dan memahami surat itu, Tiba-tiba bulu kuduk Gisel merinding, pria didepannya ini bukan orang sembarangan, dia tidak boleh gegabah. Bahkan bisa-bisa nyawanya menghilang jika seperti ini.


"Maaf, apakah maksud dari surat ini adalah saya harus mematuhi semua keinginan dan perintah anda?" tanya Gisel dengan sedikit rasa takut disana.


"Iya benar sekali, sampai akhir dari pernikahan ini, surat itu tidak akan berubah." ucap Leon pada Gisel dengan wajah dingin diiringi dengan senyuman iblis khasnya.


"Bisa Anda jelaskan lebih detail?" tanya Gisel dengan ragu.


Leon nampak sedikit memajukan duduknya dan menatap kearah Gisel dengan tatapan dingin dan mengintimidasi khasnya.


Saat Leon hendak berbicara tiba-tiba saja dia teringat bahwa ada kakeknya saat ini.

__ADS_1


"Kakek, bisakah kamu tinggalkan aku dan Istri ku terlebih dahulu." ucap Leon.


Sang kakek yang mendengar perkataan cucunya itu pun hanya mengangguk dan terlihat sedikit jengkel,


"Awas saja jika kamu berlaku tidak sopan atau mencoba menakutinya, kamu akan tanggung akibtnya." ancam sang kakek yang kemudian berjalan keluar dari rumah itu setelah sebelumnya berpamitan pada Gisel.


Leon yang mendengar perkataan kakeknya hanya memutar bola matanya bosan. Setelah sang kakek pergi Leon lanjut menatap Gisel dan kemudian berkata.


"Intinya, jangan mencampuri urusan pribadi ku apapun itu, termasuk hubungan yang ku jalin dengan wanita lain. Kedua lakukan semua kewajiban dan tugas mu sebagai seorang istri, jangan terlalu berisik. Yang ketiga jangan pernah mencoba untuk dekat dengan ku." ucap Leon.


"Baiklah, hanya itu saja kan, aku setuju." ucap Gisel.


"Lagi pula siapa yang ingin dekat dengannya." batin Gisel.


"Lakukan saja semua yang ingin kamu lakukan, aku tidak akan melarang mu, hidup mu urusan mu dan hidup ku urusan ku." ucap Leon lagi masih dengan nada dinginnya.


"Dan lagi, jangan sampai melakukan sesuatu yang dapat mencoreng nama baik mu ataupun nama baik ku, ingat, aku bisa menyelamatkan keluarga mu, dan tentu saja aku juga bisa menghancurkannya. Jadi jangan coba bermain-main." ancam Leon yang seketika membuat Gisel menelan ludahnya. Selama ini Gisel tidak pernah takut dengan orang, tapi entah mengapa saat berhadapan dengan Leon nyalinya tiba-tiba hilang entah kemana.


Pria ini tidak bisa diganggu, sebaiknya jangan membuat moodnya hancur atau aku akan berada dalam masalah besar. Batin Gisel lagi.


"Anda tenang saja, saya tidak akan melakukan hal yang tidak menguntungkan untuk saya, jadi anda tidak perlu khawatir. Dan lagi, terimakasih karena anda sudah mau membantu keluarga saya." ucap Gisel pada Leon.


"Baiklah, aku akan pergi dulu, jangan mencoba menghancurkan rumah ini." ucap Leon yang saat ini sudah berdiri dan hendak pergi dari tempat itu.


"Jangan tunggu aku pulang, karena mungkin aku akan menginap di luar, kamu pasti tau kan, berada di satu tempat dengan orang yang tidak sebanding dengan mu akan terasa sangat menyebalkan bukan." ucap Leon lagi.


"Iya, lakukan saja apa yang menyenangkan untuk anda, saya tidak masalah dengan itu."


Mendengar perkataan Gisel membuat Leon berdecih,


"Tidak tau malu." batin Leon yang kemudian kembali berjalan kearah luar menuju ketempat dimana mobilnya diletakan oleh supirnya tadi.


Setelah Leon pergi, Gisel menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Ha menyebalkan sekali pria itu." ucap Gisel.


Leon bahkan berani menginjak harga dirinya yang saat ini akan segera menyandang status sebagai istrinya.


__ADS_2