Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 8


__ADS_3

Setelah makan siang, Alina dan Gisel bersiap-siap untuk keluar. Mereka berencana untuk belanja bahan pokok dan juga membeli beberapa barang untuk mengisi apartemen Gisel.


"Kamu sudah siap?" Tanya Alina pada Gisel. Gisel hanya mengangguk. Gisel hanya menggunakan hoodie big size dan celana jeans. Sementara Alina, dia memggunakan baju crop dan celana jeans.


"Iya sudah, ayo berangkat." Mereka berdua sengaja pergi keluar berjalan kaki, karena tempat yang akan mereka tuju cukup dekat dengaan apartemen Gisel.


Apartemen Gisel terletak di Holland Village. Dimana dikawasan itu terkenal dengan kalangan kelas menengah, tempatnya yang strategis juga menjadi alasan kenapa Gisel memilih tempat itu dari pada tempat yang lain. Dan lagi jarak antara apartemen dan kampusnya tidak terlalu jauh.


Gisel melanjutkan study nya di National University Of Singapore. Dan kebetulan nilainya pun memenuhi persyaratan kampus itu, dan alhasil jadilah dia berkuliah disana. Selain itu kemampuan bahasa inggris Gisel pun cukup baik. Dia sudah menguasai bahasa inggris sejak sekolah dasar.


Sebelum pergi Gisel memastikan bahwa dia telah mengunci pintu apartemennya, sebenarnya pintu itu akan otomatis terkunci jika kartunya di ambil, tapi tetap saja Gisel ingin memastikan. Setelah yakin, mereka berdua pun berjalan keluar dari apartemen. Saat mereka keluar dari apartemen beberapa orang melihat kearah mereka. Walaupun mereka orang Indonesia asli, tapi perawakan mereka seperti orang luar, jadi tidak akan ada yang percaya jika mereka berdua bilang kalau mereka asli orang Indonesia.


"Hallo, Whatss up." Ucap seseorang yang tidak mereka kenali.


"Oh, hallo." Jawab mereka berdua bersamaan.


"You just rented here?" Tanya orang asing itu.


"Yes. My sister come to singapure to continue she's studies." Lanjut Alina.


"Woah, really. I think your a local people. But maybe I'm wrong." Ucap orang itu.


"No, we're not singapore people. We're frome Indonesia." Jawab Alina lagi.


"Indonesia, Indonesia have so many beutiful girl." Puji orang itu.

__ADS_1


"Oh thank you." Jawab Alina. Dari tadi Gisel hanya diam, karena dia memang tidak terlalu suka berbincang dengan orang asing.


"What's your name?" Tanya orang itu.


"My name is Alina and my sister is Gisel." Ucap Alina yang masih terlihat ramah.


"Oh, My name is Jhon. Nice to meet you girl."


"Nice to meet you too." Balas Gisel.


"Come on, we can late." Ucap Gisel pelan pada Alina.


"Okay, we'll go first. We want to buy some food." Ucap Alina.


"Oke, bye." Ucap Jhon.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Lucky Plaza, salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di Singapore.


"Enak ya jika kita bisa terus seperti ini." Ucap Alina. Gisel hanya menoleh kearahnya dan setelah itu kembali memandang kearah depan, memperhatikan langkahnya.


"Give me your hand." Ucap Alina. Gisel pun memberikan tangannya, dan langsung saja Alina menautkan jari tangannya ke tangan Gisel. Dia sangat senang saat ini, saat dimana dia bisa merasa lebih dekat dengan sang adik. Gisel sendiri tidak menolak perlakuan Alina, dia tau betul bagaimana sifat sang kakak. Dan lagi dia juga tau bahwa kakaknya sangat menyayangi dirinya. Gisel sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan mengabulkan semua permintaan kakaknya, asalkan kakaknya bahagia. Karena selama ini alasan Gisel bertahan adalah kakaknya. Jika kakaknya tidak menyayanginya juga, mungkin Gisel sudah menyerah dengan hidupnya dari awal.


Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sampai di pusat perbelanjaan. Mereka pun langsung menuju ke tempat bahan pokok. Mereka membeli kebutuhan untuk keperluan mereka selama sebulan. Dari pangan sampai cemilan. Gisel dan Alina memang biasa menyiapkan makanan ringan. Dulu di rumah pun Gisel biasa belanja sendiri untuk keperluan rumah, dan biasanya dia juga membeli cemilan untuk kakaknya dan dirinya.


Mereka juga tidak lupa membeli sayuran dan juga buah, Gisel sangat menyukai buah, mungkin itulah yang menjadi penyebab Gisel memiliki tubuh yang ideal walaupun dia tidak pernah melakukan diet. Sangat berbeda dengan Alina, Alina harus melakukan diet terlebih dahulu jika ingin memiliki tubuh yang ideal, oleh karena itu terkadang jika dia sudah makan banyak besoknya dia akan melakukan olahraga dan diet ketat.

__ADS_1


Setelah semuanya mereka beli, mereka pun menuju ke counter kasir untuk membayar barang belanjaan mereka. Mereka mengantri. Saat mengantri Gisel melihat sekliling. Dan tanpa sengaja matanya tertuju pada seseorang yang berada diluar sana. Dia terlihat memegang gitarnya dan seperti hendak menyanyi. Gisel memperhatikan orang itu dengan seksama. Dia bukan seorang pria, melainkan wanita. Gisel merasa wanita itu sangat keren. Walaupun sebenarnya Gisel juga bisa memainkan gitar, bahakan alat musik lain seperti piano dia juga bisa. Hanya saja dia tidak pernah menunjukan keahliannya di depan umum. Setelah sang kakak membayar belanjaan mereka, mereka pun segera pergi keluar dari tempat perbelanjaan itu. Sebelum melanjutkan perjalanan mereka menjelajahi tempat ini, mereka memesan taksi untuk mengantarkan belanjaan mereka ke apartemen. Jadi merak tidak repot.


"Where we're go?" Tanya Gisel.


"Street Food." Ucap Gisel. Gisel sangat suka makan. Dan kali ini Alina nampak girang karena ini pertama kalinya Alina bersikap ramah dan easy going.


Sangat jarang Gisel bersikap seperti ini, tapi ini adalah kemajuan yang cukup baik.


Akhirnya mereka pun berjalan lagi menuju ke pusat wisata street food yang terkenal di kawasan ini. Sangat banyak makanan disana, baik itu makanan lokal sampai makanan dunia yang disajika secara lokal oleh orang asli Singapore. Mereka tampak menikmati semua makanan disana. Alina bahkan sudah tidak memikirkan berat badannya. Yang penting makan dulu.


"Kak, ingat program diet mu yang sulit." Ucap Gisel.


"Ya ampun Gis, kamu jahat sekali, kan inj makanannya enak-enak. Terserah lah diet belakangan, sekarang makan dulu yang terpenting." Ucap Alina sambil terus memakannya. Gisel hanya terkekeh mendengar perkataan sang kakak. Karena terlalu asik mengobrol sambil memakan makanan mereka, tanpa sengaja Gisel menabrak seseorang.


"Oh." Ucap Gisel saat pundaknya ditabrak oleh seseorang.


"Maaf." Ucap orang itu, menoleh kearah Gisel sebentar dan langsung melanjutkan langkahnya lagi. Gisel sempat melihat wajah orang itu.


"Kamu tidak apa?" Tanya Alina.


"Tidak." Jawab Gisel.


"Sepertinya dia orang Indonesia." Ucap Alina.


"Entahlah, aku tidak tau." Balas Gisel.

__ADS_1


"Iya sudah, ayo lanjut." Ucap Alina lagi. Mereka pun mencoba makanan lain yang ada disana. Hampir semua makanan yang dijual mereka coba, harganya pun bervariasi, dari yang murah sampai yang mahal. Dari yang pedas sampai yang manis. Mereka mencoba semuanya. Dan tidak lupa mereka juga membeli beberapa minuman. Malam ini mereka makan sepuasnya.


"Jarang sekali kita bisa makan seperti ini." Ucap Alina. Moment seperti ini memang sangat jarang. Bahkan karena terlalu jarang, Alina sampai berinisiatif untuk mengabadikan semua moment mereka berdua malam itu. Dan untungnya Gisel mau bersahabat, dia yang biasanya sangat jarang dan bahkan tidak mau berfoto, malam ini pun mau berfoto. Gisel memang sengaja mau melakukannya, karena dia ingin membuat kakaknya bahagia, dan dia tau, hal kecil yang dilakukannya pun pasti bisa membuat kakaknya bahagia. Dan oleh karena itu lah dia menerima ajakan sang kakak untuk berfoto.


__ADS_2