
"Bagaimana kabar mu?" ucap Bryan.
"Seperti yang kamu lihat, tidak ada kurang satu pun." balas Gisel sambil tersenyum tipis.
Saat ini mereka berada di dalam apartemen Gisel. Kebetulan Bryan belum makan malam, jadi Gisel sekalian saja mengajak nya.
"Sepertinya kamu bertambah kurus." ucap Gisel di sela-sela makan mereka.
Bryan yang mendengar itu terlihat sedikit terkejut, pasalnya dia sama sekali tidak menyangka jika Gisel akan memperhatikannya.
"Hm... Ya begitulah, mungkin karna tidak ada yang menyiapkan ku bekal setiap pagi." jawab Bryan.
Setelah mereka cukup akrab Gisel memang sering membuatkan bekal untuk Bryan, walaupun sebenarnya dia membuat bekal itu tidak hanya untuk Bryan tapi untuk dirinya juga.
"Ada-ada saja." balas Gisel sambil tersenyum.
Mereka melanjutkan kegiatan makan malam itu dengan tenang.
"Biar aku saja yang mencuci piringnya." ucap Bryan saat Gisel sudah menaruh piring kotornya di wastafel.
"Baiklah." jawab Gisel singkat.
Bryan kemudian melangkahkan kakinya ke wastafel dan langsung saja mencuci semua piring kotor yang ada di sana.
"Owh iya besok aku akan ambil cuti di kampus, mungkin aku disini hanya 3 hari, lalu kembali lagi ke indonesia." ucap Gisel memberitahu Bryan.
"3 hari? kamu serius?" tanya Bryan.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Gisel balik kepada Bryan.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud ku."
"Kan kamu baru pulang, masa hanya 3 hari lalu kembali lagi ke Indonesia." lanjut Bryan, sebenarnya dia masih sangat rindu pada Gisel, tapi mendengar perkataan Gisel tadi dia cukup tercengang.
"Mau bagaimana lagi, aku hanya menuruti permintaan kakek." balas Gisel dengan raut wajah sedihnya.
"Kakek?" tanya Bryan, Gisel hanya menganggukkan kepalanya.
"Bukannya kamu pernah bilang bahwa kakek dan nenek mu sudah meninggal?" ucap Bryan sambil memastikan.
Gisel terlihat menarik nafas panjang.
"Ceritanya cukup panjang, dan kalaupun ku ceritakan kamu tidak akan paham." balas Gisel.
"Hei, ayolah, kita ini teman, jangan sungkan pada ku." ucap Bryan.
Gisel nampak tersenyum dengan ucapan Bryan itu.
"Bryan.."
"Hm, ada apa?" tanya Bryan pada Gisel yang saat ini terlihat menatapnya.
"Jika suatu saat aku memerlukan bantuan mu, apakah kamu mau membantuku?" tanya Gisel, wajahnya nampak sangat serius.
"Tentu saja, aku akan membantu mu." balas Bryan dengan sangat yakin.
"Sekalipun kamu harus mengorbankan hidup mu?.. maksud ku bagaimana jika nanti aku meminta mu untuk membawa ku pergi jauh dari tempat ini?" ucap Gisel lagi.
Bryan nampak menghentikan kegiatan mencuci piringnya, dia terdiam, lalu sedetik kemudian berjalan ke arah Gisel. Lama Bryan menatap mata Gisel, bahkan saat ini kedua bola mata mereka bertemu, tidak ada satu pun yang mau memalingkan wajah.
__ADS_1
"Hey pretty girl, jangan khawatir, apapun itu aku akan usahakan, bahkan jika harus mengorbankan nyawa ku, aku akan tetap lakukan, aku akan berusaha agar kamu selalu merasa aman." ucap Bryan tegas sambil menggenggam tangan Gisel.
"Terimakasih." ucap Gisel pelan.
"Ah maaf." ucap Bryan saat dirinya menyadari dia telah menggenggam tangan Gisel.
"Tidak apa." balas Gisel.
Suasana diantara mereka saat ini cukup canggung, bahkan mereka sama sekali tidak mengobrol lagi, sampai akhirnya Bryan memutuskan untuk pulang ke apartemen nya, karena hari juga sudah larut malam.
Bryan berpamitan dengan Gisel, lalu melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Gisel.
****
"Apa ini... Kenapa aku mengucapkan kata-kata seperti itu padanya." maki Gisel pada dirinya sendiri, dia menyadari kebodohan yang dia perbuat tadi.
"Aihh sudahlah, memang hanya dia saat ini yang masih bisa memberiku harapan." lanjut Gisel lagi.
Entah harapan yang seperti apa yang Gisel maksud, tapi saat ini jika dilihat dari sudut pandang nya, memang hanya Bryan yang terlihat peduli dan khawatir akan keadaannya.
****
"Apa itu tadi, bodoh, kenapa kamu menggenggam tangannya."
"Sial, sial, sial." ucap Bryan.
"Apa sebenarnya yang sudah dia alami, kenapa dia terlihat begitu sangat menyedihkan."
Bryan memedang dadanya, ia masih bisa merasakan detak jantungnya yang begitu cepat.
__ADS_1
"Bahkan hanya dengan menatap mu jatung ku bisa berdetak seperti ini." ucap Bryan sambil tersenyum.