
Sejak saat pertemuan Tasya dan Gisel, sepertinya hubungan mereka menjadi baik, keduanya nampak semakin akrab. Tapi jika diperhatikan, sepertinya ada sesuatu yang tidak Gisel ketahui tentang Tasya. Dan lagi, setelah berteman dengan Tasya, Gisel juga perlahan menjadi orang yang lebih ramah dari sebelumnya. Ia seperti berhasil merubah dirinya menjadi orang baru lagi semenjak bergaul dengan Tasya, sifat Tasya yang ramah sepertinya mampu membuat Gisel, yang awalnya mulai malas berinteraksi dengan banyak orang menjadi lebih ramah saat ini.
****
Gisel baru pulang dari kampusnya sekitar jam 3 sore tadi, dan saat ini, dia sedang beristirahat karena kelelahan setelah membersihkan apartemennya.
Saat dia sedang berbarinh di kasurnya, Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dan ternyata itu adalah panggilan masuk dari kakaknya, Alina. Tumben sekali menelpon jam segini, apakah ada masalah yang terjadi. Batin Gisel. Gisel pun segera mengangkat telponnya.
"Hallo kak. Ada apa?" tanya Gisel.
"Tidak ada, hanya rindu saja, bagaimana kabar mu?"
"Benarkah seperti itu? Aku baik-baik saja, lalu bagaimana dengan mu?"
Alina sedikit kaget dengan perubahan sikap adiknya ini, padahal waktu itu adiknya ini bukanlah orang yang akan banyak berbicara, tapi sekarang sepertinya adiknya sudah perlahan memulai lembaran baru.
"Aku baik-baik saja, aduhh, aku benar-benar merindukan mu, apa sebaiknya aku tinggal dengan mu saja, dan berhenti bekerja di perusahaan papa. Bagaimana menurut mu, ide yang bagus kan."
"Ada masalah apa? Aku tidak akan mengerti jika kamu hanya memberi kode saja, aku bukan peramal."
"Kenapa sih, tidak ada apa-apa yang terjadi, seorang kakak merindukan adiknya bukannya itu adalah hal yang wajar." ucap Alina berbohong pada Gisel. Gisel hapal betul sifat kakaknya ini, jika dia dalam masalah yang sulit dia akan menghubungi atau mencarinya langsung. Dia bukan tipe orang yang akan langsung menceritakan masalah apa yang menimpanya atau sedang dia alami.
Tidak ingin memperburuk suasana hati kakaknya, Gisel pun memilih untuk mendengarkan sang kakak.
"Iya, iya, lalu setelah sudah menghubungi ku, apalagi yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
"Hei, kamu ini, di mana-mana, jika ada kakak atau keluarga sedarah yang menelfon itu harusnya kamu senang dan tidak langsung mau mengakhiri percakapan. Ini kamu malah bersikap sebaliknya."
"Baiklah baiklah. Aku yang salah."
"Iya, kamu salah, kenapa kamu harus kuliah di luar negri, kenapa kamu harus jauh dari ku, kenapa kita harus sekeluarga, dan kenapa, kenapa kamu harus menjadi adik ku, kenapa kamu harus menjadi bagian dari keluarga ini, kenapa Gis, Kenapa!"
"Aku tidak tau, mungkin ini sudah takdir."
"Takdir? Apakah yang seprti ini pantas disebut takdir."
"Hei! Kamu tau, tidak ada takdir yang bisa dirubah, tapi kita bisa berusaha, agar takdir yang semula buruk bisa menjadi baik, jangan menyalahkan keadaan, bukan tanpa alasan kenapa kamu bisa berada diposisi itu, kamu tau kan. Aku tidak tau apa yang sedang kamu alami, tapi kamu harus ingat, kamu hebat, kamu pasti bisa melewatinya, aku percaya pada mu, aku tau seberapa hebat kemampuan mu, aku percaya pada mu kak."
Ucap Gisel di sambungan telfon itu, terdengar pula suara is akan kecil dari Alina, sepertinya memang benar, dia sedang dalam masalah yang besar, tapi Gisel tidak yakin sebesar apa masalah kali ini, karena Alina sampai bersikap seperti itu.
"Iya, kamu tidak usah mengkhawatirkan ku, aku sudah besar, aku bisa menjaga diri ku sendiri, urus saja urusan mu. Ingat, kamu hebat, aku percaya pada mu kak."
"Terimakasih, iya sudah aku mau pergi dulu, ada beberapa urusan."
"Iya, semangat, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah itu percakapan mereka pun usai, Gisel menarik nafas panjang, dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya, tidak biasanya kakaknya bersikap seperti ini.
Gisel berjalan kearah jendela yang saat ini sedikit terbuka, karena udara dan cuaca saat ini memang sangat bagus dan sejuk. Walaupun terlihat seperti sedang menikmati saat-saat seperti ini, tapi sebenarnya dia sedang memikirkan sang kakak yang saat ini entah sedang dalam masalah yang sebesar apa.
__ADS_1
****
Alina keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga mnujuke lantai bawah, walaupun saat ini belum menyelesaikan tugas akhir dan belum wisuda, Alina sudah memiliki kemampuan yang sangat baik, bahkan saat ini dia sudah memegang kendali tinggi atas perusahaan sang ayah, Alina dipercaya dan ditunjuk sebagai Penanggung jawab perusahaan sang ayah, oleh karena itulah saat perusahaan sedang dalam keadaan krisis seperti ini Alina langsung turun tangan, dan lagi sepertinya masalah kerugian yang dialami perusahaan saat ini bukan hanya sedikit, dan bisa saja perusahaan akan mengalami kebangkrutan, dan yang lebih parahnya perusahaan ini. Masalah kali ini adalah masalah yang paling parah sejak perusahaan ini didirikan oleh kakek mereka.
Alina tidak lagi berpamitan dengan sang ibu, dia langsung saja menuju ke garasi mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke perusahaan. Didalam mobil pikiran Alina kembali berkecamuk, Satu-satunya hal yang ingin dia lindungi di dunia ini adalah adiknya, dia tidak akan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi pada adiknya.
"Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja, aku akan menjamin hidup mu bahagia." Ucap Alina pelan smbilnterus melajukan mobilnya ke perusahaan.
Setelah beberapa menit, akhirnya mobil Alina sampai ke lokasi, dia pun langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu Alina turun dan berjalan masuk kedalam perusahaan itu, terlihat semua orang memperhatikannya. Alina langsung saja menuju ke ruangan sang ayah. Dan tanpa permisi dia langsung masuk kedalam ruangan itu.
Sang ayah yang sedari tadi memang sedang berada didalam dan berbincang dengan seorang kolektor muda pun sedikit terkejut melihat kedatangan Alina.
"Alin, ada apa kemari?" tanya ayahnya.
"Ada apa? Papa masih bertanya ada apa, Papa pikir kenapa aku datang kemari, perusahaan sedang ricuh seperti ini, banyak yang demo tadi di depan, dan banyak pegawai yang tidak masuk. Papa masih bertanya kenapa aku kesini."
"Alin, sudah sebaiknya kamu pulang saja, Papa sedang sibuk, papa tidak mau berdebat dengan kamu." ucap sang ayah lagi pada Alina.
"Berdebat, kamu pikir kenapa aku mengajak mu berdebat, jika saja papa tidak melakukan sampai sejauh ini, memberi kepercayaan pada orang lain sepenuhnya, mungkin semua ini tidak akan terjadi." hardik Alina.
"Alin cukup, papa bilang cukup ya cukup, kamu pikir papa tidak memikirkan jalan keluarnya, kamu pikir papa diam saja selama ini, papa juga usaha Alin, kamu pikir papa orang yang seperti apa, mana mungkin papa mau melihat mereka semua dalam keadaan seperti ini, papa meminjam tenaga mereka, bagaimana mungkin papa tega tidak memberikan gaji kepada mereka."
Melihat sang ayah yang berkata seperti itu, Alina sedikit bersimpati, bagaimana bisa sahabat ayahnya sendiri melakukan semua ini dan meninggalkan tanggung jawab pada ayahnya saja. Lama Alina dan sang ayah berdebat terdengar lah suara deheman dari seseorang yang sedari tadi juga berada di ruangan itu.
"Ehkem."
__ADS_1