Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 23


__ADS_3

Gisel terlihat sudah selesai mandi dan sudah berganti baju. Dia berjalan ke bawah untuk membuat coklat panas, saat hendak kebawah dia melihat jam di dinding yang sekarang menunjukan pukul 21:00 WIB.


Sudah berapa lama aku berdiam diri di kamar. Batin Gisel.


Lalu dia pun membuka pintu kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Saat hendak menuruni anak tangga, Gisel tidak sengaja melihat pintu kamar Leon yang terbuka. Dia mencoba untuk tidak peduli, tapi entah mengapa dia penasaran. Jadi dia melihat, bukan melihat, lebih tepatnya mengintip kedalam kamar.


Tidak ada orang. Batin Gisel.


Gisel pun membuka pintu kamar itu, terlihat lah, ruangan yang sangat rapih untuk seorang laki-laki. Dia sangat rapih, Batin Gisel.


Sudahlah. Batin Gisel sambil mengangkat pundaknya acuh.


Lalu dia pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah.


"Nona belum tidur." ucap seorang pelayan yang saat ini sedang membereskan dapur, terlihat disana ada sisa makan malam.


Siapa yang baru selesai makan? batin Gisel.


"Ah ini, tadi tuan besar dan tuan muda makan malam, tuan besar tadi hendak memanggil nona, tapi tuan Leon melarang, dia bilang nona mungkin lelah sehingga tertidur, jadi dia menyuruh biarkan saja." jelas pelayan itu. Padahal Gisel tidak meminta sebuah penjelasan.


"Iya bi, ya sudah bibi lanjutkan saja, aku hanya ingin membuat coklat panas, tadi aku membeli bebrapa roti." jelas Gisel.


"Baik non."


Setelah mengatakan itu, palayan dan Gisel pun sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, hingga sang pelayan undur diri pun Gisel masih tetap fokus dengan kegiatannya membuat coklat panas.

__ADS_1


Saat hendak keatas, Tiba-tiba ponsel Gisel berbunyi, dia melihat panggilan itu, ternyata dari kakaknya, Alina.


Kakak. batin Gisel. Dia pun dengan buru-buru mengangkatnya.


"Ha..."


"Dimana kamu?" pertanyaan pertama yang dikeluarkan oleh kakaknya. Yang seketika membuat Gisel sadar, ternyata benar, bahwa kakaknya baru tau dengan semua hal yang baru saja terjadi ini.


"Aku tidak dirumah orang tua kita."


"Apa yang kamu lakukan! Cepat pulang sekarang, anak perempuan tidak boleh menginap dirumah orang lain, ini sudah malam, cepat bereskan barang-barang mu dan pulang kerumah."


"Kak, semuanya benar, apa yang ada dipikiran kakak, semua itu telah terjadi, baik aku, ataupun kakak, kita tidak bisa memutar waktu kak." ucap Gisel, matanya saat ini sudah berkaca-kaca, terlihat kristal bening yang memenuhi mata indahnya.


"Tidak, kamu tenang saja, kakak pasti akan mengeluarkan mu dari rengkuhan itu Gisel."


"Gisel, ini tidak adil, kamu tidak harus menerima perlakuan seperti itu, kamu juga bagian dari keluarga kita, harusnya jika ada yang harus dikorbankan, orang itu adalah aku, bukannya kamu, aku adalah anak pertama. Aku kakak mu."


Justru karena itu kamu kak, lebih baik aku yang mengalami semua ini, kamu tidak harus menerima perlakuan seperti ini, kamu sudah terlalu banyak melakukan kebaikan untuk ku selama ini. batin Gisel.


"Halo, Gis!"


"Ah iya kak. Sudahlah kak, anggap saja ini takdir ku, aku harus menerimanya kak. Kakak tenang saja, aku akan menerimanya dengan iklas."


"Gisel, kamu iklas, tapi tidak dengan kakak, kamu adalah segalanya, jika kamu terluka maka kakak juga akan terluka."

__ADS_1


"Kak, aku mohon, sudah, biarkan semua ini berjalan seperti ini, jangan pernah mencoba untuk merubah apapun kak."


"Gis..."


"Kak, cukup, aku lelah, aku ingin beristirahat, aku tutup dulu."


Gisel pun langsung mematikan ponselnya. Dia tidak kuasa menahan sedihnya. Disatu sisi dia mengasihani nasibnya, tapi disisi lain dia juga bersyukur karena itu tidak menimpa kakaknya.


****


Saat di perjalanan pulang, Alina memutuskan untuk menelfon Gisel. Dia benar-benar merasa kasihan dengan adiknya itu, Seharusnya jika ada yang harus berkorban, maka seharusnya orang itu adalah dia dan bukan adiknya.


Perbincangan terjadi diantara mereka, Alina benar-benar tidak kuasa mendengar apa yang adiknya ucapkan.


Semua ini salah mereka, Gisel tidak harus mengalami semua ini, dia sudah berkorban cukup banyak selama ini, mereka benar-benar keterlaluan, mereka melakukan ini pada anak mereka sendiri, dan mereka juga membohongi ku. batin Alina


Mobil yang Alina tumpangi pun sampai dikediaman rumah megah mereka yang sedari dulu tidak banyak berubah.


"Pa! Ma! Kalian dimana?" teriak Alina saat dia sudah sampai dirumah, sudah tidak ada lagi Alina yang ramah, perasaannya dan rasa patuhnya kepada kedua orang tuanya seketika lenyap kerena kejadian ini. Adik yang selama ini coba dia jaga dari orang-orang yang ingin menjahati nya, malah kali ini, orang tuanya sendiri lah yang menghancurkan adiknya.


Alina terus mencari keberadaan orang tuanya, tapi tetap saja, dia tidak menemukan siapapun dirumah.


"Bi! Kemana papa dan mama pergi?" tanya Alina masih dengan wajah kesalnya.


"Ah itu non, Tuan dan Nona besar sedang ada pertemuan rapat penting di Bali non, mungkin besok pagi setelah selesai mereka langsung pulang." jelas pelayan yang bekerja dirumah itu.

__ADS_1


Alina menarik nafasnya kesal, bisa-bisanya orang tuanya bersikap seperti itu. Mereka benar-benar tidak punya hati. Disaat mereka tidak tau bagaimana dan seperti apa perasaan Gisel, mereka malah sama sekali tidak peduli.


__ADS_2