Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 17


__ADS_3

Setelah ditinggal pergi oleh calon suaminya itu, pelayan yang ada dirumah itu segera menghampirinya dan menawarkan untuk mengantarkan Gisel ke kamarnya. Gisel pun mengiyakannya dan mengikuti pelayan itu berjalan menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.


Mereka berjalan hingga tiba didepan pintu kamar yang berada dipojokan ruangan itu.


"Ini kamar nona, jika perlu apa-apa panggil saja pelayan yang ada didekat nona, kami akan membantu nona." ucap pelayan itu kepada Gisel.


"Iya, terimakasih." ucap Gisel pada pelayan itu diiringi dengan senyuman tipis dipipinya.


Pelayan itu pun pergi meninggalkan Gisel. Gisel menatap kepergian pelayan itu. Dari sudut pandangnya, sepertinya pelayan itu adalah pelayan kepala dirumah ini sehingga dia bisa sangat formal dengan orang baru, seperti sudah sangat terlatih.


Gisel membuka kamar itu, terlihat lah ruang kamar yang terlihat sangat megah dan besar itu. Gisel melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang kamar itu, dia kemudian duduk dipinggir kasur yang terletak ditengah ruangan kamar itu, tubuhnya terasa begitu lelah, bukan karena dia banyak bekerja, melainkan karena semua keadaan yang membuatnya ingin menyerah saja.


"Kakak, nenek, apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa semua ini harus terjadi pada ku, tidak bisakah aku mendapatkan kebahagian. Kenapa harus aku." ucap Gisel yang perlahan mengeluarkan air mata dari mata indahnya itu.


Sekalipun dia sudah mencoba untuk tegar, tapi perasaan dan hatinya benar-benar terluka dan sakit saat ini, pertahanannya runtuh saat dia sedang sendiri. Setelah cukup lama tidak kembali ke Indonesia, sekalinya kembali malah harus menyerahkan dirinya kepada orang lain yang tidak dia kenal untuk dijadikan istri.


Sepertinya cukup lama Gisel duduk di tempat itu, bahkan sekarang kamar yang tadinya terlihat terang sudah sangat gelap, tidak ad cahaya sama sekali disana, kecuali remang-remang sinar dari luar kamar itu.


Gisel masih betah dengan posisi duduknya serta air mata yang sesekali msh mengalir dari matanya. Mata itu terlihat sudah mulai sembab karena menangis. Tapi saat ini rasanya percuma jik di menangis, karena keadaan tidak akan berubah, apa yang sudah terjadi tetap harus dia jalani, karena kehidupan tidak akan berhenti ketika dia hanya menangis.


Gisel lalu menghapus air mata yang membuat pipinya basah itu dengan tangannya, kemudian dia menarik nafasnya dalam.


"Bangun Gisel, kamu harus kuat, kamu hanya perlu tetap hidup sampai akhir, dan membuktikan bahwa kamu bisa." ucap Gisel, kemudian dia berdiri dari duduknya dan berjalan kearah saklar lampu utuk menghidupkannya. Setelah lampu menyala Gisel kemudian berjalan kearah kamar mandi, dia ingin membersihkan tubuhnya yang saat ini terasa sangat lengket ini.


Gisel menutup pintu kamar mandi itu, bath up. Batinnya. Selama ini Gisel tidak pernah u menggunakan itu untuk mandi, tapi kali ini dia benar-benar ingin merilekskan tubuhnya.

__ADS_1


Entah bagaimana bisa ada bunga mawar didalam bath up itu, Gisel melepas semua pakaian yang ia kenakan, lalu da masuk kedalam bath up yang cukup besar itu. Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya yang sangat kacau ini.


Entah karena lelah, atau mungkin memang sangat mengantuk Gisel jadi tertidur di dalam bath up itu.


****


Sepertinya pekerjaan di kantor hari ini cukup banyak, ada banyak sekali berkas yang harus Leon tanda tangani. Jadi jam segini dia baru selesai, padahal biasanya dia sangat santai,


Leon meregangkan tangan dan tubuhnya yang lelah karena seharian duduk dan menulis. Tiba-tiba matanya tertuju pada ponselnya, dia mengeceknya, tidak ada pesan masuk dai kepala pelayan di rumahnya, yang artinya calon istri yang dia beli itu tidak berulah selama dia tidak ada.


"Cih, semuanya karena uang." ucap Leon yang kembali merendahkan Gisel.


Leon sudah biasa sendiri selama ini, bukan karena dia tidak ingin memiliki teman atau semacamnya, tapi itu karena orang yang selama ini ada didekatnya hanya memanfaatkannya saja, mereka hanya ingin mengambil untung, itulah sebabnya Leon lebih suka sendiri dari pada memiliki teman, dan lagi selama ini dia selalu menutup diri dari perempuan manapun, jadi bisa dibilang Gisel adalah perempuan pertama yang masuk kedalam hidupnya, jadi wajar saja jika Leon membuat peraturan yang begitu banyak, padahal intinya dia hanya tidak terbiasa dengan kehadiran perempuan di hidupnya.


Leon nampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab.


"Kita pergi sekrang, tapi ke apartement saja, tidak usah pulang ke rumah." ucap Leon yang kemudian dibalas oleh supirnya itu.


"Baik pak." jawab supir itu yang saat ini sudah berjalan mengiringi Leon.


Leon memiliki apartement pribadi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantornya, dia memang sengaja membelinya karena jaraknya yang strategis dari kantornya, jadi jika dia malas untuk pulang kerumah, dia bisa pulang ke apartement nya saja. Dan lagi keluarga atau pun kenalan Leon tidak ada yang tau jika Leon memiliki apartement pribadi, jadi dia bisa leluarsa disana.


*****


Setelah hampir lebih 2 jam, akhirnya Gisel bangun dari tidurnya, 2 jam bukanlah waktu yang singkat, apalagi jika sedari tadi dia berendam didalam bath up, bisa dipastikan saat ini dia sangat kedinginan, terlihat dari bibir Gisel yang tidak lagi merah, melainkan berwarna balu karena kedinginan.

__ADS_1


"Woah, astaga, aku masih didalam, sudah berapa lama aku tertidur. Ya ampun, ini dingin sekali, rasanya tulang ku hampir patah karena kedinginan." ucap Gisel. Dia lalu buru-buru membilas tubuhnya dan setelah itu langsung mengambil kimono (handuk mandi) dan segera keluar dari dalam kamar mandi.


"Woahhh, kenapa bisa sangat dingin seperti ini." ucap Gisel dengan nada yang sangat-sangat seperti orang yang berada dikutup utara, sangat kedinginan, dengan bibir yang menggigil.


"Bodoh, bisa-bisanya aku ketiduran seperti itu." ucapnya lagi, setelah itu dia langsung berjalan keluar kamar menuju keruang dapur untuk mengambil air hangat.


Gisel terlihat sangat buru-buru sekali menuruni anak tangga, dan kebetulan sepertinya para pelayan dirumah itu sudah istirahat semua, terlihat dari lampu rumah yang sebagian sudah dipadamkan.


Setelah sampai diruang dapur, Gisel langsung mengambil gelas dan menuju ke dispenser dan menuangkan air panas, dia mencampur air panas itu dengan sedikit air dingin agar tidak terlalu panas, setelah itu dia meminumnya.


"Ini tidak meredakan apapun." ucap Gisel setelah meneguk habis airnya,


"Sebentar." ucap Gisel yang kemudian melihat kearah lemari yang sepertinya berisi semua bahan makanan, dia langsung saja membukanya dan mencari sesuatu dan...


"Nah, ini dia yang aku butuhkan." ucap Gisel saat tangan kanannya sudah memegang satu bungkus mie rebus.


Dia langsung saja mengambil peralatan untuk memasak mie itu, tidak lupa juga dia mengambil cabai agar menambah rasa pedas didalam mie itu, tidak mau bebasa basi, Gisel langsung memasaknya, dia juga mengiris sayur dan mencampurkan telur kedalam mienya itu.


Tidak butuh waktu lama, mie yang dia masak pun siap untuk dihidangkan, Gisel mengambil mangkuk dan menaruh mienya yang telah matang itu disana. Setelah itu dia meletakan kembali pancinya ketempat kotor dan membawa mangkuk berisi mie itu ke meja makan.


Gisel langsung memakan mie itu, tanpa peduli jika mie itu panas, karena dia ingin menghilangkan rasa dingin ditubuhnya, bahkan cabai rawit yang pedas pun dia makan, hingga terlihat lah keringat keluar di wajahnya Gisel.


Slurpp.


Suara Gisel menghirup kuah mienya, dia memakannya dengan sangat lahap seolah dia sudah tidak makan 1 bulan.

__ADS_1


__ADS_2